Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Rencana Tuan Indrawan


__ADS_3

Waktu begitu cepat berputar kini di rumah utama Syein Biglous tampak seorang pria paruh baya yang baru saja tiba di halaman di antar dengan supir pribadinya.


"Hey Indra, bagaimana kabarmu?" tanya Tuan Reindra pada sahabatnya sambil memeluk dan menepuk-nepuk pundaknya.


"Ah tentu saja aku tidak baik." jawab Tuan Indrawan.


Mereka berdua kini menuju ruang tengah untuk berbicara dan tentu saja kedatangan Tuan Indawan sudah di ketahui oleh Tuan Reinda tujuannya.


"Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, Alfy saat ini benar-benar terpuruk bahkan setiap malam ia selalu menghabiskan waktunya dengan mabuk-mabukan saja." ucap Tuan Reindra yang tertunduk sedih.


Tuan Indrawan yang mendengarkan keluhan sahabatnya pun ikut merasakan kesedihan itu karena mereka juga mengalami hal yang sama di rumahnya.


Melihat Jee yang setiap hari hanya menangis, pingsan begitu saja terus sepanjang hari membuat seisi rumah semakin khawatir.


"Di mana Alfy?" tanya Tuan Indrawan.


"Dia di kamarnya." jawab Tuan Reindra sambil menghadap ke kamar atas.


Kini Tuan Indrawan melangkah menaiki anak tangga untuk melihat keadaan menantunya, kali ini peran kedua orangtua tentu sangat di butuhkan oleh anak-anaknya.


"Tok...tok...tok." suara ketukan pintu terdengar.


Tuan Indrawan yang memuka pintu perlahan melangkah masuk ke kamar ia menatap ke segala sudut kamar yang terlihat tampak berantakan.


Di sana juga terlihat Alfy yang sedang duduk bersandar di kaki ranjang sambil memegang kepalanya menunduk.


"Fy." ucap Tuan Indrawan yang duduk di sebelah Alfy samil memegang pundaknya.


Alfy enggan menjawab ia hanya terus diam tanpa kata, di dalam fikiran Alfy semakin sakit melihat kedatangan Tuan Indrawan.


Tentu kedatangan pria itu akan membawa berita buruk bagi Alfy.


"Aku tidak ingin bercerai, Pi." ucap Alfy tanpa menatap wajah Tuan Indrawan.


Mendengar ucapan Alfy yang begitu tajam menebak kedatangannya, Tuan Indrawan tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Papi kemari bukan ingin mengatakan hal itu, tapi Papi ingin mengajakmu bekerja sama." jelas Tuan indrawan.


Alfy yang mendengar pun terkejut lalu menatap wajah Tuan Indrawan dengan dalam menanti kelanjutan cerita dari mertuanya.


"Ayo cuci wajahmu dan kita cerita di ruang tengah." ajak Tuan Indrawan yang di setujui oleh Alfy.


Dengan cepat Alfy pun bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang begitu tampak kusut seperti pakaian tidak di setrika setelah di gulung-gulung.


Sedangkan Tuan Indrawan yang sudah duduk di ruang tengah bersama sahabatnya tengah sibuk tertawa karena mereka kali ini aka menjadi jembatan untuk kedua anaknya sekali lagi.


"Tentu kita bertanggung jawab atas ulah kita menikahkan mereka bukan." ucap Tuan Reindra yang tertawa.

__ADS_1


"Hahaha kau bisa saja." lanjut Tuan Indrawan.


Nyonya Syein yang melihat kedua pria itu tertawa kini ikut merasakan kebahagiaan mereka mulai kembali sudah lama rasanya rumah besar itu tidak terdengar tawa.


"Wah lihatlah anakmu tampan sekali." ucap Tuan Indrawan yang menatap ke arah Alfy.


Dengan cepat Alfy menghampiri kedua pria yang sejak tadi menunggunya.


"Ada apa, Pi?" tanya Alfy penasaran.


"Kau siapkan pakaianmu untuk besok yah." ucap Tuan Indrawan.


"Untuk apa, Pi?" tanya Alfy bingung.


"Siapkan saja nanti, dan sekarang ayo ikut Papi." ajak Tuan Indrawan yang melangkah keluar rumah.


Dengan cepat Alfy berlari mengikuti langkah Tuan Indrawan menuju mobilnya, di perjalanan mereka hanya terdiam tanpa bicara.


Cukup lama mereka di perjalanan dan kini Alfy dan Tuan Indrawan telah sampai di sebuah rumah yang tampak seperti praktek dokter.


Di sana sudah tampak seorang Dokter wanita cantik yang tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka, yah dia adalah Dokte Adeline.


"Dokter?" ucap Alfy terkejut.


Namun tidak ada jawaban dari mereka selain senyuman yang semakin membuat Alfy bingung sekaligus khawatir.


