
Di ruang kamar kini Nakula tampak terus memandangi tubuh Zeyra.
“Apa yang kau lihat?” tanya Zeyra heran.
“Apa makanmu akhir-akhir ini begitu banyakyah?” Nakula yang bertanya balik tanpa menjawabnya.
“Tidak.” jawab Zeyra singkat.
Sampai saat ini Zeyra masih enggan menceritakan jika dirinya sudah hamil.
Akhirnya mereka berdua tertidur dengan lelapnya.
Hari sudah semakin gelap tanpa terasa semua aktifitas di luar rumah sudah selesai.
Kini waktunya semua untuk kembali beristirahat ke rumah.
Delon dan Jacobie yang baru saja sampai di kediaman Syein Biglous dengan wajah lelahnya.
“Apa kau melihat Zeyra?” tanya Jacobie pada Delon.
“Tidak.” jawab Delon datar.
Aneh sekali dia jelas-jelas datang bersamaku bagaimana bisa bertanya padaku.
Jacobie yang terlihat sedikit khawatir dengan segera berlari ke rumah utama.
“Bi, apa Bibi melihat Zeyra?” tanya Jacobie.
“Tidak Tuan, bukankah tadi pagi anda mengantarnya ke luar rumah?” ucap Bi Ria.
Jacobie yang mendengarnya terkejut.
“Jadi sejak dia keluar belum kembali Bi?” tanga Jacobie.
“Sepertinya begitu Tuan.” jawab Bi Ria.
Dengan cepat Jacobie menghubungi nomor Zeyra.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.” Suara ponsel yang tidak tersambung.
Jacobie yang merasa panik dengan segera menghubungi pasukannya.
“Cepat cari keberadaannya!” pintah Jacobie.
“Baik Tuan.” jawab pria di seberang sana.
Dengan cepat pria itu melacak keberadaan Zeyra akhirnya alat lacak nya tertuju dengan sebuah apartemen mewah.
“Tring...tring.” Suara ponsel Jacobie menandakan ada pesan masuk.
“Awasi tempat itu sampai aku datang.” ucap Jacobie sambil menatap tajam ke arah depan.
Langkahnya begitu terburu-buru menuju mobil, namun belum sempat ia masuk Delon sudah mengejarnya.
“Ada apa?” tanya Delon.
“Tidak.” jawab Jacobie berbohong.
Mobilnya sudah melaju dengan begitu cepat sementara Delon yang penasaran akhirnya mengikuti mobil Jacobie.
Beberapa menit mereka kebut-kehutan dan kini tiba sudah tepat di depan apartemen mewah itu.
__ADS_1
Tanpa sabar Jacobie menutup pintu mobil dengan kencang lalu berlari mengikuti titik alat lacak itu.
Beberapa pria itu sudah berdiri tegak di depan pintu sebuah apartemen.
“Tok...tok...tok.” Ketukan suara pintu terdengar.
“Siap sih brisik banget?” ucap Nakula dengan mengusap-usap matanya yang masih mengantuk.
Perlahan ia membuka pintu dan betapa terkejutnya saat melihat kehadiran Jacobie, Delon dan beberapa pasukan lainnya.
Mata Jacobie yang melihat keberadaan Nakula yang tampak baik-baik saja merasa sangat kesal.
“Dimana Zeyra?” tanya Jacobie dengan berteriak.
“Tidak ada di sini,” jawab Nakula berbohong.
“Bukk.” Suara pukulan Jacobie mendarat di pipi Nakula.
Mendengar suara ribut-ribut Zeyra merasa tidurnya terganggu dan akhirnya memutuskan untuk melihat.
“Abang.” ucap Zeyra yang terkejut melihat kehadiran Jacobie bersama beberapa pria.
Zeyra melihat kehadiran Delon merasa seperti ada yang mengganjal di hatinya.
Mungkin saat ini Zeyra belum menyadari bahwa perasaannya sudah tidak lagi memihak pada Nakula namun pada Delon.
“Apa yang kau lakukan dengan pria ini Zey?” tanya Jacobie berteriak.
“Maafkan aku Bang, aku harus kembali padanya.” ucap Zeyra tertunduk merasa bersalah.
Lagi-lagi Zeyra harus mengecewakan kepercayaan Jacobie padanya demi seorang pria seperti Nakula.
Zeyra yang merasa sudah tidak memiliki pilihan lagi selain bersatu dengan ayah dari anaknya akhirnya pasrah untuk kedepannya.
“Aku yakin Bang.” jawab Zeyra sambil tertunduk.
“Baiklah jika memang itu pilihanmu semoga pria yang kau pilih akan memiliki tanggung jawab setidaknya pada anaknya.” ucap Jacobie dengan melangkah pergi bersama yang lain.
