Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Lupa Istri


__ADS_3

“Kami mau tempat tidur bayi yang seperti dulu ingat tidak? Tapi yang lebih besar lagi.” sahut Tuan Indrawan sambil memperagakan gerakan tangannya menandakan ukuran yang begitu besar.


Kedua pelayan yang mendengarnya saling melempar tatapan heran. Seolah mereka berbicara melalui tatapan itu.


Apa secepat itu cucu mereka besar? Dan kalau benar sebesar apa sih mengapa sampai ukurannya harus sebesar tempat tidur yang jumbo seperti itu?


“Halo.” ucap Tuan Reindra memecah lamunan keduanya.


“Oh iya Tuan, bisa tapi mungkin bisa kami bantu memesannya dulu karena ukuran seperti itu sangat langka.” jelas pelayan toko dengan ramahnya.


“Baiklah saya tunggu!” jawab Tuan Reindra dan segera bergegas pergi. Belum sempat langkahnya menjauh, “Maaf Tuan, tapi tidak bisa secepat itu, besok baru bisa selesai karena butuh waktu membuatnya.” jelas salah satu wanita.


“Ahhh lama sekali, kalian tahu tidak kalau kamu sudah tidak sabaran menghias rumah? Sudah begini saja saya tambah pembayarannya sepuluh kali lipat dan selesaikan hari ini juga, saya akan berkeliling mencari perlengkapan bayi lainnya setelah itu saya kemari semua harus selesai.”


Kedua pria itu kini melangkah menuju tempat keperluan bayi lainnya. Mereka begitu antusiasnya membelikan semua peralatan makan dan baju-baju bayi.


Sementara kedua pelayan yang sudah berlari untuk memberi tahu manajer toko itu terlihat panik. Tidak masuk akal memang pesanan yang mereka terima kali ini, tapi siapa yang berani menolak ucapan pria itu. Jika mereka menolak mungkin saat itu juga toko tempat mereka bertahan hidup akan di tutup.


Semua pekerja begitu terlihat panik, manajer yang baru saja keluar dari ruangannya begitu sibuk menghubungi tempat peralatan yang mereka butuhkan begitu juga tempat produksinya.


“Hah hari sial apa sih ini?” ucap manajer toko yang baru menghembuskan nafas kasarnya. Seluruh baju yang ia pakai terlihat basah terkena keringat. Jas yang tadinya sangat rapi kini sudah tergantung di kursi kerjanya.


“Bagus mereka tidak usah punya cucu kalau begini, sungguh merepotkan.” umpat kesal manajer itu.


Setelah satu harian mereka berbelanja kini beberapa barang yang sudah di masukkan ke mobil khusus barang belanjaan sudah melaju ke kediaman Syein Biglous.


Sedangkan Tuan Reindra dan Tuan Indrawan kini menuju tempat mereka memesan tempat tidur jumbo itu.


“Bagaimana sudah selesai?” tanya Tuan Indrawan yang terlihat kelelahan bersama sahabatnya.


“Iya Tuan, sudah selesai. Kami antar sekarang Tuan?” tanya manajer yang terlihat nafasnya memburu kelelahan.

__ADS_1


“Bagus,” ucap Tuan Reindra yang sudah menuju kasir. Tangannya terlihat mengeluarkan kartu kredit tanpa batas.


Kasir yang menotal perbelanjaan mereka tampak meneguk kasar sesuatu di tenggorokannya.


“Ini gila sekali hanya untuk cucu yang wujudnya tidak jelas sebesar apa mereka menghabiskan uang seratus juta.” gumam kasir dengan mata membulatnya.


“Bagaimana pembayarannya sudah selesai?” tanya Tuan Reindra yang melambaikan tangannya melihat kasir berdiri mematung di hadapannya.


“Halooo.” ucap Tuan Reindra yang berusaha menyadarkan wanita itu.


“Eh iya Tuan maafkan saya, iya ini sudah selesai terimakasih.” jawab kasir dengan senyuman ramahnya.


Akhirnya jadwal shoping dua pria tua hari ini selesai. Mereka tampak kelelahan saat di mobil. Beberapa menit kemudian mobil tiba juga di rumah.


“Astaga apa lagi yang mereka belanja ini?” tanya Nyonya Syein yang melihat dua mobil mengantar barang.


“Akhirnya sampai juga.” ucap Tuan Indrawan sambil meregangkan otot-ototnya.


