
Suster Syanin yang melihat kehadirannya mendadak tegang, sementara pasien yang sudah tidak memakai penutup di bagian bawah tak kalah terkejut. “Aaaaaa.”
Teriaknya memenuhi ruangan benar saja semua terkejut bagaimana bisa orang luar masuk ke ruang operasi yang saat itu baru saja ingin di mulai. Pasien yang hanya di bius separuh badan hanya bisa berteriak karena tidak bisa bangun dari tidurnya dan menutupi kedua kaki yang membuka lebar tepat di depan mata Jac.
Jac yang terbelalak melihat pemandangan di depannya segera membelakang, wajahnya memerah karena malu. Semua yang berada di ruangan masih menatapnya bingung, suster Syanin yang melihat kehadirannya di ruang segera menarik tangan pria itu ke luar dan menutup kembali pintu.
“Apa yang anda lakukan?” tanya suster Syanin pada Jac.
“Em aku...aku hanya ingin memeriksa diriku dan aku melihat kalian masuk ke sana jadi aku mengikuti saja.” jelas Jac yang tampak gugup.
Sebenarnya karena rasa cemburunya lah ia sampai tidak bisa mengendalikan dirinya. Suster Syanin yang begitu memperhatikan wajah pria di hadapannya melihat semua baik-baik saja tidak ada yang terlihat sakit.
“Memangnya sakit apa? Mengapa tidak datang ke ruang periksa saja?” tanyanya lagi.
“Aku tidak biasa sakit, jadi aku berniat mencarimu dulu untuk membantuku.” jawabnya dengan penuh kebohongan.
Akhirnya suster Syanin terpaksa mengantarnya ke ruang periksa dengan dokter yang berbeda. Jac yang terlihat datar terus menatap ke arah suster Syanin. Merasa tidak habis fikir dengan tingkahnya mengapa begitu ceroboh sampai menerobos ruang operasi karena kecemasannya pada wanita itu.
Dokter yang memeriksa telihat mengerutkan keningnya merasa semua baik-baik saja, entah apa yang sakit. “Maaf, jika saya boleh tahu keluhannya apa yah?” tanya Dokter dengan penasarannya.
Jac yang terlihat kebingungan menatap ke arah suster Syanin yang juga menatapnya dengan tanya.
“Kepala saya pusing, Dok.” jawab Jac dengan cepatnya.
“Saya periksa tekanan darah anda juga normal, sepertinya anda kurang istirahat yah?” tanya Dokter menduga-duga.
__ADS_1
Dengan cepatnya Jac menjawab, “Iya Dokter saya kurang istirahat”.
Dokter yang mengerti akhirnya menuliskan resep obat untuk ia konsumsi, Jac merasa penasaran dengan langkah Dokter selanjutnya. “Dok, apa hanya memberikan saya obat saja?” tanyanya lagi.
“Iya anda hanya butuh vitamin, Tuan. Setelah itu kepala anda akan baik-baik saja.” jawab Dokter dengan yakin.
“Tidak, anda tadi bilang saya kurang istirahatkan? Kalau begitu rawat saja saya di rumah sakit.” ucap Jac dengan santainya.
“Keadaan anda tidak begitu parah, Tuan.” ucap Dokter yang terkejut mendengar permintaan Jac.
“Saya ini sakit Dok, keadaan saya cukup parah. Apa pun alasannya saya mau di rawat sampai keadaan saya benar-benar baik, Dok.” Tegas Jac dengan menatap tajam Dokter di depannya.
Suster Syanin yang mendengar perdebatan keduanya merasa heran, baru kali ini ada pasien yang memaksa di rawat di rumah sakit. Sementara Dokter yang merasa kesal akhirnya memilih jalan aman dan membiakan pasien parah satu ini di rawat dari pada harus membuang waktu untuk berdebat.
“Sus, antar Tuan ke ruang rawat keluarga.” ucap Dokter pada suster Syanin.
Tanpa duduk di kursi roda atau pun berbaring dengan ranjang pasien, Jac berjalan sendiri di ikuti dengan langkah suster Syanin di belakang. Sungguh pasien sakit jiwa mana ada orang yang minta di rawat dengan keadaans sehat-sehat seperti dia. Begitu ucap suster Syanin dalam hati sambil menatap punggung tinggi pria di hadapannya.
