
Setelah hari menunjukkan hampir sore kini Jee sudah bangun, melihat wanitanya sudah bangun Alfy tersenyum lalu mengecup kening istrinya dan menyuruh Jee untuk segera mandi. Kini mereka berdua pun bergegas untuk pergi ke sebuah cafe yang di pilih oleh Nona Friska.
Saat menuruni anak tangga Jee menggandeng tangan suaminya dengan senyuman yang menujukkan wajah bahagianya. Sedikitpun tidak terlihat jika ia sedang sakit melihat pemandangan itu Tuan Reindra dengan seisi rumah itu ikut tersenyum bahagia.
"Wah cantik sekali," ucap suster Syanin tanpa sengaja.
"Iya suster benar, Nona Jee sangat cantik memakai gaun merah itu." lanjut Bi Ria yang berdiri di dekat tangga.
Sampai di lantai dasar Alfy segera berpamitan dengan Nyonya dan Tuan Syein untuk pergi ke luar.
"Pah, Mah kami pergi dulu yah." Sambil tersenyum Alfy dan Jee memeluk kedua orang tua itu.
"Fy, jaga istrimu baik-baik." perintah Tuan Reindra yang terlihat tampak khawatir pada menantunya.
"Tentu saja Pah." ucap Alfy sambil melangkah ke luar.
Sedangkan para pelayan sudah mengiringi kepergian mereka sementara Pak Deni sudah membukakan pintu mobil untuk Alfy dan Jee. Setelah memastikan kedua orang itu masuk dengan baik Pad Deni menuju posisi kemudi mobil dan langsung melajukan kendaraannya.
"Pak pelan-pelan saja yah." ucap Jee yang tampak senang melihat udara malam hari.
"Baik Nona," jawab Pak Deni dengan menurunkan kecepatan mobil itu.
Jee memang sangat jarang sekali melihat keadaan Kota itu malam hari matanya seperti di manjakan oleh sinar lampu-lampu sepanjang jalan itu yang tampak menghiasi keindahan Kota dengan bulan yang juga tampak bersinar sempurna seakan menyambut kehadiran wanita cantik itu di tengah keramaian.
Sementara di kafe itu sudah ada wanita menggunakan gaun berwarna hitam dengan sangat minimnya dia adalah Nona Friska yang sudah tampak beberapa kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan putihnya begitu tampak mewah.
Wajahnya tampak terlihat gelisah menunggu pria tampan yang ia tunggu-tunggu merasa kesal takut jika di bohongi oleh sekertaris pengacara itu. Sesekali ia melirik kaca make up kecil yang selalu ia bawa di tasnya untuk memastikan penampilannya dengan sempurna kemudian menyemprotkan berulang-ulang parfume pada leher jenjangnya yang terlihat memukau dengan balutan syall berwarna merah.
Beberapa pengunjung di kafe itu melirik ke arah Nona Friska merasa sangat berkelas dan terlihat tampak menggoda setiap mata pria yang meliriknya karena memang gaunnya yang sedikit terbuka di bagian atas dan di bagian bawah yang begitu pendek.
Setelah beberapa lama ia menunggu kini tampak terlihat mobil mewah berwarna hitam terparkir dengan sempurna di depan kafe itu. Melihat pancaran sinar lampu mobil itu Nona Friska tampak tersenyum penuh kemenangan sepertinya wanita itu bisa menebak siapa pemiliki mobil mewah itu.
Jee dan Alfy yang baru saja sampai tampak memandangi kafe dari dalam mobil merasa heran karena suasana kafe itu tidak seperti tempat pembisnis untuk bertemu karena lampu yang begitu remang-remang tidak terlalu cerah.
"Suamiku kau yakin bertemu di sini?" tanya Jee yang tampak tidak percaya.
"Iya istriku, Jac mengirimkan alamatnya pada Pad Deni." jawab Alfy yang memang sudah menduga akan hal ini.
"Benarkah?" tanya Jee sekali lagi meyakinkan.
