
Kliennya yang mendengar perkataan Tuan Adelio mendadak kaget tidak percaya. “Tuan, ada apa ini?” tanyanya sedikit bingung.
Namun tidak sama sekali di jawab oleh Tuan Adelio yang kini sudah beranjak pergi dari restoran dengan menarik kasar tangan Wenda.
“Aw sakit.” rintih Wenda yang berusaha berlari mengikuti langkah atasannya menuju mobil.
Kini mereka menuju kembali ke kantor Sailis Group dengan suasana hening tidak ada suara dari mulut keduanya. Wenda yang bingung dengan tingkah atasannya hanya berusaha mengunci rapat mulutnya takut jika salah bicara dan membuat Tuan Adelio semakin marah padanya. Sementara Tuan Adelio yang merasa bingung atas sikapnya tadi hanya berusaha mencerna apa sebenarnya yang ada di dalam fikirannya. Mengapa dia sangat benci melihat pria yang melirik dengan jahat seperti tadi pada Wenda.
Wenda yang bekerja sudah cukup lama bersama Tuan Adelio kini sudah merasa betah dan mulai memahami sifat pria itu. Meskipun terkadang sangat membuatnya bingung seringkali Tuan Adelio kasar padanya ketika seseorang berbicara pada Wenda di kantor mau pun di luar kantor. Dan kadang juga pria itu menunjukkan sikap masa bodohnya. Wenda selalu berusaha mengendalikan diri tiap kali pria itu berlaku peduli padanya.
Wenda sudah tidak seberani dulu untuk dekat dengan pria mana pun. Yang ia bayangkan selalu ketakutannya ketika berada di ruang rehabilitas saat ia di rawat atas penyakit hypers*xnya. Kejadian saat itu selalu membuatnya trauma untuk menjalin hubungan dengan pria.
Sementara di kantor Syein Biglous kini Jac yang sudah selesai menghapus pemberitaan yang menyebar tentang istri Tuan mudanya merasa legah. Tanpa ada satu pun pemberitaan yang tersisa semua bisa ia bereskan dengan sekejap. Begitu juga dengan orang yang sudah menyebarkan berita itu kini sudah bergemetar ketakutan di hadapan Jac dan beberapa orang suruhan Jac yang ikut berdiri di dalam ruangan itu.
“Kau boleh pergi.” ucap Jac memberi ijin pada wartawan yang sudah lancang itu menyebarkan berita.
Dengan cepat wartawan itu berlari keluar dari ruangan, tubuhnya sudah berkeringat ac yang terasa dingin sangat tidak ada artinya ketika seseorang merasakan ketakutan yang luar biasa. Jac seperti sudah benar-benar membunuh keberanian pria itu. Jac memang pria yang sangat misterius ia bisa melakukan apa pun yang membuat musuhnya benar-benar ketakutan.
***
Tanpa terasa semua terlewati begitu indah dan ada yang menyakitkan selama tiga tahun kini sudah waktunya Jee lulus kuliah bersama para sahabatnya. Hari wisuda telah tiba, kini Alfy yang sejak pagi sudah sibuk menyuruh Jac mendatangkan salon yang terkenal untuk membantu istrinya bersiap.
"Sayang, aku bisa makeup sendiri." ucap Jee yang tidak ingin merepotkan semuanya.
"Sudah diamlah! Bagaimana Jac mereka semua bisa kau hubungi?" tanya Alfy yang tidak mau menuruti Jee kali itu.
"Sudah Tuan, semua make up dan gaun sudah mereka persiapkan dan sekarang sedang dalam perjalanan." jelas Jac dengan sigapnya.
Pagi itu terasa sangat drama sekali di rumah utama, Jee yang merasa bingung melihat suaminya kini hanya duduk pasrah di depan televisi sambil menunggu kedatangan orang yang di suruh Alfy.
Tidak lama kemudian suara beberapa mobil terdengar parkir di depan halaman rumah utama, mereka membawa tiga mobil untuk persiapan make up Jee. Semua sesuai dengan keinginan Alfy, tetapi ketika sampai di kediaman semua merasa bingung. Tidak ada ciri-ciri rumah yang sudah di hias dengan bunga-bunga. Melihat alamat yang ada di ponsel benar tidak salah.
"Sepertinya kita salah rumah yah?"tanya salah satu pembantu make up itu.
__ADS_1
"Tidak, ini benar alamat rumah keluarga Syein." jawab kepala make up.
Dengan ragu mereka menuruni mobil dan melangkah hati-hati ke dalam rumah yang sangat megah itu. "Maaf Tuan, apa acaranya di sini?" tanya kepala make upnya dengan hati-hati.
"Acara?" tanya Jee yang terkejut.
"Iya tadi kami sudah membawa semua perlengkapan make up dan gaun." jelasnya lagi.
Jee yang mendengar hanya mendengus kesal menahan malu, apa iya dia harus memakai gaun pengantin untuk wisuda. Padahal Jee sudah mempersiapkan gaun wisudanya dari jauh-jauh hari tanpa Alfy tahu.
"Tidak, aku hanya akan pergi wisuda, cukup make up saja aku untuk gaun sudah ada." ucap Jee yang membawa mereka masuk ke kamarnya.
Alfy yang bingung harus berkata apa hanya berdiri diam mematung, sementara Jac yang menahan tawa tanpa sadar mendapat tatapan tajam dari Alfy.
"Ada yang lucu, Jac?" tanyanya ketus.
"Maaf Tuan, tidak ada." jawab Jac dengan ketakutannya.
