
“Baik Nona semua yang kami butuhkan sepertinya ada pada diri anda, selamat Nona Wenda anda kami terima.” ucap pria yang baru saja selesai menginterview Wenda.
“Terimakasih, Pak.” jawab Wenda sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum.
“Mulai besok anda sudah bisa bekerja.” tambah pria itu.
Namanya adalah Lorens Domanik, pria itu yang mengatur segala keperluan perusahan Sailis Group sejak awal berdirinya perusahaan tersebut. Wenda yang kegirangan kini sudah melangkah pergi meninggalkan ruangan dan menuju pulang, di pertengahan jalannya di kantor besar ia melihat sebuah ruangan yang tidak tertutup.
Disana terlihat pemandangan yang indah dari jendela kaca yang terbuka luas, matanya tertuju pada jendela itu perlahan namun pasti langkahnya mendekat dengan terus menatapnya.
“Wah segarnya udara di sini, wah di bawah sana ternyata ada taman indah.” ucap Wenda yang terkagum-kagum melihat pemandangan di halaman samping kantornya.
Sepertinya Wenda akan memiliki tempat favorit di tempat kerjanya itu, kali ini benar-benar ingin membuat hidupnya jauh lebih baik.
“Mau apa wanita itu, astaga sepertinya ingin bunuh diri awas saja membuat kantorku jadi rusak.” umpat kesal pria yang baru saja melihat seorang wanita menghadap ke jendela dengan merentangkan kedua tangannya.
Dengan cepat pria itu berlari dan menarik Wenda kasar, alih-alih mendapat pelukan atau ucapan terimakasih justru Wenda yang terkejut dengan cepatnya menendang kepemilikan pria itu dengan cepatnya.
“Aw.” rintih pria itu yang merasa kesakitan sambil terus memeganginya.
Sementara Wenda yang sudah ketakutan melihatnya dengan cepat berlari menuruni anak tangga tanpa mau sabar menunggu lift.
“Hey tunggu!” teriak pria itu namun tak ada respon dari Wenda.
“Ah sial, dasar wanita gila.” ucap pria itu dengan kesalnya.
Wenda yang kini sudah tiba di mobil merasa sedikit takut, entah sejak kapan ia terus merasa takut jika ada pria yang tidak ia kenal tiba-tiba mendekat padanya. Setelah ia merasa lebih tenang akhirnya hari itu Wenda memutuskan untuk langsung pulang ke rumah dan memberikan kabar baik itu pada kedua orangtuanya.
Mengapa Wenda tidak melanjutkan kuliahnya tentu bukan tanpa alasan, ia sudah tidak ingin membuang-buang waktu dan uang orang tuanya lagi. Yang terpenting saat ini adalah Wenda bisa menjadi anak yang mandiri. Meskipun Tuan Rusli tidak setuju dengan keputusannya tentu ia sedikit senang melihat usaha keras putrinya yang mau berjuang dari bawah.
***
Alfy yang baru saja keluar dari ruang kerjanya tampak lelah dan melangkah ke kamarnya untuk menemui sang istri.
__ADS_1
“Sedang komunikasi dengan siapa?” tanya Alfy penasaran melihat istrinya terus membalas pesan di ponselnya.
“Ini ada pesan dari kampus kalau aku di pilih sebagai perwakilan kampus untuk olimpiade.” Jawab Jee.
“Wah hebatnya istriku, selamat yah.” ucap Alfy yang memeluk Jee dengan erat.
“Hebat bagaimana sayang? inikan baru di pilih bukan menang.” jelas Jee yang merasa cemas.
Alfy yang melihat wajah cemas istrinya segera tersenyum dan mengedipkan mata seperti pertanda meminta sesuatu. Jee yang melihat nampaknya masih belum paham juga dengan suaminya.
“Ada apa?” tanya Jee.
“Em sepertinya kau sedikit cemas yah, bagaimana jika aku memberimu vitamin ketenangan?” tanya Alfy yang semakin membuat Jee tampak penasaran.
“Memangnya ada gitu?” tanya Jee lagi.
“Tentu saja.” jawab Alfy.
