Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Suster Syanin Yang Mulai Penasaran


__ADS_3

Kini semua masih berkumpul di ruangan rawat Jee yang memang tampak lebih luar dari ruangan yang lainnya setelah semua saling menguatkan Jee terdengar ketukan pintu yang tidak terlalu keras dan seketika seorang pria tampan muncul membuka pintu dengan sangat pelan.


"Ada apa?" tanya Alfy dengan wajah kusutnya.


"Maafkan saya Tuan saya hanya mau menyampaikan laporan kasus terbaru," jawab Delon dengan ragu meskipun memang ia bisa menangani tapi untuk segala kasus yang mereka tangani harus mendapat persetujuan Alfy terlebih dahulu.


"Istriku aku keluar dulu yah." ucap Alfy melepaskan genggaman tangannya pada Jee dan bergegas meninggalkan ruangan itu.


Sementara Jacobie mengikuti langkah kedua pria itu dengan sangat mengerti kini di ruangan hanya tersisa beberapa Dokter bersama Adeline dan keluarga mereka.


"Dokter, sebenarnya apa yang terjadi denganku?" tanya Jee penasaran ketika melihat Dokter Adeline yang tampak asing di matanya.


"Anda menderita sakit leukimia Nona Jee sebaiknya anda bisa lebih tenang yah jangan memikirkan hal yang begitu berat," jelas Dokter Adeline tersenyum ramah.


"Apa leukimia Dok?" tanya Jee yang tampak terkejut kini matanya menangis tanpa berhenti.


Melihat keadaan putrinya Nyonya Flora dengan segera mendekat dan memeluk putrinya tanpa terasa matanya juga ikut meneteskan air mata terus menerus begitu juga dengan Tuan Reindra, Tuan Indrawan dan Nyonya Syein yang tak kuasa menahan kesedihan itu.


"Nona sebaiknya anda harus bisa lebih tenang ini menyangkut kesehatan anda dan calon bayi anda." Dengan berusaha memberi masukan pada pasiennya.


"Mi apa Jee masih bisa hidup lebih lama lagu setelah ini?" Dengan mata yang sudah sembab menangis terus Jee berusaha mencari jawaban dengan Nyonya Flora.


"Tentu sayang kau akan sembuh dan hidup lebih lama bersama keluarga kecilmu." Tersenyum sambil menghapus air mata putrinya berusaha memberi kekuatan Nyonya Flora sesekali memeluk dan mengecup kening jee.


Sedangakan ketiga pria di depan rumah sakit itu tengah asyik berbicara tentang kasus yang akan mereka tangani Alfy tampak antusias mendengarkan pemaparan yang berikan Delon. Setelah mendengar semuanya Alfy tampak yakin jika kasus ini memang berhak mereka tangani menyangkut keadilan masyarakat pegunungan yang penghasilannya memang sangat minim bagaimana bisa mereka mendapat perlakuan tidak adil seperti itu.


"Baiklah Jac dan Delon aku serahkan ini semua pada kalian," ucap Alfy yang dengan wajah tegangnya.


"Tentu Tuan kami akan menyelesaikan ini dengan baik." jawab Jacobie meyakinkan Alfy.

__ADS_1


Melihat Jac akan bergegas pergi dari rumah sakit bersama Delon dengan cepat Dokter Adeline melangkah keluar ruangan sambil berpamitan sebenatr dengan orang yang ada di dalam ruangan karena memang saat itu Jee sedang tidak apa-apa jika di tinggalkan.


"Jac, tunggu sebentar." Sambil berlari kecil Dokter Adeline mengejar kedua pria itu.


"Ada apa Dokter?" tanya Jacobie dengan wajah datarnya.


"Apa kalian akan pergi dari rumah sakit?" Bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan Jacobie barusan.


"Iya Nona." jawab Jac dengan sopannya.


"Apa kau tidak kembali dalam waktu dekat ini Jac?" tanya Dokter Adeline lagi yang masih penasaran.


Sedangkan dari sisi lain tampak sepasang mata yang memperhatikan percakapan mereka kini Jac dan Dokter Adeline terlihat sangat akrab dan dekat mungkin tidak ada harapan bagi seorang wanita yang berprofesi hanya sebagai suster itu.


"Apa mereka sudah memiliki hubungan lebih?" gumam suster Syanin sambil terus mengintip dengan berhati-hati namun ketika ia hendak melangkah tanpa sengaja menabrak pengunjung rumah sakit.


"Maafkan saya Nyonya." ucap suster Syanin dengan menyeka baju wanita yang di tabraknya sampai basah terkena minuman.


"Apa anda ini memang hoby menabrak orang yah?" tanya Dokter Adeline yang sudah berdiri di belakang suster Syanin.


