Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Salah Paham part Jac


__ADS_3

Jee yang sudah melihat suaminya sedang sibuk bekerja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu langsung masuk melingkarkan tangannya pada leher Alfy.


"Kau kemari?" tanya Alfy sambil mengecup kening istrinya.


"Iya, ayo kita makan." ajak Jee yang menarik tangan suaminya untuk mengikutinya ke meja di ruang kerja itu.


Sementara Jac yang entah sejak kapan sudah menghilang ketika melihat kehadiran Nona mudanya tampaknya ia sangat mengerti untuk waktu dua orang itu.


Alfy yang tersenyum senang melihat kehadiran istrinya pun hanya menatap Jee dalam diam sama sekali tidak ada mengatakan apa-apa. Jee yang menyadari tatapan dalam suaminya merasa jadi salah tingkah merasa tidak percaya diri ketika di tatap tanpa jeda oleh Alfy.


"Ada apa?" tanya Jee yang berusaha menundukkan wajahnya dan tertutup oleh rambutnya yang jatuh itu.


"Kau cantik sekali." bisik Alfy sambil meraih dagu istrinya lalu menge*up bibir pink itu.


Mata Jee seketika terbelalak kaget meskipun mereka sudah sering melakukan lebih dari itu namun tetap butuh persiapan bagi Jee untuk mendapatkan itu semua.


Alfy yang masih aktif me***at bibir istrinya dengan ganasnya membuat Jee merasa sesak nafas akhirnya dengan sadar pria itu menyudahi permainannya.


Namun ternyata hal itu tidak berhenti begitu saja kini Jee dengan cepat di angkat oleh suaminya ke dalam pangkuannya mendapat perlakuan itu Jee sama sekali merasa tidak nyaman karena mereka sedang berada di kantor bagaimana jika ada yang melihat mereka.


"Han, cukup!" ucap Jee sambil berusaha turun dari pangkuan suaminya.


Namun tangan Alfy lebih kuat melingkarkan dengan sempurna pada pinggan istrinya tatapannya sangat dalam pada wajah Jee sepertinya siang itu Alfy bukan lapar nasi tapi lapar makanan yang sesungguhnya.


Begitu kuat Jee berusaha terus untuk turun tubuhnya bergerak tanpa henti mencoba melepaskan cengkraman maut suaminya itu.


"Jangan bergerak terus." ucap Alfy seperti menahan sesuatu sampai matanya terpejam beberapa kali.


"Memangnya kenapa?" tanya Jee dengan bingungnya.


"Kau membuat sesuatu di sana akan memaksamu." jelas Alfy sambil menatap ke arah pangkuannya.


Mendengar hal itu Jee seketika terhenti dan berusaha bicara pelan pada suaminya lagi mungkin hanya itu yang bisa membuat Alfy melepaskannya.


"Ayo kita makan." ajak Jee yang mencoba mencairkan suasana panas itu.


"Suapin." ucap Alfy tanpa menurunkan Jee dari pangkuannya.


Kini Jee hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah suaminya yang selalu ingin seperti bayi padanya bagaimana tidak seperti itu siapa yang bisa membiarkan wanita seksi itu hanya menjadi pemandangan saja. Tentu Alfy tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya untuk mendekat pada istrinya bahkan jika bisa mungkin ia akan menempelkan terus tubuh mereka berdua.


Setelah mereka berdua selesai makan kini duduk sambil berbicara santai namun tetap saja posisi berpangkuan tadi tidak terlepaskan. Delon yang sudah mengetahui mereka sedang berduaan tidak berani masuk ke dalam ruangan itu akhirnya ia menemui Jac di kantin.


Wajah Delon tampak berseri-seri sambil melangkah mendekat ke arah Jacobie terlihat sangat tampan dengan matanya yang begitu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Ada apa denganmu?" tanya Jacobie yang penasaran.


"Tidak ada apa-apa." jawab Delon menyangkal.

