Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Bertemunya Kedua Keluarga


__ADS_3

Dokter yang baru saja keluar dari ruagan Tuan Rusli kini sudah mendapat serangan pertanyaan dari Wenda.


"Dokter, bagaimana Ayah saya? dia baik-baik saja kan, Dok? apa terjadi sesuatu padanya saya mohon lakukan sesuatu pada Ayah saya Dok, saya mohon Dokter."


Wenda tersungkur menangis di lutut Dokter ketika menatap wajah Dokter yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Wenda bisa menebak jika wajah itu sangat dalam artinya pada sang Ayah. Adelio yang mendekat ke arah Wenda kini membopong tubuh rapuh itu untuk berdiri.


"Maafkan saya Nona, Ayah anda masih dalam keadaan sangat lemah. Kalian bisa melihatnya tapi tolong jangan membuat pasien berfikir berat.


Wenda yang mendengar ijin untuk bertemu Ayahnya berlari ke dalam ruangan tanpa sabarnya ia langsung memeluk tubuh Tuan Rusli. Tuan Rusli tersenyum lirih tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya ia merasa benar-benar lemah kali ini.


Beberapa alat pembantu pernafasan dan lain-lainnya suda terpasang di badannya begitu juga dengan tabung oksigen yang berdiri kokoh di samping ranjang rawatnya.


"Ayah harus sembuh yah jangan sakit, Wenda sama siapa kalau Ayah pergi. Pokoknya Wenda tidak akan biarkan Ayah pergi biar Wenda yang pergi duluan." ucapnya sambil terus meneteskan air mata di tubuh Tuan Rusli.


Tuan Rusli yang mendengar ocehan putrinya tertawa kecil sambil berusaha mengangkat tangannya yang begitu lemah rasanya. "We-nda, Ayah sa-yang sam-a Wenda."


"Wenda juga sayang sama Ayah." jawabnya kembali terdengar pecah suara tangis gadis itu hingga memenuhi ruangan yang tidak begitu luas.


Adelio yang berdiri di samping Wenda merasa sangat terpukul menyaksikan pemandangan yang menyedihkan ini, begitu juga dengan Nyonya Dayah yang hanya bisa menahan tangisnya. Tangan Tuan Rusli menunjuk Adelio, melihat gerakan telunjuk pria itu, Adelio segera mendekatkan dirinya dan menggenggam tangannya.


"Ada apa, Pak? katakan saja."


"Ma-ukah ka-u menja-ga putriku?"


Semua terkejut mendengar ucapan Tuan Rusli pada Adelio, terlebih lagi Wenda ia sama sekali tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut sang Ayahnya.


"Ayah ini tidak benarkan? ini bercanda saja, kan?" Wenda yang kembali mengeratkan genggamannya pada tangan Tuan Rusli. Sementara Adelio berada di seberang sana menggenggam tangan pria itu yang sebelahnya lagi.

__ADS_1


"Saya siap, Pak." Adelio menjawab dengan yakinnya. Mendengar ucapan itu kedua mata Wenda membulat tak percaya ia menggelengkan kepalanya.


Bagaimana bisa pria ini menerima permintaan Ayahnya dengan semudah itu, apa ia tidak ingin tahu dulu siapa Wenda sebenarnya. "Ayah, jangan seperti ini. Wenda malu Ayah."


Tuan Rusli kembali menggenggam tangan putrinya dan menatapnya dalam. "Ayah ingin pergi dengan tenang, Sayang. Jangan pernah tinggalkan Ibumu sendirian dia wanita yang sangat baik Ayah mencintainya."


Tuan Rusli menatap nanar sosok wanita yang berdiri di sebelah Wenda saat ini, matanya terlihat berkaca-kaca dan jatuhnya air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan. Nyonya Dayah yang mendengar pesan suaminya pada Wenda tak kuasa menahan tangisnya lagi.


Adelio yang bisa memperkirakan jika umur Tuan Rusli tidak lama lagi kini mengeratkan genggamannya. "Pak, anda tidak usah khawatir Wenda akan saya jaga dan saya ingin melamar putri anda sekarang juga."


Ucapan Adelio mampu merubah semua ekspresi yang ada di dalam ruangan itu, Wenda yang kaget sementara Tuan Rusli dan istrinya tersenyum bahagia. Air mata di wajah pria itu terus berjatuhan tanpa henti kali ini adalah air mata bahagia buka kesedihan.


Tangan dingin Tuan Rusli bergerak menyatukan dua genggaman yang ada di kedua tangannya, kini tangan Wenda dan Adelio saling menumpu. Mata mereka saling menatap hingga tak sada jika Tuan Rusli telah memejamkan matanya untuk selama-lamanya.


"Ayah...!" Nyonya Dayah yang menangis histeris saat melihat suaminya sudah tak sadarkan diri lagi.


Wenda dan Adelio terkejut mereka terus memanggil-manggil Dokter, Dokter pun tiba ia segera memeriksa keadaan Tuan Rusli sayangnya mereka tak dapat berbuat apa-apa lagi. Tuan Rusli sudah tidak bisa di selamatkan Adelio tertunduk sedih. Wenda yang terus menangis menggoyang-goyang tubuh Tuan Rusli dengan yakinnya jika Ayahnya akan bangun lagi.


