Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Tidak Peka


__ADS_3

Di dalam mobil kini kembali hening karena Alfy yang dari tadi wajahnya menujukkan tak ada ekspresi sama sekali ketika Jee dan Jacobie asik bercerita tentang Tuan Frans yang sudah terbaca gerakannya oleh Alfy sebelum bertindak dulu. Tiba-tiba Jee teringat satu hal.


"Fy bagaimana Pak Deni?" Bertanya dengan wajah yang sedikit khawatir yah wajar saja karena yang Jee tahu saat ia di culik Pak Deni sedang berusaha melawan serangan beberapa orang yang mengeroyoknya tanpa Jee sadari pertanyaannya akan membuat suatu masalah baru.


"Apa maksudmu? tanya Alfy dengan nada kesalnya bersamaan menunjukkan tatapan yang begitu ingin menerkam mangsanya.


"Yah Pak Deni apakah dia baik-baik saja?" tanya Jee yang lagi-lagi masih belum bisa memahami kecemburuan suaminya.


Sementara Jacobie yang mendengar perdebatan di belakang hanya tergeleng sesekali ia berfikir bagaimana bisa kedua orang itu sangat tidak bisa terkoneksi seperti ibarat jaringan yang tergoyang angin topan saja sangat sulit untuk menemukan satu titik dari dua fikiran yang bertolak belakang. Satu ingin kearah kana satunya justru mengarahkan ke kiri ada-ada saja tingkah bocah itu.Tuan Alfy yang bersifat ingin di utamakan namun tingkah cemburunya membuat wanita di depannya semakin bingung, dan Nona Jee yang yang perhatian pada orang sekelilingnya sampai tidak sadarkan diri jika sudah menyalakan api di dalam tubuh suaminya itu.


"Berhenti bertanya pria lain padaku Jee!" Alfy yang sudah mulai hilang kesabarannya.


Jee yang mendengar bentakan suaminya nyaris hampir menangis karena ketakutan ia sampai saat ini masih belumĀ  mengerti mengapa suaminya bisa semarah itu apakah ia melakukan kesalahan? rasanya tidak Jee sadar betul jika ia tidak ada melakukan kesalahan mulai tadi siang ia sama sekali tidak dekat dengan pria mana pun, namun lamunannya seketika terhenti ketika mengingat ekspresi Alfy yang berubah saat Jee menanyakan keadaan Pak Deni yah tentu saja itu bukan hal yang pertama seingat Jee juga pernah merasakan hal yang sama terjadi seperti ini saat mereka di rumah sakit.


Ah tidak-tidak masa iya dia cemburu pada Pak Deni yang benar saja apa tidak ada pria lain yang lebih setara dengan umurku yang bisa dia cemburui bukannya malah cemburu pada Pak Deni oh Tuhan ada apa dengan otak suamiku yah apakah dia saat ini benar-benar stress dengan kasus yang ia hadapi sehingga aliran darahnya tidak berjalan sempurna dan mungkin itu sebabnya ia berfikir lebih kekanak-kanakan saat ini malah melebihi anak SD jalan fikirannya. Sepanjang jalan Jee hanya bertengkar dengan fikirannya sendiri tanpa berani bertanya lagi pada Alfy ataupun Jacobie. Ia sangat takut jika nanti membuat suaminya berteriak lagi karena biar tampannya bagaimanapun suaminya itu ketika marah tetaplah membuat Jee merasa ketakutan melihat sorot mata Alfy yang begitu sangat tajam jika bisa berubah wujud bisa saja mata Alfy terlihat seperti jarum bor yang akan berputar menembus dinding besi sekalipun karena terlalu tajamnya.


"Mengapa kau diam?" tanya Alfy yang melihat raut wajah istrinya seperti berperang dalam hati.

__ADS_1


"Ti...dak apa-apa," jawab Jee yang setengah kaget ketika mendengar suaru suaminya yang datar memecah seketika lamunannya yang masih sibuk berdebat dengan fikirannya sendiri.


Alfy menoleh jam tangan mewah yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya dan melihatnya. "Jac kita ke restoran biasa," ucap Alfy yang melihat daerah yang ia lewati memang tidak jauh dari restoran mewah tempat ia biasa makan selain di rumah.


Yah tentu hanya ada satu restoran termewah di Kota itu yang bisa menggantikan rumah untuk Alfy makan dan sudah bisa ditebak bahwa restoran itu adalah milik Syein Biglous yang kini di bawah kendali Pak Heru yang tidak lain adalah sahabat Tuan Reindra Syein. Dan beliaulah ayah dari gadis cantik yang bernama Sisil yang selama ini selalu setia berada di samping Jee.


