Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Senyuman Mu Yang Menyempurnakan Ketampanan Mu


__ADS_3

Alfy yang tengah sibuk menyuapi Jee kini terlihat sangat antusias memastikan jika tidak ada tulang yang ikut ke dalam suapannya.


Jee hanya bisa menikmati makanan itu tanpa perlu mengotori tangannya namun ada rasa penasaran juga untuk memegang ikan yang begitu menggoda penciumannya.


Baru saja Jee mendekatkan tangannya Alfy sudah lebih dulu meraih tangan mungil istrinya kemudian ia mengecup dan meletakkan tangan itu di paha Jee.


"Kau hanya perlu memakan dari tanganku saja." ucap Alfy begitu membuat Dokter Richard dan Dokter Adeline tertegun.


Alfy yang menyadari tatapan kedua orang itu tanpa berfikir lamar segera mendaratkan bibirnya ke mulut manis Jee yang kini tengah sibuk mengunyah makanan.


"Astaga." gerutu Dokter Richar yang melihat sikap sahabatnya itu.


Jee yang terkejut mendapatkan perlakuan itu segera memukul-mukul dada suaminya, namun Alfy masih enggan melepaskan ******nnya.


"Tuan, Nyonya Jee." ucap Dokter Adeline yang terdengar panik melihat Jee tersandar lemas sambil nafasnya terputus-putus.


"Jee, ada apa?" tanya Alfy yang menyadari istrinya kesulitan bernafas.


Dokter Adeline dengan cepat memerintah Alfy untuk membawa istrinya beristirahat ke dalam kamar. Tanpa menunggu lama Alfy menggendong Jee dan berlari menuju kamar mereka yang tidak jauh dari pantai itu.


Sedangkan Dokter Adeline dan Dokter Richard  kini sudah ikut mengejar Afly yang lebih dulu berlari.


Wajah Dokter Richard memandang punggung sahabatnya yang tidak begitu jauh darinya sambil tertawa menggelengkan kepalanya.


"Dasar bodoh, sejak kapan kau bisa sebodoh ini." gumam Dokter Richard.


Setelah sampai di kamar Jee perlahan di letakkan oleh Alfy dan Dokter Adeline yang sudah dengan sigap memasang alat bantu pernafasan untuk Jee.


Tangan wanita cantik itu terus di genggam erat oleh Alfy sampai Jee benar-benar tertidur lelap. Dokter Adeline yang merasa legah hanya menggelengkan kepalanya karena hampir saja mereka semua panik karena tingkah bodoh Tuannya itu.


Mata Alfy menatap tajam pada Dokter Richard tanpa ada kata yang ia lontarkan di ruangan itu. Dokter Richard yang menyadari tatapan tidak mengenakkan itu memilih untuk keluar ruangan.


"Cih, apa ini lagi-lagi ia menyalahkanku." ucap Dokter Richard yang sudah bisa menebak tingkah Alfy.


Di kamar ini hanya ada Alfy dan Dokter Adeline yang menjaga Jee tanpa suara.


Setelah Dokter Adeline memeriksa keadaan Jee ia tampak menghela nafas legah.


"Tuan, sepertinya Nyonya Jee sudah mulai membaik." ucapnya.


"Benarkah Dok?" tanya Alfy mencari keyakinan atas pendengarannya.


"Tentu saja Tuan." jawab Dokter Adeline.


Alfy yang mendengarnya begitu sangat senang, akhirnya kabar yang ia tunggu-tunggu hadir juga. Tanpa menunggu lama tangannya segera meraba ponsel di saku celana pendeknya.


"Halo," ucap wanita di seberang sana dengan lembutnya.

__ADS_1


"Mami." jawab Alfy sambil terdengar tawa kecil.


"Ada apa, Fy?" tanya Nyonya Flora begitu penasaran.


"Aku dan Jee sudah berbaikan, Mi." jelas Alfy yang belum sempat mengatakan tentang keadaan Jee.


Nyonya Flora tersenyum di seberang sana bersama suaminya dan kedua orang tua Alfy, mereka memang sudah tinggal bersama lagi semenjak tahu Jee dan Alfy kembali bersama.


Tentu mereka tahu itu semua dari Dokter cantik itu karena mereka tidak ingin mengganggu Alfy dan Jee yang sedang berusaha memperbaiki hubungan.


"Mami kok diam?" tanya Alfy.


"Hehehe Mami sudah tahu tentang hal itu, Dokter Adeline selalu mengabari kami di sini." jelas Nyonya Flora yang membuat Alfy terdiam.


Dan kembali tersenyum lagi mengingat tujuan utamanya untuk mengubungi Nyonya Flora.


"Alfy ada kabar satu lagi, Mi." ucap Alfy.


"Apa itu?" tanya Nyonya Flora.


Di ruang keluarga tampak terlihat wajah-wajah penasaran menunggu kabar yang ingin Alfy sampaikan karena memang suara telefonnya di speaker oleh Nyonya Flora.


"Kata Dokter Adeline, Jee saat ini sudah semakin membaik Mi." ucap Alfy.


"Benarkah?" tanya Nyonya Flora.


"Alhamdulillah." ucap serentak seisi ruangan itu.


