Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Pertemuan Jacobie dan Suster Syanin


__ADS_3

Kita lanjut lagi yah adegan babang Alfy dan istri seksinya...!


Di kamar, Jee yang sudah perlahan mendapat sentuhan lembut di punggungnya oleh Alfy sudah mulai mendesah sepertinya hari itu akan berlangsung cukup panjang.


Mengingat rasa rindu Alfy yang semakin hari semakin menguat membuatnya benar-benar selalu menginginkan tubuh Jee.


Jika ia tidak mengingat kandungan yang ada pada istrinya mungkin tidak akan memperdulikan jika Jee menolaknya namun semuanya harus bisa ia tahan untuk sementara tapi tidak saat ini.


Cukup lama mereka saling memuaskan satu sama lain kini Jee sudah mulai pandai bermain di atas ranjang berkat bimbingan suaminya.


Entah Alfy pandai melakukannya belajar dari mana karena memang ia sebenarnya juga masih polos di bandingkan pria-pria di luaran sana.


Hampir dua jam lamanya mereka melakukan hingga akhirnya Alfy dan Jee sudah tidak bisa menahan hasratnya dan kini mereka sama-sama berpelukan begitu erat.


Dan setelah permainan itu selesai mereka bergegas untuk membersihkan diri karena sepertinya Jee mengingat jika ia memiliki tugas kuliah.


Setelah mandi selesai Jee yang sudah memakai baju santai melihat suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi menggunakan celana pendek dan tidak memakai baju.


Matanya melotot sunggu pemandangan yang indah tubuh putih atletis dan tinggi yang begitu sempurna di tambah wajah yang tampan sempurna.


"Kau menginginkannya lagi yah?" goda Alfy sambil menunjuk sesuatu di bawah sana.


"Apaan sih," Jee yang sadar dari lamunannya seketika beranjak ke meja yang ada di kamar itu.


Biasanya Alfy yang ada di situ dengan laptopnya tapi kali ini ia ingin bersantai sambil memandangi istrinya yang belajar.


Jee yang tampak tengah serius belajar mendapat pandangan dari suaminya namun ia tidak menyadarinya wajah tersenyum terlihat dari Alfy.


Sungguh pemandangan yang indah melihat wanita cantik kesayangannya sedang serius belajar kecerdasan Jee memanglah tidak bisa di saingi.


Mereka berdua benar-benar sepasang suami istri begitu sempurna keberuntungan apa saja mereka sudah miliki bentuk wajah, tubuh, harta, kecerdasan dan keluarga baik semua mereka miliki.


Alfy yang telah lama mengamati Jee di meja belajar itu perlahan melangkah mendekati Jee ia menaikkan kaki sebelah kirinya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Jee terkejut mendapat tingkah Alfy yang kini sudah duduk tepat di belakang Jee dengan satu kursi.


Pelan tangan Alfy melingkar sempurna di perut buncit Jee mengelus lembut perut itu sambil menyandarkan wajahnya di pundak istrinya.


Jee merasa geli di lehernya terus bergerak meminta Alfy untuk turun namun Alfy menolaknya.

__ADS_1


"Turun, Han." ucap Jee sambil menggoyangkan tubuhnya kegelian.


"Diamlah jika tidak ingin ku santap lagi." Suara Alfy yang terdengar mengancam.


Namun Jee tidak peduli ia merasa sangat geli dengan nafas yang Alfy hembuskan di lehernya rasanya tidak bisa konsentrasi untuk mengerjakan tugas itu.


"Ah...aku geli, Han." Jee yang semakin memberontak.


"Jadi kau sengaja membuatku terbangun lagi yah?" tanya Alfy memberi isyarat.


Jee yang mendengar merasa bingung apa maksud suaminya itu ia sama sekali tidak mengerti rasanya.


"Maksudmu?" tanya Jee dengan menatap wajah suaminya kesamping.


"Kau bergerak terus ada yang terbangun di sana." jelas Alfy sambil menggerakkan pinggangnya dan membuat Jee mengerti.


Wanita itupun memilih diam untuk mencari jalan aman namun ternyata itu semua percuma Alfy memang sudah menginginkannya lagi maka dari itu ia terus menggoda Jee.


Perlahan Alfy yang menelusuri bagi depan tubuh Jee mulai menelusuri ke berbagai area sampai akhirnya Jee tidak bisa menghentikan aksi Alfy dan justru kali ini ia lagi yang terbawa suasana.


