
“Ayo masuk.” ajak Pak Lorens mempersilahkan Wenda.
“Tuan Adelio, ini sekertaris baru anda yang kemarin lulu seleksi.” jelas Pak Lorens.
“Permisi, Pak A-delio.” ucap Wenda yang tampak ragu menyebutkan nama karena takut salah.
Seketika kursi yang menghadap ke belekangan menutupi tubuh pria itu berputar sembilan puluh derajat menghadap dengan sempurna pada Wenda yang berdiri menunduk. Mata Tuan Adelio menatap tidak percaya jika sekertaris barunya adalah wanita penyakit jiwa itu.
Wenda yang baru berani menatap Tuan Adelio ketika di senggol oleh Pak Lorens pun terkejut melongo kepalanya menggeleng kecil tidak percaya. Bagaimana bisa ia menjadi sekertaris pria mes*m itu fikirnya.
“Berani sekali kau menunjukkan wajahmu di hadapanku.” ucap Tuan Adelio tampak kesal mengingat tingkah Wenda padanya.
Wenda yang menyadari perbuatannya pada pria itu merasa takut jika pekerjaannya yang baru saja ia terima akan di cabut hari itu juga.
“Maafkan saya, Tuan saya benar-benar tidak sengaja.” ucap Wenda yang berusaha merendah demi pekerjaannya.
Mata Tuan Adelio yang menyorot pada Pak Lorens segera mendapat respon, ia sangat mengerti jika Tuan mudanya meminta Wenda segera menjauh darinya dan mengerjakan pekerjaannya.
“Mari Nona Wenda ke meja kerja anda.” ajak Pak Lorens.
Wenda yang mengikuti langkah Pak Lorens kembali ke luar ruangan Tuan Adelio, meja kerja Wenda tepatnya berada di depan ruangan kerja Tuan Adelio. Hari itu Wenda bekerja dengan sangat giat wajah lelahnya sama sekali tidak terlihat pagi itu meskipun keringan sudah mulai membasahi kening mulusnya.
***
Di kampus Jee yang sedang duduk mengemasi buku-bukunya setelah kuliah terkejut ketika melihat di lantai ada sepasang sepatu yang kini berdiri tepat di depannya.
“Hai.” ucap pria itu dengan tersenyum.
“Iya, ada apa?” tanya Jee yang kini sudah menatap wajah pria itu.
__ADS_1
“Kau sudah belajar?” tanya pria itu yang tidak lain adalah Ravindra.
“Iya, sudah.” jawab Jee singkat.
Ravindra yang mendengarnya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu selamat bekerja sama yah.” ucapnya.
“Maksudnya?” tanya Jee yang tidak mengerti.
“Kita satu tim saat olimpiade nanti.” jelas Ravindra yang membuat Jee terkejut.
Matilah kau Jee usahamu menyembunyikan pria itu dari pandangan suami tampanmu sepertinya akan sia-sia kali ini, ternyata Ravindra dengan senang hati menyerahkan diri pada Alfy tanpa susah payah Alfy mencarinya.
Tentu kemarahan seperti apa yang Jee dapatkan jika Alfy tahu Ravindra kuliah di kampus yang sama dengan Jee terlebih lagi di kelas yang sama juga. Sepertinya kali ini akan ada hal lebih membuat Alfy semakin gila.
Jee yang mendengarnya kini dengan wajah paniknya segera berlari kecil menuju keluar, ia tidak menghiraukan panggilan Ravindra dari dalam kelas. Langkah Jee seketika terhenti ketika melihat suaminya yang sudah mendekat ke arahnya. Alfy menjemput Jee sangat tepat waktu rupanya.
“Kau sudah pulang ternyata.” ucap Alfy yang baru saja menghentikan langkah kakinya di depan Jee. Dengan wajah panik Jee segera menarik tangan suaminya menuju parkiran mobil. Alfy merasa bingung melihat tingkah Jee.
“Em tidak, ayo pulang aku sangat lapar kali ini rasanya kepalaku pusing.” Jee yang berbohong pada Alfy demi menghindari keributan yang sudah bisa ia tebak.
Mendengar istrinya yang kelaparan tanpa mau bertanya lagi Alfy dengan cepat menyuruh Jee untuk masuk ke mobil begitu juga dengannya. Mobil sudah berjalan menuju keluar pagar, lagi-lagi Jee tersenyum pada security itu. Alfy yang hanya menatapnya tajam kini membuat Jee segera memalingkan pandangannya.