Selalu kedua pria itu heboh melebihi yang lainnya, mereka memang memiliki tingkah yang lebih periang dari pada para wanitanya.


Alfy yang menyadari suara ramai kini mengernyitkan dahinya menyadari suara yang terdengar sangat berisik di ruangan sana.


"Mi, ada siapa saja disana?" tanya Alfy penasaran.


"Hanya Mami dan Papi saja, Fy." jawab Nyonya Flora berbohong.


"Baiklah Mi, Alfy matikan dulu yah." ucap Alfy.


Kini sambungan ponsel pun terputus dan keluarga yang bahagia tampak melanjutkan keseruan mereka sementara Nyonya Syein dan Nyonya Flora bergegas ke dapur menyiapkan cemilan dan minuman untuk acara kebahagiaan keluarga itu.


Sedangkan Tuan Reindra dan Tuan Indrawan yang duduk di sofa saling melempar pandangan satu sama lain dan berbicara hanya melalui padangannya saja.


Wajah kedua pria itu seketika tersenyum seperti tampak merencanakan sesuatu yang sudah sangat di inginkan. Tentu hal itu mengenai cucu yang mereka tunggu-tunggu kehadirannya.


Akhirnya setelah memiliki keinginan yang sama lagi kini kedua pria itu tampak saling merangkul dan menepuk-nepuk bahu berlawanan sambil tertawa licik.


Beberapa hari telah berlalu kini suster Syanin yang baru saja keluar dari rumah sakit meraih ponselnya untuk menghubungi Jacobie.

__ADS_1


Di kantor, Jacobie yang masih sibuk bergelut dengan laptop di depannya melirik cuek ke arah ponsel di meja kerjanya.


Matanya tampak acuh, namun saat ia mendekatkan tatapannya membulatkan matanya dengan sempurna wajahnya tampak terkejut.


Seketika senyum di wajah pria itu terlihat sangat jelas kebetulan ia seorang diri tanpa ada Alfy maupun Delon bersamanya.


"Kemana sih?" gerutu suster Syanin yang kesal ketika menghubungi Jacobie namun belum diangkat juga.


Bagaimana Jacobie mengangkatnya saat ini saja ia sedang sibuk bergoyang pingguk kesana kemari di ruang kerjanya sambil melangkah bolak balik dengan memeluk ponselnya.


Ruangan yang kedap suara dan tidak ada yang bisa melihat tingkahnya tentu membuat Jacobie sangat kegirangan tanpa mengontrol diri lagi.


"Dia menelfonku...dia merindukanku...dia menelfonku yeeeee." teriak Jacobie berulang-ulang mengatakan hal yang sama.


Setelah cukup lama ia berjoget-joget kini tubuhnya sudah kebali tegak lalu menarik nafas dengan dalam kemudian menghembuskannya.


Tangannya menggeser layar ponsel untuk mengangkat telefon dari suster Syanin.


"Ada apa?" tanya Jacobie yang berusaha menyembunyikan kesenangannya.


Meskipun begitu kini masih terlihat jelas wajahnya yang berusaha keras menahan tawa kebahagiaannya.


"Apa kau sedang sibuk?" tanya suster Syanin.


"Em...tidak." jawab Jacobie singkat.


"Bisakah kita bertemu sebentar di cafe dekat rumah sakit?" tanya suster Syanin.


"Oke." jawab Jacobie dengan cepat.


Suster Syanin tentu sangat mengingat tangisan Zeyra yang berada di pelukannya beberapa hari lalu dan itu membuatnya ingin membantu Adik dan Kakak itu.


Dengan cepat Jacobie bergegas menuju mobilnya dan melajukan kendaraannya. Hatinya terus semakin berbunga-bunga baru menelfon saja ia sudah sebahagia itu di tambah lagi suster Syanin mengajaknya bertemu.


Tentu Jacobie semakin yakin jika ia adalah pria yang sangat di inginkan suster Syanin tentunya, meskipun masih ada rasa kesalnya pada suster Syanin yang ia lihat saat di rumah sakit bersama pasien pria.


Di sebuah cafe suster Syanin yang sudah sejak tadi menunggu kedatangan Jacobie sambil menikmati jus dan cemilan di meja itu.


Tidak beberapa lama datang seorang pria bertubuh tegak dengan fashion khas Syein Biglous yang serba berwarna gelap membuat ketampanannya semakin terpancar sempurna.


Suster Syanin yang menatapnya tanpa sadar menumpahkan minuman dari bibirnya karena mulutnya terbuka.


Entah apa karena mereka jarang bertemu akhir-akhir ini atau karena memang Jacobie yang semakin terlihat tampan di mata suster Syanin.


"Hey tutup mulutmu." ucap Jacobie yang membuyarkan lamunan suster Syanin.


"Eh iya." ucap suster Syanin yang terkejut lalu meneguk minumannya.

__ADS_1


Kini Jacobie duduk tepat di depan suster Syanin dengan tatapan tajam berusaha terlihat biasa saja meskipun tidak bisa di bohongi jika saat ini wajah Jacobie tampak bersinar dari biasanya karena ada senyuman yang terselip di wajah tampannya.


Selamat membaca yah salam hangat dari author Marina Monalisa untuk kalian semuanya.


__ADS_2