
Sesampainya di kamar Alfy menggendong tubuh Jee ke atas kasur tanpa ada suara apa pun di antara mereka berdua.
Malam sudah semakin larut namun belum ada tanda-tanda jika mereka akan berbicara, Alfy yang takut untuk memulai pembicaraan memilih untuk diam.
Mereka berdua berbaring sampai akhirnya Jee yang merasa kedinginan mulai memeluk tubuhnya sendiri sambil menaikkan kedua kakinya mendekat ke tubuhnya.
Alfy yang melihat merasa kasihan namun ia tidak berani menyentuh Jee demi keamanan mereka berdua agar tetap bisa bersama.
Setelah Alfy memastikan Jee tertidur barulah ia mendekat perlahan memeluk erat tubuh istrinya sambil terus beberapa kali mengecup kening Jee.
"Malam ini aku tidak akan tidur, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu memeluk tubuh mu dengan waktu lama." gumam Alfy.
Kemudian Alfy mengeratkan pelukannya pada tubuh Jee yang terlihat begitu menginginkan kehangatan dari suaminya.
Malam berlalu begitu cepatt rasanya Alfy tidak ingin pagi segera tiba namun semua sudah waktunya untuk menyambut sinar mentari.
"Huam..." ucap Jee yang membuka mulutnya menguap.
Namun mata indahnya masih tertutup sambil kembali memeluk tubuh suaminya yang terus menatapnya semalaman.
Beberapa kali tangan Jee meraba-raba bantal yang ia peluk, wajahnya tampak merasa aneh dengan bantal tidurnya kali ini.
"Mengapa bantalku seperti sedikit keras?" gumam Jee yang memegang tubuh belakang Alfy.
Matanya perlahan terbuka lebar dan terkejut saat ia melihat kedua tangannya sedang melingkar sempurnah di tubuh suaminya.
Alfy yang melihat wajah kaget Jee hanya tersenyum meminta kedamaian, namun dengan cepat Jee melepas pelukannya dan mendorong tubuh Alfy.
"Menjauhlah dariku." ucap Jee yang membuang pandangannya.
Alfy yang mendengar enggan menuruti perkataan istrinya sampai akhirnya Jee meraih ponselnya dan menghubungi Nyonya Flora.
"Halo Jee." ucap Nyonya Flora.
"Mami bisa ke kamar Jee sekarang?" tanya Jee.
Jee yang mendengar suara ribut seperti sedang berada di spead tampak penasaran sedang apa orangtuanya itu.
"Mami sudah di jalan pulang sayang, tadi Papi kamu dapat telefone ada teman lamanya yang mau datang ke rumah." ucap Nyonya Flora sambil tersenyum pada suaminya.
"Mami pulang, terus Jee bagaimana di sini?" tanya Jee yang bingung.
"Maaf yah sayang, Mami sama Papi tidak sempat bicara padamu karena buru-buru. Jadi kami fikir Alfy juga sudah bersamamu tentu dia akan menajagamu di sana." ucap Nyonya Flora.
Dan langsung mematikan sambungan ponselnya tanpa mendengar keluhan Jee lagi, sedangkan Tuan Indrawan hanya tertawa terbahak-bahak menyaksikan istrinya berbohong pada putrinya.
"Sepertinya kau sangat pandai berakting yah?" tanya Tuan Indrawan sambil mencubit pipi Nyonya Flora.
"Gara-gara Papi nih, Mami jadi ikutan berbohong pada Jee." gerutu Nyonya Flora yang sambil cemberut.
Namun tidak lama mereka berdua tertawa beraharap misi kali ini harus sukses demi kedua anak mereka. Tuan Indrawan kali ini mengirim pesan singkat pada Tuan Reindra.
"Misi kita sedang on proses." isi pesan singkat itu dan langsung di baca oleh Tuan Reindra.
__ADS_1
Mendapat pesan singkat seperti itu Tuan Reindra hanya tertawa menggeleng kepala merasa sedikit legah.
