Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Tertembak


__ADS_3

Setelah beranjak pergi dari rumah penjual bakso itu kini mobil mewah berwarna hitam itu melajukan dengan kecepatan sedang menuju sebuah salon tempat biasa Alfy datang jika memiliki waktu luang untuk merapikan wambutnya karena memang ia tidak menyukai jika rambutnya sedikit panjang. Pria itu memang sangat menjaga penampilannya tak heran jika banyak wanita menginginkannya terlebih lagi dengan kekuasaan yang ia miliki begitu melimpah begitu banyak wanita yang mengantri di luar sana menunggu perpisahan Alfy dengan Jee. Selama di perjalanan Jee selalu melingkarkan tangannya pada lengan suaminya itu dan menyenderkan kepalanya di bahi suaminya sambil tersenyum bahagia membayangkan suaminya dengan kepala botak rasanya sungguh menggemaskan bukan.


"Suamiku nanti setelah rambutmu botak kita berfoto yang banyak," minta Jee dengan manjanya.


"Hemm," jawab Alfy dengan singkat.


"Apa kau marah?" tanya Jee memanyunkan mulutnya.


"Tidak istriku," ucap Alfy yang berusaha membuang wajah kesalnya lalu kembali menerbitkan senyuman terindah yang ia miliki.


Setelah beberapa lama kemudian tibalah mereka di depan sebuah salon mewah di Kota itu dengan antusias Jee segera turun dari mobil itu bersama suaminya wajahnya tampak mengeluarkan kegembiraan seperti akan mendapat hadiah terindah. Tentu saja hadiah terindahnya adalah pria tampan berkepala botak bersih putih itulah yang di bayangkan wanita cantik itu. Saat mereka memasuki salon itu semua mata lagi-lagi terpanah pada mereka melihat kedua pasangan yang tampak serasi tubuh yang memiliki ukuran tinggi hampir sejajar dengan wajah cantik dan tampan membuat keduanya seperti model majalah yang di pasangkan untuk bergandengan. Namun Alfy dan Jee sudah tidak merasa canggung lagi dengan tatapan itu mereka sudah tampak terbiasa melihat tatapan manusia-manusia di muka bumi itu ada yang menatap dengan senyuman ada juga menatapnya dengan tajam seperti mereka memiliki rasa iri tersendiri dengan kesempurnaan mereka.


Kini Alfy sudah dengan gugupnya duduk di kursi dan de belakangnya sudah berdiri seorang pria dengan memgang peralatan memotong rambut ketika perlahan ia ingin mendaratkan pencukur itu tiba-tiba saja Jee berteriak.


"Tidaaaak!" Dengan menutup matanya.


Semua terkejut mendengar teriakan wanita itu dengan cepat Alfy berdiri dan menghampiri istrinya wajahnya panik dan memeluk Jee.


"Ada apa?" tanya Alfy yang tampak panik.


"Aku tidak ingin kau memotong rambutmu suamiku," ucap Jee menangis.


"Loh bukannya tadi kau yang minta untuk menghabiskan seluruh rambutku?" tanya Alfy yang bingung.


"Tapi kali ini aku tidak ingin melihatmu botak suamiku," jawab Jee menangis.


Semua orang yang melihat hal itu menatap aneh pada mereka ketika Alfy menoleh semua segera membuang tatapan itu dengan berbicara satu sama lain tentunya mereka tidak akan berani menatap pria dan wanita itu pastinya sudah mengenal lebih jauh siapa mereka terlebih lagi tatapan Alfy yang seperti akan menerkam.


"Baiklah jika kau tidak ingin aku memotong rambutku tidak apa-apa," ucap Alfy yang terdengar lebih legah karena akhirnya ia tertolong juga.


Kini wanita itu dengan erat memeluk tubuh suaminya ia merasa bersalah menyuruh suaminya memotong habis rambutnya bagaimana bisa ia seegois itu pada pria tampan di hadapannya tak sadarkah jika perlakuannya itu bisa membuat suaminya mati pasaran di kalangan wanita-wanita. Sementara Jac yang masih setia berdiri di samping Nona mudanya hanya menggelengkan kepala rasanya tidak bisa membayangkan jika nanti ia menikah dan memiliki istri yang hamil apakah sama sulitnya seperti Tuan mudanya ini mendapat berbagai tantangan yang di inginkan calon bayi itu.

__ADS_1


"Kita pulang sekarang?" tanya Alfy mengajak istrinya.


"Iya," jawab Jee singkat.