Dokter Adelin saat mendengar keributan dengan cepat melangkah mendekati suster Syanin sepertinya wajah suster itu sudah sangat di hafal oleh Dokter Adeline dan kejadian menabraknya seperti sudah melekat di hati Dokter Adeline. Entah mengapa ada rasa kesal tersendiri setiap kali melihat wajah suster yang manis itu mungkin Dokter Adeline sudah memiliki feeling yang tidak baik pada suster Syanin sejak pertemuannya pertama kali.


"Maafkan saya Nona," ucap suster Syanin yang sangat kaget melihat kehadiran Dokter Adeline yang begitu cepat.


"Adelin, sudahlah untuk apa kau memperbesar masalah itu?" Dengan berusaha Jacobie membuat suster Syanin aman dari wanita itu.


"Kau membelanya Jac?" tanya Dokter Adeline yang dengan cepat menatap tajam ke arah Jacobie.


"Tidak aku hanya memintamu kembali ke ruang rawat Nona saja." Berusaha menenangkan Dokter Adeline mungkin jalan satu-satunya menyelamatkan suster Syanin itulah yang ada di dalam fikiran Jacobie.

__ADS_1


Mendengar ucapan Jacobie dengan cepat Dokter Adeline melangkah ke ruangan Nona Jee lagi sementara suster Syanin sudah beranjak pergi begitu juga dengan wanita yang tadi di tabraknya. Sementara Delon yang masih terus menatap ke arah Jacobie memiliki pertanyaan tersendiri dalam hatinya melihat Dokter Adeline yang tampak menurut dengan Jacobie terlebih lagi panggilan Jac pada Dokter itu seperti tampak lebih dekat tanpa memanggilnya dengan Dokter.


"Jac, kau memiliki hubungan dengan Dokter itu?" tanya Delon yang tidak mampu menyimpan rasa penasarannya.


"Kau ada-ada saja bagaimana bisa aku memiliki hubungan dengannya sedangkan pertemuan kami saja belum cukup sehari," jelas Jacobie dengan santainya.


"Tapi dia sangat menurut padamu dan yang aku lihat wanita itu memiliki watak yang begitu keras." Masih dengan mencari tahu kebenarannya Delon berusaha namun tidak mendapatkan hasil yang seperti ia inginkan.


"Tidak ada kami hanya berteman saja," jelas Jacobie dengan singkatnya.


Setelah perdebatan kecil itu kini kedua pria itu bergegas menuju lokasi pegunungan untuk melihat keadaannya terlebih dulu sepanjang jalan mereka sangat menikmati pemandangan yang sangat indah penuh dengan berbagai macam bungan yang tampak indah terawat.


"Tanah seluas ini tentu ia mendapatkan keuntungan yang luar biasa," ucap Delon memecah keheningan di dalam mobil itu.


"Iya kau benar," jawab Jac yang masih asyik menatap ke arah jendela luar mobil.


"Tapi bagaimana bisa mereka masih tidak merasa puas dengan hasil sampai harus mengorbankan masyarakat yang tidak mampu di sini?" tanya Delon yang sedikit merasa kesal.


"Entahlah kali ini kita harus bertemu dengan beberapa masyarakat dulu untuk mengonfirmasikan kasus ini dengan pasti," tambah Jac.


Kini setelah puas menikmati perjalanan yang di kelilingi dengan pemandangan bunga yang memanjakan mata mereka telah sampai di salah satu pedesaan di daerah itu beberapa tokoh utama desa itu berkumpul menunggu kedatangan kedua pria itu. Dan mereka sudah berbicara dengan jelas mendengar hal itu Jac dan Delon mengangguk tanda mengerti setelah beberapa lama mereka berbicara Delon dan Jac berpamitan mengundurkan diri karena harus melanjutkan perjalanannya lagi menuju desa selanjutnya. Di perjalanan Jac dan Delon berfikir sepertinya ada yang mengganjal dan harus mereka cari tahu berikutnya.


"Apa rencana kita setelah selesai mendatangi beberapa desa ini?" tanya Jac yang sepertinya masih belum memiliki jalan.


"Kita harus menyelesaikan informasi dari desa ini dulu setelah itu kita fokus mengumpulkan berkas kontrak yang sudah mereka setujui sebelumnya." Jelas Delon dengan fokus menatap ke arah depan.


"Baiklah kau benar kita perlu mengetahui isi kontrak mereka dulu," Jac yang setuju dengan usul yang di beri oleh Delon.


Halo para readers untuk ceritanya di episode ini sampai di sini duluyah selamat membaca semoga kalian suka dan jangan lupa dukung terus author yah. Terimakasih untuk pertisipasi kalian yang sudah bersedia memberikan like dan komen kalau boleh author minta dukungan kalian untuk kasih votenya juga yah atau ratingnya. Assalamualaikum Wr. Wb

__ADS_1


__ADS_2