
Waktu berlalu begitu cepat sampai tidak terasa sudah seminggu lamanya kasus yang minggu lalu telah terlewati kini Dokter Adeline memberitahu untuk jadwal Jee kontrol kehamilan.
Pagi itu di meja makan tampak begitu ramainya Zeyra yang kini dalam pengawasan Jacobie mendapat ijin dari Alfy untuk ikut tinggal di rumah belakang.
"Nona, hari ini jadwal anda periksa kandungan." ucap Dokter Adeline.
"Benarkah Dok?" tanya Jee yang terkejut.
"Iya Nona." jawab Dokter Adeline tersenyum.
Mendengar itu Afy tersenyum. "Undur meeting kita hari ini," ucap Alfy pada Jacobie.
"Baik Tuan." jawab Jacobie menurut.
Tentu Alfy tidak aka melewati masa-masa ia menjadi seorang Ayah apapun pasti akan ia lakukan selama ia mampu dan jika bisa selamanya ia harus berada di samping Jee.
"Tapi aku ada kuliah hari ini." Jee yang tampak merasa bimbang lagi-lagi ia harus bolos.
"Biar saya mengaturnya Nona." Jacobie yang mengerti keinginan Tuan mudanya.
Jee yang mendengarnya kini menatap tajam ke arah Jacobie dengan kesalnya mengapa pria itu selalu tidak pernah membuatnya aman sekali saja.
Sedangkan Jacobie yang menatap Nona Jee dengan tatapan mengejek ia berfikir kali ini ia akan membuat Tuan mudanya bangga padanya.
"Maafkan saya Nona sepertinya ini akan lebih baik dari pada anda harus bertengkar pada Tuan muda dan tentu saja akan menjadi pelampiasannya lagi." Itu arti dari tatapan Jacobie.
"Aku akan membuatmu di marahi oleh suamiku Jac karena telah berani bermain padaku," Tatapan Jee berbicara pada Jacobie.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain hanya melalui tatapan itulah mereka saling berkomunikasi sementara Nyonya Syein yang menyadari mereka berdua berdehem.
"Ehemm..." Nyonya Syein memecahkan pertengkaran tatapan kedua orang itu.
Dengan cepat Jee menyadarinya lalu kembali makan lagi ia sudah berencana untuk mengerjai Jacobie sepertinya.
Semua sudah selesai sarapan kini waktunya Alfy dan Jee bergegas ke rumah sakit mereka menuju pintu utama di ikuti dengan Jacobie dan Delon.
Saat berjalan Jee tiba-tiba memegang lengan jas Jacobie ia tersenyum sinis sedangkan Jacobie yang menyadari hal itu dengan segera matanya terbelalak kaget.
Ia begitu takut jika Tuan Alfy melihat istrinya dekat dengan pria lain sekalipun itu Jacobie dengan cepat Jacobie melajukan langkahnya ke mobil.
Jee yang berusaha mengejarnya seketika tertawa menggoda pria itu Alfy yang sudah lebih dulu di depan mobil menatap ke arah Jee.
"Ada apa,Han?" tanya Alfy yang tampak heran.
"Tidak ada Tuan, Nona Jee hanya ingin ...." ucap Jacobie yang tampak bingung memikirkan alasan apa yang harus di katanyanya.
__ADS_1
"Ingin apa?" tanya Alfy ketus.
Jee yang masih tertawa geli melihat ketakutan Jacobie segera menjawabnya.
"Aku hanya ingin memintanya untuk mengurus kuliahku dengan baik saja." jelas Jee yang membuat nafas Jacobie kembali tersambung saat tadi hampir putus.
"Kau benar-benar licik Nona bisanya menakutiku dengan tingkah konyolmu itu," gumam Jacobie sambil menatap tajam Jee.
Tampaknya kedua manusia itu memang tidak begitu akrab terlebih lagi Jacobie yang selalu mengutamakan Tuan Alfy di banding Jee membuat beberapa kali wanita itu kesal.
"Ayo masuklah!" Suara Alfy membuyarkan tawa kecil di wajah Jee.
Kedua orang tua mereka yang melihat pemandangan pagi itu hanya tertawa heran mengapa tingkah orang dewasa saat ini begitu kekanak-kanakan.
Benarkah seiring jaman pikiran seseorang semakin seperti bocah begitu ah rasanya tidak benar mungkin itu hanya terjadi pada keluarga mereka.
"Mereka sangat lucu," ucap Tuan Reindra tertawa.
"Iya Ndra, menggemaskan sekali rasanya." sambung Tuan Indrawan.
Akhirnya setelah memastikan kepergian mereka pun masuk ke dalam rumah bersama menuju ruang keluarga untuk menonton.
Kedua kepala keluarga itu kini sudah tidak bekerja lagi Alfy meminta mereka untuk tetap berdiam di rumah atau Alfy tidak akan membiarkan anaknya nanti bertemu mereka.
Yah lagi-lagi dengan ancaman Alfy menang banyak mendengar cucu di sebut kedua pria tua itu akhirnya memilih untuk mengalah.
Di dalam ruangan wajah Alfy tampak antusias memperhatikan gerak-gerik Dokter yang sedangn menggerakkan alat di atas perut istrinya.
Melihat layar yang menampilan bentuk aneh Alfy tampak bingung ia sama sekali tidak paham itu untuk apa.