Sementara Alfy yang sudah mendengar percakapan Jee bersama Nyonya Flora baru mengerti tentu ini semua sudah di atur oleh Tuan Indrawan untuk mereka berdua.
"Kau tidak ingin mandi?" tanya Alfy berusaha memecah keheningan di kamar.
Namun Jee masih enggan menjawab ia terus diam dalam waktu yang cukup lama sampai akhirnya Alfy keluar untuk mengambilkan makanan.
Kali ini Alfy yang pergi ke dapur untuk membuat sarapan Jee, sesuai dengan semua yang di berikan Dokter Adeline di catatan ponselnya.
Jus juga sudah di siapkan oleh Alfy di dapur sementara Jee yang merasa bingung harus bersikap seperti apa pada suaminya.
Jujur kali ini Jee sudah tidak sanggup menahan rindu pada Alfy namun jika ia luluh tentu usahanya kali ini akan sia-sia saja.
Belum sempat Jee mengusir Alfy keluar kamar saat membuka pintu, matanya terkejut dengan beberapa macam hidangan yang di bawa oleh Alfy.
Terlihat sangat menarik dari penampilannya entah Alfy membuat variasi makanan itu dari mana yang jelas memang sangat menarik.
Perut Jee sudah berteriak ke sana kemari menahan lapar pagi itu terlebih lagi setelah melihat hidangan yang di bawa oleh suaminya.
"Buka mulutmu." ucap Alfy yang sudah menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut istrinya.
Jee yang enggan membuka mulut hanya terdiam sambil menatap wajah suaminya, namun tanpa sadar perutnya berbunyi dengan kerasnya menandakan laparnya.
Alfy yang tersenyum mendengarnya dengan cepat memaksa mulut Jee terbuka, sedangkan Jee yang malu hanya tertunduk sambil mengunyah makanan.
"Astaga ini sangat lezat, bagaimana Alfy bisa menyiapkan ini? ah sepertinya ada pelayan yang menyiapkan dan Alfy hanya membawanya saja." gumam Jee yang tidak percaya dengan hidangan yang di bawa oleh suaminya.
"Siapa ini?" tanya Dokter Adeline sambil memegang kedua tangan yang menutup pandangannya.
Pria itu hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Dokter Adeline kemudia ia berputar posisi tepat di hadapan Dokter Adeline.
"Richard?" tanya Dokter Adeline yang terkejut tidak percaya.
"Kau suka keutanku?" tanya Dokter Richard sambil tertawa membuka kedua tangannya.
Dengan cepat Dokter Adeline memeluk tubuh pria tampan itu ia sangat merindukan teman prianya yang dulu selalu bersama saat kuliah di Jerman.
Akhirnya mereka bercerita tentang perjalanan hidupnya selama lulus kuliah dan tentu waktu yang cukup lama mereka tidak bertemu.
Di kamar Jee yang sedang tertidur mulai gelisah ingin pulang akhirnya ia menghubungi orang tuanya lagi.
"Pi, Jee ingin pulang tidak apa-apa jika Jee pulang sendiri." ucapnya.
Alfy yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala lalu tersenyum kecil, tentu kali ini Alfy tidak akan melepaskan istrinya.
"Sayang, air laut sedang tidak baik dan para spead tentu tidak akan berani mengantarmu." ucap Tuan Indrawan lalu mematikan ponselnya.
Kini Jee mulai menelfon Nyonya Flora lagi namun tidak bisa tersambung juga sepertinya kedua orang tua Jee kali ini sengaja mematikan ponsel mereka.
Begitu juga dengan telefon genggam di rumah Jee tidak bisa tersambung saat Jee menghubunginya.
Wajah Jee tampak bingung kali ini ia tidak akan bisa menjauh lagi dari suaminya, karena terlalu berfikir berat lagi-lagi darah dari hidung wanita itu keluar.
__ADS_1
Alfy yang melihat dengan cepat menutup lubang hidung Jee dan mengambil beberapa alat medis untuk membersihkannya.