Sesampainya di dalam ruang rawat keduanya terdiam tanpa suara, suster Syanin yang berusaha konsisten dengan pekerjaannya mempersilahkan Jac untuk merebahkan tubuh di rannjang pasien itu. Ia pun menurut sambil terus menatap wajah suster Syanin dengan dalamnya ada sorot mata yang terlihat ingin mengungkapkan sesuatu namun tertahan.
“Silahkan anda istirahat, saya akan menebuskan vitamin di apotik.” pintah suster Syanin yang baru saja ingin melangkahkan kakinya keluar.
“Tunggu.” ucap Jac yang sudah lebih dulu meraih tangan wanita itu dengan kuatnya.
Seketika suster Syanin tersungkur pada dada bidang milik Jac yang terlapisi dengan jas hitamnya. Mata keduanya saling memandang, dada pria yang kini menjadi tumpuan suster Syanin terasa berdegup kecang membuat suster Syanin segera sadar dari lamunannya.
__ADS_1
“Astaga dasar jantung bodoh, mengapa kau membuatku malu saja sih.” umpat kesal Jac yang melepaskan genggamannya pada suster Syanin karena malu. Kedua terlihat salah tingkah saling menundukkan kepalanya.
Suster Syanin yang berusaha mencairkan suasana akhirnya bertanya, “Apa ada yang perlu saya bantu lagi?” tanyanya.
“Em, tidak. Aku hanya ingin kau membantu memijat kepalaku saja.” jawabnya dengan ragu.
Suster Syanin yang terkejut mendengar permintaan Jac melebarkan matanya seketika tidak percaya, memangnya ia punya ahli apa sampai berani memijat kepala seorang pria. Apa jadinya jika pijatannya ternyata tidak seenak yang di harapkan Jac, tentu suster Syanin hanya akan membuat dirinya malu sendiri.
“Ayo pijat kepalaku.” pintah Jac yang kembali menarik tangan suster Syanin mendekat padanya.
Tanpa mendengar penolakan dari suster Syanin akhirnya ia mulai memijat pelan kepala pria itu dengan penuh keraguan. Sampai akhirnya pria itu kini tertidur lelap dalam piajatan yang entah bagaimana rasanya. Yang jelas apa pun rasanya jika sudah cinta akan terasa nikmat begitu kata orang.
“Astaga apa yang terjadi padanya sih mengapa hari ini seperti orang tidak waras saja suka seenaknya sendiri lagi.” ucap suster Syanin yang perlahan melepas tangannya dari kepala pria itu. Ia memandangi wajah tampan Jac dengan tersenyum ada perasaan senang ketika bisa bertemu lagi dengan pria ini. Tapi jika mengingat pertemuan terakhir mereka suster Syanin kembali kesal karena Jac menggagalkan pernikahan yang sebentar lagi berhasil.
“Dia sangat tenang jika tertidur seperti ini, tapi kalau sudah bangun seperti raja hutan yang terganggu saja sangat menyebalkan.” ucapnya dalam hati sembari terus menatap sampai akhirnya ia juga ikut tertidur di samping Jac dengan posisi duduk dan kepalanya tersandar di ranjang.
***
Di kediaman Syein Biglous kini Zeyra yang baru saja tiba bersama Delon dan juga Zidan di sambut hangat oleh keluarga besar. Nyonya Flora dan Nyonya Syein begitu tersenyum senang melihat Zidan yang begitu menggemaskan. Sangat tampan wajahnya sangat mirim dengan Delon, meskipun bukan sepenuhnya anak dari Delon tapi wajahnya begitu mirip.
“Cucu nenek tampan sekali sih.” Nyonya Syein yangg mencubit gemas pipi cabi Zidan.
“Nenek, Zidan mau juga dong punya istli kaya Papah.” jawab Zidan yang mengejutkan semuanya.
Zerya yang juga ikut terkejut segera mengambil Zidan dan menggendongnya. “Sayang, kok bicara seperti itu siapa yang ajarin?” tanyanya dengan lembut.
__ADS_1
“Papah.” jawab Zidan dengan polosnya.
Semua yang mendengarnya melongo heran entah apa yang sudah Delon katakan pada anak sekecil itu sampai bisa berbicara istri