Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Berhasil


__ADS_3

“Apa anda bilang ingin membuangku? Sayangnya aku tidak takut bleee.” ejek suster Syanin yang membuat Jac merasa kesal.


Kini suster Syanin yang sedang berusaha melepas sabuk pengaman dari tubuhnya di kejutkan dengan suara Jac.


“Awas ada ular terbang!” teriak Jac yang tepat di telinga suster Syanin dan sukses membuatnya reflek memeluk tubuh kekar Jac.


“Astaga apa yang aku lakukan?” gumam suster Syanin yang merasa sangat bodoh menyadari tingkahnya.


“Baiklah karena kau memelukku aku akan membalas pelukanmu.”ucap Jac yang membuat kekesalan suster Syanin semakin jadi.


“Lepaskan aku!” ucap suster Syanin yang berusaha memberontak namun sia-sia.


“Lain kali jika ingin memelukku jangan berpura-pura begitu aku tidak tega mlihatmu hanya senyum-senyum sendiri membayangkan pelukan kita.” ejek Jacobie yang kini tersenyum penuh kemenangan.


“Ihhh... lepaskan.” ucap suster Syanin sekali lagi namun bukannya terlepas justru Jac memeluknya semakin erat.


Sepertinya kali ini akal sehat pria itu sudah tergeser karena terlalu sering mengejek Tuan mudanya ketika terlihat bodoh di hadapan Jee.


“Sya apa yang kau lakukan mengapa kau bisa terjebak permainannya sih mana ada ular yang terbang astaga ada-ada saja dan apa ini mengapa harus memeluknya ihhhhh.” umpat kesal suster Syanin yang tidak bisa terlepas dari pelukan pria itu.


Setelah cukup lama Jac menikmati pelukan yang sejak dulu sangat ia inginkan akhirnya ia melepaskannya.


“Sudahlah aku bosan berpelukan terus, kau jangan membuatku harus memelukmu lagi.” gerutu Jac yang sudah kembali mengemudi mobilnya.


Suster Syanin yang mendengarnya benar-benar merasa kesal dan sangat ingin menonjok wajah pria itu. Apa katanya bosan memeluknya bukankah dia yang sejak tadi memaksa untuk berpelukan astaga dasar pria gila.


Sesekali tangan suster Syanin mengepal dengan erat rasanya ingin sekali ia melayangkan pukulan pada kepala pria di sampingnya itu.


Kini suster Syanin yang merasa malas berdebat memilih untuk diam tentu ia tahu siapa yang waras lebih baik mengalah dengan yang tidak waras. Perjalanan menuju rumah mereka hanya berdiam saja tanpa mengatakan apa pun.


“Astaga Sya, apa yang terjadi denganmu?” tanya Zeyra yang tampak antusias menyambut kedatangan abangnya dengan suster Syanin.


“Jangan berlebihan dia baik-baik saja.” sahut Jac yang mulai menyebalkan.


“Abang mengapa begitu?” tegur Zeyra yang mendengar Jac berbicara.


“Aku baik-baik saja Zey.” jawab suster Syanin yang kini sudah melangah masuk bergandengan dengan Zeyra.


Sementara Delon dan Jac ikut menyusul di belakang dua wanita itu dengan wajah datarnya tanpa berbicara apa pun. Kini mereka duduk bersama di ruang tengah sampai akhirnya suster Syanin merasa tidak enak telah membuat mereka khawatir.

__ADS_1


“Sudahlah kau jangan minta maaf seperti itu, kami tidak khawatir seperti dia.” sahut Delon yang melempar tatapan ke araha Jac.


Dengan cepat kedua bola mata Jac menatap tajam pada Delon yang memberikan isyarat.


“Kau dasar adik ipar durhaka awas kau yah.” ancam Jac melalui sorot matanya.


“Apa, memangnya aku takut denganmu tentu saja tidak aku hanya akan membuatmu semakin malu di depan wanita ini jika kau berani mengancamku.” balas Delon yang melalui tatapan mata mengejeknya.


“Sudahlah kalian jangan seperti itu.” tegur Zeyra yang menyadari dengan tingkah kedua pria itu.


Suster Syanin yang melihat hanya tertawa geli tanpa berani melemparkan komentar karena dirinya sendiri pun masih malu mengingat hal di mobil sebelum mereka tiba di rumah. Tapi bagaimana dengan Jac yang sama sekali seperti orang yang lupa ingatan begitu.


Akhirnya suster Syanin bercerita yang kedua kalinya setelah Jac pada Delon dan Zeyra jika hilangnya dia karena Ayah kandungnya yang tidak ingin orang lain mengetahui masalah pribadi mereka dan untuk mengantisipasi jika hal itu ternyata tidak benar.


Zeyra dan Delon mendengarkan cukup serius berbeda halnya dengan Jac, ia hanya terus mencuri-curi pandangan pada suster Syanin yang tengah fokus berbicara.


