Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kehadiran Di Pulau White


__ADS_3

Kini pagi sudah datang menyambut aktivitas seluruh penghuni bumi, di sebuah rumah tampak satu keluarga yang tengah bersarapan.


"Bi, apa Jee sudah selesai bersiap?" tanya Tuan Indrawan.


"Iya Tuan, sudah selesai baru saja." jawab pelayan di rumah itu.


Setelah mereka semua selesai sarapan dan Jee juga selesai sarapan di kamar kini para pelayan membantu mendorong kursi roda Nyonya mudanya.


Jee yang terdiam hanya mengikut saja tanpa ada bicara satu kata pun. Ada rasa berat hati untuk ikut pergi bersama keluarganya karena Jee tidak ingin jauh dari Alfy.


Meskipun mereka tidak tinggal satu rumah setidaknya masih berada di Kota yang sama, itu yang membuat Jee masih terus semangat menjalani hidupnya.


"Jee, kau sudah siap kan?" tanya Tuan Indrawan.


"Ehem." jawab Jee singkat.


Kini mereka semua beranjak naik ke mobil di ikuti dengan Dokter AdelineĀ  yang membawa lengkap peralatan medisnya.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang Nyonya Flora dan Tuan Indrawan tampak tenang menikmati perjalanan itu, berbeda dengan Jee yang tampak sedih selama perjalanan.


"Aku semakin jauh dengannya sekarang, semoga dia bisa tetap bahagia tanpa aku." gumam Jee.


Sampai beberapa jam mereka menempuh perjalanan kini tiba waktunya mobil terparkir di sebuah dermaga. Jee yang melihat tempat itu merasa pernah mengunjunginya sebelumnya.


"Astaga ini Pulau White bukan," gumam Jee yang terkejut.


Ingatannya tentang pulau ini sangatlah tajam, mengingatkan tingkah Alfy yang benar-benar bertingkah konyol saat cemburu pada pandangan Delon dan Jacobie saat di spead.


Semakin lama Jee semakin mengingat semua memorinya saat ia bersama suaminya, ingatannya begitu terputar dengan jelas.


"Ada apa Jee?" tanya Nyonya Flora.


"Tidak Mi." jawab Jee singkat.


Kini mereka semua di tuntun untuk naik ke spead dengan sangat hati-hati terutama saat menuntun Jee dengan membopong tubuhnya yang masih lemas.


"Astaga katanya aku akan mengantar orang bulan madu, tapi apa? ini satu keluarga yang di sebut bulan madu?" gumam seorang pria tua yang mengendalikan speadnya.

__ADS_1


Terlebih herannya lagi saat ia melihat sepasang orang tua yang saling berpelukan sepanjang jalan merasa geli jika ini yang di sebut bulan madu.


Ini adalah pengalaman pertama kali pria itu mengantar orang yang bulan madu dengan ramai-ramai seperti ini. Sesampainya mereka di pulau tampak beberapa pelayan yang sudah menyambut mereka dengan ramah karena memang mereka tahu siapa Tua Indrawan itu.


"Selamat datang Tuan, mari kami antar." ucap pelayan itu dengan sangat sopan.


"Terimakasih yah." jawab Tuan Indrawan dengan ramah.


Jee yang hanya mengikut saja ketika di dorong kursinya terdiam tanpa kata sambil terus menatap sedih ke segala arah di pulau itu.


Tentu tatapannya terus membayangkan momen saat ia kencan bersama Alfy dengan bahagianya, matanya semakin berkaca-kaca begitu dalam kerinduannya pada sang suami saat ini.


Pelayan mengantarkan Jee ke dalam kamar yang dulu pernah ia tiduri bersama Alfy matanya semakin tidak bisa menahan air mata yang sejak tadi ingin jatuh.


Setelah Jee memastikan pelayan sudah keluar dan menutup pintu kamar Jee sudah tidak sanggup untuk menahan tangisnya.


"Hiks...hiks...hiks." suara tangis Jee pecah di kamar sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Di kamar itu tentu penuh dengan kenangan-kenangan bahagia mereka berdua yang semakin membuat Jee terpukul. Pandangannya terus menatap ke segala sudut kamar itu sambil melihat ada bayangan Alfy.


