Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Merahasiakan


__ADS_3

Alfy yang baru saja sampai di rumah bersama Jee sudah terlihat cepat-cepat membukakan pintu mobil dan membopong tubuh istrinya.


"Ada apa Fy?" tanya Nyonya Flora panik.


"Panggilin Dokter Adeline Mi." jawab Alfy cepat.


Kini Jee yang sudah sangat lemah tidak bisa menahan diriya lagi hanya bisa menurut pada Alfy. Mereka menaiki anak tangga bersamaan dengan langkah yang sangat pelan.


"Han, apanya yang sakit?" tanya Alfi sesampainya mereka di kamar.


Belum sempat Jee menjawab kini darah dari hidungnya sudah mengalir deras.


"Dok...Dokter..." panggil Alfy panik.


Dengan cepat Dokter Adeline berlari ke kamarnya Alfy bersama Nyonya Flora. Rumah tampak sepi karena orangtua Alfy bersama Tuan Indrawan sedang bersantai di taman belakang.


Dokter Adeline memeriksa satu persatu tubuh Jee wajahnya terlihat panik lalu menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana Dokter?" tanya Alfy.


"Nyonya muda sepertinya sangat lemah Tuan dia harus berenti total dalam aktifitas apa pun sementara masa penyembuhan." jelas Dokter Adelin.


Jee yang merasa sangat lemah hanya mendengarkan saja tanpa berbicara apa pun kali ini sakitnya memang terlihat begitu parah.


"Sayang, bertahanyah." ucap Nyonya Flora sambil memeluk tubuh putrinya.


Jee yang mendengar hanya meneteskan air mata tanpa berucap satu kata pun. Ia masih terus menahan sakit di tubuhnya seperti remuk jika di rasakan.


Meskipun sakit di tubuhnya semakin terasa ia sama sekali tidak ingin mengatakan pada keluarga. Jee sangat takut keadaannya saat ini akan membuat beban fikiran mereka.


"Nyonya Jee, apakah Anda merasakan sakit di bagian tubuh tertentu anda?" tanya Dokter Adeline.


Jee hanya menggelengkan kepala saja ia tidak sanggup untuk bicara, darah yang mengalir di hidungnya sudah hilang.


"Mengapa ia merasakan tidak sakit rasanya aneh biasanya setiap pasien yang sudah mengalami gejala ini tentu ia akan merasakan sakit di bagian tubuhnya." gumam Dokter Adeline yang menatapnya dengan dalam.


 


Ada rasa curiga namun Dokter Adeline tidak berani mengatakan apa pun di hadapan semuanya.


"Baiklah sekarang kita bisa keluar dulu biarkan Nyonya Jee untuk istirahat, mari Tuan dan Nyonya Flora." ajak Dokter Adeline memberi isyarat.


Alfy yang melihat keadaan istrinya enggak beranjak namun Nyonya Flora menarik tangan menantunya agar ikut dengan mereka.


Jee yang melihat kepergian mereka dengan segera meremas seluruh tubuhnya lalu menangis kuat ia merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya.


Sejak tadi ia berusaha terus menahan sampai akhirnya kini tidak sanggup lagi.


"YaTuhan, ini sakit sekali tolong hamba," gumam Jee memejamkan matanya sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Di ruang tengah Alfy dan Nyonya Flora sedang berbicara dengan Dokter Adeline dengan wajah serius.


"Maaf Tuan Alfy dan Nyonya Syein, saya tampak ragu jika Nyonya Jee tidak merasakan sakit di tubuhnya," ucap Dokter Adeline.


"Maksudnya dia berbohong, Dok?" tanya Alfy yang menebak tepat.

__ADS_1


"Kemungkinan seperti itu Tuan." jawab Dokter Adeline.


Kini Alfy saling melempar pandangan satu sama dengan Nyonya Flora yang terlihat begitu khawatir.


Mata Nyonya Flora berkaca-kaca menahan kesedihannya sakit rasanya membayangkan jika benar yang Dokter Adeline katakan.


Tiba-tiba terdengar langkah yang sangat ramai ternyata Tuan Reindra, Nyonya Syein dan Tuan Indrawan baru saja tiba.


Wajah mereka yang tadinya tersenyum ceria mendadak berhenti dan mengganti raut wajah penasaran ketika melihat ketiga orang itu di ruang tengah.


"Ada apa Mi?" suara Tuan Indrawan yang mendekat pada istrinya.


"Kemarilah semuanya." suara Nyonya Flora yang terdengar lebih berat dari biasanya.


"Ada apa ?" Nyonya Syein yang bingung.


Nyonya Flora melempar pandangan pada Dokter Adeline pertanda memintanya untuk menjelaskan semuanya.


Dokter Aeline yang mengerti dengan segera mengatur posisi duduknya agar lebih enak.


"Begini semuanya, sekarang keadaan Nyonya Jee tampak mengkhawatirkan dugaan saya tentu Nyonya Jee merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya." jelas Dokter Adeline.


Mendengar penjelasan barusan mereka begitu terlihat sedih karena belakangan ini rasa khawatirnya pada Jee sudah hilang seperti melihat Jee yang baik-baik saja.


"Dokter, apakah kali ini lebih berat dari sebelumnya?" tanya Nyonya Syein.


"Benar Nyonya Syein, saya rasa akan lebih berat karena keadaan fisik Nyonya Jee begitu lemah dan mungkin belakangan ini kita sudah lalai." ucap Dokter Adeline.


Alfy yang mendengarnya mengerutkan dahi ia tidak mengerti maksud Dokter Adeline barusan.


Dengan cepat Nyonya Flora memegang lengan Alfy memintanya untuk menahan emosi.