“Syukurlah kalau begitu Sya, kau akhirnya bertemu juga dengan Ayahmu.” ucap Zeyra yang turut merasakan kebahagiaan suster Syanin


***


“Silahkan Tuan,” ucap Supir yang tidak terlalu tua.


Kini Wenda, Dayah dan Ayahnya baru saja tiba di Indonesia sejak kepergian mereka ke luar negeri untuk membawa Wenda berobat. Akhirnya setelah cukup lama mereka berhasil membawa Wenda dengan keadaan yang sudah jauh lebih baik. Mungkin tidak bisa pulih sepenuhnya, namun terapi yang di lakukan Wenda setidaknya bisa membantu tubuhnya lebih sehat meski harus rutin untuk tetap melakukannya.


“Wenda, apakah kau mau ikut dengan kami?” tanya Tuan Rusli.


“Ikut kemana Ayah?” tanya Wenda penasaran.


“Pemakaman Ayah tirimu dan Ibumu.” jawab Tuan Rusli.


Wenda yang terkejut mendengar berita itu kini di beri tahu dengan Ayahnya jika kedua orangtua itu meninggal akibat terlambat di tangani. Mereka tertular penyakit HIV tentu itu dari Wenda yang sempat melakukan hubungan badan dengan Ayah tirinya.


Mengingat kejadian di masa lalu Wenda kembali kesal dengan dirinya sendiri. “Tidak, Wenda ingin istirahat di rumah saja.” jawabnya dengan masa bodoh.


Akhirnya setelah mereka tiba di rumah Tuan Rusli bersama istrinya pergi ke pemakaman Ibu kandung Wenda dan Ayah tirinya. Sementara Wenda yang merasa jauh lebih baik kini sudah merebahkan dirinya di kamar.


“Welcome to my life.” ucap Wenda dengan legah.


Kali ini Wenda berharap bisa memulai hidup barunya dengan yang lebih baik lagi meskipun rasanya terdengar menjijikkan namun itulah faktanya ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi.

__ADS_1


“Halo.” ucap pria di seberang sana.


“Paman.” jawab Wenda.


“Wenda?” Suara terkejut Tuan Farhan.


“Paman, Wenda ingin mengucapkan terimakasih atas kebaikan Paman selama ini, dan Wenda ingin meminta maaf pada Paman karena sudah mengecewakan Paman.” Ucap Wenda yang terdengar begitu tulus.


“Paman sudah memaafkanmu sayang,” sahut Tuan Farhan yang terdengar senang ketika keponakannya yang dari dulu tidak pernah mengatakan terimakasih sekali pun padanya kini mengucapkan tanpa terduga.


Mereka berbicara cukup lama Wenda yang bercerita tentang proses penyembuhannya selama di luar negeri, begitu juga dengan Tuan Farhan yang ikut berbagi cerita ketika ia memutuskan untuk menetap di Indonesia karena sudah bertemu dengan putri kandungnya.


Wenda yang mendengar cukup terkejut sampai akhirnya Tuan Farhan menjelaskan semua kronologisnya. Setelah mereka merasa cukup membagikan cerita kini panggilan telfon pun terputus.


***


“Biar aku antar.” Ucap Alfy yang sedang memegang kunci mobil baru Jee.


“Tidak sayang, aku ingin membawanya sendiri.” bantah Jee yang berusaha merebut kunci dari genggaman suaminya.


“Ku antar atau kau tidak akan kuliah lagi seterusnya?” ancam Alfy yang membuat tubuh jenjang Jee terdiam mematung tanpa berani lagi merebut benda kecil itu.


Kini langkah Jee menuju mobil dengan berat hati wajahya yang menunduk kesal merasa kecewa, gagal keinginannya hari itu untuk membawa mobil sendiri dan mengajak para sahabatnya ke mall.


“Astaga mereka selalu saja ribut pagi-pagi di depan rumah.” umpat kesal Nyonya Flora.


“Tidak apa-apa rumah ini akan sangat sepi jika mereka tidak seperti itu.” jawab Nyonya Syein yang tertawa menyaksikan kepergian anak-anaknya.


Selama di perjalanan Alfy dan Jee terus berdiam tanpa kata, Alfy yang merasa bosan dengan suasana hening seketika melajukan mobilnya.


“Pelan-pelan sayang.” teriak Jee.


Belum sempat Alfy menjawab kini terdengar suara mobil yang tanpa sengaja menyerempet mobil Alfy. “Brakkkk.”


“Astaga.” jee yang terkejut mendengarnya segera turun.


“Maaf Nona, maafkan saya tadi saya-“ (ucapan pria itu seketika terpotong ketika Alfy lebih dulu menjawab)>


“Kau sengaja?” tanya Alfy.

__ADS_1


__ADS_2