
Di perjalanan Jee yang sudah tidak sadarkan diri tengah berada di atas pangkuan seorang pria tampan itu sambil terus mengelus wajah cantiknya.
"Apa pun caranya kau akan bersamaku," ucap lirih Narendra.
Sementara supirnya sekaligus pesuruhnya begitu laju mengendarai mobil itu tanpa mereka sadara Fiky tengah berada di belakang sedang mengikuti mereka.
Alfy yang kini bersama Delon juga dengan cepat mengikuti jejak Fiki melalui ponsel meskipun agak jauh karena dari kampus ke arah kantor Alfy berjarak yang lumayan jauh.
"Bertahanlah Jee." Fiky yang terus mengkhawatirkan wanita itu.
Sampai saat ini pun Fiky masih belum bisa mengikhlaskan Jee apapun pasti ia lakukan demi wanita itu tetapi caranya tidak sekotor Narendra tentunya.
Setelah cukup lama di perjalanan kini Narendra membawa Jee ke sebuah basecamp yang tampak besar namun sama sekali terlihat tidak terawat.
Belum sempat Narendra membawa masuk Jee, Fiky yang sudah tidak sabaran akhirnya berlari menghampiri mereka.
"Hey, berhenti! teriak Fiky dengan lantangnya.
Narendra yang mendengar hal itu menoleh sebentar lalu mengacuhkannya.
Saat pria itu menggendong tubuh Jee matanya melirik ke arah Fiky memberi isyarat para penjaganya untuk mengeroyok Fiky.
Terjadilah pukul memukul yang pada awalnya Fiky sempat melakukan perlawanan dengan hebat namun setelah Fiky terkena tembakan di kedua kakinya dengan cepat tubuhnya tersungkur ke dasar lantai.
Wajahnya sudah babak belum karena pukulan dari beberapa orang itu, Fiky sama sekali tidak memiliki persiapan termasuk pistol.
Setelah memastikan keadaan Fiky tidak berdaya akhirnya beberapa orang itu membawanya masuk ke dalam basecamp lalu mengikat kedua tangannya.
Fiky hanya bisa pasrah karena tubuhnya sudah sangat lemah darah bercucuran di mana-mana mengalir dari kedua kakinya.
Air matanya terus menetes memikirkan naib Jee entah apa yang pria itu lakukan pada wanita kesayangannya penyesalan begitu besar pada Fiky.
Lagi-lagi di saat Jee membutuhkannya ia sama sekali tidak bisa berguna sama seperti dulu saat Jee sendirian ia meninggalkannya ke luar negeri sampai akhirnya Jee selalu mendapat pengawasan ketat dari beberapa sahabatnya.
"Maafkan aku Jee, aku memang tidak berguna...aku pantas kau tinggalkan, sangat pantas!" gumam Fiky sembari terus menatap lemah ke depan.
Entahlah saat ini Fiky sudah tidak merasakan sakit lagi di tubuhnya yang ia rasakan hanya sakit ketika membayangkan terjadi apa-apa pada Jee.
Beberapa lama ia terduduk sampai akhirnya penglihatannya mulai kabur dan kini ia sudah tidak sadarkan diri sementara di dalam sana Jee yang sudah tersadar.
"Dimana aku?" tanya Jee yang ketakutan.
Narendra yang mendengar suara Jee segera masuk dan perlahan ia mendekar ke arah Jee.
"Kau..." Wajah Jee tampak terkejut melihat kehadiran Narendra.
"Sssttt...." ucap Narendra menutup bibir Jee dengan jari telunjuknya.
Pandangan pria itu kini tepat di hadapan Jee yang sangat dekat mendapat perlakuan itu Jee sangat ketakutan wajahnya berkeringat karena tangannya sudah di ikat di masing-masing sudut ranjang.
"Tolong lepaskan aku!" ucap Jee yang terus memberontak.
"Jangan takut sayang." Narendra yang berusaha menenangkan Jee.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Jee tidak mengerti.
Narendra yang mendengar itu kini tampak tersenyum jahat ia menatap dengan intens setiap lekuk tubuh wanita itu sambil sesekali ia mengelus lembut kaki bagian atas Jee.