"Pi, apa yang terjadi pada Jee?" tanya Alfy.


"Dok, ada apa dengan istri saya?" tanya Alfy lagi pada Dokter Adeline.


Dokter Adeline yang merasa lucu dengan trik Tuan Indrawan kali ini berusaha menahan tawa karena baru kali ini ia melihat wajah konyol Alfy.


Mereka tampak puas bermain-main dengan kekhawatiran Alfy pada Jee.


Kini Dokter Adeline juga melangkah masuk ke ruang praktek yang sudah ada Tuan Indrawan di dalam sambil tersenyum kecil.


"Tuan duduklah." ucap Dokter Adeline dengan datar.


Hahaha kapan lagi aku bisa memerintah Tuan angkuh ini, tentu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emasku kali ini.


Dokter Adeline yang terus menatap wajah Alfy berusaha tegang meskipun sebenarnya sangat ingin tertawa.


"Sekarang kau perhatikan semua yang di praktekkan oleh Dokter Adeline." perintah Tuan Indrawan pada Alfy.


"Tapi untuk apa, Pi?" tanya Alfy yang masih tidak mengerti.


"Kau mencintai Jee?" tanya Tuan Indrawan.

__ADS_1


"Tentu saja, Pi." jawab Alfy dengan cepat.


"Maka lakukan yang ku perintah." ucap Tuan Indrawan dengan tegas.


Akhirnya Alfy hanya duduk berdiam diri sambil memperhatikan semua gerakan yang di berikan oleh Dokter Adeline.


Mulai dari cara melakukan terapi lalu cara memeriksa keadaan pasien, pola makan dan cara menggunakan alat medis dalam keadaan darurat.


Semua begitu teliti di praktekkan oleh Dokter Adeline dan di lanjut dengan obat-obatan yang harus di konsumsi setiap hari.


Hari itu berlalu begitu cepat kini tugas Dokter Adeline sudah selesai memberi materi pada Alfy. Mereka bergegas keluar dari tempat praktek itu.


Alfy yang sudah di suruh oleh Tua Indrawan untuk pulang duluan hanya menurut dan mengingat ucapan mertuanya jika ia harus menyiapkan pakaiannya untuk pergi esok hari.


Entah mau pergi kemana Alfy sendiri juga masih belum tahu yang jelas jika ia mencintai Jee tentu harus menuruti perintah Tuan Indrawan.


Dokte Adeline yang sudah mengetahui rencana Tuan Indrawan hanya tersenyum membayangkan wajah bingung Tuan Alfy yang menggemaskan itu.


Akhirnya setelah Alfy pulang ke rumah Tuan Indrawan bersama Dokter Adeline juga bergegas pulang ke rumah mereka.


Sesampainya di rumah, Tuan Indrawan meminta para pelayan membantu menyiapkan barang mereka untuk pergi liburan besok.


Namun kemana tujuan liburan mereka besok hanya Tuan Indrawanlah yang tahu sekalipun Nyonya Flora juga belum tahu.


"Pi, kita mau kemana sih besok?" tanya Nyonya Flora penasaran.


"Sudahlah Mami tenang saja, percayakan pada suamimu ini." ucap Tuan Indrawan sambil melangkah menuju kamar putrinya.


Di kamar Tuan Indrawan bersama Nyonya Flora melihat Jee yang sedang terbaring sambil melamun.


"Jee." ucap Tuan Indrawan.


"Eh iya Pi, ada apa?" ucap Jee yang terkejut.


Tuan Indrawan yang belum sempat menjawab pertanyaan putrinya tersenyum melihat beberapa pelayan membawa koper kosong ke kamar.


Mereka tengah sibuk membuka lemari baju milik Jee dengan sangat hati-hati beberapa lembar dress santai di lipat lalu menata dengan rapi di dalam koper.


"Loh, itu baju Jee mau di apain?" tanya Jee.


"Kita akan pergi liburan besok sayang." jawab Tuan Indrawan.


"Liburan, tidak Pi. Besok Papi dan Mami saja yang pergi yah ? Jee ingin di rumah saja." ucap Jee menolak ajakan orangtuanya.


"Yasudah Mi, kita tidak usah bulan madu yah sepertinya Papi akan menjaga putri kita di rumah saja kalau begitu." ucap Tuan Indrawan berakting sedih.


Jee yang mendengar pun merasa bersalah jika kali ini bulan madu orang tuanya gagal karena dia tidak ingin ikut, akhirnya dengan berat hati Jee setuju untuk pergi bersama.

__ADS_1


Kini Tuan Indrawan dan Nyonya Flora beranjak keluar kamar untuk beristirahat begitu juga dengan Jee yang sudah tertidur lelap.


Hai readers, ceritanya sampai di sini duluyah mohon maaf jika author membuat kalian kesal menunggu episode selanjutnya.


__ADS_2