__ADS_1
"Ayo." ajak Alfy dengan turun terlebih dahulu dan mempersilahkan istrinya untuk melingkarkan tangan pada lengannya.
Nona Friska yang tadinya tersenyum menyeringai mendadak mengkerutkan dahinya dan mengepal erat kedua tangannya merasa harapannya patah seketika. Kini hatinya panas ketika mengetahui pria itu telah memiliki kekasih dan tentu saja ia merasa tidak percaya diri jika melihat istri pria tampan itu yang memang terlihat begitu sangat sempurna. Tapi ia tidak putus asa begitu saja karena baginya seorang kekasih masih belum memiliki hak penuh pada lelaki.
Apalagi menurut Nona Friska seorang Alfy sangatlah tampan rasanya tidak mungkin jika dia pria yang begitu bodoh tidak memanfaatkan ketampanannya untuk menguasai wanita-wanita.
Melangkah dengan melenggang pinggulnya Jee sambil tetap menggandeng suaminya sukses mencuri perhatian semua pengunjung kafe itu. Mata mereka tidak bisa berkedip ketika melihat pasangan yang tampak begitu serasi kini wajah Alfy tersenyum sesekali menoleh ke arah istrinya di sampingnya. Sambil melirik ke berbagai arah mencari keberadaan Nona Friska akhirnya mata Alfy menangkap wanita yang memakai gaun berwarna hitam sudah pasti itu adalah Nona Friska.
Dengan cepat Alfy dan Jee melangkah menuju meja Nona Friska sambil tersenyum sementara Nona Friska menatap mereka dengan tatapan tajam seketika tersadar dan merubah dengan senyumannya.
"Maafkan kami Nona sepertinya anda menunggu lama," ucap Alfy tersenyum.
"Oh tidak apa-apa Tuan," jawab Nona Friska membalas senyumannya dan mempersilahkan mereka duduk.
"Wanita ini kekasih anda Tuan?" tanya Nona Friska untuk menjawab rasa penasarannya.
"Apakah kami tampak sepeti sepasang kekasih Nona Friska?" tanya Alfy sambil bercanda.
Mendengar ucapan itu Nona Friska tampak tersenyum legah fikirnya masih ada harapan jika memang wanita di sampingnya hanyalah teman untuknya meeting. Itulah yang ada di dalam fikiran Nona Friska sepertinya kali ini ia memiliki kesempatan untuk memenangkan hati seorang pengacara yang begitu tampan.
"Perkenalkan Nona ini Jee istri saya," lanjut Alfy yang berusaha ngeprank Nona Friska yang masih tersenyum penuh kemenangan itu.
"Istri anda Tuan?" tanya Nona Friska dengan wajah terkejutnya.
"Iya Nona saya istri Tuan Alfy," jawab Jee tersenyum ramah yang sesekali mencuri pandangan pada penampilan wanita itu.
"Oh iya Nona Jee saya Friska," ucap Nona Friska sambil membalas uluran tangan Jee.
Melihat penampilan wanita itu Jee tidak berhenti berfikir tampaknya ia tengah befikir begiut keras saat ini mem bayangkan jika suaminya pergi sendiri entah apa yang terjadi. Melihat perempuan ini rasanya sangatlah liar pada lelaki mungkin ini akan menjadi pengalaman Jee untuk tidak akan pernah membiarkan Alfy bertemu klien sendirian tanpa dia di sampingnya.
Setelah mengetahui status Alfy Nona Friska sudah merasa muak untuk berlama-lama bersama pasangan itu dengan segera ia menyelesaikan masalahnya dengan Alfy tanpa harus berurusan dengan hukum itulah yang ada di dalam fikirannya.
"Nona Friska bisakah anda jelaskan hal point ini pada saya?" tanya Alfy menunjuk isi kontrak itu.
"Iya tentu saja Tuan." jawab Nona Friska.
