
Setibanya di kediaman Syein Biglous Alfyn tanpa sabar membawa istrinya menuju kamar wajahnya berseri-seri penuh kemenangan hari itu telah lama ia rasanya membuang waktu untuk istrinya kini saatnya melepaskan kerinduan walau hanya beberapa jam saja berpisah tentunya seperti bertahun-tahun lamanya. Kini mereka membersihkan badan terlebih dahulu sebelum naik ke tempat tidur. Namun saat Alfy dengan tidak sabarnya meraih sang istri mendadak di kejutkan dengan ekspresi Jee yang mulai menahan sesuatu yang tampaknya akan keluar dari mulutnya.
"Ada apa istriku?" tanya Alfy panik.
"Menjauh dariku!" Perintah Jee yang sudah berlari menuju kamar mandi dan terdengarlah suara wanita yang sudah mengeluarkan segala makanan dari perutnya.
Kini Jee sudah terduduk lemas di kamar mandi tubuhnya tidak kuat lagi untuk berdiri melihat istrinya yang menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi dengan segera Alfy menghampiri dan dengan mata melotot menatap tajam istrinya ia terkejut.
"Jee!" Teriak Alfy dengan menggoyangkan tubuh istri yang sudah pingsan entah sejak kapan.
Dengan segera Alfy menggendong istrinya menuju mobil yang sudah siap siaga di depan pintu rumah sesuai perintah Alfy untuk berjaga-jaga. Dengan wajah khawatir Pak Deni melajukan mobil sambil sesekali ia melihat spion depan memastikan wajah Nona mudanya.
"Pak cepatkan mobilnya," ucap Alfy yang mulai panik.
"Baik Tuan muda." jawab Pak Deni dengan gugup mau cepat bagaimana lagi ini sudah sangat cepat jika ia menuruti Tuannya bisa saja bukan hanya Nona muda yang masuk rumah sakit namun mereka bertiga.
Setelah sampai di rumah sakit dengan cepat Alfy menggendong sambil berlari ke ruangan dan langsung di sambut dokter di sana. Kini Jee sudah dalam pemeriksaan tubuhnya masih lemas tanpa sadar Alfy yang menatap istrinya meneteskan air mata rasanya tidak tega melihat wanita yang ia cintai menderita seperti ini.
"Bagaimana Dokter?" tanya Alfy tanpa sabaran.
"Nona muda baik-baik saja Tuan hanya memang bawaan bayi membuatnya kekurangan asupan namun saya sudah memberikan vitamin untuk Nona," jelas Dokter itu.
"Lalu apa ada lagi selain itu?" tanya Alfy yang antusias.
"Untuk sementara Nona muda harus menjalani masa perawatan dulu untuk mendapat tenaga karena bisa di pastikan saat ini Nona muda sangat sulit untuk makan Tuan," ucap Dokter itu dengan tak kalah antusiasnya dari Alfy dalam memberikan penjelasan.
"Andai aku tahu kau semenderita ini mungkin aku tidak akan membiarkanmu hamil istriku," ucap Alfy yang menatap sedih pada istrinya.
"Tuan semua wanita hamil pembawaannya beda-beda mungkin kehamilan berikutnya Nona muda tidak sesakit ini," ucap Dokter yang berusaha menenangkan Alfy agar tidak trauma.
"Tapi apa ini pertanda bahwa anak saya membenci saya Dokter?" tanya Alfy dengan polosnya.
"Tentu saja tidak Tuan," jawab Dokter yang menahan tawanya di bibir mungilnya itu. Ada-ada saja pria di hadapannya ini mendapat pengetahuan dari mana dia sampai bisa bertanya seperti itu.
"Lalu mengapa istri saya tidak bisa jika dekat dengan saya Dok?" tanya Alfy lagi yang merasa ujian terberat menimpanya ketika harus menjaga jarak dengan istrinya sendiri.
"Itu hanya bawaan setiap bayi yang terkadang sangat aneh jika di fikirkan Tuan namun memang itulah kenyataannya setiap bayi memiliki keinginan berbeda-beda," jawab Dokter dengan perlahan memberi pemahaman pada pria yang menurutnya masih sangat bersih hatinya mengenai wanita.
Bagaimana tidak ia stress biasanya dialah yang selalu memberi jarak seseorang jika ada yang dekat dengan istrinya sedikitpun bahkan sesentimeter pun atau semilimeter pun bisa saja ia pastikan tidak ada yang boleh dekat dengan istrinya selain dia dan apa ini hanya seorang calon bayi yang belum ia ketahui jenis kelaminnya bisa membuatnya menjaga jarak dengan istrinya astaga Tuhan bagaimana bisa Tuan Alfy Syein di kendalikan dengan seorang calon bayi yang nyawanya saja belum di dapatkan dari Tuhan. Sabarlah Alfy mungkin untuk saat ini kesabaranmu harus di uji lebih dalam untuk sang buah hati mu nanti ini hanyalah ujian awal masih banyak ujian di kemudian hari yang bayi kecil itu berikan padamu hehe.