"Selain terapi, Nyonya Jee di larang keras untuk memiliki beban fikiran Tuan," ucap Dokter Adeline.


"Tapi selama ini istri saya tidak pernah memiliki beban fikiran Dok," bantah Alfy.


"Mungkin saja Nyonya Jee tidak bicara pada Tuan." jawab Dokter Adeline.


Semua wajah mereka tampak bingung selama ini Jee selalu tampak begitu ceria dan tidak pernah ada yang melihatnya melamun sekali pun.


Alfy yang diam kini hanya berfikir terus dan terus bagaimana ia bisa mengetahui yang sebenarnya tanpa harus bertanya pada istrinya.


Semua wajah begitu terlihat bertanya-tanya apa yang sebenarya Jee fikirkan tidak mungkin jika ia hanya memikirkan ujian semester.


Jee adalah wanita yang cerdas jika hanya soal ujian tentu dia bisa menguasai dengan baik terlebih lagi sudah di bantu oleh Fiky.


"Mi, boleh Alfy minta tolong?" tanya Alfy.


"Iya, minta tolong apa Fy?" Nyonya Flora menjawab.


"Nanti sore Mami tolong bawa Jee ke taman untuk berbicara berdua saja siapa tau dengan begitu ia mau bercerita," ucap Alfy.


Nyonya Flora yang memikirkan hal itu akhirnya menyetujui permintaan menantunya. Setelah berbicara cukup lama mereka kini datang menghampiri Jee lagi.


Jee yang mendengar pintu terputar dengan cepat melepaskan remasan tangan pada tubuhnya dan berpura-pura terbaring biasa. Air matanya dengan segera ia hapus ketika pintu sudah terbuka wajahnya tampak tersenyum lebih kuat.

__ADS_1


"Aku harus kuat, aku tidak ingin mereka sedih melihat keadaanku," gumam Jee yang menatap satu persatu wajah orang-orang yang menyayanginya.


"Sayang, jika sakit katakan yah," ucap Tuan Reindra mengelus rambut putrinya.


"Iya Pah." jawab Jee yang terdengar berat.


"Ya sudah sekarang Alfy menemanimu istirahatyah nanti kami kembali lagi." ucap Nyonya Syein.


"Iya Mah." jawab Jee singkat.


Kini semuanya bergegas keluar kamar dan meninggalkan Jee bersama Alfy di kamar besar itu. Jee tampak aneh melihat tatapan suaminya yang begitu mencermati pergerakan Jee.


"Ada apa?" tanya Jee penasaran.


Alfy hanya menggelengkan kepalanya saja ia tidak akan bertanya lagi pada Jee biarkan semua caranya yang akan menjawab nanti.


"Istirahatlah." ucap Alfy sambil memakaikan selimut pada tubuh istrinya.


Jee yang mendapat perlakuan hanya menurut pada Alfy dan memejamkan matanya, namun matanya sangat sulit untuk di pejamkan.


Sangat terlihat mata indah yang tertutup menunjukkan gerakan tekanan dari sang pemilik mata. Alfy yang terus memandangi itu semakin curiga melihat tingkah Jee.


Matanya memang tertutup tapi jika di lihat seperti menahan sesuatu di dalam sana entah rasa apa yang ia tahan sebenarnya.


"Astaga mau sampai kapan aku harus menahan sakit ini tanpa ku pegangi tubuhku," ucap Jee dalam hati ingin menangis.


Alfy sebenarnya tidak tega namun ia harus bisa memastikan istrinya baik-baik saja. Matanya sudah berkaca-kaca rasanya sakit melihat Jee yang tidak mau berkata jujur padanya.


Sore pun tiba begitu cepatnya Jee yang sudah di bantu Alfy membersihkan tubuh tampak menahan rasa sakit di tubuhnya. Alfy yang mengetahui itu hanya berpura-pura tidak tahu dan dengan sangat pelan ia menyeka tubuh Jee.


 


Setelah akhirnya mereka selesai berganti baju Nyonya Flora datang membawa kursi roda untuk Jee.


"Mami," suara Jee terkejut.


"Alfy, bantu Mami menaikkan Jee kesini yah." ucap Nyonya Flora.


Dengan segera Alfy menggendong tubuh istrinya yang ia rasa beratnya sudah semakin berkurang. Tanpa perlu timbangan Alfy bisa merasakan karena memang sangat sering Alfy menggendong Jee.


Namun perasaan yang selalu bertanya-tanya dalam hatinya terus ia tutupi untuk bisa lebih mematikan semuanya.


Kini Nyonya Flora dan Jee ke taman untuk menikmati suasana sore sedangkan Alfy yang sudah memanggil Jacobie untuk memindahkan cctv itu ke dalam kamar mereka.


"Tuan, apa tidak salah benda ini di kamar Tuan?" tanya Jacobie yang merasa aneh.


"Diamlah." ucap Alfy datar.


Mendengar ucapannya Jacobie memilih untuk undur diri dari kamar dengan wajah heran sambil menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba terbesit pikiran kotor lagi di kepala pria itu. "Besar, kuat." kata-kata yang terulang-ulang masuk ke fikirannya.


"Astaga Jac, berhentilah memikirkan itu." gumam Jac sambil memukul kepalanya.


Namun ia memikirkan ide Alfy untuk memasang cctv di kamarnya adalah hal yang sangat gila tentunya bagaimana bisa ia ingin sekali melihat tubuh istrinya.

__ADS_1


Jacobie berfikir jika Alfy menggunakan cctv itu untuk melepas rindunya ketika berada di kantor dan melihat keseluruhan tubuh istrinya saat mandi ataupun berganti pakaian.


__ADS_2