__ADS_1


Melihat ekspresi Delon begitu terlihat jelas pria itu sedang bahagia namun Jacobie yang merasa tidak begitu penting akhirnya mengacuhkannya begitu saja. Kini mereka berdua akhirnya memesan makanan sambil menunggu datangnya makanan Jacobie yang tidak bisa menahan diri terus menatap ke arah Delon.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Delon yang setengah tertawa mengejek.


"Tidak." Nada bicara Jacobie yang begitu dingin.


Jac merasa ada yang aneh dan rasa penasarannya entah pertanda apa karena sejak ia melihat Delon yang mendapatkan tugas mengantar suster Syanin dadanya tiba-tiba terasa begitu sesak namun ia sampai saat ini tidak tahu apa penyebab itu semua.


Melihat ekspresi wajah Jac tampak begitu penasaran namun gengsi bertanya Delon menertawakannya sambil sesekali menggelengkan kepalanya.


"Akhirnya aku bisa mendapatkan nomornya." ucap Delon memecah suasana Jac yang penasaran.


"Siapa?" tanya Jac yang berusaha mencari tahu.


"Yah Syanin lah, memangnya siapa lagi." ucap Delon dengan santainya.


"Deg..." Dada Jacobie terasa seperti tertusuk seketika matanya melotot rasa tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari Delon.


"Apa kau bilang Syanin?" Berusaha meyakinkan pendengarannya Jacobie bertanya lagi kemungkinan indera pendengarannya sedikit rusak akhir-akhir ini.


Apa-apaan dia memanggi namanya dengan sebutan Syanin sedekat itukah mereka saat ini sebenarnya apa yang baru saja terjadi pada mereka? astaga mengapa aku begitu tidak nyaman mendengar Delon membicarakan wanita itu yah apa yang salah sebenarnya. Tapi mengapa rasanya aku lemas sekali saat ini dadaku sangat sulit untuk menghirup udara.


Jacobie terus bertanya dalam hati tanpa berani mengatakan langsung pada Delon yang saat ini masih terus tersenyum.


"Iya Syanin, tadi kami sudah sepakat untuk tidak memanggil nama dengan sebutan yang terdengar formal," jelas Delon dengan santainya.


Tanpa ia sadari sebenarnya ucapannya membuat Jacobie tampak begitu lemas namun rasa bahagianya kali ini sepertinya membuat fikirannya tidak begitu perduli pada pria di hadapannya yang terlihat begitu menekuk wajahnya.


Delon yang melihat Jac tiba-tiba pergi merasa bingung karena di tinggalkan tanpa ada bicara padanya terlebih dulu.


"Jac, kau mau kemana?" teriak Delon.


Mendengar teriakan Delon tanpa menghentikan langkahnya Jacobie terus bergegas sampai akhirnya ia tidak terlihat lagi dari arah Delon. Wajahnya penuh kemarahan namun apa penyebab amarah itu ia tidak tahu sampai saat ini yang jelas hanya mengikuti perasaannya yang sesak saja.


Sementara Delon yang mengacuhkan kepergian pria itu meraih ponselnya dan mencari nama Syanin wajahnya tersenyum saat menemukan nama kontak itu.


Tangannya bergerak dengan lincah di layar ponsel miliknya dan merubah nama yang tadinya Syanin menjadi Sya entah sejak kapan pria itu berubah menjadi romantis. Ia memanggi nama itu untu menandakan panggilan dekat pada wanita itu.


Seketika tangannya mengirim pesan singkat pada kontak di ponselnya itu.


"Sya, kau sudah makan siang?" tanya Delon di pesan singkat itu sambil tersenyum menatap layar ponselnya.


Di rumah kecil wanita yang sedang berbaring istirahat itu meraih ponselnya yang baru saja berdering menandakan ada pesan masuk.


Dengan cepat ia membuka takut jika itu panggilan dari rumah sakit namun rasanya aneh bagi suster Syanin jika mendapat panggilan melalui pesan saja. Tapi siapa lagi memang yang menghubunginya selain pihak rumah sakit selama ini memang tidak ada yang menghubunginya selain itu.


