Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Cinta Tidak Harus Selalu Berisi Dengan Kepuasan Hasrat


__ADS_3

Di kamar tampak seorang wanita yang sedang menggeliat di atas kasurnya sambil menguap melampiaskan rasa kantuknya yang sudah hilang.


Zeyra, ia sudah bangun dari tidur panjangnya hari itu tanpa sadar ia melihat Delon yang berdiri di depan pintu kamarnya sedang menikmati tingkah Zeyra.


Dengan cepat Zeyra terbangun dari kasurnya lalu berdiri dengan wajah malu karena tidak tahu apa saja yang ia lakukan saat tidur.


"Kau sudah bangun?" tanya Delon.


"Iya." jawab Zeyra singkat.


"Tadi Abangmu kemari." ucap Delon.


Zeyra yang mendengarnya terkejut pandangannya segera terangkat menatap Delon yang tadinya menunduk untuk menutupi rasa malunya.


"Apa yang terjadi?" tanya Zeyra.


Delon yang menceritakan jika Jacobie mengetahui tentang rumah yang ia belikan pada Zeyra dan menceritakan semua yang terjadi belakangan ini. Jacobie yang mendengar semua cerita dari Delon merasa sakit saat mengetahui lagi-lagi adik kesayangannya menderita.


Namun rasa kesal Jacobie pada Zeyra tetap terlihat saat ia pergi meninggalkan Zeyra yang tertidur dan menitipkan pada Delon.


Zeyra yang mendengarnya merasa sedih tubuhnya yang tadi berdiri tegak seketika melemas dan terduduk kembali di kasur.


Matanya sudah tidak bisa menahan kesedihannya terlebih lagi saat mendengar lanjutan cerita dari Delon selama Zeyra memilih Nakula, sepanjang hari Jacobie terus hidup dengan tatapan penuh beban.


Di kantor pun ia sangat jarang bisa fokus bekerja Delon bisa melihatnya setiap mereka sedang bekerja bersama namun ia tidak berani menegus keteledoran Jacobie.


Beruntungnya belakangan ini ketika keadaan Tuan Alfy tidak baik beberapa pengacara mampu mengatasi semua masalah di kantor.


"Ini semua salahku." ucap lirih Zeyra yang merasa bersalah.


Namun bagaimana pun rasanya Zeyra tidak berani untuk mendekat pada Jacobie saat mengingat keputusannya terakhir kali untuk memilih Nakula.


"Hiks...hiks...hiks." suara tangis Zeyra pecah di kamar itu.


Delon yang melihat kesedihan wanita di hadapannya entah mengapa ikut merasa hancur saat matanya menyaksikan air mata jatuh di pipi putih Zeyra.


Dengan segera Delon meraih tubuh rapuh Zeyra yang hendak memeluk bantal dan kini Delon sukses memeluk erat tubuh Zeyra.


Posisis Zeyra saat ini sedang bersandar di dada bidang Delon sambil terus menangis sementara Delon memeluk Zeyra dengan erat lalu menyandarkan dagunya di atas kepala Zeyra sambil satu tangannya mengelus-elus bahu Zeyra.


"Sudah jangan menangis, kasihan bayimu pasti ia akan sakit melihat Ibunya sedih." ucap Delon yang berbohong.


Tentu kali ini ia lagi-lagi memanfaatkan nama bayi di perut Zeyra agar bisa menutupi isi hatinya yang begitu terluka melihat wanita di dekatnya bersedih.

__ADS_1


"Aku selalu membuatnya terluka, sungguh aku bukanlah adik yang baik untuknya hiks...hiks...hiks." ucap Zeyra yang sambil terus menangis terisak-isak.


"Sudahyah kau tidak salah, hanya saja kau perlu untuk lebih bijak setiap memutuskan sesuatu." ucap Delon yang berusaha menguatkan Zeyra.


"Tapi semua terjadi karena kebodohanku." jawab Zeyra lagi.


"Ssssttt." Suara mulut Delon yang menempelkan jari telunjuknya di bibir mungil Zeyra.


"Kali ini bisakah kau melupakan semuanya? dan tugasmu adalah meminta maaf pada Abangmu." pintah Delon.


Zeyra yang mendengar ucapan Delon tampak berfikir keras mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan saat ini, rasanya untuk menatap mata Jacobie saja Zeyra sangat tidak sanggup.


Menyadari kebodohannya yang berulang kali ia lakukan apa pantas jika saat ini ia meminta maaf pada Jacobie setelah semua yang ia lakukan.


"Ayolah kau pasti harus melakukan ini, apa kau tega melihatnya setiap hari melamun merindukan kedekatan kalian?" tanya Delon.


Zeyra yang tidak bisa menjawab kini hanya mengangguk tanda setuju dengan ajakan Delon untuk meminta maaf pada Jacobie.


"Ayo kita pergi." ajak Delon yang mengajak Zeyra keluar rumah lalu menuju mobil.


Kini mereka berdua menuju arah kantor Syein Biglous dengan kecepatan sedang, di dalam mobil hanya ada keheningan dengan wajah Zeyra yang terlihat tidak nyaman.


Ia sangat gugup untuk bertemu dengan Jacobie, Delon yang melihat sikap Zeyra dengan cepat menggenggam erat tangan Zeyra yang berada di pahanya.