__ADS_1
Dengan sabarnya Alfy duduk di samping istrinya sambil menatap tanpa mengalihkan pandangannya sekalipun ke arah lainnya. Sementara Mami Flora baru saja dari ruangan Tuan Reindra bersama Mamah Syein melangkah mendekat ke arah Alfy mereka tidak memberi tahu Tuan Indrawan karena takut akan lebih membuat suaminya itu semakin terpukul.
"Bagaimana keadaan Jee?" tanya Mami Flora bertanya dengan pelan.
"Kata Dokter masih harus menjalani perawatan untuk sementara Mi," jawab Alfy lemas.
"Yang sabar semua wanita hamil memang akan merasakan ini Fy," ucap Mamah Syein mengelus kepala Alfy dengan lembut.
"Jika aku tahu akan seperti ini mungkin aku tidak akan melawan Jee saat itu Mah untuk menunda kehamilan," Jelas Alfy penuh sesal.
"Tidak boleh bicara seperti itu sayang semua sudah kehendak Tuhan sekarang atau nanti semua tetap sama akan seperti ini Jee wanita yang kuat percalaha," ucap Mamah Syein menguatkan anaknya yang mulai cengeng seperti bayi itu.
Dengan menoleh ke arah Mamah Syein Alfy melancarkan suara tangisnya yang dari tadi ia tahan.
"Maafin Alfy Mah selama ini belum bisa memberi kebahagiaan untuk Mamah," Dengan menangis terisak ia memeluk tubuh wanita paruh baya itu yang kini masih terlihat sangat cantik.
"Iya sayang kamu selama ini sudah membuat Mamah bahagia tidak ada lagi yang Mamah inginkan semua sudah kau penuhi bukan?" tanya Mamah Syein tersenyum.
"Alfy tidak tahu jika Mamah dulu sesengsara ini," ucapnya lirih dengan air mata yang tidak berhenti menetes.
"Semua sudah terbayarkan dengan kerja kerasmu menjadi anak Mamah yang penuh tanggung jawab sayang Mamah dan Papah sangat bangga memiliki anak sepertimu," ucap Mamah Syein yang juga ikut bersedih karena terharu melihat anaknya.
"Kau sudah bangun istriku?" tanya Alfy tersenyum dan mengusap air matanya yang masih berjatuhan beberapa tetes penghabisan.
"Kau menangis yah?" tanya balik Jee dengan tersenyum.
"Sepertinya kau senang melihatku seperti ini," ucap Alfy kesal.
"Tidak aku hanya gemas saja melihatmu menangis seperti anak bayi," jawab Jee dengan sedikit menggoda sang suami mengedipkan matanya sesekali.
"Baiklah kau boleh mengejekku tapi jangan pingsan lagi," Mohon Alfy yang merasa frustasi ketika istrinya beberapa kali pingsan meninggalkannya rasanya seperti meninggalkannya dari dasar bumi saja.
Setelah lama mereka berbicara dengan bercanda kini Jee mulai merasakan perutnya sedikit perih karena lapar sesekali ia memegang perutnya.
"Kenapa ada yang sakit?" tanya Alfy khawatir.
"Tidak, hanya saja perutku lapar." Dengan tersenyum kecil Jee menjawab.
"Baiklah aku akan menyuru Bi Ria untuk membawakan makanan kesini," ucap Alfy dengan cepat meminta Jac memberikan ponselnya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin makan dari rumah," ucap Jee memegang lengan Alfy yang akan berdiri menelfon.
"Lalu kau mau makan apa istriku?" tanya Alfy yang mulai ragu mendengar ucapan Jee yang akan kelaur dari mulut indahnya.
"Aku ingin makan mangga muda yang di pinggir-pinggir jalan biasa orang jual sudah terpotong tipis suamiku," ucap Jee setegah tertawa memohon.
"Baik, lah Jac pergi belikan untuk anakku!" Perintah Alfy yang langsung di anggukin oleh Jacobie.
Belum sempat pria kekar itu beranjak keluar ruangan Jee sudah berteriak. "Tidaaak!"
"Ada apa istriku?" tanya Alfy terkejut melihat tingkah istrinya yang mendadak berteriak kencang begitu.
"Kau yang pergi membeli aku tidak ingin Jac membayangkan wajahnya perutku sangat mual," ucap Jee dengan ketusnya.
