
"Baik untuk kontrak kita sudah selesai mari makan." ajak pria yang sedang duduk bersama kliennya di sebuah cafe mewah.
Dia adalah Tuan Farhan, paman Wenda yang kebetulan ada pertemuan dengan kliennya di Indonesia biasanya pria itu sangat jarang berada di Indonesia.
"Ayolah kalian mau makan apa? aku akan mentraktir apa pun yang kalian inginkan sekalipun membawa kafe ini juga aku bisa," ucap pria muda yang terdengar sangat menyombongkan diri di depan dua wanita malam itu.
"Astaga ternyata masih ada anak muda seperti itu di sini." gerutu klien Tuan Farhan.
"Hehehe saya tidak heran Pak, mereka pasti hanya menikmati uang dari orangtua makanya seperti itu." jawab Tuan Farhan terkekeh.
Setelah lama mereka menunggu kini Tuan Farhan bersama kliennya segera menyantap hidangan yang sudah di sediakan di depan mereka.
Sementara Wenda yang sendirian sedang tertidur mendapat kunjungan dari Dokter, ia menanyakan keberadaan keluarga.
Namun Wenda yang beberapa kali mencoba menghubungi Nakula tidak kunjung ada jawaban samai akhirnya Wenda pasrah dan menghubungi Pamannya.
"Halo, ada apa Wen?" tanya Tuan Farhan.
"Apa Paman bisa ke Indonesia sekarang?" tanya Wenda dengan ragu.
"Paman sudah di Indonesia, kamu ada apa? kangen yah sama Paman?" ucap Tuan Farhan sambil tersenyum.
Wenda yang enggan basa basi dengan segera menyuruh Pamannya untuk datang ke rumah sakit menemuinya. Tuan Farhan yang mendengar nama rumah sakit sangat terkejut ia tidak menyangka jika kepergian Wenda bukan untuk bertemu dengan teman-temannya tetapi justru berada di rumah sakit.
Dengan cepat Tuan Farhan beranjak pergi dari kafe tanpa menyapa kliennya terlebih dahulu. Supir pribadi Tuan Farhan dengan cepat melajukan kendaraan sesuai arah yang di tuju Tuan Farhan.
Selama perjalanan wajah pria itu tampak khawatir takut jika terjadi apa-apa pada keponakan tersayangnya. Beberapa kai ia mencoba menghubungi istrinya namun masih tidak ada jawaban. Entah dengan pria mana lagi istrinya saat ini sampai tidak bisa mengangkat telefonnya.
Beberapa menit berlalu kini mobil mewah Tuan Farhan sudah terparkir dengan sempurna di depan rumah sakit. Langkahnya begitu cepat menuju ruangan Wenda, di sana sudah tampak seorang Dokter dan dua orang suster pembantunya.
"Keluarga Wenda?" tanya Dokter.
__ADS_1
"Iya Dok, saya Pamannya." jawab Tuan Farhan dengan tegas.
Wenda yang sedikit cemas menantikan penjelasana Dokter tidak ingin menatap wajah pamannya hanya membuang wajah ke arah yang lain saja.
"Begini Tuan, pasien Wenda seudah cukup lama kami rawat karena gejala di tubuhnya semakin buruk." ucap Dokter.
"Lalu apa yang terjadi Dok?" tanya Tuan Farhan khawatir.
"Sesuai dengan dugaan kami, pasien Wenda positif terkena HIV Tuan." jelas Dokter menggantung.
Wenda yang mendengarnya menggelengkan kepala rasa tidak percaya jika penyakit yang ia derita adalah penyakin mengerikan seperti itu. Tuan Farhan juga tak kalah terkejutnya mendengar penyakit itu di sebut Dokter mulutnya terbuka lebar kemudia ia tutup dengan telapak tangannya.
Dokter menjelaskan setelah melakukan pemeriksaan seluruh bagian-bagian tubuh Wenda penyakit itu di sebabkan dengan penuluaran melalui cairan tubuh. Dan tentu yang di maksud adalah berhubungan badan yang Wenda lakukan.
Dan penyakit HIV yang di derita Wenda sudah sangat parah Dokter melihat jika penyakit ini sudah cukup lama berada di tubuh Wenda namun baru saat ini di ketahui.
HIV yang sudah sangat parah ini di sebut sebagai AIDS, begitu jelas Dokter dan tentu itu semua belum berakhir masih ada hasil pemeriksaan yang ingin di jelaskan lagi oleh Dokter.
Setelah memberikan lembaran pemeriksaan pada Tuan Farhan, Dokter menjelaskan bahwa Wenda menderita kanker paru-paru. Tentu hal itu juga di sebabkan oleh penyakit awalnya yang membuat kekebalan tubuhnya melemah.
