Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Bayangan Novel


__ADS_3

“Ada apa?” tanyanya penasaran.


“Itu.” tunjuk Jee ke arah langit kamar.


Alfy yang kesal melihat seekor cicak kini merasa hilang gairah karena tingkah istrinya yang membuatnya gagal fokus. Dengan wajah malasnya Alfy merebahkan tubuh ke kasur dan enggan bicara dengan Jee.


“Sayang,” panggil Jee.


“Hem.” jawab Alfy singkat.


“Kau kenapa?” tanya Jee yang merasa Alfy sedikit aneh ketika membelakanginya.


Alfy tidak menjawabnya dan memilih untuk tidur tanpa memeluk istrinya lagi, sementara Jee yang baru tersadar dengan ucapan suaminya merasa bingung apa salahnya.


“Vitam ketenangan, mana yah katanya tadi ingin memberikan padaku.” gumam Jee yang menatap punggung putih suaminya.


Akhirnya Jee yang merasa bosan kini memilih untuk kembali membersihkan tubuhnya kemudian keluar dari kamarnya dengan wajah cemas lagi. Keluarga yang melihat wajah menggemaskan Jee tampak penasaran mulai dari Jee menuruni anak tangga sampai kini tiba di hadapan mereka bibirnya terus manyun.


“Ada apa, sayang?” tanya Nyonya Flora.


Akhirnya Jee yang ikut duduk bersama dengan mereka menceritakan jika ia mendapat kepercayaan untuk ikut olimpiade mewakili kampus, namun rasaya pelajaran yang ia kuasai belum cukup banyak sementara waktunya tinggal sebentar lagi.


“Kan tinggal belajar sayang, Papi yakin kau pasti bisa.” sahut Tuan Indrawan yang memberi semangat pada putrinya.


“Tapi, Jee merasa tidak percaya diri, Pi.” ucap Jee.


“Lalu kau mau bagaimana? Katakan kami akan membantumu.” ucap Tuan Reindra.


“Tadi kata Alfy dia ingin memberikan Jee vitamin ketenangan, tapi malah tidur tanpa mau bicaa lagi.” keluh Jee yang kini menunduk.


Semua yang mendengar ucapannya tampak serempak mengernyitkan dahi mereka.


“Vitamin ketenangan?” tanya keempat orang tua itu dengan bersamaan lagi.


Jee hanya mengangguk dengan polosnya sementara keempat orang tuanya hanya tertawa bersamaan dengan saling melempar pandangan. Tentu mereka tahu maksud Alfy namun bagaimana bisa Jee begitu tidak mengertinya setelah melakukannya.


“Lalu bukannya kau sudah dapat vitamin itu sayang?” tanya Tuan Indrawan dengan jujurnya.

__ADS_1


“Belum, Pi.” ucap Jee.


Keempat orangtua itu tampak bertanya-tanya apakah aksinya Alfy tadi gagal sampai ia belum memberikan vitamin itu pada Jee. Yah sepertinya tepat dugaan mereka kali ini gagal jika tidak mengapa Alfy sampai tidur tanpa


mau menegur istrinya.


“Yasudah sayang, nanti kau bisa belajar dengan suamimu kan?” lanjut Nyonya Syein yang berusaha menenangkan menantunya.


Jee yang hanya mengangguk tanpa mau bicara lagi fikirannya kali ini benar-benar kacau mungkin benar ia harus menunggu suaminya bangun dulu.


Malam pun tiba, kini Alfy yang baru saja memakai baju setelah mandi terlihat sangat tampan rambutnya yang masih basah semakin membuat kesempurnaan pria itu terlihat.


“Sini, aku keringkan.” ucap Jee yang meminta kepala Alfy menunduk.


Alfy hanya menurut saja dan membiarkan istrinya megusap rambut basahnya sambil sesekali pria itu mendorong tubuhnya ke belakang agar menempel pada istrinya.


“Wah sepertinya punyamu sudah semakin padat, sayang.” ucap Alfy yang terdengar asing di telinga Jee.


“Apa, sayang?” tanya Jee.


“Ini.” jawab Alfy dengan sekali lagi menyentuh benda padat milik Jee.


“Kau tidak suka yah?” tanya Alfy terdengar dingin.


“Bukan, nanti saja yah sayang kita kan mau makan.” ucap Jee yang takut jika suaminya meminta lagi.


“Memangnya kau tau dari mana jika aku menginginkan itu?” tanya Alfy.


Jee yang terkejut mendengarnya kini tampak pucat karena gugup, sebenarnya Jee seharian tadi menghabiskan waktu membaca novel tentang cerita romantis. Dan dari situlah ia bisa mulai memahami sifat Alfy saat tadi mulai menggerak-gerakkan tubuhnya.


