
Di kantor Sailis Group, Wenda yang sejak pagi sudah sibuk berkutat dengan komputer di hadapannya, tiba-tiba ia terkejut dengan kehadiran seseorang yang langsung ingin masuk ke ruangan atasannya.
"Permisi, maaf Nyonya apakah anda sudah membuat janji pada Tuan?" tanya Wenda pada wanita tua itu.
"Saya tidak membuat janji pada Tuan Adelio, memangnya harus yah?" tanyanya dengan santai.
Wenda yang tersenyum ramah berusaha menjelaskan demi menahan wanita di hadapannya untuk masuk ke ruangan Tuan Adelio. "Hey apa yang kau lakukan?" sahut Tuan Adelio yang mengejutkan Wenda.
"Maaf Tuan, Nyonya ini ingin masuk sementara tidak membuat janji dengan anda." jelas Wenda tertunduk takut.
Sementara wanita itu hanya tersenyum menggelengkan kepala melihat sifat dinginnya cucu satu-satunya itu. "Ayo masuk." ajaknya meraih lengan Tuan Adelio.
Wenda yang melihat kedekatan mereka tertegun, matanya begitu tidak percaya dengan pemandangan di depannya kali ini. "Apa? ja-di wanita tua itu kekasih Tuan Adelio? astaga pantas saja selama ini dia tidak pernah terlihat membawa atau bertemu dengan wanita." ucapnya dalam hati.
"Apa yang kau lihat? cepat bawakan minum ke ruanganku!" pintah Tuan Adelio kembali membuyarkan lamunan Wenda seketika.
"Em baik, Tuan." jawabnya dengan cepat berlari meninggalkan Tuan Adelio yang menatapnya dingin sementara wanita itu terus menatapnya dengan lucu.
"Sayang, mengapa kau begitu galak sih?" tanya Nyonya Fidah pada cucunya.
"Biasa saja, Nek." sahut pria itu dan mempersilahkan wanita tua itu duduk bersamanya.
"Dia cantik yah?" tanya Nyonya Fidah kembali tersenyum.
Mendengar pujian yang seperti memiliki makna, Tuan Adelio menghela nafasnya kasar. "Nek, dia itu hanya karyawan biasa saja. Wajahnya juga biasa saja tidak cantik." bantahnya membuat Nyonya Fidah menggelengkan kepalanya. Entah mengapa cucunya ini sangat sulit dekat dengan wanita, sebagai Nenek tentu ia sudah sangat menginginkan cucunya menikah dan memiliki keluarga.
Semua bukan demi kebahagiaannya, melainkan kebahagiaan Tuan Adelio sendiri. "Sayang, menikahlah selama Nenek masih bersama mu agar kelak Nenek pergi kau sudah ada yang merawat." ucapnya terdengar lembut namun menusuk hati pria itu.
"Nek, berhentilah berbicara seperti itu." tegas Tuan Adelio yang tidak ingin mendengar tentang kepergian Nyonya Fidah. Ia masih begitu tidak terima jika Nyonya Fidah cepat atau lambat tentu akan pergi dari sisinya.
Tanpa mereka sadari sejak tadi Wenda sudah mendengar percakapan keduanya, tangan Wenda bergemetar hebat memegang nampan yang berisi dua gelas minuman.
__ADS_1
"Hey mengapa kau berdiri di situ?" tanya Tuan Adelio menyadari kehadiran Wenda.
Wenda dengan cepat segera melangkah menghampiri keduanya dan meletakkan dua gelas minuman kemudian pergi. Langkahnya begitu cepat kembali ke ruang kerjanya, fikirannya semakin terasa tidak tenang untuk fokus bekerja pun ia sudah tidak bisa.
"Jadi aku hanya sebatas karyawan biasa, dan aku sama sekali terlihat biasa? lalu mengapa dia terlalu membuat hidupku harus penuh dengan aturannya." gumamnya dengan bingung.
Tanpa Wenda sadari wanita yang berada di dalam ruangan atasannya kini pulang melewati dirinya yang tengah melamun. Nyonya Fidah melihat Wenda terdiam mematung hanya tertawa menggelengkan kepalanya lalu bergegas pergi.
Sementara Tuan Adelio yang juga sibuk bekerja di ruangannya melihat jam yang sudah hampir siang, akhirnya ia bergegas menutup laptopnya dan keluar menemui Wenda.
"Ayo, makan siang." sahutnya dengan melangkah duluan ke mobil tanpa menunggu Wenda. Dengan cepat wanita itu berlari mengambil tasnya lau mengejar atasannya yang sudah lebih dulu melangkah.
Beberapa waktu kemudian keduanya pun tiba di restoran mewah yang letaknya memang tidak jauh dari kantor Sailis Group. Saat tengah memesan makanan tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka, Wenda yang melihat kehadirannya terkejut.
"Halo Wenda, apakah ini teman kencan barumu? wah kau sekarang berhijab yah, sayangnya aku masih bisa mengenali bentuk tubuhmu meski pun tertutup pakaian seperti ini." ejeknya menatap Wenda sesekali menatap pria yang tengah bersama Wenda dengan tawa liciknya.