Setelah mereka berbicara akhirnya kini Alfy menemukan permasalahannya karena sebenarnya isi kontrak itu sudah di manipulasi oleh pihak kantor Nona Friska. Mengetahui sanksi yang begitu berat di sebutkan oleh Alfy akhirnya Nona Friska menyerah dan berjanji dalam waktu dua hari segera memperbaiki kontrak itu dan membagi penghasilannya pada pemilik lahan bunga itu.
Setelah menyetujui kesepakatan itu akhirnya Alfy berpamitan untuk membawa istrinya pulang dan meninggalkan Nona Friska di kafe itu sendirian. Kini musnah sudah fikirannya untuk memiliki pria itu karena tidak akan mungkin ia bisa menang dari istrinya yang sudah terlihat tidak memiliki kekurangan sedikitpun.
__ADS_1
Di perjalanan Alfy dan Jee yang masih saling bersender satu sama lain tampak menikamti perjalanan malam itu wajah Alfy tersenyum legah melihat ekspresi Nona Friska saat berubah dari senyuman menjadi dingin ketika mendengar Alfy menyebutnya istri.
Sementara Jee yang terus membayangkan penampilan Nona Friska tampak terlihat gelisah sesekali menggelengkan kepalanya ingin melupakan wanita itu dari fikirannya namun sangat sulit.
"Ada apa istriku?" tanya Alfy yang penasaran.
"Tidak apa-apa suamiku." jawab Jee singkat.
"Ayolah katakan padaku," bujuk Alfy sambil memeluk istrinya.
"Em wanita itu sudah berapa kali bertemu denganmu?" tanya Jee penasaran.
"Baru dua kali. Ada apa memangnya?" tanya Alfy lagi.
"Aku merasa tidak nyaman melihat penampilannya begitu minim saat bertemu denganmu," jelas Jee dengan nada pelannya.
Mendengar hal itu Alfy tampak tersenyum dan megecup kening istrinya beberapa kali lalu mengeratkan pelukannya kembali.
"Maafkan aku membuatu merasa tidak nyaman," ucap Alfy.
"Apa kau tertarik?" tanya Jee yang merasa cemburu.
"Tentu saja tidak kau jauh lebih segalanya dari dia istriku," ucap Alfy sambil memejamkan matanya.
Masih dengan keadaan diam mereka menikmati perjalanan itu namun Alfy yang merasa istrinya tidak puas dengan ucapannya dengan segera membuka matanya lalu mengarahkan tubuh istrinya yang tadinya duduk bersampingan sampai kini mereka berhadapan. Kedua tangan Alfy memegang pipi istrinya mendekatkan tatapannya lalu berkata,
"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku aku sangat tahu wanita itu maka dari itu aku mengijinkanmu untuk ikut bersamaku tadi," jelas Alfy sambil tersenyum.
Mendengar hal itu Jee langsung tersenyum legah karena suaminya sudah bisa menilai gerakan wanita itu kini ucapan Alfy sukses menghilangka kegelisahan di hati istrinya.
"Lalu apa kau tidak keberatan jika aku selalu ikut denganmu?" tanya Jee pelan.
"Jika itu membuatmu senang baiklah mulai saat ini kau menjadi sekertaris pribadiku," ucap Alfy tertawa sambil menarik hidung istrinya.
"Terimakasih suamiku," lanjut Jee memeluk suaminya lagi.
Pak Deni yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum sambil tetap fokus menyetir mobil di depan hatinya ikut merasa damai melihat kehangatan Tuan dan Nona mudanya.
Wah kali ini Alfy sudah cerdas untuk urusan wanita sepertinya nantikan kelanjutan ceritanya yah semoga kalian suka dan untuk reader yang sudah memberikan saran di komentar terimakasih yah author pasti akan mempertimbangkan setiap saran dari kalian dan akhirnya untuk episode ini author tiadakan adegan pelakornya hehe. Jangan lupa untuk like dan komen di episode yang sudah kalian baca jika bersedia berikan vote kalian juga yah. Assalamualaikum Wr. Wb
__ADS_1