Akhirnya Jee merespon sentuhan Alfy dengan menyandarkan tubuhnya ke belakang menempel sempurna di dada bidang Alfy.


Begitu lamanya mereka melakukan sentuhan demi sentuhan di kursi dan akhirnya Alfy yang sudah tidak sabar dengan segera menggendong istrinya ke atas kasur lagi lama mereka melakukannya sampai akhirnya selesai dengan membuat Jee benar-benar kelelahan.


Hari sudah semakin sore Alfy yang melihat ke arah meja kerjanya beranjak turun dari kasur ia melihat tugas yang belum selesai Jee kerjakan masih begitu banya.


Akhirnya dengan inisiatif Alfy mengerjakannya karena tidak tega jika Jee harus mengerjakannya lagi nanti malam tentu wanitanya itu sudah sangat lelah.


Sedangkan di sebuah bascamp tampak Jacobie memberi semua arahan pada pasukannya untuk mencari tahu perjalanan hidup Zeyra beberapa bulan terkahir ini.


Ia tampak tidak mengetahui tentang hubungan Zeyra dengan Nakula sampai saat ini hari itu berfikir jika Nakula hanya menyekap Zeyra karena adiknya tidak bicara sama sekali.


Setelah memastikan semuanya selesai Jacobie memutuskan untuk kembali ke rumah sakit mengingat hanya Delon yang membantunya menjaga Zeyra.


Setelah setengah jam lamanya kini pria itu turun dengan seragam favoritnya berwarna hitam semua membuat tampilannya sangat misterius.


Dengan cepat Jacobie membuka pintu betapa terkejutnya pria itu saat melihat suster Syanin yang ada di dalam ruangan sedang tertawa dengan Delon.


Setelah masuk dengan melangkah penuh keraguan Jacobie menatap wajah suster cantik itu merasa gugup bertemu dengan wanita itu lagi.

__ADS_1


Wajahnya merasakan gerah yang luar biasa sampai akhirnya ia memutuskan kembali ke luar ruangan untuk mencari udara segar.


Di luar ternyata bukan lagi hawa yang membuatnya gerah tapi fikirannya terus berlari kesana kemari.


"Mereka melakukan apa di dalam jika aku meninggalkannya?" gumam Jacobie tampak tidak tahan meninggakan Delon dan suster Syanin.


Dengan cepat ia kembali lagi ke dalam kamar rawat itu.


"Sudah hilang gerahnya?" tanya Delon.


"Hem." jawab Jacobie singkat.


Dengan tidak enak mendapat pandangan dari Jacobie akhirnya suster Syanin memutuskan untuk keluar melanjutkan pekerjaannya.


Jacobie yang tidak menyadari ucapannya dengan cepat mengatakan, "Sus, rawatlah adikku." perintah Jacobie yang merasa reflek mengatakannya karena merasa berat jika jauh dengan wanita itu lagi.


"Maksudnya Tuan?" tanya suster Syanin meminta penjelasan oleh Jacobie.


"Aku dan Delon akan kembali bekerja, kau tolong rawat Zeyra." jelas Jacobie yang tetap berbicara dengan nada dinginnya.


"Baik." jawab singkat suster Syanin.


Saat Jacobie dan Delon ingin bergegas ke kantor tiba-tiba Jacobie menyuruh suster Syanin menyimpan nomor ponselnya.


"Ini." ucap Jac menyodorkan ponsel dari saku jasnya.


Suster Syanin yang tampak bingung mendapatkan benda kecil itu terus menatap Jacobie dengan tatapan bingungnya.


"Masukkan nomorku di ponselmu." perintah Jac yang melihatkan nomornya di ponsel itu.


"Untuk apa Tuan?" tanya suster Syanin.


"Beritahu aku perkembangan Zeyra." jelas Jacobie.


Dengan cepat suster Syanin mengetik dan menyimpan nomornya Jacobie setelah memastikan suster Syanin selesai kedua pria itu bergegas keluar kamar.


"Dadaa... Sya." ucap Delon yang tersenyum manis sambil melambaikan tangannya.


Suster Syanin hanya terdiam melihat kepergian mereka sementara Jacobie menatap tajam ke arah Delon namun tatapan itu sama sekali tidak di gubris oleh Delon yang tampak senang.

__ADS_1


Hai semuanya semangat terus membacanya yah biar author juga semangat nulisnya hehe. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian semoga author bisa cepat selesaikan novel ini yah.


Selamat membaca readersku sayang salam hangat dari Marina Monalisa.


__ADS_2