"Tuan, apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Wenda yang merasa kesal dengan kehadiran pria tidak di undang itu.
Tanpa berfikir Tuan Adelio menerima tantangan pria itu untuk makan bersama, akhirnya mereka berada dalam satu meja. Suara terdengar hening di meja mereka tidak ada yang melontarkan satu kata pun, hanya tatapan Tuan Adelio yang begitu tajam pada pria di hadapannya ini.
"Ehem. saya ingin tahu mengapa kau memakai pakaian seperti ini? apakah tidak kesulitan jika ingin melakukan sesuatu hal begitu?" ucapnya dengan meledek.
Wenda hanya mendengus kesal enggan untuk menjawab pertanyaan tidak menarik itu. Tuan Adelio yang penasaran dengan pria itu akhirnya bertanya, "Ada hubungan apa kalian?" tanyanya.
"Tidak ada, Tuan." sahut Wenda dengan cepat.
"Hey, kau bilang tidak ada, oke baiklah mungkin hubungan satu malam waktu itu tidak ada artinya yah untukmu. Kalau begitu bisa kita buat malam itu terulang lagi?" tanyanya dengan penuh tatapan memakan.
"Brakkkkk" Suara hempasan meja yang begitu keras mengejutkan seisi restoran.
"Apa maksudmu mengatakan itu hah?" teriak Tuan Adelio penuh dengan amarah. Wenda yang berusaha menahan kemarahan atasannya suda tak sanggup lagi. Tangan Tuan Adelio begitu kuat mencengkram kerah baju pria itu.
__ADS_1
"Tanyakan saja pada wanita murahan itu, bagaiamana pandainya dia bergoyang di atas tubuhku malam itu. Upss mungkin kau lebih tahu saat ini." jawabnya denga tertawa merendahkan Wenda.
Mendengar ucapan pria itu tangan Tuan Adelio sudah tidak bisa terkontrol lagi, ia terus memukul wajah pria itu hingga bercucuran darah kembali. Wenda yang berusaha melepaskan keduanya tanpa sengaja terkena pukulan Tuan Adelio.
"Aw." rintih Wenda yang tersungkur ke lantai.
Mendengar suara Wenda, Tuan Adelio segera menghentikan aksinya dan berdiri mendekat pada Wenda. "Jangan sentuh aku, apa yang di katakan pria itu benar. Dan Tuan tidak perlu membelaku karena Tuan tidak tahu apa-apa tentang diriku." jelas Wenda yang berlari keluar dari restoran meninggalkan Tuan Adelio yang mematung menatap kepergiannya.
Tuan Adelio yang mendengar pernyataan Wenda begitu terkejut tak percaya, bagaimana mungkin hal yang menjijikkan seperti itu terjadi pada Wenda. Seketika langkah Tuan Adelio berat, tubuhnya begitu lemah seperti merasa sesak di bagian dadanya.
"Tidak, ini tidak mungkin. Apa itu artinya Wenda wanita yang-" (ucapannya tidak ia teruskan mengingat betapa buruknya Wenda di mata pria yang baru saja ia pukul itu).
Kini Tuan Adelio menuju mobil dan meminta supirnya untuk mengantar pulang ke rumah, hari ini ia sedang tidak ingin kembali ke kantor. Hatinya masih belum siap untuk bertemu Wenda kembali. Sementara Wenda yang sudah menangis sesenggukan di dalam taksi berusaha menghapus air mata karena ia telah tiba di kantor Sailis Group.
Hari itu keduanya berpisah tanpa kata, Wenda yang tetap bekerja di kantor terlihat menunggu kedatangan Tuan Adelio namun tidak juga ia lihat kehadirannya. Sampai akhirnya waktu benar-benar menunjukkan waktu untuk pulang kerja, Wenda benar-benar pulang tanpa di antar oleh Tuan Adelio.
***
"Sayang, ayo lagi." ajak Alfy yang mulai menelusuri tubuh padat istrinya.
"Aaahh aku lelah, Sayang. Istirahat dulu yah." bantah Jee yang menjauhkan tubuhnya entah sejak pagi sudah berapa kali mereka melakukannya.
Di ruang tengah keluarga yang berkumpul terus tertawa mendengar cerita Tuan Indrawan yang sudah menyuruh Bi Ria memasukkan obat kuat di minuman yang di bawa ke kamar Alfy dan Jee.
"Papi mengapa jahat sekali sih?" tanya Nyonya Flora kesal.
"Biar saja, Mi. Kan kita akan cepat punya cucu." jawab Tuan Indrawan.
"Iya Pi, kalau Jee yang minum itu mungkin tidak akan menyengsarakan keduanya. Tapi kalau sampai Alfy saja yang minum kan kasihan Jee." bantah Nyonya Flora yang membayangkan tubuh Jee keluar dari kamar dengan lemasnya nanti.
Tuan Reindra dan Nyonya Syein hanya tertawa mendengar kegaduhan suami istri di depannya itu. Entah ide dari mana Tuan Indrawan sampai memberikan obat itu pada anak mereka.
__ADS_1