Kemudian Alfy mengingat setelah membersihkan darah ia harus memberikan obat pada istrinya. Jee yang saat ini bisa melihat usaha Alfy untuk merawatnya benar-benar ada.
Tatapannya begitu dalam pada suaminya sampai ia tidak menyadari jika Alfy sejak tadi sudah memperhatikannya.
"Istirahatlah." ucap Alfy sambil memperbaiki posisi tidur Jee.
Tanpa terasa sudah beberapa hari berlalu mereka yanng masih berada di pulau White. Jee yang saat ini hanya bisa pasrah karena tidak bisa pulang.
Setiap hari Alfy membawa Jee ke luar kamar saat pagi untuk melakukan terapi di pinggir pantai mereka tampak semakin hari semakin baik.
Alfy yang begitu bersemangat membuat Jee yakin padanya jika ia bukan pria lemah yang menderita ketika melihat keadaan istrinya sakit.
Setelah terapi selesai Jee seperti biasa akan di antar ke kamar untuk menunggu sarapan di antar.
"Ayo kita ke kamar." ucap Alfy yang ingin mendorong kursi roda Jee.
"Tidak, aku masih ingin di sini." ucap Jee.
"Baiklah aku akan menemanimu." lanjut Alfy.
"Ah tidak...tidak kau harus di jaga oleh mereka dulu, aku akan menyiapkan sarapan untukmu karena sebentar lagi kau harus minum obat." ucap Alfy yang memanggil beberapa pelayan wanita yang tidak jauh dari mereka saat ini.
Setelah memastikan Jee terjaga dengan baik, Alfy bergegas pergi ke belakang untuk menyiapkan sarapan istrinya.
"Bisakah anda mengatar saya ke dapur?" tanya Jee pada salah seorang pelayan yang bersamanya.
"Untuk apa Nyonya?" tanyanya.
Namun tidak di jawab oleh Jee dan akhirnya ia setuju untuk mengantarkan Jee ke dapur, belum sempat Jee mendekat ke arah Alfy tanganya menekan roda kursi untuk memintanya berhenti.
Lalu jari Jee memberi isyarat pada pelayan untuk diam saat itu. Di depan mereka tampak seorang pria tampan sedang sibuk memotong sayuran lalu berganti ke buah yang akan di buat jus.
Jee yang melihat kepandaian Alfy di dapur perlahan tersenyum kagum bagaimana bisa ia meragukan masakan suaminya saat itu.
Akhirnya Jee meminta pelayan itu untuk mengantarnya kembali keluar menunggu Alfy di pinggir pantai sambil membayangkan Alfy yang tengah sibuk memasak di dapur.
Setelah beberapa menit hidangan pun sudah siap kini saatnya Alfy untuk mengantarkan pada wanita kesayangannya itu.
"Taraaa...makanan sudah siap." ucap Alfy sambil membawa nampan berisi makanan dan jus.
Sambi tubuhnya menari-nari memperlihatkan kelihaiannya bergoyang dengan tangan yang memegang sarapan itu. Jee yang melihat tertawa geli begitu juga dengan pelayan yang mengintip mereka tertawa menyaksikan tingkah Alfy selihai itu.
Seperti seorang pelayan restauran yang memiliki tubuh lemah gemulai berlenggang sambil memawa makanan di kedua tangannya.
Entah sejak kapan Jee sudah mulai melupakan keinginannya untuk menjauh dari suaminya.
Wah sungguh manis yah perilaku Alfy pada Jee rasanya auhtor juga ingin sekali di manja seperti Nyonya Jee. Hai readersku semua tetap semangat membacanya yah jangan sampai ketinggalan momen selanjutnya yang tentu pasti akan lebih menarik.
Kira-kira apakah Jee bisa sembuh dengan hati yang bahagia? ikuti terus sampai akhir ceritanyanya yah terimakasih.
Untuk kalian yang mau gabung di grup chat boleh banget yah biar bisa sharing tentang seputar novel atau juga tentang karya author.
__ADS_1