Kini mereka melangkah keluar salon dengan ekspresi entahlah hanya mereka yang mengerti saat ini. Namun ketika hendak memasuki mobil tiba-tiba saja ada sepasang mata yang mengarahkan pistol ke arah Alfy dan sontak hal itu membuat semua terkejut pasalnya pria yang mengarahkan pistol itu sudah berlari menghilangkan jejak sementara Alfy yang terkena di bagian perutnya tersungkur ke samping mobil melihat itu Jee yang terkejut dengan suara yang memenuhi sekitar situ menangis histeris dan Jac segera membawa Tuan mudanya masuk ke mobil kini mereka menuju rumah sakit dengan mengendarai mobil di kecepatan tinggi. Sepanjang jalan Jee hanya menangis memangku kepala suaminya di mobil sementara Alfy sudah pingsan sejak tadi pertama masuk ke mobil. Kini tangan Jacobie menyetir dengan gemetaran Pak Deni yang duduk di sebelah Jac karena permintaan Jac untuk bertukar posisi ia merasa tidak bisa duduk tenang kecuali menyetir dengan laju.


"Suamiku bangunlah," ucap Jee menangis tidak ada lagi yang ia fikirkan kecuali keselamatan pria tampan di pangkuannya itu.


Dengan beberapa kali Jee meminta Jac untuk lebih melajukan mobil itu tanpa ia sadari Jac sudah sangat melaju namun karena kepanikannya ia tidak bisa merasakan hal itu lagi. Setelah beberapa menit kini mereka tiba di sebuah rumah sakit yang dimana Tuan Reindra juga di rawat. Dengan cepat para tenaga medis membawa ranjang beroda untuk membawa Tuan Alfy ke ruang IGD. Jee hanya ikut melangkah mengiringi mereka dengan langkah setengah berlari setelah sampai di depan pintu rawat mereka berhenti hanya Alfy dan beberapa tenaga medis yang masuk ke dalam ruangan. Kini Alfy langsung di bawa ke ruang operasi setelah di lakukan pemeriksaan ternyata peluru di dalam tubuhnya masih tertinggal dan harus di lakukan operasi saat itu juga. Sementara Jee sudah terduduk lemas Jac yang melihat Nona mudanya tampak lemas dengan segera memanggi Nyonya Flora untuk menemani Jee karena Jac khawatir dengan kandungan dan fisik Nona mudanya yang kini sudah terlihat tampak pucat.


"Mami," ucap Jee menangis ketika melihat kehadiran Mami Flora di hadapannya dengan segera pun ia memeluknya.


"Alfy akan baik-baik saja sayang," Dengan membalas pelukan anaknya sambil mengelus rambutnya perlahan.


"Tadi ada orang jahat Mi," Mengadu pada Maminya untuk mengeluarkan semua unek-uneknya.


"Sayang percayalah Jac akan mampu menyelesaikan hal ini," ucap Mami Flora yang berusaha menenangkan hati anaknya.


"Kau harus bisa lebih kuat sayang ini adalah resiko ketika menjadi istri pria yang baik akan banyak cobaan," Mencoba memberi nasihat pada sang anak yang tampaknya belum bisa mengerti keadaan suaminya yang di luar sana begitu banyak membantu orang.


Yah memang selama ini Jee tidak mengerti hal apa saja yang di buat oleh suaminya sampai hal terburuk yang menimpa suaminya ia tidak pernah mengetahui itu dan Alfy juga tidak pernah memberi tahu pada istrinya karena ia tidak ingin Jee mengkhawatirkan dirinya berlebihan. Menurut Alfy ia akan selalu baik-baik saja selama yang ia lakukan adalah hal kebaikan tentu akan di permudah dan mendapat lindungan dari Yang Kuasa. Ketika Ibu dan anak tengah berpelukan kini tampak seorang wanita hadir yang tidak lain adalah Nyonya Syein .


"Jacobie, bagaiamana keadaan Alfy?" tanyanya dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Saat ini sedang di operasi Nyonya," jawab Jac dengan sopannya.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" Terkejut mendengan ketika anaknya mendapat serangan dari orang yang tidak di kenali.


"Sepertinya ada yang menginginkan nyawa Tuan muda Nyonya," jawab Jac dengan jujurnya dan mendengar hal itu Jee seketika menangis lebih keras lagi ia sangat takut mendengar ucapan Jac.


Bagaimana jika benar-benar terjadi haruskah Jee hidup sendiri dengan keadaannya yang sedang hamil seperti itu rasanya tidak mungkin ia kuat di tinggal suaminya itu meskipun terkadang menyebalkan namun perasaan cinta di antara mereka berdua memang sudah benar tercipta dengan sedirinya.

__ADS_1


"Mi aku tidak ingin Alfy kenapa-kenapa," ucap lirih Jee dengan terus memeluk erat tubuh Nyonya Flora.


