
Masih di ruang yang sama dengan desain putih tampak melihatkan kebersihan ruangan itu dengan perlengkapan kamar yang sangat lengkap yah ruang pribadi khusus keluarga Syein Biglous yang bersebelahan dengan sang Ayah. Setelah cukup lama Alfy dan Jee berbicara kini mereka dikagetkan kedatangan Mami Flora dan Mamah Syein.
"Bagaimana keadaanmu Fy?" tanya Mamah Syein tersenyum.
"Seperti yang Mamah lihat aku tidak baik-baik saja," jawab Alfy dengan wajah menekuk.
"Ada apa denganmu?" tanya Mami Flora.
"Kalian sama sekali tidak pernah menjengukku meski bersebelahan kamar." ucap Alfy yang sedikit mengambek.
Entah sejak kapan pria itu menjadi seperti anak kecil rasanya jauh dari Alfy yang Mamah Syein ketahui dulu sebelum ia memiliki istri, anaknya itu semakin bertingkah aneh untuk mendapatkan perhatian Jee yang terkadang masih kurang peka padanya.
"Bukankah sekarang ada istrimu yang merawatmu sayang?" tanya Mami Flora.
"Tentu saja Mi," jawab Jee dengan tersenyum tanpa menunggu Alfy yang menjawabnya.
"Apakah kau sudah sarapan?" tanya Mamah Syein lagi.
"Sudah Mah," jawab Alfy tersenyum demi menghilangkan rasa cemas orangtuanya.
"Bagaimana keadaan Papah, Mah?" tanya Jee dengan wajah antusiasnya mengharapkan ada perkembangan tentang Papah mertuanya itu.
Semenjak terbaringnya Tuan Reindra di rumah sakit sampai saat ini masih juga belum sadarkan diri rasanya Jee telah kehilangan sosok Papah yang betul-betul memanjakannya dan selalu bersikap ramah padanya. Mengingat wajah cerianya Tuan Reindra rasanya sangat menyayangkan hal itu mengetahui ekspresinya bagaimana ketika tahu menantunya telah hamil cucu yang selama ini ia impikan dengan sahabatnya Indrawan itu. Selama itu juga Tuan indrawan setia menunggu di sampingnya tanpa berfikir sedikitpun untuk beranjak dari rumah sakit dan pulang ke rumah. Ia selalu menunggu kesadaran sahabatnya itu dengan setia di samping sambil sesekali bercerita tentang masa muda mereka yang selalu bersama sampai akhirnya sukses bersama dan berencana menjodohkan anak mereka.
Saat mereka semua berkumpul di ruangan Alfy tiba-tiba saja Jacobie mengetuk pintu lalu masuk dengan langkah perlahan tapi pasti.
"Tuan saya ingin melaporkan," ucap jac meminta ijin pada Alfy.
Dengan cepat Alfy meminta waktu pada semua keluarga yang ada di ruangan itu termasuk istrinya sekalipun untuk berbicara berdua dengan Jacobie. Alfy tidak ingin membuat keluarga panik maka itu ia sama sekali tidak pernah ingin keluarganya mengetahui kesulitan yang ia hadapi dalam pekerjaan.
Saat Alfy berada di dalam ruangan berdua dengan Jac semua beralih pindah keruangan Tuan Reindra setelah di dalam ruangan Jee yang tampak merindukan keceriaan kedua pria tua di hadapannya melangkah perlahan mendekati Papinya.
"Papi baik-baik saja?" tanya Jee yang terlihat khawatir karena sejak Papah Reindra tidak sadarkan diri sekata pun ia tidak pernah mendengar dari bibir Papi Indrawan padanya.
__ADS_1
Mendengar Jee bertanya padanya pria itu hanya mengangguk tanpa berbicara sedikitpun dan tanpa menoleh pada putrinya. Melihat respon Papinya dengan usaha yang keras Jee menahan air mata yang sudah memenuhi bola kristal hitamnya yang indah namun hal itu tidak bisa ia hindari sampai akhirnya jatuhlah kristal bening itu membasahi pipi mulusnya Jee. Sesekali ia menyeka air mata di pipinya namun tidak bisa berhenti di situ saja justru semakin banyak yang berjatuhan rasanya di dada wanita itu sangat sakit melihat kedua pria di hadapannya seperti sudah tidak ia kenali lagi karena mereka dulu yang begitu ceria selalu mampu memecahkan keheningan kini justru membuat semua hal terasa hening karena ulah mereka berdua.
Perlahan Jee menggenggam erat tangan Papah Reindra dan mendaratkan di pipi wanita cantik itu yang kini telah basah.
"Pah cepat sembuh yah dan cepat pulang calon cucu Papah sudah menunggu kehadiran Kakeknya," ucap Jee sambil menahan suara tangisnya.
"Sayang jangan bersedih nanti kamu drop lagi," ucap Mami Flora yang mendekati anaknya lalu memengang erat pundak anaknya.
"Papah sampai kapan seperti ini Mi rasanya sangat sepi jika Papah dan Papi selalu berdiam tanpa suara," tanya Jee yang dengan wajah sedihnya berharap mertuanya lekas sadar.
"Papah akan sadar kata Dokter namun untuk waktu ini kita perlu bantu berdoa sayang," Dengan berusaha menenangkan Jee kini Mamah Syein ikut bergabung memeluk Jee dengan erat.
