Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Amukan Massa


__ADS_3

Sebelum lanjut membacanya author mau ucapin Terimakasih nih untuk para readers yang sudah baik hati meluangkan waktunya mampir di sini kasih like, komen, vote dan rate nya pada karya author kali ini.


Setelah keberangkatan Alfy ke kantor Jee merasa bosan dan seketika melihat piano yang sudah lama tertutup di ruangan tengah itu perlahan ia melangkah mendekati benda itu. Di singkirkan kain penutup dan duduklah wanita cantik itu dengan anggunnya ia mulai memainkan piano dengan sangat sempurna terdegar di telinganya.


"Bi, siapa yang bermain piano yah?" tanya suster Syanin di dapur.


"Tidak tahu Sus." jawab Bi Ria sambil bergerak melangkah mendekati sumber suara itu.


Semua orang yang ada di rumah itu dengan rasa penasarannya mencari tahu sumber suara itu betapa terkagumnya mereka ketika melihat wanita yang duduk dengan anggun memainkan piano sambil memejamkan matanya. Sangat jelas terlihat ekspresinya sedang menikmati lagu itu.


"Wah ternyata kau pandai sekali memainkannya Jee." puji Tuan Reindra sambil bertepuk tangan.


"Papah," ucap Jee terkejut dan langsung menghentikan permainannya itu.


Semua tepuk tangan dan tersenyum termasuk suster Syanin dan Dokter Adeline juga ikut senang mendengarnya rasanya rumah itu kini tampak hidup mulai saat kedatangan Jee ke dalam kediaman Syein Biglous. Kali ini Jee memang sukses membuat seisi rumah itu terkejut dengan kemampuan bakatnya yang selama ini tersembunyi.


Sementara di kantor Alfy yang sedang fokus memeriksa kontrak yang baru saja di antar oleh sekertaris Nona Friska sesuai dengan perjanjian yang malam itu Alfy dan Nona Friska sepakati untuk membagi keuntungan pada pemilik tanah itu. Satu-persatu point dari kontrak itu ia baca sepertinya semua sudah benar setelah memeriksanya Alfy meminta Jac untuk mengonfirmasi pada Nona Friska agar segera menyerahkan hak masyarakat yang memiliki tanah itu.


Menerima kabar itu Nona Friska tersenyum menyeringai entah apa yang ada di dalam fikirannya saat ini hanya dia saja yang tahu.


Dengan segera Nona Friska memanggil orang kepercayannya ke dalam ruangan kerjanya itu.


"Kalian sudah siap?" tanya Nona Friska.


"Tentu saja Nona." jawab pria itu yang penampilannya begitu terlihat menyeramkan.


Kini pria itu melajukan mobilnya menuju daerah pegunungan bersama beberapa pasukannya itu sesampai di sebuah desa mereka menemui tokoh utama desa itu dan memberikan kontrak yang baru saja di perbarui. Saat mereka memeriksa point demi point betapa terkejutnya saat melihat kesepakatan dengan pengara Tuan Alfy Syein yang juka akan mendapatkan bagian dari setiap penjualan itu.


"Bagaimana bisa Tuan Alfy mendapatkan keuntungan dari setiap penjualan ini juga dan apa ini hak kami terpotong untuk Tuan Alfy sebesar sepulu persen?" tanya Bapak itu dengan wajah penuh emosinya.


Utusan Nona Friska hanya tersenyum bersama pasukan yang ia bawa ke desa itu tanpa memberi penjelasan pada masyarakat.


Setelah mendapatkan berkas itu dengan segera mereka berkumpul berdiskusi tentang kontrak yang baru saja di perbaharui tanpa menunggu lama mereka semua setuju untuk melakukan demo di gedung Syein Biglous saat itu juga.


Alfy yang masih duduk dengan sibuk bermain laptop di hadapannya sesekali melirik ponsel miliknya melihat jam siang karena tentu akan pulang ke rumah untuk makan siang dan bertemu dengan wanitanya yang selalu membuatnya rindu.


Saat tiba jam istirahat dengan terburu-buru ia keluar dari ruang kerjanya dan akan melangkah menuju parkiran mobilnya yang sudah tepat di depan gedung itu. Seketika matanya terkejut melihat kedatangan para masa yang begitu banyak berkerumun di hadapannya.


Alfy sama sekali tidak mengerti maksud kedatangan mereka dengan segera Alfy menghampiri masa tanpa pengawasan dari keamanan, namun kali ini langkah Alfy yang terlalu tergesa-gesa sangatlah menjadi kesalahan.