__ADS_1
Wajahnya tersenyum menyeringai sambil sesekali melemparkan tatapan ingin menerkam ke arah Jee wajah Narendra penuh dengan napsu.
"Tolong biarkan aku pergi ku mohon!" teriak Jee.
Mendengar teriakan itu Jee sukses membuat Fiky kembali sadar ia seketika terbangung dari pingsannya wajahnya tampak tidak terima mendengar suara di dalam sana.
Tentu ia mengerti mengapa Jee berteriak histeris seperti itu Fiky terus memberontak namun ia sadar itu tidak akan ada hasil sebaiknya ia menyimpan tenaganya untuk menunggu Alfy.
"Di mana kau mengapa lama sekali?" gumam Fiky yang semakin marah pada Alfy.
Jee yang sudah merasa ketakutan sekali melihat Narendra yang begitu tampak menginginkannya dengan brutalnya saat menyobek-nyobek bajunya.
"Tidak...ku mohon jangan lakukan ini." ucap Jee yang sudah menangis dan meronta-ronta di atas ranjang.
Namun Narendra yang begitu sudah terobsesi tidak lagi memperdulikan tangisan wanita itu ia terus menikmati pemandangan yang semakin lama semakin terlihat keindahannya.
Kini Jee sudah tidak memakai baju luar lagi hanya baju dalam saja yang tersisa di atas tubuhnya sementar bawahannya masih tetap utuh.
Mata Jee terus mengeluarkan kristal bening merasa tidak terima dengan pria di hadapannya itu telah menikmati tubuhnya.
"Sunggu indah sekali, maukah kau membagi ini padaku?" tanya Narendra yang tampak kelaparan melihat kemolekan tubuh Jee yang begitu padat di bagian depannya.
"Aku sungguh salah menilai dirimu." ucap Jee yang tampak terlihat rasa dendam di wajahnya.
"Kau yang salah Jee...kau yang salah meninggalkanku." Narendra yang tampak sedih.
Saat ia bergerak mendekati wajah Jee matanya terlihat begitu menatap dengan nanar hawa napsunya sudah sangat menguasai dirinya.
Jee yang semakin ketakutan terus menggerakkan tubuhnya ke sana kemari untuk menghindari terkaman Narendra ia merasa ada yang sakit di bawah sana.
Namun tidak bisa melihatnya karena tubuh Narendra saat ini sudah berada tepat di atasnya Jee yang terus berteriak kini mulai melemah lagi.
Alfy dan Delon yah mereka sudah datang dengan berlari cepat mereka memasuki basecamp itu belum sempat ia masuk lebih jauh sudah begitu banyak yang mengeroyok kedua pria itu.
Namun sebanyak itu rasanya tidak sebanding dengan kemampuan Alfy dan Delon yang ahli dalam bela diri satu persatu pasukan itu jatuh tersungkur ke lantai sampai tidak sadarkan diri.
Setelah beberapa menit merek menyelesaikan serangan itu akhirnya Alfy dan Delon berlari masuk ke dalam ia terkejut melihat Fiky yang sudah berlumuran darah tidak berdaya.
"Hey... hey bangunlah." perintah Delon yang menepuk pipi pria itu.
Fiky yang tersadar ada tangan menggetarkan pipinya dengan cepat membuka matanya ia melihat kehadiran Delon yang tentu sangat tahu jika pria itu sering mengawal Jee ke kampus.
"Jee..." ucap Fiky dengan suara lirihnya.
"Ada apa dengan Nyonya?" tanya Delon khawatir.
Belum sempat Fiky menjawabnya kini sudah terdengar suara amukan Alfy di dalam sana.
"Brengs*k....!" ucap Alfy yang melihat Narendra sudah berada tepat di atas tubuh istirinya yang tengah sibuk menelusuri leher mulus Jee.
"Heemmmm...Hemmm tidak...tidak." teriak Jee yang terdengar oleh Alfy.
Sementara Narendra yang melihat kehadiran Alfy dengan segera turun untuk melawan Alfy akhirnya mereka berkelahi cukup lama.
Sampai akhirnya Alfy menghajar habis Narendra dan melemparkan ke arah lemari kecil yang terdapat di sudut ruangan itu.
