
Suster Syanin masih terus diam mematung sampai ia tersadar dari tatapannya ketika merasa tangannya di genggam oleh Jac.
Kau ingin meninggalkanku?" tanyanya sekali lagi.
Mendengar pertanyaan itu suster Syanin sangat bingung harus menjawab apa, ia sama sekali tidak mengerti harus mengatakan apa terlebih lagi Jac sama sekali tidak pernah mengakui perasaannya.
"Iya, Papah Farhan sudah menjodohkanku dengan Dok-ter Fahri." jelasnya dengan suara ragu ketika menyebut pria itu.
"Apa itu artinya kau mencintainya?"
Jac kembali bertanya dengan rasa penasarannya menantikan jawaban yang sama sekali bukan ia harapkan dari mulut wanita itu.
"Saya rasa Syanin tidak menjawab pertanyaan itu." sahut Tuan Farhan yang menatap tajam kearahnya.
Mata pria yang berlutut saat ini tampak jelas tatapan tidak rela, bibirnya diam membisu ketika mendengar ucapan Tuan Farhan. Sampai akhirnya Tuan Farhan menarik kembali tangan putrinya dan melangkah pergi dari Jac.
Semua mata tertuju pada mereka, Alfy dan yang lainnya menatap penuh tanya dengan pertunjukan bawahannya kali ini.
"Saya mencintaimu, Syanin." teriak Jac yang menghentikan langkah Tuan Farhan dan suster Syanin.
Keduanya menatap ke araha Jac, "Saya ingin menikah denganmu."
Suster Syanin yang mendengar suara lantang itu benar-benar terkejut begitu juga dengan yang lainnya. Kini Jac berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah suster Syanin dan Tuan Farhan.
Sesampainya di sana pria itu kembali menggenggam tangan suster Syanin dan menatapnya dalam. "Aku mohon tolak perjodohan itu."
"Semudah ini kau memintanya dan apa aku bisa percaya dengan kata-katamu?" Tuan Farhan kembali menghakimi Jac seolah tidak percaya dengan perkataan pria itu.
"Tuan, saya mohon kali ini biarkan saya membuktikan ucapan saya." Tuan Farhan tidak habis fikir melihat Jac yang berlutut di hadapannya meminta restu.
"Buktikan kata-kata anda, dan jangan sampai saya mendengar batalnya hal ini lagi."
Jac terkejut mendengar suara Dokter Fahri dari belakangnya seraya memberi semangat dengan menepuk pundaknya sekali. Matanya menatap bingung apa maksud semua ini begitu juga dengan suster Syanin yang memandangi Dokter Fahri dan Tuan Farhan secara bergantian.
__ADS_1
"Papah Farhan, ada apa ini?" tanyanya tak percaya ketika mendengar ucapan Dokter Fahri.
Tuan Farhan hanya tertawa mendengar pertanyaan putrinya. "Papah hanya menguji pria ini saja, Syanin." jawabnya terkekeh.
"Maksudnya?" tanya suster Syanin lagi tak mengerti.
"Habisnya dia tidak akan mengatakan apa pun padamu jika Papah bekerja sama dengan Dokter Fahri, Syanin." jelas Tuan Farhan yang tertawa bersama Dokter Fahri.
"Jadi perjodohan itu hanya permainan?"
Wajah suster Syanin syok tidak habis fikir dengan ulah Papahnya dan Dokter itu, semua rencana yang mereka jalankan begitu sangat mulus sampai-sampai tidak ada bau mencurigakan. Atau justru memang karena suster Syanin yang terlalu polos sampai tidak bisa membedakan perjodohan sungguhan dengan permainan.
Melihat ekspresi Tuan Farhan Jac begitu senangnya sampai tak sadar jika sudah memeluk tubuh mungil suster Syanin. Dan membuat pusat perhatian semua jadi menuju pada mereka, kini pengantin merasa acara mereka jadi acara tambahan untuk hubungan orang lain.
"Wah sepertinya acara pernikahanku mendapat biaya bantuan yah dengan adanya acara kalian berdua yang numpang." Suara mempelai pria terdengar hingga menyadarkan Jac yang menikmati pelukan itu.
Suster Syanin hanya tersenyum malu karena ulah Jac yang sangat lupa diri dimana mereka berada saat ini. Delon dan Zeyra yang menghela nafas kasarnya akhirnya usaha Tuan Farhanlah yang berhasil kali ini.
Semua terlihat bahagia sementara seorang wanita kini baru saja hadir di pernikahan itu, ia tampak sedang mencari seseorang.
"Mau kemana, Sayang?" Alfy yang menarik pergelangan tangan istrinya ketika ingin melangkah.