"Itu dia orangnya!" teriak salah seorang masa yang membawa kayu di tangannya dan membuat semua masa ikut bergerak ke arah Alfy.


Belum sempat Alfy berbicara kepalanya sudah terkena lemparan batu dari salah seorang masa yang merasa sangat kesal. Mendadak kepala Alfy mengeluarkan sesuatu yang berwarna merah, para pekerja di gedung itu mendenga suara gaduh dengan segera keluar.


"Tuan Alfy." Terkejut melihat atasannya di kerumunin masa Delon berlari.

__ADS_1


Dengan beberapa keamanan yang ikut bersamanya karena memang security yang kewalahan menghalangi masa itu tanpa persiapan sedikitpun. Kini para wartawan sudah ramai berkerumun di gedung itu untuk mendapatkan gambar maupun video.


Berita dengan cepatnya tersebar mengatasnamakan Syein Biglous yang berusaha mencari keuntungan pada masyarakat kecil.


Kini Alfy sudah di amankan masa yang begitu banyak tidak mampu menghindar ketika semua pasukan Jac di kerahkan. Melihat semua kekacauan yang terjadi akhirnya salah satu perwakilan dari masa itu maju untuk meminta penjelasan dari Jac.


Sedangkan di kediama Syein Biglous tampak tegang ketika mendengar berita itu Jee yang tidak kuasa ketika melihat suaminya terluka dengan segera berlari keluar rumah meminta Pak Deni untuk melajukan mobilnya ke kantor.


"Pak, yang laju dong." ucap Jee yang tampak bergemetar sambil menangis.


"Baik Nona." jawab Pak Deni menginjak gas mobilnya.


Tuan dan Nyonya Syein yang tidak mampu menahan menantunya segera menghubungi Jac namun tidak ada jawaban dari pria itu karena keributan di sekitarnya membuat dering ponselnya tidak terdengar.


"Pah, bagaimana ini?" tanya Nyonya Syein dengan wajah sedihnya.


"Percayakan pada Jac dan Delon Mah." Dengan berusaha meyakinkan istrinya.


Sementara Dokter Adeline dan suster Syanin begitu tampak khawatir memangnya siapa lagi yang begitu mereka khawatirkan selain Jac. Beberapa kali Dokter Adeline menelfon namun tetap tidak ada jawaban dari Jac membuatnya tidak bisa menahan diri dengan segera menyusul Jee ke kantor.


"Tuan, saya permisi menyusul Nona Jee." ucap Dokter Adeline beralasan.


"Hati-hati yah Dok." Tanpa menghiraukan wanita itu yang sudah beranjak keluar rumah.


Suster Syanin kali ini kalah lagi dari kecepatan Dokter Adeline untuk memenangkan hati Jac yang tidak peka itu.


"Sebaiknya anda menahan para masa Pak saya akan bicara pada Tuan Alfy dulu." ucap Jac meminta waktu.


"Baiklah." jawab Bapak Tua itu dengan bergegas mendekati para masa yang ikut dengannya.


Di dalam ruangan Jac melangkah mendekati Alfy yang sedang di beri obat pada Delon dan perban yang menempel di jidatnya itu.


"Tuan, apa yang harus kita lakukan?" tanya Jac pada Alfy.


"Berikan salinan berkas kontrak yang sudah kau fotocopy." jawab Alfy dengan santainya.


Jac terkejut karena ia fikir semua yang di berikan kemarin telah di serahkan pada Nona Friska ternyata Alfy sudah lebih jauh mewaspadai hal ini. Melihat tingkah Nona Friska yang begitu mudahnya menyetujui permintaan Alfy semakin membuat Alfy jadi lebih waspada saat itu. Dan benarlah hal yang di takutkan kali ini terjadi tebakan Alfy memang tidak pernah salah. Nona Friska bukanlah wanita satu-satunya yang di hadapi Alfy di dunia bisnis yang tampak kejam ini.


"Mengapa ia melakukannya?" gumam Jac yang sedikit lelet berfikir.


"Dia ingin mencari aman perusahaannya dengan menjatuhkan kita sehingga tidak ada yang bisa membantu masyarakat kecil lagi." jelas Alfy yang tampak mengerti tatapan bingung Jac pada berkas itu.


Dengan cepat Jac berlari melangkah ke luar dan bertemu dengan para masa yang sudah mulai ribut menunggu kedatangannya. Setelah sampai di sana Jac langsung menyerahkan pada Bapak tua tadi berkas yang ada di tangannya. Melihat isi kontrak itu mereka tampak terkejut merasa telah di permainkan oleh Nona Friska dan apa yang mereka rasakan kali ini adalah hal yang memalukan.


