
“Apa...jadi namanya? Bukan panggilan yang sama sepertiku. Astaga Fy, ada apa denganmu?” gumam Alfy yang terdiam merasa malu.
“Baiklah kali ini aku yang salah.” Lanjut Alfy dalam hati.
Bagaimana bisa sih pria ini merasa pertama kalinya salah padahal jika di hitung mulai detik pertama ia bertemu dengan istrinya sudah ribuan juta kesalahan yang ia lakukan. Dan apa yang Alfy pikirkan saat ini? dengan mudahnya ia menyadari jika hal yang baru saja terjadi adalah kesalahan pertamanya.
Tanpa sadar dalam diam selama perjalanan kini mereka sudah tiba di rumah, Jee yang tampak kesal segera menutup pintu mobil dengan kasar dan berlari ke kamar tanpa menunggu Alfy. Keluarga yang melihat kedatangan Jee tanpa menyapa merasa terkejut. Untuk kesekian kalinya mereka terkejut lagi melihat kejadian-kejadian yang di alami kedua anaknya.
Alfy yang berlari menyusul Jee ke kamar juga tidak menyapa mereka. Sampai di kamar Jee langsung menenggelamkan tubuhnya di selimut dan membelakangi Alfy yang kini sudah berdiri di depannya.
“Maafkan aku.” Ucap Alfy yang merasa bersalah.
Jee sama sekali tidak menjawabnya dan memilih memejamkan mata, kekesalannya sudah sangat menumpuk pada Alfy mulai sejak pagi ia membuat Jee harus memakai baju yang aneh sampai pulang ia menuduh dan membentak
istrinya sungguh menyakitkan.
Alfy perlahan naik di kasur dan memegang bahu sang istri ia berusaha membalikkan tubuh Jee namun tangannya segera di tepis.
“Maafkan aku, jika tidak aku akan melahapmu habis.” Ancam Alfy yang membuat Jee terkejut dan segera membalikkan tubuhnya.
“Iya aku maafkan.” Jawaban yang terdengar tidak ikhlas.
“Mulai sekarang jangan panggil aku Han lagi.” Pintah Alfy.
“Lalu apa?” tanya Jee.
Alfy yang tidak mengerti hanya menaikkan bahunya dan menggelengkan kepalanya karena rasa bersalah, kali ini Alfy meminta Jee yang memanggilnya dengan keinginan Jee sendiri.
“Sayang.” Jawab Jee tersenyum.
“Kau mau itu?” tanya Alfy.
“Eheemm.” Jawab Jee.
“Baiklah terserah kau saja.” Lanjut Alfy.
"Kalau begitu berhentilah dari sekarang memanggilku dengan sebutan kau...kau itu." umpat kesal Jee.
"Iya." jawab Alfy singkat.
"Ayo katakan." pintah Jee memaksa.
"Sa-sayang." ucap Alfy datar.
Jee yang mendengar panggilan romantis di mulut suaminya tertawa geli sungguh sangat lucu jika di lihat-lihat tidak cocok dengan ekspresi kakunya itu.
Setelah mereka berdua berbaikan kini Jee mengajak Alfy untuk turun duduk bersama keluarganya di ruang tengah. Hari itu mereka lewati dengan baik menonton televisi bersama tiba-tiba muncul berita sekilas yang menampilkan
wajah Alfy dari kejauhan dan menyebutkan bahwa nama baiknya sudah kembali berkat bantuan Nakula.
__ADS_1
Semua terkejut menyaksikan berita di televisi, karena Alfy tidak ada membicarakan apa-apa pada mereka termasuk Jee juga terkejut.
Nakula yang baru saja tiba di kediaman di panggil oleh Tuan Reindra untuk duduk bergabung bersama.
“Terimakasih yah kau sudah membantu Alfy.” Ucap Tuan Reindra.
“Maaf Paman, ini tidak sebanding dengan yang kalian lakukan pada saya.” Jawab Nakula merasa bersalah.
Alfy yang mendengar percakapan mereka hanya berdiam tanpa mau menatap bahkan berkata apa pun pada Nakula.
“Fy, kau sepertinya harus mengajak Jee belanja baju sesuai yang kau inginkan.” Ucap Nyonya Syein.
Jee yang mendengarnya kini mulai lemas kembali, benar-benar tidak ada harapan lagi untuknya memakai baju-baju kesayangannya. Alfy yang mendengar kembali bersemangat dan segera mengajak Jee untuk berganti pakaian.
“Ayo.” Ajak Alfy sambil menggandeng tangan istrinya menuruni anak tangga.
Terlihat wajah cemberut Jee yang sudah membayangkan baju apa yang akan mereka bawa pulang nanti.
Kini Jee dan Alfy menuju mall terbesar untuk berbelanja di perjalanan Alfy terus tersenyum penuh kemenangan. Kali ini Jee sudah tidak bisa membangunkan mata-mata pria di luaran sana dan tentu Alfy tidak perlu begitu
cemas saat meninggalkannya di kampus.