"Itu ada Mira, sebentar yah." Dengan berlari kecil Jee menuju arah sahabatnya berdiri.
"Jee, kau di sini?" tanyanya seraya menampakkan wajah terkejutnya.
"Iya, kau juga kesini?" Jee kembali bertanya.
"Ah itu dia." Mira menunjuk ke arah Dokter Fahri seperti menemukan dambaan hatinya.
Akhirnya Mira menarik tangan Jee mendekat ke arah Dokter Fahri. "Kau sudah datang?"
Semua terkejut mendengar Dokter Fahri bertanya pada Mira dan menggandeng pinggang ramping gadis itu. Mira hanya tersenyum mengiyakan pertanyaan pria itu. Suster Syanin menatap Mira sudah sangat kenal dengan wajah gadis itu tapi apa hubungannya dengan Dokter Fahri ia sangat tidak tahu jelas.
__ADS_1
"Kenalkan Mira adalah tunangan saya." Dokter Fahri menjawab wajah penasaran suster Syanin dan yang laiinya termasuk Jee.
Semua ikut senang melihat pasangan yang malam ini seperti acara mereka khususnya dan untuk pengantinnya sepertinya acara mereka saat ini akan jadi momen yang tidak menarik. Karena ternyata tamu undanganlah yang mampu menarik perhatian para tamu lainnya.
Hari itu berlalu begitu cepat setelah beberapa bulan Jac dan suster Syanin mempersiapkan diri kini tiba waktu yang mereka tunggu-tunggu. Yah hari pernikahan mereka yang sudah sejak lama tertunda karena kegengsian keduanya, dan berkat Tuan Farhanlah semua menajadi baik-baik saja.
Keluarga besar Syein Biglous tampak hadir dengan pakaian yang senada, begitu juga dengan Zidan yang terlihat sudah semakin besar. Di ikuti dengan membesarnya kandungan Jee saat ini, Alfy tidak akan lagi mau menjauh dari Jee meskipun hanya satu meter saja.
"Aku ingin foto dengan mereka, mengapa kau mau ikut sayang? di sana tidak ada laki-laki satu pun."
Semua tamu undangan menatap ke arah Alfy dan Jee mendengar suara istri yang tenah mengomel pada suaminya seperti anaknya yang sedang nakal.
"Biarkan saja, dari pada kau dan anakku kenapa-kenapa." bantah Alfy yang melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Jee benar-benar malu jika harus di ikuti dengan suaminya, kali ini adalah sesi pemotretan para wanita dengan mempelai wanita juga.
"Yasudah aku di sini saja."
Wajah manyun Jee kembali membuat Alfy tidak tega tapi ia sangat berat hati membiarkan Jee harus berada jauh darinya.
"Sudah nanti kita foto sama-sama saja." Mendengar ucapan Alfy bukannya semakin menghibur justru terdengar semakin tidak masuk akal.
Jee terlihat geram ingin sekali meremas wajah tampan suaminya itu, "Ih... itu beda sayang. Itu beda momennya."
Alfy terdiam seketika ia berusaha mencari-cari jalan bagaimana agar istrinya tidak kecewa dan ia akan tetap berada dekat dari Jee. "Ayo ikut aku."
Jee melangkah di belakang suaminya dengan tangan yang sudah di tarik pelan oleh Alfy. Mereka menuju tempat para wanita melakukan sesi foto. Alfy mengarahkan Jee tepat di depan seperti yang lainnya sementara dirinya bersembunyi di belakang istrinya.
"Loh Tuan, mengapa anda ikut?" suster Syanin yang terkejut melihat tingkah Alfy dengan percaya dirinya ikut dengan mereka.
"Ssstt." jari telunjuk pria itu memberi kode padanya. Sementara Jee hanya menghela nafas kesalnya saat ini ia tidak lagi mempermasalahkan suaminya biar saja semua tamu undangan memperhatikan mereka di depan. Serpertinya kali ini urat malu Alfy sudah tidak ada semenjak perut sang istri mulai membesar.
"Bagaimana nikmatkan memandangi wanita yang sudah sah menjadi istri kita?" Suara Delon mengejutkan Jac yang tengah asyik tersenyum melihat sang istri sibuk berfoto dengan wanita lain termasuk Zeyra dan Jee.
__ADS_1
Matanya menatap kesal dengan adik iparnya itu selalu saja membuatnya tidak bisa berkata-kata, yah memang benar apa yang ia katakan memandangi wanita yang sudah sah milik kita tentu tidak akan sama ketika memandangi wanita yang belum jadi apa-apa kita.
Masih ada rasa yang tertahan entah wanita itu akan menjadi miliknya suatu hari nanti atau tidak.