Bagaimana tidak memalukan merekalah yang meminta bantuan pada Tuan Alfy dan apa yang mereka lakukan kali ini membuat pengacara satu-satunya yang mau mendengarkan keluhan mereka jadi terluka. Terlebih lagi ketika tadi mereka menuntut untuk Tuan Alfy mundur dari profesinya saat ini. Betapa tidak tahu terimakasihnya mereka yang tidak mau mendengarkan penjelasan terlebih dulu.

__ADS_1


Seketika semua diam mematung memikirkan apa yang sudah mereka perbuat kali ini benar-benar merugikan gedung itu dan mencoreng nama baik keluarga Syein Biglous tentunya.


Sedangkan Jee yang baru saja sampai di kantor dengan wajahnya yang masih terus menangis masuk ke tengah-tengah masa yang berkerumun lalu berdiri di hadapan paling depan.


"Apa yang kalian lakukan di sini kalian mau menuntut apa pada suamiku bukankah sudah begitu keras upaya yang suamiku lakukan pada kalian dan apa inikah balasan kalian ?" teriak Jee sambil bergemetar menahan amarahnya.


"Maafkan kami Nona sungguh ini kesalahpahaman." jawab Bapak tua itu yang memohon mendekat ke arah Jee.


"Setelah yang kalian lakukan pada suamiku masih pantaskah kalian berada di sini?" tanya Jee yang terus menangis sambil berteriak.


Semua yang mendengar hanya tertunduk merasa bersalah karena telah mengambil langkah salah dengan cerobohnya.


"Ada apa itu Delon?" tanya Alfy yang terkejut melihat dari jendela atas tampak para masa tertunduk ketika seorang wanita berdiri di hadapan mereka.


Menyadari telah mengenal sosok wanita itu dengan segera Alfy berlari turun dan menghampiri mereka di depan gedung.


"Istriku apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alfy yang kaget tidak menyangka.


"Aku mengkhawatirkanmu" jawab Jee memeluk tubuh suaminya.


"Tapi kau harus istirahat di rumah kan." bantah Alfy yang tidak di jawab oleh Jee.


Merasa ada yang aneh ketika Jee tidak menjawab ucapan suaminya kini Alfy sadar tubuh yang ia peluk sudah tidak berdaya.


"Jee...sadarlah!" teriak Alfy yang membuat semuanya terkejut.


Menggendong cepat istrinya ke dalam mobil pribadinya dengan melaju Alfy membawanya ke rumah sepanjang jalan ia mencoba menggerakkan tubuh istrinya memintanya untuk bangun namun tidak ada respon dari Jee.


Dokter Adelin yang baru saja sampai di kantor dengan segera menghampiri Jacobie.


"Jac, kau tidak apa-apa?" tanya wanita itu.


"Apa yang kau lakukan di sini Adeline? Tuan menuju ke rumah Nona Jee pingsan. " ucap Jacobie dengan wajah paniknya tanpa memperdulikan kekhawatiran Dokter Adeline padanya.


"Tapi Jac-" (ucapan Dokter Adeline lagi-lagi terpotong ketika Jac menyuruhnya pulang segera).


"Adeline, pulanglah sekarang Nona Jee membutuhkanmu." ucap Jacobie yang kembali ke hadapan masa.


Dengan merasa kecewa Dokter Adeline melangkah masuk ke mobil dan menuju ke rumah .


"Mah, Dokter Adeline mana?" tanya Alfy yang berlari menggendong Jee ke kamar.


"Loh tadi menyusul Jee ke kantor." jawab Nyonya Syein yang bingung.


"Astaga apa yang Dokter itu lakukan sih!" teriak Alfy kesal karena panik keadaan istrinya.

__ADS_1


Setelah beberapa menit Alfy menelfon tidak ada jawaban kini Dokter Adeline tiba di rumah dan berlari masuk ke kamar Nona Jee untuk memeriksanya. Sementara wajahnya masih terlihat tampak kecewa menerima respon dari Jac yang seakan tidak perduli padanya.


Ceritanya sampai di sini dulu yah semoga para readers terhibur dengan alur yang author buat jangan lupa terus dukung author dengan cara vote, like dan komentnya yah jika bersedia juga bisa kasih rate bintang limanya. Terimakasih Assalamualaikum Wr. Wb.


__ADS_2