Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kebenaran Terkadang Perlu Kalah Untuk Kemenangan


__ADS_3

Semua keluarga yang berkumpul sarapan di meja makan tampak sesekali menatap ke lantai atas dimana kamar Jee dan Alfy.


“Bi, apa mereka berdua belum bangun?” tanya Nyonya Syein pada Bi Ria.


“Sudah Nyonya, tadi Tuan Alfy mengajak Nyonya Jee untuk berolah raga di ruang fitnesnya.” Jelas Bi Ria.


“Apa itu tidak apa-apa Dok?” tanya Tuan Indrawan pada Dokter Adeline.


“Tentu saja Tuan, sangat baik untuk kesehatannya Nyonya Jee.” Jawab Dokter Adeline.


Setelah sarapan selesai kini Dokter Adeline duduk bersama keluarga besar Syein. Mereka tampak berbicara dengan santai.


“Jadi setelah ini apakah Dokter akan kembali ke luar negeri?” tanya Nyonya Syein yang penasaran.


“Sepertinya saya akan menetap di sini Nyonya, saya mendapatkan tawaran bekerja di rumah sakit anda.” Jelas Dokter Adeline.


“Wah bagus itu, berarti rumah sakit kita akan mendapatkan Dokter hebat yah Pah.”  Ucap Nyonya


Syein.


“Iya Mah.” Sahut Tuan Reindra.


Setelah cukup lama mereka berbicara kini Nakula yang baru keluar dari kamarnya tampak lebih segar dari sebelumnya.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Tuan Reindra.


“Baik, paman.” Jawab Nakula.


“Jika kau mau, kau boleh kembali bekerja lagi di kantor.” Ucap Tuan Reindra.


Nakula dan semua orang yang ada di situ terkejut mendengarnya termasuk Alfy yang baru saja tiba di ruang itu bersama Jee. Wajahnya yang penuh dengan keringat membuatnya terlihat semakin menyeramkan.


“Tidak.” Bantah Alfy.


Semua mata tertuju padanya melihat raut wajah yang penuh kebencian pada Nakula kini langkahnya mendekat ke arah Nakula.


“Bagaimana bisa Papah menyuruhnya untuk kembali bergabung denganku?” tanya Alfy.


“Alfy, ini perintah Papah.” Tegas Tuan Reindra.


Alfy yang tidak ingin membantah kini hanya melangkah dengan cepat menaiki anak tangga dengan emosi yang membara di dadanya. Jee yang melihat kemarahan suaminya dengan cepat berlari mengejar Alfy menuju kamar.


“Maaf Paman, tapi saya-“ (ucapan Nakula terpoton ketika ingin menolaknya).


“Kau tidak boleh membantah.” Ucap Tuan Reindra.

__ADS_1


Nakula kini hanya berdiam menundukkan kepala menyadari betapa sangat egoisnya dirinya bagaimana bisa ia mengkhianati keluarganya sendiri yang begitu baik.


Belum lama suasana tegang itu berlalu kini sudah terdengar keributan di depan rumah mereka. Semua merasa asing dan penasaran mendengar suara ribut-ribut itu. Mereka adalah beberapa wartawan yang berkerumun memaksa masuk ke kediaman rumah utama namun terhalang oleh gerbang tinggi yang di jaga


ketat.


“Ada apa itu Pah?” tanya Nyonya Syein yang panik.


Tiba-tiba salah seorang security berlari menemui Tuan Reindra dengan wajah paniknya.


“Maaf Tuan, di depan ada beberapa wartawan yang memaksa masuk untuk bertemu Tuan Alfy.” ucapnya.


Semua keluarga merasa khawatir dengan cepat Jacobie dan Delon keluar menemui para wartawan itu.


“Maaf Tuan, apakah anda bisa menceritakan bagaimana kasus klien anda yang saat ini di tipu oleh Tuan Alfy Syein?” tanya salah seorang wartawan itu.


“Apakah benar Tuan Alfy sengaja membuatnya terjebak demi menaikkan namanya?” tambah seorang lainnya lagi.


Pertanyaan demi pertanyaan terus mereka lontarkan sampai akhirnya Jacobie merasa kesal dengan tuduhan-tuduhan itu.


“Hentikan pertanyaan kalian atau kalian tidak akan pulang ke tempat masing-masing!” ancam Jacobie dengan wajah penuh marahnya.


Semua terdiam dengan ketakutan bagaimana bisa mereka tidak takut Jacobie adalah tangan kanan Alfy yang sangat di takuti melebihi seorang Alfy Syein. Kekejamannya sangat di kenal di kalangan para petinggi maupun


“Maafkan kami Tuan.” Ucap seorang yang berdiri paling depan di antara yang lainnya.


“Tuan...Tuan Alfy.” Panggil Bi Ria sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.