"Tuan bisa lihat perkembangan bayi andakan?" tanya Dokter dengan tersenyum.
"Tentu Dokter." jawab Alfy yang sedikit gugup merasa harus sok tahu membuatnya lebih aman fikirnya.
Setelah selesai memeriksakan akhirnya kini Alfy yang duduk di kursi tepat di hadapan meja Dokter itu mendengarkan dengan penuh antusiasnya.
"Jadi, apa saja yang sudah mulai muncul Dok? tangan atau kaki?" tanyanya dengan polos.
Padahal di gambar tadi sudah jelas terlihat bentuk tubuh janin itu Dokter yang melihat pria itu menahan tawanya ternyata ia berpura-pura tahu saat di tanya.
"Sudah terbentuk Tuan tinggal masa perkembangannya lagi saat ini," jelas Dokter.
"Astaga kenapa aku harus bertanya yah bukankah tadi ku katakan aku sudah bisa melihatnya bodoh...bodoh dasar bodoh," gumam Alfy sambil menatap tajam ke arah Dokter karena malu.
"Maaf Tuan mungkin Nona membutuhkan anda." Dokter yang berusaha menghindar dari tatap menusuk Alfy mencari jalan.
__ADS_1
Akhirnya mereka kembali ke rumah lagi setelah memeriksakan kandungan istrinya Alfy bergegas pergi ke kantor bersama Delon.
Karena Jacobie sudah berangkat sejak tadi ia ke rumah sakit karena banyak yang harus di kerjakan lagi untuk persiapan persidangan berikutnya.
Sementara di kediaman Narendra tampak pria itu termenung menatap langit-langit atap rumah yang menampakkan lampu ruangan yang begitu mewah dan tinggi menggantung di rumah besarnya itu.
Ia tidak bisa berhenti memikirkan wanita yang beberapa hari lalu di bawanya ke rumah dan di rawat rasanya tidak rela untuk melepaskannya.
"Kau tidak ke kantor?" tanya Nyonya Rosa.
"Oma, tidak aku sedang lelah." jawab Narendra dengan wajah menekuk.
Nyonya Rosa tampak prihatin dengan cucunya begitu sulit ia mendapatkan wanita mengapa ketika ada yang membuatnya nyaman justru itu adalah istrinya orangn yang sedang hamil pula.
"Aku ingin sendiri," ucap Narendra begitu dinginnya.
Mendengar ucapan cucunya dengan cepat Nyonya Rosa bergegas pergi keluar rumah ia ingin pergi arisan bersama dengan Oma-oma yang lainnya.
Hanya arisanlah yang bisa menghilangkan rasa sepi di hatinya setiap hari ia selalu hadir saat perkumpulan dengan teman-temannya.
Waktu berlalu begitu cepat kini tibalah waktunya persidangan di mulai Nona Friska yang baru saja hadir di ruangan itu sudah tampak memucat wajahnya.
Alfy yang melihat itu tampak heran seperti ada yang terlihat aneh tampaknya wanita itu menyembunyikan sesuatu di dalam tatapannya itu terlihat jelas.
Semua saksi sudah di hadirkan begitu juga dengan Zeyra yang turut hadir akhirnya persidangan di mulai dengan salah seorang yang berada di depan mengetuk palu tanda sidang di buka.
Tampak hari itu semua berjalan lancar sesuai dengan tuntutan Alfy pada Nona Friska bahwa ia di jebak itulah yang di saksikan oleh Zeyra dan dengan yakin ia menceritakan ketidak hadirannya sebulan lalu.
Mendengar itu Nona Friska terkejut bagaimana bisa wanita itu bercerita kronologinya sedangkan Nakula yang sudah menjamin padanya bahwa wanita itu sangat menurut padanya.
Mata Nona Friska melotot tajam ke arah Zeyra begitu kagetnya mendengar kesaksian Zeyra menyebut namanya ternyata selama ini Nakula membohongi Nona Friska.
Yah Setelah kepulangan Zeyra bersama Jacobie dari pulau itu Nakula melarikan diri dan Nona Friska sepertinya tidak mengetahui hal itu dan sampai saat ini Nakula selalu mendapat biaya hidup dan fasilitas darinya.
Belakangan ini juga Bram tidak sama sekali mengunjunginya di dalam sel sampai ia tidak bisa mengonsumsi obatnya itulah sebabnya wajahnya sangat memucat saat ini.
Kini Friska seorang diri tidak ada satu orang pun yang berada di sampingnya saat ia menjalani masa-masa sulit seperti ini. Begitu juga dengan kekayaannya yang sudah di sita di luar atau pun di dalam negeri.
Alfy telah mengungkap semua bisnis gelapnya yang ia lakukan pada seluruh pemilik lahan yang di gunakan untuk mengembangkan perkebunan bunganya itu.
Wah akhirnya orang jahat akan tetap kalah yah selicik apapun dia bagaimana kalian suka tidak dengan cerita author yang berusaha menghindari peran pelakor di cerita ini.
Apa perlu kita masukkan nih pemeran pelakornya kalian setuju yang mana kira-kira?
Selamat membaca yah terimakasih telah bersedia mampir author senang kalian sangat antusias menunggu update episodenya. Salam hangat dari Marina Monalisa.
__ADS_1