Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Malam Kehangatan


__ADS_3

Angin yang bertiup kesana kemari semakin kencang kini menembus setiap tubuh manusia yang ada di pulau White itu. Termasuk Alfy dan Jee yang sudah merasa kedinginan di pinggir pantai kini beranjak pergi menuju kamar mereka.


Sementara Dokter Adeline bersama Dokter Richard sudah menunggu di depan resort pribadi Alfy untuk memastikan pasiennya kini pulang tepat waktu sesuai dengan perjanjian mereka tadi akan memeriksanya.


Alfy yang tidak ingin Jee berjalan terlalu jauh akhirnya dengan sigap menggendong tubuh istrinya tanpa mendengar penolakan dari Jee.


Sangat lucu sekali pemandangan sore itu, Jee yang terus memukul-mukul dada bidang suaminya merasa kelelahan karena tangan satunya ia gunakan untuk memegangi bawah bajunya yang sering kali terbuka lebar.


Jee bagaikan kerangka layangan yang memakai sampul dengan ukuran tidak sesuai dengan kerangkanya seperti ingin terbang terbawa derasnya angin.


Namun apalah daya Alfy tidak akan bisa terbantahkan oleh siapa pun jika ia sudah berkehendak maka terjadilah dan tidak ada yang bisa mengganggu gugat.


Sesampainya mereka di depan resort mata Alfy dengan tajamnya melirik ke arah Dokter Richard lalu menepiskan senyuman sinis di bibirnya.


"Ayo kita periksa Jee." ajak Dokter Adeline pada Dokter Richard.


"Apa kau tidak bisa sendiri?" tanya Alfy dengan nada bicara dinginnya.


Jee yang memahami tatapan suaminya dengan cepat menarik tangan Dokter Adeline ke kamar karena memilih untuk mencari jalan aman.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Dokter Adeline yang penasaran.


Jee yang enggan menceritakan kebodohan suaminya hanya tersenyum dan mempersilahkan Dokter Adeline untuk memeriksa keadaannya.


Sementara Alfy yang masih berdiri di depan pintu enggan berbicara pada Dokter Richard, kekesalannya masih sangat menguasai dirinya meskipun sudah sejak tadi sore lamanya.


Sedangkan Dokter Richard hanya terdiam dengan tatapan penuh ejekan pada Alfy merasa pria di hadapannya sudah bertingkah layaknya bocah yang sedang berebutan perhatian dari seorang ibu.


Dokter Richard yang baru saja ingin menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka sudah mendapat halangan dari Alfy secepat kilat.


Tangannya dengan sigapnya sudah menutup rapat pintu yang tadinya terbuka sedikit memperlihatkan dua wanita di dalam sana.


Setelah Alfy berdiri tegak di depan pintu itu kini Dokter Richard merasa kurang puas mengerjai sahabatnya dan tangannya kembali meraih gagang pintu lagi. Belum sempat ia memutar tangan Alfy dengan cepatnya langsung menepis tangan Dokter Richard.


Kali ini Alfy sudah kehabisan kesabaran dengan cepat tangannya sudah menojok perut sahabatnya tanpa suara.


Dokter Adeline dan Jee terkejut saat mendengar rintihan seorang pria di depan pintu kamarnya, begitu cepat kedua wanita itu beranjak keluar.


"Aw...aw." suara Dokter Ricahrd terdengarn meringis kesakitan.


"Itu belum seerapa, aku bisa saja mematahkan tanganmu dan mencungkil matamu." ucap Alfy terdengar kejam.


"Ada apa ini?" tanya Jee yang terkejut melihat Dokter Richard memegangi perutnya dengan wajah menahan sakit.


"Aline, apa kau sudah selesai memeriksanya?" tanya Dokter Richard sambil sesekali menahan perutnya.

__ADS_1


"Iya sudah." jawab Dokter Adeline dengan wajah yang bingung.


Sementara Alfy tetap berdiri tegak dengan tatapan yang membelakangi mereka dengan memandangi lautan yang tampak mempesona.


Dokter Richard yang sudah merasa tidak ingin lagi menguji kebodohan temannya akhirnya mengajak Dokter Adeline untuk beranjak pergi dari tempat itu.


Mungkin itu adalah kali terakhir Dokter Richard menguji Alfy, pukulan yang mendarat pada perutnya sunggu luar biasa sakitnya.


Dokter Richard memang tidak sekuat Alfy dalam hal fisik ia memiliki tubuh yang atletis hanya karena sering fitnes tetapi tidak dalam hal menguatkan kekebalan tubuhnya.


Nyonya Flora yang merasa kepergian putrinya sudah sangat lama kini tidak mampu lagi menahan rindunya dengan berusaha membujuk Tuan Indrawan untuk menghubungi Jee. Tuan Indrawan akhirnya menyetujui namun mereka tidak ingin melakukan panggilan video karena takut jika nanti Jee mengetahui kedua keluarga itu sudah kembali tinggal bersama.


"Ponselmu berdering." ucap Alfy memberikan benda kecil di tangannya pada Jee.


"Eh Mami." jawab Jee yang tersenyum menerima panggilan itu.


Dengan cepat ia menggeser layar ponselnya dan menempelkan tepat di telinganya.


"Halo, Mi." ucap Jee yang terdengar ceria.