“Em...tidak, aku hanya menebak saja.” jawab Jee yang berusaha menutupi rasa malunya.


"Jee, mengapa kau bodoh sekali mengatakan hal itu kenapa kau pura-pura tidak tahu saja aahh bikin malu saja." ucap Jee dalam hati.


Alfy yang masa bodoh hanya kembali menikmati pijatan-pijatan lembut di kepalanya tanpa mau berfikir apa pun tentang Jee.


“Huh, apa memang semua pria di dunia ini memiliki keinginan tinggi seperti itu yah seperti yang di novel itu juga dan apa tadi yang katanya setiap hari suaminya meminta melakukan hubungan itu sebanyak lima kali astaga

__ADS_1


apa dia sudah gila?” gerutu Jee yang terdengar kecil di telinga Alfy.


“Kau sedang bicara apa?” tanya Alfy.


“Eh tidak, tidak bicara apa-apa ayo kita turun makan.” ajak Jee yang mengalihkan pembicaraan.


Malam itu setelah makan, Alfy mengajari Jee untuk persiapan olimpiade sampai mereka berdua tidak ingat wakut. Suasana sudah semakin dingin mencekam hanya pemandangan taman yang terlihat dari jendela kamar Alfy yang masih terbuka.


Jee memang sangat senang jika belajar dengan membuka korden jendela agar terlihat suasana luar dan membuat fikirannya lebih mudah berfikir. Sampai tanpa sadar keduanya tertidur di meja kerja Alfy yang berada di dalam kamar itu.


Tanpa terasa kini jarum jam sudah kembali menduduki angka enam sementara di luaran sana tampak embun yang menetes di dinginnya pagi membuat semua penghuni bumi merasakan kesegaran uapan embun itu. Tampak di langit yang kemuning segerombolan burung ramai berkicau.


Para pelayan di halaman rumah utama sudah tampak sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, begitu pun dengan keluarga yang sudah ramai usai berolahraga pagi di halaman. Sementara Jee yang yang baru saja terbangun dengan segera menggugah Alfy untuk bergegas mandi dan mengantarnya ke kampus.


***


Wenda yang sudah bersiap untuk ke kantor terlihat sangat bahagia begitu juga dengan Tuan Rusli dan istrinya yang senang melihat semangat putrinya.


“Hati-hati yah kerjanya semoga lancar.” ucap Nyonya Dayah pada Wenda.


“Iya Bu, terimkasih yah.” jawab Wenda yang membalas senyumannya.


Setelah selesai sarapan kini Wenda sudah pergi ke kantor dengan mencium pipi kedua orangtuanya sebelum masuk ke mobil.


Tidak butuh waktu lama, mobil Wenda sudah terparkir dengan sempurna di gedung parkir kantor Sailis Group.


Dengan cepat langkah gadis itu masuk ke lift ketika tangannya ingin menekan tombol lantai, tiba-tiba saja sepatu pantovel berwarna hitam mengkilat tampak menahan pintu lift yang baru saja ingin tertutup.


“Hah?” ucap Wenda yang terkejut melihat pria itu.


Siapa lagi jika bukan pria menakutkan kemarin yang terkena tendangan maut dari Wenda. Seketika mata gadis itu terbelalak tidak percaya mulutnya yang terbuka lebar merasa kaget sekaligus syok. Mengapa lagi-lagi ia di pertemukan dengan pria menyeramkan itu, sebenarnya wajahnya tampan namun entah apa yang ada di fikiran Wenda sampai melihat pria itu sangat menyeramkan.


Dengan mata tajamnya pria itu masuk ke dalam lift tanpa mengalihkan pandangannya sekali pun dari Wenda. Wenda yang merasa ketakutan kini hanya diam mematung tanpa suara, tangannya di bawah sana sudah mengambil ancang-ancang untuk menonjok pria itu jika saja ia melakukan yang tidak-tidak.


Kini matanya mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat, detakan jantung Wenda terdengar begitu kencang sampai membuat pria itu berhenti menatapnya dan segera keluar dari lift yang sudah terbuka.


Seketika hembusan nafas legah terdengar dari mulut Wenda, belum sampai lima menit di dalam lift bersama pria itu wajah Wenda sudah bercucuran keringat.

__ADS_1


Setelah memastikan tidak ada pria yang menakutkan itu lagi, kini Wenda segera masuk ke ruangan Pak Lorens untuk menanyakan ruangan kerjanya hari ini. Pak Lorens yang melihat kedatangan Wenda dengan segera menunjukkan ruangan kerja Wenda.


__ADS_2