Hari yang begitu tiba-tiba membuat Wenda merasa seperti mimpi buruk, mengapa Tuhan begitu kejam padanya belum lama ia merasakan kasih sayang Ayahnya kini sudah kembali di ambil. Apa yang salah dengan gadis itu, sejak kecil ia sudah merasakan jauh dari orangtuanya dan kini semua kembali di renggut darinya.


Tidak bisakan Tuhan mengambil hal lain darinya kecuali orangtua yang baru saja membuatnya merasa benar-benar menjadi seorang anak. Kehidupan Wenda begitu sangat menyakitkan andai ia bisa menuntut keadilan itu tentu akan di lakukannya.


"Ayah, mengapa cepat sekali kau meninggalkanku, tidak bisakah kita tinggal lebih lama lagi? aku tidak ingin sendirian lagi Ayah." tangis Wenda terus menghujani wajah cantiknya.


 


Setelah lama mereka berada di ruangan itu, Adelio yang segera meminta orang suruhannya untuk mengurus administrasi dan kepulangan Tuan Rusli kini telah selesai. Mereka beranjak bersama menuju rumah Wenda yang terus memeluk tubu Ibu tirinya sepanjang jalan di lirik oleh Adelio.

__ADS_1


Rasanya ingin sekali ia memeluk tubuh wanita itu namun di saat seperti ini ia hanya bisa bersabar meskipun sangat sakit melihat Wenda yang lemas. Hari itu pemakaman akan segera berlangsung semua para keluarga berkumpul.


Tuan Farhan dan keluarganya sudah hadir di kediaman Tuan Rusli, suster Syanin yang juga ikut melayat kaget saat melihat keberadaan Wenda. Matanya tampak bertanya-tanya siapa wanita itu sebenarnya, karena memang Papah Farhannya sama sekali tidak pernah membahas Wenda padanya.


Hari pemakaman kini berakhir semua sudah mulai pulang satu persatu dan menuyisahkan keluarga Wenda dan keluarga Tuan Farhan.


"Wenda, yang kuatyah jangan sedih lagi Paman ada di samping Wenda kok."


"Apa? Paman, jadi Papah Farhan  pamannya wanita ini berarti kita keluarga dong. Astaga mimpi apa lagi ini?" gumam suster Syanin yang menebak-nebak.


Wenda yang mengusap air matanya menatap suster Syanin dengan penuh tanya, tentu ia tahu siapa wanita ini. Mereka pernah memiliki pengalaman hidup yang tanpa sengaja di pertemukan dengan satu pria. Tuan Farhan yang melihat pandangan Wenda tersenyum.


"Ini putri paman, Wenda."


Mendengar ucapan Tuan Farhan, Wenda membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. "Putri? sejak kapan Paman memiliki anak?" begitu arti tatapan Wenda jika di lihat jelas.


***


Hari berlalu begitu cepat setelah kepergian Tuan Rusli, kini Adelio yang sudah datang kembali bersama Nyonya Fidah yang tidak lain adalah Nenek dari pria itu ke rumah Wenda. Suasana duka masih jelas terlihat Wenda yang mengenakan pakaian serba berwarna hitam begitu juga dengan Nyonya Dayah dan pelayan di rumah itu.


Nyonya Fidah yang merasa bersalah karena tidak sempat ikut saat hari pemakaman meminta maaf pada kedua wanita itu. Hari di mana Tuan Rusli meninggal dunia, tepat hari itu juga Nyonya Fidah berada di luar negeri sedang berobat karena sakit vertigonya.


Nyonya Dayah hanya tersenyum mengangguk ia memaklumi keadaan Nyonya Fidah yang sudah sangat tua. Setelah cukup lama mereka berbincang kini waktunya Nyonya Fidah yang berbicara tentang tujuannya bersama cucu satu-satunya ke rumah itu.


Semua tidak lagi kaget karena cepat atau lambat hal ini akan tejadi, Wenda yang merasa ragu dengan keputusan Adelio kembali bertanya, "Apa anda yakin, Tuan Adelio dengan ucapan anda? anda tidak ingin memikirkannya lebih dulu?"


Adelio yang mendengar pertanyaan Wenda hanya menghela nafasnya kasar, tentu ia sangat mengerti apa sebenarnya yang menjadi beban di hati Wenda. Tentu karena masa lalunya, tetapi hal itu sudah lebih jauh Adelio fikirkan sebelum mengambil keputusan ini.

__ADS_1


"Saya yakin dengan keputusan saya." jawabnya seraya menatap dalam kedua mata Wenda yang berada tepat di hadapannya.


Nyonya Fidah dan Nyonya Dayah hanya tersenyum legah mendengar keputusan pria itu, Adelio berfikir tidak perlu untuk menceritakan masa lalu Wenda pada Neneknya. Hal itu bukanlah yang terpenting, selama mereka memutuskan memulai hidup baru berarti tidak ada lagi kehidupan masa lalu yang perlu mereka bahas kedepannya.


__ADS_2