Jee yang memandangi kampus melihat sosok Ravindra yang baru saja keluar menuju parkiran dengan tatapan yang tampak sedang mencari seseorang. Tentu Jee tahu siapa yang Ravindra cari-cari saat itu. Siapa lagi jika bukan dirinya, dan bersyukurlah Jee yang kini sudah menjauh dari kampus bersama Alfy.
Selanjutnya Jee harus memikirkan cara lain lagi untuk tidak mempertemukan mereka berdua, jika benar pertemuan itu terjadi tentu Alfy bukan hanya marah pada Ravindra lagi pada Jee tentunya ia jauh lebih marah.
Sudah terbayangkan wajah penuh kemarahan yang Alfy berikan pada Jee seakan membuat wanita itu merasa lemas seketika. Wajahnya begitu terlihat sedang berfikir keras.
“Kau sudah sangat lemas yah? Sabar sebentar lagi kita akan sampai.” sahut Alfy yang kembali melajukan mobilnya.
__ADS_1
Jee yang tidak menjawab hanya berbicara dalam hati. “Aku lemas bukan karena lapar, tapi karena memikirkan dirimu hahhh.” umpat kesal Jee.
Hari-hari terlewati sangat cepat semua melakukan aktifitasnya begitu sangat sibuk. Begitu juga dengan Jee yang sibuk belajar untuk menghadapi olimpide yang sebentar lagi akan di mulai.
***
Pagi itu Alfy yang tengah bersiap untuk mengantar Jee menuju tempat olimpiade melihat wanita yang tengah duduk di pinggir kasur tengah melamun. Tatapan matanya begitu sangat kosong tentu bukan tanpa alasan. Jee yang merasa sangat tidak percaya diri ketika mendapat kesempatan itu memang baru pertama kalinya tampil di depan banyak orang. Alfy sangat mengerti istrinya yang memang sulit untuk membaur di luar sana.
Perlahan langkahnya mendekat ke arah Jee dan ikut duduk di samping istrinya melingkarkan tangannya di pundak istrinya layaknya seorang teman. Jee yang merasa di hampiri oleh Alfy hanya menoleh sekali dan kembali melamun lagi.
“Sayang percayalah kau pasti bisa,” ucap Alfy memberi semangat.
“Aku sangat gugup.” jawab Jee yang memperlihatkan tubuhnya bergemetar keringat dingin.
Alfy tidak tega melihatnya, sebenarnya jika ia mau bisa saja kampus itu membatalkan untuk memilih Jee. Namun Alfy juga ingin jika istrinya memiliki mental yang kuat tidak selalu menghindar dari keramaian orang.
“Ayo lihat aku.” Pintah Alfy yang memegang wajah istrinya dan mengarahkan ke hadapannya. Kini pandangan mereka sangat dekat kedua mata indah itu saling terpakut.
“Jika kau merasa takut, bayangkan saja jika di tempat itu hanya ada kita berdua dan lakukan apa yang membuatmu senang.” ucap Alfy memberikan Jee kekuatan.
“Jangan sesekali kau memandangi wajah mereka satu-persatu, fokuslah dengan apa yang ingin kau kerjakan dan jika kau merasa kesulitan ingat saat kita belajar bersama dan bayangkan wajahku saat mengajarimu nanti.” tambah Alfy lagi.
Mendengar semua ucapan Alfy kini Jee hanya bisa mengangguk dan beranjak dari tempat tidurnya untuk turun bersama Alfy dan sarapan. Setelah sarapan selesai kini mereka berdua melaju ke arah gedung tempat Jee akan melangsungkan olimpiade.
Setibanya di sana Alfy tampak menatap dengan dalam pada mobil yang sudah terparkir di samping mobilnya. Rasa-rasanya seperti sudah pernah melihatnya namun ingatannya begitu samar-samar dengan benda mewah itu.
“Sayang, aku masuk yah.” Jee yang baru saja ingin berlari meninggalkan suaminya agar tidak ikut masuk sudah lebih dulu di hentikan oleh Alfy.
“Tunggu!” ucapnya dengan suara menggelegar.
__ADS_1
Seketika mata Jee membulat saat membelakangi Alfy kini ia hanya menghentikan langkah kakinya dan menggigit kecil bibir bawahnya sambil memejamkan mata. Khawatir jika Alfy benar-benar akan ikut masuk ke dalam dan bertemu Ravindra.