Nakula yang baru saja selesai makan dengan dua wanitanya kini kembali menghidupkan ponselnya, ia melihat beberapa pesan yang Wenda kirim padanya.
"Di mana kau?" Cepat kemari Dokter menunggumu." isi pesan yang di kirim oleh Wenda.
Dengan cepat Nakula bergegas pergi dari kafe dan melajukan mobilnya ia sangat penasaran dengan hasil pemeriksaan Wenda. Tentu bukan Wenda yang ia khawatirkan tetapi dirinya sendiri jangan sampai Nakula juga terkena penyakit menular itu tentunya.
Sesampainya Nakula di rumah sakit ia segera masuk ke ruang rawat Wenda tanpa pemisi dulu. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria yang sedang bersama Dokter menatap kedatangannya.
"Siapa dia Wen?" tanya Tuan Farhan.
"Pacar Wenda, Paman." jawab Wenda dengan lemas.
__ADS_1
Tuan Farhan yang melihat wajah Nakula tentu sangat mengingat di mana mereka baru bertemu dan apa yang Nakula lakukan barusan. Tanpa menunggu lama Tuan Farhan mendekat ke arah Nakula dan melayangkan pukulan beberapa kali di wajah dan perut Nakula secara bergantian.
Tuan Farhan terus menyerang Nakula sampai akhirnya Dokter dan beberapa suster membantu untuk memisahkan mereka. Sementara Nakula yang tidak tahu maksud dari pukulan itu hanya diam tanpa melawan wajahnya masih menatap bingung.
"Ada apa ini?" tanya Nakula berteriak.
"Wenda, apa kau bodoh memilih pria ini?" tanya Tuan Farhan.
Tuan Farhan tentu sangat marah karena ia berfikir jika Wenda mendapatkan penyakit menular itu karena Nakula yang sudah bermain dengan banyak wanita. Namun dari sini semua masih belum jelas apakah Wenda yang menulari Nakula atau justru Nakula yang menulari Wenda.
"Ada apa Paman?" tanya Wenda yang terdengar sangat lemas dan bingung.
Akhirnya Tuan Farhan menceritakan pada Wenda jika sebelum kedatangannya ke rumah sakit ia bertemu dengan Nakula yang sedang asyik berkencan bersama dua wanita. Wenda dan Nakula yagn mendengarnya sama-sama terkejut.
Kemarahan Wenda pada Nakula kini membuatnya untuk meminta segala fasilitas yang Wenda berikan pada Nakula termasuk kartu kredit tanpa batas. Paman Wenda yang mendengar semakin geram karena bagaimana pun kartu kredit itu adalah miliknya yang di berikan pada Wenda.
Dan ternyata kartu kredit itu yang di gunakan oleh Nakula untuk memuaskan para wanita di luar sana, bagaimana bisa Tuan Farhan bekerja keras siang malam menyeberangi samudera hanya untuk wanita-wanita malam di luar sana.
Tanpa bisa menahan emosi lagi Tuan Farhan terus memukuli Nakula sampai akhirnya wajah pria tampan itu terlihat biru dan bengkak sesekali ia meritih kesakitan namun tidak ada yang menolongnya. Wenda yang hanya melihat tanpa membela pada Nakula lagi.
Dengan cepat Tuan Farhan mengambil dompet Nakula dari saku celananya lalu mengeluarkan akrtu kredit dan beberapa uang cash.
Nakula yang sudah tidak berdaya di tendang oleh Tuan Farhan keluar dari ruangan itu, sementara tatapan Tuan Farhan begitu sangat tajam pada Wenda. Dengan cepat pria itu meraih ponsel di saku celananya dan menghubungi seseorang.
"Halo, ada apa?" tanya seorang wanita di seberang sana.
"Aku ingin mengembalikan putrimu." ucap Tuan Farhan dengan suara marahnya.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya wanita itu.
Ia adalah Ibu dari Wenda yang sudah tidak ingin merawat anaknya lagi karena perceraiannya bersama suaminya membuat wanita itu terus menyakiti dirinya tiap kali melihat buah cinta mereka.
__ADS_1
Tuan Farhan yang merasa kecewa telah menyayagi Wenda kini enggan lagi untuk merawat gadis sakit itu dengan cepat langkahnya keluar dari ruang rawat Wenda. Namun, biar bagaimana pun Tuan Farhan masih memiliki belas kasihan kini ia menuju bagian administrasi untuk membayar semua biaya perawatan Wenda. Setelah selesai membayarnya ia keluar dari rumah sakit. Di depan ruangan Wenda tampak dua orang penjaga yang di perintah oleh Tuan Farhan agar menjaganya dan setelah selesai di rawat ia meminta untuk mengantarkan Wenda ke alamat yang sudah ia berikan.
Selamat membaca!