Karena Tuan Syein dan Tuan Indrawan memiliki lingkungan yang sama mereka bersahabat dengan beberapa pria lainnya salah satunya adalah Tuan Heru yang di beri kepercayaan oleh ayah Alfy untuk mengelola restoran besar milikinya. Sesampainya di restoran Jee dan Alfy turun menuju restoran mewah itu sementara para pelayan yang ada di tempat itu menyambut mereka dengan sangat ramah sesekali melirik ke arah wanita yang berada di samping Alfy dengan tatapan kagum dengan wajah dan bentuk tubuh yang nyaris tidak ada kurangnya sedikit pun. Alfy yang melihat sontak saja melemparkan tatapan tajam pada beberapa pelayan pria yang memandangi istrinya. Mereka yang tersadar akan hal itu langsung menunduk penuh rasa takut karena ia tahu benar siapa pria yang sudah meliriknya itu.


"Kau mau makan apa?" tanya Alfy memberikan buku menu yang telah di berikannya pada istrinya.


"Em...terserah Kaus saja," ucap Jee sambil menggigit bibir bawahnya kecil karena bingung melihat menu semuanya terlihat sangat enak.


"Ma...af Tuan saya minta maaf," ucap pelayan itu dengan penuh ketakutan.


"Fy ada apa?" tanya Jee yang kaget setengah mati melihat reaksi suaminya yang tiba-tiba tanpa ada sebab.


"Dia melirikmu Jee," jawab Alfy dengan kesal.

__ADS_1


Jee yang mendengar sangat terkejut. "Apa...karena itu?" tanya Jee kaget.


"Lalu menurutmu karena apa?" tanya Alfy balik dengan mata yang memerah menahan amarah.


"Lepaskan dia...aku bilang kepaskan," Kini Jee mulai berteriak karena tidak bisa menahan kekesalannya pada suami konyolnya itu.


Alfy pun dengan cepat melepaskan genggaman pada kerah baju pria itu dan meyuruhnya pergi. Kini hanya ada Jee dan Alfy di meja itu yang saling memandang dengan tatapan seperti saling melayangkan parang sedang berkelahi namun hal itu hanya bisa tergambar dari mata mereka berdua tanpa bereaksi apa pun. Sementara pelayan pria tadi menuju dapur dengan badan bergemetar menahan rasa takutnya karena ia sangat tahu siapa pria yang sudah mengancamnya tadi seorang Alfy Syein yang bisa kapan saja memiliki hati seperti burung elang yang mencabik-cabik ayam incarannya.


"Berhentilah bersikap berlebihan seperti itu Fy," ucap Jee memecahkan ketegangan seketika.


"Kau bilang sikap berlebihan?" tanya Alfy heran.


"Menurutmu semua mata di bumi ini hanya boleh melihat ayam yang baru bertelur sampai menetas begitu!" Terang Jee yang menahan kesalnya.


"Aku tidak ingin kau menjadi pusat perhatian Jee," ucap Alfy yang mulai bernada tinggi.


Sementara di meja lain Jacobie yang mendengar keributan mereka yang seperti tidak tahu tempat saja hanya menggelengkan kepala terheran-heran melihat tingkah Tuan mudanya. Bagaimana bisa mereka ribut berdebat hal yang melucu seperti itu dan membesar-besarkan di tempat umum seperti ini dan yah hanya seorang Alfy Syein yang menganggap tempat ini seperti rumahnya sampai ia tidak perlu menahan amarah jika harus melampiaskan di tempat ramai ini.

__ADS_1


Dan lebih heran lagi Jacobie melihat sifat Tuan mudanya bagaimana bisa seorang Alfy Syein pengacara cerdas dengan kewibawaannya yang begitu tinggi ketika memecahkan masalah di ruang persidangan terlihat sangat tegas namun bagaimana? apa ini masalah dengan seorang wanita yang hanya menjadi pusat perhatian bisa membuatnya seketika membuang segala sifat kebijaksanaannya.


Terimakasih untuk pembaca telah setia menunggu episode selanjutnya author sangat mengharapkan dukungan dari pembaca untuk terus melanjutkan karya ini. Dukungan kalian sangat bermanfaat untuk meneruskan kelangsungan novel ini. Jangan lupa untuk meninggalkan like dan coment yah.


__ADS_2