Akhirnya Jee yang dengan polosnya mengangguk dengan tersenyum kemudian ia mendengarkan perintah suaminya agar memberishkan diri dulu. Dengan semangat empat lima wanita itu bergegas membersihkan diri di kamar mandi. Sedangkan Alfy sudah tertawa terkekeh melihat istrinya mengapa fikiran dewasanya tidak tumbuh-tumbuh juga.
Sepersekian menit Jee akhirnya selesai dari aktifitasnya di kamar mandi dengan cepat ia menuju ruang ganti baju kemudian setelah seleasi segera menaiki kasur. Alfy yang melihat istirnya begitu cepat datang tampak mengernyitkan dahinya melihat Jee yang sudah lengkah memakai baju.
“Buka bajumu, sayang.” ucap Alfy.
Jee yang mendengar tampak bingung dan menggelengkan kepala tidak mengerti. Alfy yang sudah merasa tidak sabaran dengan segera menerkam istrinya.
“Sayang, apa yang kau lakukan tolong.” teriak Jee yang terus berkicau.
“Ayolah sayang, aku sudah lapar.” bujuk Alfy yang terus melucuti baju istrinya satu persatu.
“Yasudah kalau mau makan ayo turun jangan seperti ini.” bantah Jee.
Alfy yang malas mendengar celotehan istrinya terus melanjutkan aksinya dengan cepat ia mulai menelusuri setiap lekukan Jee dengan sangat instens. Jee yang kini sudah mulai merespon sentuhan suaminya perlahan mulai bersuara.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari lagi-lagi pitu kamar masih terututup tidak sempurna sampai mengeluarkan suara.
“Ada apa yah, Pi? Kok Jee seperti minta tolong.” ucap Nyonya Flora yang merasa panik saat berada di ruang tengah.
“Sepertinya Alfy sedang bekerja keras yah?” lanjut Tuan Reindra yang menjawab sambil tertawa.
Dan di sambut juga dengan tawa Tuan Indrawan, sementara Nyonya Syein dan Nyonya Flora hanya mendengus kesal dan menggelengkan kepala mereka. Sepertinya kedua pria itu sedang mabuk cucu sampai tidak bisa berfikir bagus akhir-akhir ini.
“Bi,” panggil Tuan Reindra.
“Iya Tuan.” jawab Bi Ria.
“Tolong tutup pintu kamar atas pelan-pelan yah.” pintah Tuan Reindra.
“Baik, Tuan.” dengan cepat wanita itu menaiki anak tangga pelan-pelan.
Dan betapa terkejutnya Bi Ria saat ingin menutup pintu kamar Alfy karena tanpa sengaja matanya tertuju pada sumber suara di dalam sana.
“Deg.” Suara detakan jantung Bi Ria seperti terhenti seketika saat menutup pintu.
Tangannya bergetar ketika melihat Jee dan Alfy yang sedang melakukan aksinya di atas ranjang tanpa menutupi tubuhnya dengan selimut. Nasib buruk apa yang menimpa wanita tua itu sampai bisa melihat adegan seperti itu.
Rasanya seluruh darah di tubuhnya mengalir dengan cepat, wajahnya tampak memerah saat melewati keluarga yang duduk di ruang tengah tanpa suara.
“Papah, apa-apaan sih kenapa begitu dengan Bi Ria?” tanya Nyonya Syein yang kesal dengan suaminya.
Tuan Reindra hanya tertawa geli melihat ekspresi pelayan tua itu sambil menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya ia mengerjai pelayan yang tidak memiliki salah apa pun padanya. Tentu saja ada salahnya yaitu karena sampai saat ini Bi Ria belum mau menikah lagi setelah kepergian suaminya.
Di kamar Alfy yang terus semakin menikmati permainannya mulai melihat wajah Jee tampak memerah karena reaksi Alfy yang begitu pandai membangunkan hasrat istrinya.
“Sayang, apa kau suka?” tanya Alfy yang terdengar lirih di telinga istrinya.
Jee yang tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya saja, ruangan itu kini sudah berubah menjadi panas. Hanya suara Jee yang terus memenuhi ruangan itu. Tanpa mereka sadari sepertinya ada sepasang mata yang tampak menikmati pemandangan itu.
__ADS_1
“Ih apasih liat-liat malu tau.” ucap Jee yang membuat Alfy seketika terhenti di atas.