Keluarga yang kini masih berkumpul tampak membicarakan Alfy dan Jee mereka sangat menunggu kehamilan Jee lagi. Sepertinya Tuan Reindra dan Tuan Indrawan perlu merencanakan sesuatu lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Sedangkan di rumah Zeyra yang sudah sedikit membaik melihat kehadiran Delon dan Jacobie di depan rumah yang sudah melangkah memasuki rumah itu. Wajah kedua pria itu tersenyum saat melihat Zeyra menatap kedatangan
mereka.
“Iya.” Jawab Zeyra.
“Abang tidak mengkahwatirkanku lagiyah?” lanjut Zeyra yang bertanya pada Jacobie.
“Cih, apa masih penting kekhawatiranku di bandingkan dia?” tanya Jacobie menggoda Zeyra lagi.
Merasa kesal dengan ucapan Jacobie, Zeyra memutar bola matanya lalu meninggalkan kedua pria itu ke kamarnya. Sementara Delon dan Jacobie yang saling menatap kini duduk di sofa menunggu kedatangan Zeyra.
Zeyra yang mengajak suster Syanin untuk ikut bergabung kini sedikit canggung. Dan akhirnya mereka berempat berkumpul sambil memakan cemilan yang ada di meja.
“Zey, aku ingin mengatakan sesuatu.” Ucap Delon sambil menatap Jacobie sebentar meminta persetujuan.
Jacobie yang tampak mengerti dengan tatapan itu kini menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju.
“Apa?” tanya Zeyra penasaran.
“Apa kau ingin menikah denganku?” tanya Delon sambil meraih tangan Zeyra.
Betapa terkejutnya Zeyra yang mendengar hal itu dan sekali tegukan terlihat di tenggorokan Zeyra. Suster Syanin yang mendengar juga terkejut dan merasa terharu ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Jacobie yang melihat ekspresi Zeyra tersenyum dan sesekali melempar pandangan pada suster Syanin.
__ADS_1
“A-pa menikah?” tanya Zeyra yang terbata-bata.
“Tapi aku seperti ini apa kau tidak salah bicara?” lanjut Zeyra yang menatap perutnya.
Delon hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya ia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu karena perasaannya benar-benar tulus pada Zeyra.
“Aku tidak perduli dengan keadaanmu, yang terpenting saat menikah denganku jadilah wanita yang baik untukku.” Jawab Delon yang membuat air mata Zeyra tanpa sadar menetes.
Zeyra tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya mengangguk dan tersenyum sambil menangis. Delon yang mendapatkan persetujuan dengan segera memeluk Zeyra. Jacobie dan suster Syanin tersenyum bahagia.
“Mau sampai kapan kalian pelukan terus?” tanya Jacobie menyadarkan Zeyra dan Delon.
Dengan segera Zeyra melepaskan pelukannya dari Delon dan tertunduk malu.
“Kita sekarang harus memberi tahu Tuan dan Nyonya Syein dulu.” Ucap Jacobie.
“Iya kau benar.” Jawab Delon.
“Apa aku tidak perlu ikut?” tanya Zeyra.
Delon dan Jacobie yang tidak memberitahu Zeyra jika di rumah utama ada Nakula maka dari itu ia melarang Zeyra untuk ikut bersama mereka.
“Kau tidak sehat, diamlah di rumah biar kami yang akan memberitahunya.” Ucap Delon.
“Baiklah.” Jawab Zeyra.
Delon yang merasa kesenangan sampi lari ke mobil tanpa menunggu Jacobie, setelah mobil menyala dengan cepatnya Jac berlari dan masuk ke mobil.
“Kau ingin meninggalkanku?” tanya Jac.
“Maaf, aku lupa.” Ucap Delon tertawa.
“Wah sepertinya kau ingin aku tidak merestuimu berani sekali.” Ancam Jac pada Delon.
Mendengar ancaman itu Delon langsung melempar tatapannya pada Jac dan meminta maaf lagi. Melihat tingkah Delon yang begitu patuh, Jac merasa terhibur baru kali ini ia di hormati dengan Delon.
Sedangkan Je dan Alfy yang sudah tiba di mall kini bergandengan tangan tanpa lepas sekali pun. Semua pengunjung di mall tampak menatap mereka dengan penuh kekaguman. Sementara Jee yang terlihat cemberut
tidak perduli dengan tatapan orang di sekelilingnya.
Alfy menarik tangannya untuk singgah di butik muslimah, di sana terlihat baju yang berukuran oversize. Melihat tempat yang di datangi Jee menatap heran pada Alfy yang dengan sigapnya mengambil beberapa baju dan
menggantungnya tepat di depan Jee.
“Apa kau sudah gila menyuruhku memakai ini?” tanya Jee yang terkejut.
“Ayolah sayang, ini sangat cocok untukmu.” Ucap Alfy.
Semua pelayan di butik itu tertawa melihat pertengkaran kedua orang di hadapan mereka hanya karena
__ADS_1
baju.
Jee terus menolak karena ia sama sekali belum siap memakainya terlebih lagi rasanya sangat susah jika harus bergerak memakai baju yang sangat longgar dan panjang.