Di kamar lain Tuan Indrawan dan Nyonya Flora sedang berbaring istirahat sambil saling melempar pandangan satu sama lain.


"Papi, apaan sih?" tanya Nyonya Flora yang terdengar malu.


Akhirnya mereka melakukan hubungan itu dengan penuh keinginan sampai akhirnya tertidur dengan lelap. Sementara Dokter Adeline yang sejak tadi berdiri di depan jendela kamar tampak memandangi ponselnya.


"Tring...tring...tring." suara ponsel Dokter Adeline berdering menampilkan layar ponsel yang mendapat panggilan.


"Halo." ucap Dokter Adeline.


"Apa kabarmu Aline?" tanya pria di seberang sana.


"Dokter Richard, aku baik." ucap Dokter Adeline.


Dokter Richard adalah teman kuliah Dokter Adeline saat di Jerman mereka sering belajar bersama.


"Aline, apa sekarang kau masih di Indonesia?" tanya Dokter Richard.

__ADS_1


"Iya, aku masih di Indonesia." jawab Dokter Adeline.


"Apakah bisa kau send lokasi saat ini?" tanya Dokter Richar yang membuat Dokter Adeline semakin bingung.


"Mengapa pria ini tiba-tiba menghubungiku dan meminta aku untuk mengirim lokasi memangnya untuk apa?" gumam Dokter Adeline.


"Ayolah Aline, berikan saja." ucap Dokter Richard yang terus memohon.


"Em baiklah." jawab Dokter Adeline yang mengirimkan pada Richard.


Sambungan telefone pun terputus dan kini menyisakan kebingungan pada wajah Dokter Adeline sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur.


Tanpa terasa malam pun tiba semua keluar kamar menuju tempat makan yang sudah di sediakan oleh pelayan, makanan begitu terlihat lezat namun tetap saja selera makan Jee tidak ada.


Ia hanya terduduk melamun sambil terus mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya, yang lain hanya menatap Jee dengan rasa sedih tanpa berani berkata apa-apa.


"Mau sampai kapan kau terus mengaduk makananmu?" tanya seorang pria yang membuyarkan lamunan Jee.


Mata Jee yang terkejut merasa seperti mengenal suara pria itu dengan cepat menoleh ke sampingnya. Jee tidak menyangka melihat kehadiran sosok pria tampan di sampingnya dengan tersenyum.


Alfy yang tidak menghiraukan tatapan istrinya dengan segera duduk di samping Jee lalu mengambil sendok yang ada di tangan istrinya.


Perlahan Alfy menyuapi istrinya dengan lembut, sementara Jee yang tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa membuka mulut untuk menerima suapan dari sang suami.


Semua yang melihat tersenyum dan bisa terlihat juga di wajah Jee yang begitu merindukan kehadiran suaminya di sampingnya.


Selera makan Jee mendadak hadir dan membuatnya semakin lapar dengan lahapnya ia menerima suapan dari Alfy tanpa rasa canggung.


Alfy merasa senang bisa dekat lagi dengan Jee meskipun ada rasa khawatir yang begitu besarr membawa istrinya yang sedang sakit ke pulau itu.


Meskipun Dokter Adeline meyakinkan jika kondisi Jee tetap sanggup berada di pulau namun tidak bisa memuat hati Tuan Indrawan yakin melihat wajah pucat putrinya.


Kini Alfy baru mengerti tentang tujuan Tuan Indrawan menyuruhnya untuk pergi ke pulau White, selain tempat itu adalah tempat kenangan mereka saat bulan madu tentu Jee akan terus menginginkan kehadiran suaminya dengan cuaca dingin mencekam seperti itu.


Setelah makan malam selesai semua kembali ke kamar karena udara memang sedang tidak baik untuk di ajak bersantai di luar ruangan.


Begitu juga dengan Alfy dan Jee yang menuju kamar mereka, Alfy mendorong kursi roda istrinya menuju kamar sambil menghirup udara yang dingin itu.

__ADS_1


Rasa legah di dadanya mulai muncul sedikit meskipun ia belum tahu apa reaksi Jee setelah berada di kamar nanti apakah masih tetap menolak kehadiran Alfy atau justru sebaliknya.


Hai semua masih semangat membacanya? ikutin terus ceritanya yah kira-kira episode berikutnya apa yang terjadi yah.


__ADS_2