Zeyra yang mendapat dukungan dari Delon merasa tenang kini ia sudah berhenti menangis dan Delon yang sudah sangat sigap mengusap air mata Zeyra dengan tangan sebelahnya.


Sementara Nakula yang sedang sibuk bermain dengan ponselnya sambil berbaring di sofa di ganggu oleh Wenda yang terus merengek sakit.


"Honey, aku sedang sakit bisakah kau membawaku ke dokter?" tanya Wenda.


"Aku belikan obat diare saja yah." ucap Nakula yang enggan membawa Wenda periksa.


Karena sudah beberapa hari Wenda merasa diarenya tidak henti-henti terus membuatnya kesakitan sepanjang hari dan semakin sakit.


Wenda yang kembali ke kamar mandi lagi sambil berlari karena perutnya sakit lagi, dan beberapa menit ia di dalam kamar mandi terdengar suara teriakan.


"Aaaaaaaaa." Wenda berteriak.


Nakula yang mendengarnya segera berloncat mengahmpiri Wenda di kamar mandi yang kebetulan tidak terkunci.


"Ada apa?" tanya Nakula melotot sambil menutup hidungnya.


"Badanku mengapa bintik-bintik seperti ini?" tanya Wenda yang terlihat panik menujuk lengannya yang terlihat bintik-bintik berwarna ungu.

__ADS_1


"Kau habis makan apa beberapa hari yang lalu?" tanya Nakula yang enggan menganggap itu adalah masalah serius.


"Aku tidak ada makan apa-apa selain yang kita beli." jawab Wenda.


"Mungkin kau alergi saja." jawab Nakula acuh.


Kini ia kembali duduk di sofa dan memakai sepatu untuk keluar membelikan Wenda obat diare kebetulan ada apotik di apartemen itu.


Wenda yang masih di kamar mandi terus menggosok kasar lengannya yang tampak bintik ungu di kulit mulusnya itu.


"Ada apa dengan kulitku?" gumam Wenda sambil menangis merasa takut.


Setelah merasa perutnya tidak begitu sakit ia bergegas membersihkan diri kemudian berbaring di kasur dengan terus menggosok kulitnya.


Berharap bintik ungu itu bisa hilang segera karena melihatnya sangat tidak nyaman di mata Wenda. Nakula yang baru saja sampai kini dengan cepat mengambilkan Wenda air untuk meminum obatnya.


"Ayo cepat minum." ucap Nakula.


Dengan segera Wenda meminumnya kemudian kembali merebahkan tubuhnya yang tampak melemas dan pandangannya yang meredup.


"Apa kau butuh penyemangat?" tanya Nakula yang tampak menebak Wenda seperti biasanya.


Wenda yang mengerti ucapan Nakula hanya mengangguk penuh keinginan meskipun tubuhnya lemas namun jika tentang hasrat ia tidak akan sanggup menolaknya.


Perlahan Nakula meraba seluruh lekuk tubuh Wenda dengan penuh gairah setelah Nakula puas bermain dengan kepandaian tangannya kini ia mulai bermain dengan mulut dan lidahnya. Wenda yang mendapat sentuhan itu tidak bisa menahan diri dengan segera ia berusaha kuat untuk melampiaskan hasratnya.


Begitu inginnya Wenda untuk melepas nafsunya bersama Nakula kini mereka saling menelusuri tubuh masing-masing dari pasangan. Setelah cukup lama mereka bermain-main kini mulai terdengar di telinga Nakula desahan-desahan lemas dari Wenda.


Namun kelemahan Wenda tidak bisa mengurangi rasa keinginannya untuk melakukan hubungan itu, Nakula benar jika Wenda mendapat perlakuan itu tentu ia tidak akan mengeluh tentang sakit yang ia derita.


Kini Nakula yang mulai melakukannya dengan sedikit kasar justru mendapat persetujuan dari Wenda dan semakin bersuara merasakan kenikamatannya.


Tubuh Wenda sudah bergerak ke sana kemari mengikuti irama gerakan Nakula yang semakin brutal padanya. Setelah beberapa lama mereka melakukan akhirnya tubuh kedua orang itu kini menegang dan ambruk seketika di atas kasur dengan tubuh penuh keringat.


Tanpa Wenda sadari tubuhnya semakin banyak bintik-bintuk ungu dan Nakula yang melihatnya terkejut lalu terbangun dari tidurnya.


"Hey kulitmu mengapa menjijikan seperti itu?" tanya Nakula yang menunjuk pinggang Wenda.


Wenda yang mendengarnya begitu terkejut dan langsung memeriksanya sendiri rasanya tidak percaya melihat keadaan kulitnya.


Dengan cepat Nakula membawa Wenda untuk berganti pakaian lalu menuntunnya ke luar kamar dan menuju mobilnya.


Mobil Nakula begitu laju menuju rumah sakit, sepanjang jalan Wenda terus memeriksa keadaan kulitnya yang semakin bertambah banyak timbul bintiknya.

__ADS_1


Halo semuanya kira-kira apa yang terjadi dengan pasangan yang haus dengan kenikmatan ini yah? yuk ikutin terus ceritanya yah sepertinya akan semakin seru. Selamat membaca yah! untuk kalian yang ingin komunikasi dengan author bisa masuk grup yuk. Mari saling mengenal.


__ADS_2