Kini Alfy hanya duduk di sofa sembari menunggu istrinya bersiap, sedangkan para keluarga sudah tampak rapi dengan pakaian masing-masing. Begitu juga dengan Alfy yang sudah siap sejak tadi pagi memakai jas yang Jee sudah siapkan.
Setelah lama mereka berpandangan kini keluarga mengajak untuk segera ke kampus karena acara sudah akan di mulai. Setibanya di kampus para tamu undangan melihat kedatangan keluarga Syein yang di sambut hangat oleh mereka. Pandangan yang tidak lepas melihat sepasang suami istri yang tampak serasi.
Acara wisuda pun di mulai Alfy yang di sambut meriah saat maju ke podium memberikan sambutan selaku pemilik kampus akhirnya melangkah dengan gagahnya. Wajahnya selalu tidak bisa lepas dari pandangan para kaum hawa.
Begitu pun juga dengan Jee yang tampil sangat cantik membuat pasangan itu tampak serasi, saat Alfy memberikan sambutan lagi-lagi di akhir kata ia mengungkapkan perasaan yang begitu dalam pada sang istri. Dan tangannya menunjuk arah Jee, seketika semua mata dan kamera menyorot ke arah Jee.
Wanita cantik itu hanya bisa tersenyum bahagia mendengar pengakuan Alfy yang beruntung bisa di cintai wanita sesempurna Jee.
Sampai akhirnya tiba waktunya untuk memulai memanggil nama yang mewakili tahun itu sebagai lulusan terbaik. Moderator menyebut nama Jeerawat Priatmaja sebagai lulusan terbaik dengan ipk tiga koma sembilan puluh lima. Semua tangan bertepuk dengan meriah sementara Alfy yang terdiam mematung tidak percaya dengan yang ia dengan memeluk istrinya yang baru saja maju ke podium untuk menerima pengahargaan.
Alfy yang tidak bisa mengendalikan dirinya berlari naik menyusul sang istri dan memeluk Jee sangat erat. Semua semakin bertepuk tangan meriah melihat pertunjukan romantis di depan sana. Nyonya Flora yang melihat kebahagiaan itu tanpa sadar meneteskan air mata bahagianya.
Ia sangat bangga memiliki putri yang begitu sempurna kebaikan dan kecerdasan semua berada pada putrinya.
__ADS_1
“Lihatlah putramu sudah tergila-gila pasa putriku.” ucap Tuan Indrawan yang mengejek Tuan Reindra.
“Iya kau pandai sekali merawat putrimu, aku salut denganmu.” puji Tuan Reindra yang bergeleng kepala melihat Alfy terus memeluk Jee.
Kali ini lagi-lagi kekuasaan akan mengalahkan segalanya orang kaya mah bebas ingin memeluk istrinya di mana saja. Tidak akan ada yang berani menegurnya secara kampus miliknya.
“Kau tidak memberitahuku?” tanya Alfy yang merasa bingung harus mengatakan apa lagi.
“Maaf sayang, aku ingin memberikan kejutan pada kalian semua.” jawab Jee yang tersenyum bahagia.
Akhirnya Alfy yang sudah puas memeluk istrinya di suruh Jee untuk turun karena malu menjadi tontonan para wisuda dan tamu undangan.
“Tidak, aku ingin bersamamu di sini.” ucap Alfy yang membantah.
“Aku hanya akan memberikan ucapan terimakasih sebentar saja.” ucap Jee yang kembali kesal.
“Mereka akan melihatmu sepanjang waktu berdiri di sini, jika aku tidak bersamamu mata mereka semua pasti menatapmu dan bisa jadi setelah ini mereka akan mengejar-ngerjar istriku.” jelas Alfy yang tidak ingin menuruti permintaan Jee.
“Ayolah aku mohon kali ini saja, sayang.” bujuk Jee dengan wajah sedihnya.
Akhirnya Alfy mengalah dan melangkahkan kakinya turun dari podium sambil sesekali melihat mata-mata yang memandangi istrinya.
Jee yang sudah mulai berbicara ia mengucapkan terimakasih pada para dosen yang membantunya sampai di titik ini. Begitu juga dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya yang sudah membantunya dan tidak terlupakan orang yang paling ia cintai Alfy Syein Biglous. Suami yang setia menemaninya untuk belajar. Alfy yang mendengar merasa bahagia ketika namanya di sebut dengan lengkap dan di tambahi kata suami tersayangnya.
“Dia menyebutku suami tersayang, baru kali ini aku sebahagia ini.” ucap Alfy dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.
Hari itu berlalu dengan cepat semua keluarga yang baru saja menyelesaikan sesi foto dengan wisuda termasuk juga keluarga besar Syein kini baru saja selesai berfoto. Alfy dan Jee tampak bahagia dengan baju senada berwarna cream dan Alfy yang mengenakan jas hitam dan kemeja cream sangat tampan dan cantik.
Acara wisuda pun telah usai kini saatnya sekeluarga pulang begitu juga dengan Alfy dan Jee yang ikut mengiringin mobil di depannya. Sesampaianya di rumah Jee di sambut dengan Jac yang berdiri bersama Delon, Zeyra, Syanin, Dokter Adeline, Dokter Richard, dan para pelayan lainnya. Semua sudah membawakan buket bunga yang sangat indah.
“Wah terimakasih yah, kalian semua baik sekali.” ucap Jee yang tersenyum bahagia mendapat bungan begitu banyak.
Belum lama senyumnya terlihat kini sudah merubah raut wajahnya dengan tatapan bingung dan mengernyitkan jidatnya penuh tanya.
__ADS_1
“Itu koper aku mau di kemanain?” tanya Jee pada pelayan.