Mendengar itu Alfy dan Jac saling melempar tatapan bagaimana bisa wanita selembut Jee bisa berbicara lepas kontrol seperti itu sedangkan biasanya dia selalu berbicara lembut pada Jac bahkan sering bercanda saat di depan Alfy. Dengan segera Alfy menyuruh Jac untuk menjaga istrinya sementara Alfy akan pergi membelikan mangga yang di minta istrinya bersama Pak Deni. Saat Alfy tengah pergi kini hanya ada Jac bersama dengan Nona mudanya ia hanya berdiri di depan pintu tanpa berani selangkah pun masuk ke dalam ruangan itu sesuai dengan perintah Alfy.
"Jac bisakah kau membelikanku es coklat di depan rumah sakit?" tanya Jee yang mulai menelan cairan di tenggorokannya karena merasa ingin sekali minum es itu.
"Tapi Nona..." Dengan ragu ia menjawab karena tidak ada yang menjaga wanita itu saat ini selain dirinya.
"Jangan khawatir aku akan baik-baik saja kan ini rumah sakit milik suamiku," ucap Jee menyombongkan diri demi mendapat kepercayaan dari Jac.
Entah mulai kapan wanita itu mendapat sifat yang menurun dari suami sombongnya itu padahal yang Jac tahu wanita itu sama sekali berbeda dari suaminya yah mungkin karena faktor selalu bersama setiap waktu sampai cara sombong pun ia bisa tertular itulah yang ada di dalam fikiran Jac dengan ragu ia pun menuruti kemauan Nona mudanya.
"Baik Nona saya akan belikan Nona jaga diri yah saya akan berlari untuk mendaptkannya lebih cepat," ucap Jac dengan segera meninggalkan ruangan itu.
Melihat tingkah Jac rasanya sangat lucu bukan tentunya semua karena antusias para pria itu pada calon bayi di dalam perut Jee. Seandainya Tuan Reindra sehat mungkin tidak kalah lucu dari tingkah kedua pria itu saat ini tersenyum Jee membayangkan tingkah keempat eh salah kelima pria Alfy, Jacobie, Delon, Papah Reindra, dan Papi Indrawan sempuran betul-betul sempurna hidup keluarga besar mereka dengan hadirnya anak Alfy dan Jee sayangnya saat ini mereka masih menunggu sadarnya Tuan Reindra yang entah kapan waktu itu tiba.
Setelah kepergian Jac kini Jee kedatangan salah satu suster wanita yang berkacamata dan memakai masker.
"Maaf Nona sepertinya vitamin di infusan harus saya tambah lagi," ucap Suster itu dengan menunduk.
"Silahkan suster," jawab Jee dengan tersenyum.
Setelah beberapa menit menyuntikkan cairan ke dalam infusan dengan tanpa sadar Jee sudah tidak sadarkan diri dengan cepat suster itu mengambil kursi roda di ruangan itu dan membawa Jee lalu menutupi tubuhnya dengan selimut dan wajah Jee dengan posisi tertunduk. Tanpa ada yang curiga suster itu berhasil membawa Jee keluar dari ruangan sementar Jac yang sudah berlari ke ruangan mendapati ruangan yang tengah kosong matanya terkejut dan menjatuhkan es coklat itu tanpa sengaja.
Dengan cepat Jac bertanya dengan beberapa petugas namun semuanya nihil kini ia beranjak menemui keamanan rumah sakit itu untuk melihat cctv. Dan matanya seketika terkejut ketika melihat salah seorang berapakai seragam putih dengan wajah tertutup masker berkacamata mendorong kursi yang di duduki seorang wanita dengan menunduk dan benar saja mereka baru keluar dari ruangan Nona Jee di rawat. Kini wajah panik Jac berubah dengan amarah seketika ia mengirim pesan singkat pada Tuan Alfy dan tanpa menunggu perintah Jac langsung segera beranjak menyelidiki kasus itu. Percayalah hal ini tidak akan sulit bagi Jac untuk menemukannya karena memang itulah pekerjaan asli Jac selama ini.
Wah siapakah pencuri Nona Jee yang berani berhadapan dengan keluraga Syein saat ini yah? kalian penasaran kan tunggu cerita selanjutnya yah. Jangan lupa untuk terus dukung author melanjutkan novel ini dengan cerita-cerita yang menarik tentunya. Dukungan dari kalian dangat memotivasi author tentunya dan jika berkenan kalian boleh like, coment dan menekan tombol love untuk mendapat notifikasi jika episode selanjutnya telah update. Terimakasih semoga pembaca tercinta bisa puas dengan alur yang author tulis yah. Assalamualaikum Wr. Wb.
__ADS_1