Mata kedua pria itu saling menatap bergantian saat melihat dua wanita yang berdiri di depan rumah.


“Mamah kenala bisa tertinggal?” tanya Tuan Reindra dengan bingungnya.


“Kalian lupa kan kalau punya istri sampai ke mall saja tidak sadar kalau ada yang kurang. ucap Nyonya Flora sambil menggelengkan kepala.


Akhirnya Tuan Reindra dan Tuan Indrawan hanya bisa tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Mereka tersadar jika sudah melupakan dua wanita di rumah saat pergu ke mall tadi.


Setelah cerita singkat itu selesai, kini semuanya masuk ke rumah dan mulai membongkar barang-barang belanjaan.


“Loh kenapa beli tempat tidur lagi bukannya kemarin sudah beli dua?” tanya Nyonya Syein yang kaget.


“Itukan tempat tidurnya sudah lama, pasti rusak jadi kami beli lagi terus beli yang lebih besar karena kita berdua kan sekarang sudah tinggal sama-sama jadi jaganya juga sama-sama dong.” jelas Tuan Indrawan dengan datarnya.

__ADS_1


Kedua wanita yang mendengarnya hanya melongo merasa konyol dengan suami mereka. Kenala bisa segila itu pria yang di sebut-sebut di luar sana paling di segani mengapa seperti ini fikirannya? Dimana kewibawaan mereka?


Begitu pun dengan para pelayan dan beberapa orang yang mengantar barang belanjaan belum sempat mereka melangkah, ucapan Tuan Indrawan membuat semuanya menahan tawa.


“Lalu ini apa lagi baju modelnya sama semua hanya warna saja yang beda?” lanjut Nyonya Flora yang membuka kotak pakaian bayi.


“Hehehe, itukan biar mudah memilihnya setidaknya warnanya kan beda jadi biar seperti punya seragam begitu.” jelas Tuan Reindra dengan polos.


Untuk kesekian kalian ya seisi rumah kembali melongo merasa semua jawaban kedua pria itu tidak ada yang masuk di akal. Seragam? Memangnya sekolah harus memiliki seragam ya Tuhan habis makan apa sih mereka ini.


“Astaga kalau kalian mau cucu kita pakai seragam kenapa tidak jahitkan baju setiap hari saja sekalian tuh seragam sama kita semua satu rumah.” Merasa kesal dengan ucapan suaminya kini kedua wanita itu menyandarkan kepala mereka di sofa sambil memijit pelan keningnya.


“Iya Mami benar, sepertinya kita perlu mengambil tukang jahit sekaligus desainer juga jadi bisa seragamkan terus.” sahut Tuan Indrawan terlihat bersemangat.


“Ya Tuhan, Pi. Sudahlah Mami capek semua terserah Papi saja.” jawab Nyonya Flora enggan berdebat lagi.


Semua hanya bisa menahan tawa meliha para majikannya berdebat.


***


“Iya halo.” Suara Jee yang baru saja mengangkat telfon tampaknya itu adalah telfon dari Indonesia.


“Apa? Yang benar saja? Baiklah nanti saya akan kabari setelah pulang ke Indonesia.” jawab Jee dengan wajah penuh bahagia.


Setelah ia mematikan ponsel Alfy tampak memandangnya seolah mencari tahu apa yang baru saja ia dengar sampai sebahagia itu.


“Sayang, tahu tidak kalau aku mendapat tawaran sebagai Direktur utama di perusahaan GoRills yang mengelola roti yang terkenal itu.” ucap Jee sambil memeluk tubuh Alfy bahagia.


“Apa kau sangat ingin bekerja?” tanya Alfy terlihat murung.


“Tentu saja, aku suka sekali sayang.” jawab Jee dengan semangatnya.

__ADS_1


Awalnya Jee ingin memiliki usaha sendiri tapi setelah mendapat tawaran itu seketika keinginannya ia urungkan untuk mencari pengalaman lebih dulu.


“Bagaimana kalau dia bekerja di perusahaan dan banyak pria menggodanya? Istriku kan sangat seksi pasti banyak mata pria yang selalu mencuri pandangan padanya. Tidak aku tidak boleh membiarkan ini.” gumam Alfy sambil berfikir keras mencari jalan keluar apa yang harus ia lakukan agar Jee mengurungkan niatnya bekerja di perusahaan itu.


__ADS_2