"Sayang, bagaimana kabarmu? apa kau baik-baik saja? Mami sangat merindukanmu." ucap Nyonya Flora yang terus menghujani dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa henti.


Tuan Indrawan yang berada di sampingnya hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Bagaimana Jee bisa menjawab jika ku terus bertanya tanpa hentinya."


"Aw...sakit Mi." balas Tuan Indrawan mengecup pipi istrinya.


Nyonya Flora yang kesal dengan tingkah Tuan Indrawan akhirnya beranjak masuk ke dalam kamar lalu menguncikan suaminya.


Jee yang mendengar keributan kedua orangtuanya hanya tertawa sambil menatap ke arah Alfy yang dari tadi memperhatikannya.


"Mami jangan khawatir Jee baik-baik saja di sini." ucap Jee.


"Mami merindukanmu sayang." Suara Nyonya Flora terdengar sedih.


"Habis Mami tega ninggalin Jee di sini, jadi sekarang Jee malas pulang." ucap Jee yang mengerjai Nyonya Flora.


Mendengar kekesalan putrinya Nyonya Flora berusaha menjelaskan jika semua bukanlah rencananya, justru Nyonya Flora tidak mengetahui apa pun. Semua yang merencanakan adalah suaminya bersama Tuan Reindra untuk menyatukan mereka kembali.


Jee yang mendengar kepanikan Nyonya Flora hanya tertawa geli, mereka cukup lama berbicara dan beberapa kali Jee mengajaknya untuk melakukan panggilan video namun Nyonya Flora terus menolak dengan berbagai macam alasan.


Akhirnya Nyonya Flora menyuruh Jee untuk segera makan dan meminum obatnya. Jee yang menuruti ucapan Nyonya Flora segera memutuskan sambungan telefon itu.


"Sudah kangen-kangenannya?" tanya Alfy.


"He'em." jawab Jee sambil tersenyum.

__ADS_1


Alfy yang menatap Jee dengan sangat intens seperti mendapat respon dari istrinya, belum sempat Alfy mengatakan apa pun Jee sudah lebih dulu memeluk erat tubuh suaminya.


"Emmuahh." suara kecupan mesra Jee di bibir suaminya.


Dengan erat kedua tangan Jee melingkar sempurna pada tubuh Alfy entah mengapa kali ini ia sangat berani dan begitu terlihat penuh ketulusan.


"Aku sangat menyayangimu." ucap Jee yang menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan yang di balas Alfy.


"Mengapa kau tiba-tiba seperti ini?" tanya Alfy penasaran.


"Entahlah, yang jelas aku benar-benar menyayangimu." lanjut Jee.


Kini mereka larut dalam buaian pelukan hangat yang terlihat sangat saling merindukan, baru kali ini Alfy mendapat perlakuan layaknya pria yang sangat di cintai.


Karena sebelum-sebelumnya selalu Alfy yang memulai duluan, yah memang bisa di maklumi dengan usia Jee yang masih muda dan perilakunya yang masih sangat polos.


Setelah mereka cukup lama berpelukan dengan manja-manja kini Alfy mengajak Jee untuk makan malam karena pelayan sudah mengantarkan makanan. Malam itu mereka tidak makan di luar karena cuaca memang sedang hujan deras.


Alfy yang dengan penuh kesabaran menyuapi istrinya meskipun Jee beberapa kali menolak dan ingin makan sendiri. Selama mereka berada di pulau Jee belum pernah makan sendiri sampai rasanya tangannya itu tidak bisa berguna untuknya.


Bagaimana tidak, setiap melakukan hal apa pun Alfy selalu siaga membantu Jee melebihi kesiagaannya saat Jee sedang hamil.


Malam sudah semakin larut kini makanan sudah terlahap habis dengan kedua orang yang berada di dalam kamar itu.


Setelah selesai makan Alfy segera membantu Jee untuk membersihkan diri dan mulut mereka di kamar mandi. Cuaca yang begitu sangat dingin membuat Alfy junior tampak bangun dan membuat sang pemilik kini berfikiran yang melayang-layang.


Tatapan Alfy begitu penuh arti pada Jee namun ia berusaha untuk menahan birahinya mengingat istrinya yang masih belum pulih sekali.


"Ada apa?" tanya Jee lembut.


"Tidak, ayo cepatlah tidur." ajak Alfy yang berusaha membuyarkan fikirannya.


Dengan cepat ia membantu istrinya untuk berbaring dan memberikan selimut sampai menutup tubuh Jee dengan sempurna.


Jee yang sudah tertidur dengan lelap tidak melihat ekspresi suaminya yang terus menatapnya semakin dekat, semakin dekat dan terus menghirup aroma tubuh istrinya.


Mata Alfy terpejam sesekli saat menikmati penciumannya yang menelusuri lekuk tubuh istrinya tanpa berani menyentuh.


Tatapannya begitu redup seakan sedang berusaha menahan hasratnya yang ingin ia lampiaskan sejak lama. Sulit bagi Alfy untuk manahan diri jika berada di samping Jee sampai akhirnya tidak sabar lagi Alfy meraih ponselnya.


Ia tampak mencari nomor seseorang untuk di hubunginya malam itu wajahnya begitu terlihat sangat menginginkan sesuatu.


Siapakah yang akan di hubungi oleh Alfy yah setelah ini? apakah dia memiliki seseorang di luar sana, yuk ikutin terus kelanjutan ceritanya yah!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2