"Jee suamimu akan baik-baik saja," Dengan menepuk pundak menantunya Nyonya Syein kini ikut memeluk tubuh menantunya.


"Tapi bagaimana jika orang jahat itu kembali lagi Mah?" tanya Jee yang kini berbalik menghadap Nyonya Syein yang tadi berada di belakang Jee saat memeluk Maminya.


"Di sini akan aman sayang," tambah Mami Flora yang berusaha menenangkan anaknya.


"Jac tambah beberapa penjaga untuk mengawasi ruangan Alfy!" Perintah Nyonya Syein dengan tegas.


"Baik Nyonya," jawab Jac dengan menunduk lagi beranjak menjauh dari ruangan itu.


Saat terlihat sudah lumayan jauh kini Jac menghubungi pasukannya ia meminta lima orang untuk menjaga ruangan Alfy selama ia di rawat. Tanpa menunggu lama kini datanglah lima orang yang beberapa hari lalu menjaga ruangan Jee saat di rawat dan untuk kali ini para manusia-manusia yang ada di rumah sakit itu sudah tidak menatap penasaran lagi karena mereka sudah mengetahui tentang keluarga siapa yang berulang kali berurusan di rumah sakit itu yah Syein Biglous keluarga besar yang namanya tidak asing di kalangan masyarakat seorang yang turun temurun memiliki jasa bagi kehidupan di sekelilingnya. Melihat kejadian di kelaurga mereka semua masyarakat tampak kagum karena memang kehidupan keluarga besar mereka tak seindah yang orang luar bayangkan begitu banyak ancaman yang menimpa keluarga Syein demi membela klien yang menjadi tanggung jawabnya.


Musuh mereka bertebaran di segala penjuru jika tidak bisa mengalahkan tentu mereka akan melenyapkan hanya itu jalan satu-satunya bagi orang yang tidak ingin di ungkap kejahatannya oleh Alfy saat ini. Lawan Alfy silih berganti ketika kasus baru datang, saat itu juga musuh baru datang yang sewaktu-waktu bisa melenyapkan mereka. Entah itu nyawa Alfy atau kelaurganya segala cara akan mereka tempuh untuk melindungi diri dan mendapatkan kekuasaan yang mereka rebut dari tangan yang tidak berdosa itu.


Kini ruangan sudah di penuhi dengan penjagaan yang amat ketat sementara Jee masih terus menangis menunggu salah satu orang yang membukakan pintu ruang operasi itu. Setelah lampu tanda operasi telah selesai Jee langsung segera berdiri di depan pintu tanpa sabar menunggu kabar suaminya. Ketika tidak lama kemudia pintu pun terbuka dan terlihat salah seorang Dokter yang sudah terlihat memutih rambutnya.


"Bagaimana suami saya Dok?" tanya Jee dengan wajah penuh harapnya.


"Tuan Alfy sudah berhasil di operasi, Nona jangan kahwatir saat ini hanya menunggu Tuan sadarkan diri karena masih berada dalam pengaruh bius." Menjelaskan dengan tenang pada wanita cantik di hadapannya itu dal lagi-lagi dokter itu dengan beraninya menatap tubuh istri seorang Alfy dari bawa sampai ke atas ia tidak habis fikir wanita di hadapannya memanglah sangat sempurna.


"Ehem," Jac yang mengetahui itu dengan segera berdehem mencegah hal-hal yang tidak di inginkan.


"Baik kalau begitu saya permisi Nona," ucap Dokter yang menyadari pandangan Jac yang teramat tajam padanya.


"Bisa-bisanya ia dengan berani menatap Nona seperti itu," gumam Jac dengan mengepal tangannya.


Yah memang hanya Jac lah satu-satunya pria yang bisa mengendalikan tatapannya pada Jee selain Jac tidak ada laki-laki di dunia ini yang tidak bisa lepas memandang tubuh seksi wanita itu sekalipun itu Delon salah satu pria kepercayaan Alfy pun masih berani menaruh hati pada Jee. Namun sayangnya Jee memang wanita yang tidak peka terhadap lawan jenis sifat polosnya selalu sukses membuat kalangan pria semakin jatuh hati padanya sikapnya yang manja dan selalu baik pada siapapun justru mengundang perasaan lain yang timbul pada pria mana pun yang bersamanya.


Nah untuk ceritanya sampai di sini duluyah kita akan lanjut di episode berikutnya. Terimakasih atas dukungan kalian jangan lupa untuk like dan koment yah jika menyukai cerita ini kalian bisa tekan tombol love untuk dapatkan notifikasi ketika episode selanjutnya sudah update. Assalamualaikum Wr. Wb. Salam semangat membaca dari author.

__ADS_1


__ADS_2