Jee yang mendengar beranjak membuka pintu sementara Alfy diam mematung menahan amarahnya denga nafas yang begitu terdengar memburu.


“Ada apa Bi?” tanya Jee.


“Itu Nyonya, di depan banyak para wartawan memaksa bertemu dengan Tuan muda.” Ucap Bi Ria.


Alfy yang mendengarnya terkejut dan menatap ke arah Bi Ria wajahnya seperti sedang memikirkan apa yang terjadi. Dengan cepat langkahnya keluar melewati istrinya dan Bi Ria menuju gerbang halaman rumah.


Wajahnya begitu terlihat sangat tampan dengan keringat yang masih terus membasahi wajahnya. Jacobie dan Delon yang melihat kedatang Alfy segera menunduk dan memberikan ruang untuknnya bertemu para wartawan.


Mereka tampak antusias dengan pertanyaan-pertanyaan sedangkan Alfy hanya menjawab jika semua tidak benar dan dia seperti biasa berusaha melakukan apa pun yang ia bisa untuk membantu klien yang datang


padanya.


Namun kali ini sepertinya nasib buruk sedang menimpanya sehingga semua pemberitaan tentangnya tersebar luas dengan tuduhan pengacara muda yang berusaha menaikkan derajatnya sekali lagi gagal menipu klien berkat


seorang pengacara muda yang juga merupakan saingan Alfy.

__ADS_1


Jee yang turun dari tangga segera menyusul suaminya wajahnya tampak khawatir jika Alfy melakukan hal yang tidak-tidak. Perlahan ia berdiri di samping suaminya dengan wajah penasarannya. Namun Alfy yang tidak menggubris kehadiran sang istri hanya terdiam dan kembali masuk ke rumah. Para wartawan sebenarnya masih ingin mewawancarainya namun Delon dan Jacobie sudah lebih dulu menyingkirkan mereka. Gerbang sudah tertutup dengan sempurna semua keluarga tampak was-was menunggu Alfy.


Setibanya di rumah Alfy tidak mengatakan apa pun dan kembali naik ke kamar begitu juga dengan Jee yang tidak berani mengelurakan sepatah kata pun hanya berlari mengikuti suaminya.


Jee yang hanya terdiam menatap suaminya yang duduk tanpa bicara membuat Jee bingung harus melakukan apa. Alfy yang menyadari tatapan istrinya padanya berusaha menghilangkan kemarahannya lalu menyuruh Jee


mendekat.


“Kemari.” Ucap Alfy pada Jee.


Dengan ragu wanita itu mendekat duduk tepat di sebelah Alfy tanpa berbicara apa pun, jujur ia sangat takut jika salah bicara dan memancing emosi suaminya.


“Mengapa wajahmu seperti bocah sih?” ucap Alfy yang mengusap kepalanya.


Jee merasa aneh dengan perilaku suaminya dan wajahnya berusaha tersenyum meskipun Alfy bisa melihat senyuman itu sedikit terpaksa.


“Kau sejak kapan begitu takut padaku?” tanya Alfy.


“Tidak, aku tidak takut.” Jawab Jee sambil menggelengkan kepalanya.


Alfy yang tersenyum hanya mengusap-usap kepala istrinya dan mengecup kening Jee. Kini mereka berdua menuju kamar mandi untuk mandi bersama sesuai dengan permintaan Alfy dan Jee tentu saja tidak berani menolaknya.


Hari ini Alfy tidak bekerja karena memang untuk klien yang lainnya sudah di tangani dengan pengacara di bawahnya. Sementara Jacobie dan Delon yang baru saja ingin bergegas menuju kantor mendapat telefon dari suster Syanin.


“Halo, ada apa?” tanya Delon.


“Zeyra demam tinggi bisakah kau kesini untuk melihatnya?” pintah suster Syanin.


“Baiklah aku segera kesana.” Jawab Delon langsung memutar kembali mobilnya tanpa bertanya pada Jacobie lebih dulu.


“Apa yang terjadi?” tanya Jacobie dengan wajah datarnya.


“Zeyra sakit.” Jawab Delon.


Jacobie yang tersenyum menatap Delon tampak paham jika pria itu benar-benar mengkhawatirkan adiknya.


Sesampainya mereka di rumah, Zeyra yang terbaring dengan kompresan di keningnya terus memanggil-manggil nama Delon.


“Delon...Delon...Delon.” ucap Zeyra berulang kali.


Jacobie dan Delon yang mendengarnya saling melempar pandangan heran. Suster Syanin yang melihat kehadiran mereka segera mendekat.


“Kau sudah jarang menemuinya sepertinya Zeyra sangat kepikiran jika kau jarang menjenguknya.” Ucap suster Syanin.


Jacobie yang memandang wajah wanita itu seperti ingin mengatakan sesuatu namun sangat sulit rasanya.

__ADS_1


__ADS_2