Kepalanya terbentur oleh meja dan mengeluarkan darah akhirnya ia tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Jee..." ucap Alfy dengan tatapan sedih melihat keadaan istrinya yang sudah tidak memakai baju.
Dengan cepat Alfy melepaskan jasnya dan memakaikan pada istrinya wajah Jee sama sekali tampak pucat dan sembab.
Ia tidak mengatakan apa-apa saat ini dan hanya memegangi perutnya saja ada rasa sakit yang luar biasa ia rasakan.
"Maafkan aku." ucap Alfy dengan memeluk erat istrinya sambil merasa penuh bersalah.
Setelah akhirnya Alfy ingin bergegas mengajak Jee pulang tiba-tiba Jee merintih.
"Aw...sakit." ucap Jee sambil meremas perutnya.
"Ada apa ?" tanya Alfy panik.
Delon yang baru saja masuk ke dalam ia tampak terkejut melihat keadaan Nyonya Jee yang begitu kusut dan lebih terkejutnya lagi saat tidak sengaja melihat ke arah bawah Jee yang tampak warna merah membasahi celananya.
"Astaga Tuan, Nyonya berdarah." ucap Delon yang panik.
Alfy yang menoleh ke arah bawah matanya terbuka lebar membulat dan dengan cepat ia menggendong istrinya ke mobil.
Sementara Fiky sudah di antar oleh pengikut Delon yang tadi menyusulnya ke basecamp sesuai dengan dugaan Delon pasti akan ada yang membutuhkan mereka.
Kini Delon dan Alfy sudah menuju rumah sakit dengan sangat laju sementara Jee yang berada di pangkuan Alfy terus berteriak kesakitan.
"Sakit....perutku sangat sakit hemmmm..heemmm." Jee terus menangis.
"Sabar yah, han kita akan segera sampai." Alfy yang terus memeluk tubuh istrinya sampai tidak terasa meneteskan air matanya.
Jee tidak bisa memperdulikan Alfy kali ini perutnya benar-benar sakit darah di kakinya terus mengalir deras Alfy begitu sangat ketakutan melihat darah itu.
"Delon lajukan lagi." Alfy yang tampak tidak bisa sabar.
"Baik Tuan." jawab Delon cepat.
Padahal ini sudah kecepatan yang paling tinggi dan sebenarnya bukan hanya Alfy yang ingin cepat sampai Delon juga tentu sangat khawatir dengan kandungan Jee.
Merasa tidak bisa lagi meninggikan gas mobilnya kini hanya terlihat wajah Delon yang merasa ingin maju lebih cepat berharap bisa membantunya lebih cepat sampai.
Meskipun itu sebenarnya mustahil terjadi bukan, tapi yang setiap orang yang selalu ingin cepat-cepat tentu akan reflek melakukannya memajukan tubuh seakan mobil juga ikut terbawa maju.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit dengan berlari Alfy menggendong Jee ke ruang periksa.
Semua orang tampak menatap ke arahnya lagi-lagi keluarga mereka masuk bergantian ke rumah sakit itu.
Delin yang juga merasa begitu sangat gelisah melihat keadaan Jee segera menghubungi keluarga, Nyonya Syein yang baru saja menerima telepon dari Delon mendadak teruduk di di lantai wajahnya tampak syok.
Semua yang ada di ruangan itu terkejut dan berlari meraih tubuh Nyonya Syein.
"Ada apa Mah?" tanya Tuan Reindra tampak khawatir.
"Pah...Jee masuk rumah sakit." jelas Nyonya Syein menangis.
Semua yang mendengar begitu kaget.
"Apa...?" Suara Tuan Indra, Tuan Reindra, dan Nyonya Flora yang bersamaan.
Tanpa menunggu lama akhirnya mereka semua bergegas ke rumah sakit kecuali Bi Ria dan pelayan lainnya mereka hanya di rumah kecuali mendapat panggilan.
__ADS_1
Halo semuanya kira-kira bagaimana yah nasih Jee nanti semoga keadaannya baik-baik saja yah. Selamat membaca para readers setiaku jangan bosan menunggu updatean episode selanjutnya yah. Jangan lupa untuk like, koment, favorite dan rate bintang limanya yah Terimakasih.