Matanya suster Syanin terkejut mendapat pesan dari nomor baru itu terlebih lagi memanggilnya dengan sebutan Sya, dengan cepat ia membalas pesan itu.

__ADS_1


"Ini siapa yah?" balas pesan suster Syanin dengan wajah yang tampak penasaran.


Setelah beberapa lama kemudian nomor itu kembali menghubunginya, suster Syanin yang melihat pun segera mengangkatnya.


"Kau tidak tahu aku?" tanya Delon dengan suara misteriusnya.


"Tidak." jawab suster Syanin singkat.


"Aku Delon, Sya." Suara Delon yang berubah kembali seperti suara asalnya.


Mendengar itu suster Syanin terkejut begitu cepatnya pria itu menghubunginya perasaan baru beberapa jam yang lalu kan ia memberikan nomornya. Apa pria itu akan menemuinya sebentar lagi karena seingat suster Syanin Delon meminta nomornya untuk sewaktu-waktu ingin bertemu dengannya.


"Apa ada yang tertinggal Delon?" tanya suster Syanin yang merasa bingung dan dengan ragu ia menyebut nama pria itu.


"Iya ada Sya." jawab Delon tertawa kecil.


"Benarkah?" Kini wajah suster Syanin tampak bingung entah apa yang tertinggal perasaan semua yang ia bawa sudah lengkap.


Delon terus tertawa begitu lama ia membuat wanita di seberang sana terdiam sambil bingung memeriksa barangnya satu-persatu.


"Hatiku Sya." ucap Delon yang memecah konsentrasi suster Syanin saat memeriksa barangnya.


"Apa?" Suara suster Syanin tampak terkejut mendengar lelucon yang Delon lakukan padanya.


"Kau terganggu yah aku menghubungimu?" tanya Delon merasa tidak enak dan nada suaranya yang tampak terdengar sedih.


"Bu...kan begitu Delon, aku hanya bingung kau menghubungiku." jelas suster Syanin yang merasa tidak enak hati.


"Apa kau sudah makan?" tanya Delon lagi.


"Iya baru saja selesai." jawab suster Syanin.


Saat sedang bertelefon mendadak Jacobie memanggil Delon dengan wajahnya yang sulit di artikan kali ini.


"Tuan Alfy memanggilmu." ucap Jacobie dengan wajah datarnya.


Mendengar itu Delon tersenyum dan segera berkata, "Sya, aku matikan dulu yah Tuan memanggilku."


Lagi-lagi hal itu membuat fikiran jacobie merasa tertusuk yang ke sekian kalinya telinganya tampak memerak kesal mendengar panggilan Delon pada wanita itu yang terdengar tampak akrab sekali.


Dengan segera Jacobie bergegas pergi meninggalkan Delon yang masih bersiap meninggalkan meja itu.


Di ruang kerja Alfy yang sudah selesai bermanja-manja pada istrinya kembali bekerja sedangkan Jee yang merasa bingung harus berbuat apa terpaksa berbaring di kamar istirahat ruang kerja Alfy.


Sebenarnya ia ingin kembali ke rumah namun apa daya suaminya tidak ingin di tinggalkan di kantor terpaksa Jee menunggunya di kamar yang lumayan luas meskipun tidak seluar kamar mereka di rumah. Tapi kamar itu cukup tergolong mewah dengan fasilitas kamar mandi yang sudah tersedia di kamar itu.


Melihat kamar itu Jee tampak mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat ia melakukan di kamar itu dengan suaminya setelah insiden penggerebekan Diandra oleh Jee.

__ADS_1


Namun mengetahui wanita itu sudah tewas dengan mengakhiri hidupnya sendiri Jee merasa prihatin saat mendengar hal itu.


Selamat membaca yah para readers jangan lupa untuk menekan tombil favoritnya agar mendapatkan notifikasi setiap kali ceritanya update. Terimakasih telah bersedia memberikan waktunya untuk like dan komen karya author ini. Assalamualaikum Wr. Wb.


__ADS_2