Sepersekian menit perlahan tangan yang Jee genggam bergerak sedikit demi sedikit mengetahui hal itu Jee terkejut dan dengan kasarnya ia menghapus air matanya lalu tersenyum.
"Pi tangan Papah bergerak!" teriak Jee dengan senangnya.
Mendengar hal itu Papi Indrawan segera berdiri memanggil Dokter, tidak lama kemudian datanglah pria dengan jas putihnya melangkah terburu-buru dan segera memeriksa keadaan Tuan Reindra. Kini mata pria yang terbaring itu sudah membuka dengan sempurna tampaklah bola mata bulat yang indah terlihat seperti akan memancarkan aura kebahagiaan kembali pada keluarganya.
"Papah sudah sadar Mah," ucap Jee dengan penuh antusiasnya.
"Tuan mohon maaf apakah anda bisa melepas pelukan itu?" tanya Dokter dengan memegangi lengan Tuan Indrawan.
"Aku tidak bisa melepaskannya begitu cepat Dok," jawab Tuan Indrawan tanpa memperdulikan Dokter itu.
"Pelukan anda bisa saja membuat Tuan Reindra tidak sadarkan diri lagi Tuan," ucap Dokter yang kini terlihat panik.
Mendengar hal itu Tuan Indrawan dengan segera melepas pelukannya dan melihat senyuman yang selama ini ia rindukan yah Tuan Reindra sudah sadar dan tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang bisa terlihat berlebihan dari pada istrinya sendiri.
"Kau akhirnya sadar juga," ucap Tuan Indrawan dengan wajah legahnya.
"Kau sangat merindukanku dari pada istriku sendiri ternyata," Dengan suara yang masih terdengar lemas Tuan Reindra berusaha membuat lelucon yang sukses membuat Nyonya Syein menunjukkan wajah ngambeknya.
"Bagaimana bisa aku tidak merindukanmu sepanjang hari kau sama sekali tidak perduli denganku sampai terlalu asyik menikmati tidur panjangmu," ucap Nyonya Syein dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
"Kemarilah," panggil Tuan Reindra sambil merentangkan kedua tangannya memberi persetujuan pada istrinya untuk memeluk tubuhnya.
Melihat hal itu Nyonya Syein dengan segera memeluk suaminya dengan menangis karena terlalu kahwatir pada suaminya setelah sekian lamanya akhirnya penantiannya juga datang yah suami kini sudah sadar dan membuatnya tersenyum lagi semua orang di dalam ruangan kini sudah bisa bernafas dengan legah. Sementara Tuan Reindra menatap satu persatu orang di dalam ruangan itu namun sosok yang ia cari tidak ada terlihat di sekitarnya.
"Alfy kemana?" tanya Tuan Reindra bingung.
"Dia di ruang sebelah Pah," jawab Jee dengan ragu.
"Maksudnya?" Dengan wajah bingungnya menanti penjelasan dari menantunya.
"Alfy di rawat Pah dia tertembak beberapa hari yang lalu," Jelas Nonya Syein.
Mendengar hal itu Tuan Reindra terkejut dan berusaha bangun dari kasur itu namun Nyonya Syein menahannya meminta untuk suaminya tetap istirahat dan menjelaskan bahwa Alfy sudah sedikit membaik hanya menunggu pulih saja dan mendengar hal itu Tuan Reindra terlihat sedikit lebih legah dari sebelumnya. Ia benar-benar terkejut ketika ketidaksadarannya telah meninggalkan banyak hal yang terjadi di dalam keluarganya. Sampai putranya mempertaruhkan nyawa pun ia tidak tahu hal terberat yang sudah di hadapi sang putranya tanpa ia di sampingnya.
"Papah jangan khawatir anak kita baik-baik saja," ucap Nyonya Syein.
"Apa dia sudah benar-benar membaik?" tanya Tuan Reindra meyakinkan dirinya.
"Iya Alfy sudah sangat membaik Pah," jawab Nyonya Syein dengan penuh keyakinan.
"Reindra apakah kau tidak ingin mengetahui hal bahagia dari menantumu ini?" tanya Tuan Indrawan tersenyum.
"Hal apa itu Indra?" tanya balik Tuan Reindra dengan tatapan meminta penjelasan lebih.
"Kita sebentar lagi akan bermain dengan cucu kita," Jelas Tuan Indrawan sambil tertawa bahagianya.
"Benarkah?" Merasa terkejut dengan jawaban Tuan Indrawan.
"Tentu saja benar," jawab Tuan Indrawan.
Kini mereka berpelukan bahagia menantikan kehadiran cucunya yang telah lama ia dambakan sambil menatap perut rata menantunya dengan senyuman yang tidak bisa di artikan kini matanya berkaca-kaca merasa penuh haru ketika ia sadar telah di berikan hadiah terindah oleh menantu kesayangannya.
"Jee kau tidak boleh kelelahan yah!" Perintah Tuan Reindra pada menantunya.
__ADS_1
"Iya Pah aku akan jaga diri," jawab Jee tersenyum karena saat ini ia akan mendapatkan perhatian yang tentunya akan sangat berlebihan dari pada tingkah suaminya nanti.
Cerita Alfy dan Jee sampai di sini duluyah pada episode ini semoga kalian menyukainya dan jangan lupa untuk selalu memberi dukungan pada author untuk like dan coment setiap episode yang sudah kalian baca yah Terimakasih Assalamualaikum Wr. Wb.