Sedangkan Delon yang merasa kecewa dengan keputusan Zeyra kini hanya terdiam dan merelakan semuanya pergi.
“Anak?” gumam Nakula yang masih terkejut.
Zeyra yang sudah menangis hanya melangkah masuk ke dalam apartemen lagi.
Di susul dengan Nakula yang tampak penasaran san tidak percaya.
“Apa maksudnya anak?” tanya Nakula.
Zeyra masih enggan menjawabnya ia hanya terus menangis.
Entah sebenarnya apa yang ia tangisi bukannya saat ini harusnya Zeyra merasa senang dengan kebebasan memilihnya yan. Di berikan oleh Jacobie.
“Iya aku hamil.” ucap Zeyra.
“Apa? hamil?” Nakula begitu kaget dan marah.
Sial mengapa ia bisa hamil saat sudah bersamaku, aku tidak menginginkan wanita hank bagaimana bisa di ajak bersenang-senang jika ia sudah hamil.
“Zey, bagaimana kau bisa hamil dengan pria lain dan melakukannya denganku?” tanya Nakula.
“Apa maksudmu?” tanya Zeyra sambil menangis menahan rasa sakit mendengar ucapan Nakula.
__ADS_1
“Kau hamil kan?” ucap Nakula.
“Iya aku hamil, aku hamil anakmu.” jelas Zeyra yang sudah tidak bisa menahan lagi.
“Ha...mil anakku? bagaimana bisa?” tanya Nakula tidak percaya.
Akhirnya Zeyra menjelaskan semua pada Nakula sejak mereka berpisah sampai kini mereka kembali bersama lagi.
Zeyra menjalani masa hamil mudanya sendirian tanpa Nakula di sampingnya.
Setelah Zeyra menjelaskan hal itu ia berharap akan mendapatkan perilaku baik dari Nakula karena rasa bersalahnya.
Namun siapa sangka justru setelah Zeyra menceritakan semuanya, Nakula sudah dengan tegasnya menginginkan Zeyra untuk pergi darinya.
“Aku minta sekarang juga pergi dariku.” ucap Nakula tanpa rasa simpatik.
“Apa pergi? tapi kenapa?” tanya Zeyra yang merasa bingung.
Nakula berfikir keras bagaimana bisa ia memiliki anak sedangkan yang ada di fikirannya hanya untuk bersenang-senang saja.
Dan bagaimana bisa Nakula bertahan hidup dengan uang dari Wenda jika harus menghidupi anak juga.
Saat ini Nakula belum memiliki pekerjaan hanya mengandalkan pemasukan dari Wenda saja
“Aku mohon jangan usir aku.” ucap Zeyra yang sudah mengemis.
“Tidak, kau haru pergi,” ucap Nakula dengan tegas.
Zeyra terus menangis sambil memohon pada Nakula karena hanya Nakula satu-satunya orang yang ia miliki.
Tidak mungkin jika Zeyra harus kembali pada Jacobie lagi.
Ini semua sudah keputusan Zeyra dan semuanya tentu harus bisa ia tanggung.
“Baiklah jika kau tidak ingin pergi, tapi gugurkan kandunganmu.” ucap Nakula.
“Tidak, ku mohon jangan ini anak kita mengapa kau begitu tega?” Zeyra terus menangis tanpa ada belas kasih dari Nakula.
Zeyra tidak mengerti apa yang ada di dalam fikiran Nakula saat ini. Mengapa ia begitu tidak menginginkan bayinya.
Zeyra hanya berfikir jika Nakula menyangka anak itu bukanlah anaknya.
“Aku belum memiliki pekerjaan tetap dan tentu akan sulit jika harus menghidupi kalian berdua.” jelas Nakula yang kini lelah berdebat dengan Zeyra.
“Baiklah jika itu alasanmu aku akan mencari kerja.” ucap Zeyra.
Nakula yang mendengar hal itu seperti ada kesenangan tersendiri.
Lagi-lagi ia bisa memanfaatkan Zeyra yang mendapat penghasilan.
“Oke jika seperti itu tidak apa-apa.” Nakula akhirnya setuju.
Sementara Zeyra yang merasa tidak habis fikir dengan kehidupannya saat ini benar-benar menyesal.
Mengapa lagi-lagi ia begitu bodoh mempercayai pria yang dulu sudah menipunya dengan mengatasnamakan cinta.
Dan Zeyra juga menangis saat membayangkan Delon yang begitu perhatian padanya dan juga bayinya.
Sangat berbeda dengan Nakula yang sebagai ayah kandungnya justru memintanya untuk menggugurkan bayinya.
Hai semuanya masih setia kan kalian menunggu kelanjutan ceritanya. Semoga tetal setia yah karena sebentar lagi akan ada cerita yang spesial pastinya untuk kalian semua.
__ADS_1