
Pagi di ruang keluarga terlihat suasana canggung antara Fiky dan Alfy yang saling melempar tatapan tajamnya tanpa mengeluarkan satu kata pun.
Melihat mereka berdua Jee tampak paham apa yang ada di dalam fikiran kedua pria itu dengan cepat Jee berusahan mencairkan suasana.
"Ayo sarapan," ajak Jee dengan menarik tangan Alfy.
Pria itu hanya mengikuti langkah istrinya saat mendekat ke arah Fiky yang masih duduk bersama Dokter Adeline.
"Ayo kita sarapan bareng Kak, Dok." ajak Jee sambil tersenyum.
Mendengar ajakan dari Jee kedua orang itu mengikuti langkah ke ruang makan bersama Afly di barisan paling depan yang tampak tidak bersuara sama sekali.
"Eh Fiky kapan datang?" tanya Nyonya Syein tersenyum ramah.
"Dari tadi Tan." jawab Fiky tersenyum dan mendaratkan bokongnya di kursi.
Sedangkan Alfy masih tetap diam tanpa menyapa Fiky hatinya bergetar antara cemburu dan takut jika meninggalkan istrinya kerja ke kantor. Melihat Fiky yang sesekali melempar pandangan ke arah Jee yang tengah sibuk mengambilkan makanan di piring suaminya membuat Alfy mendengus kesal.
"Cih." ucap Alfy yang terdengar lirih di telinga Jee.
"Ada apa suamiku?" tanya Jee bingung.
"Tidak ada apa-apa." jawab Alfy singkat.
"Kau tidak suka makanan ini?" tanya Jee yang dengan sabarnya.
"Suka kok." jawab Alfy lagi.
Sementara makan Jac bersama Delon datang dengan segera Nyonya Syein mengajak mereka untuk bergabung sarapan. Nyonya Syein yang tengah sibuk melayani suaminya Tuan Reindra tidak memperhatikan tingkah Alfy yang terus memandangi Fiky dengan tatapan seperti akan menerkam.
Kini mereka semua sarapan tanpa ada yang berbicara di meja makan itu suster Syanin yang melihat perlakuan Dokter Adeline pada Jacobie merasa tidak nyaman dengan segera ia berpamitan untuk ke daput membawa piringnya yang masih ada makanan tersisa.
"Loh suster mau kemana?" tanya Jee penasaran.
"Saya mau kebelakang Nona sudah kenyang." jawab suster Syanin sambil berpamitan pada semuanya.
"Bukankah dia baru memakan beberapa sendok saja?" gumam Jacobie yang bingung.
Melihat tingkah suster itu Delon tampak lebih mengerti dari pada Jac setelah memperhatikan tatapan suster Syanin ketika Jac di layani makanan oleh Dokter Adeline. Kini Delon hanya tertawa sambil mengglengkan kepalanya merasa lucu dengan kehidupan Jac saat ini yang sepertinya ada peningkatakan di rebutin dua wanita sekaligus.
Di dapur suster Syanin hanya terdiam sambil duduk melamun merasa sesak di dadanya entah sejak kapan perasaannya muncul pada pria yang tidak peka itu.
"Suster ada apa?" tanya Bi Rian yang khawatir melihat wanita itu memegang dadanya merasa sesak.
"Eh Bibi tidak apa-apa Bi." jawab suster Syanin yang terkejut dan seketika merubah raut wajahnya tersenyum.
"Tap Bibi liat suster seperti kesakitan," jelas Bi Ria.
"Dadaku yang sakit Bi," gumam suster dalam hati sambil tetap memaksakan senyuman pada wanita di hadapannya.
Dengan cepat suster Syanin bergegas menuju kamar untuk menenangkan dirinya dan menyiapkan obat untuk Nona Jee.
Setelah semua selesai sarapan Jac bertanya pada Alfy.
__ADS_1
"Tuan, kita bisa berangkat sekarang?" sambil berdiri di samping Alfy.
"Sepertinya aku tidak sehat Jac kau bersama Delon saja." ucap Alfy yang berbohong.
"Tuan sakit?" tanya Delon khawatir.
"Iya." jawab Alfy singkat dan bergegas mendaratkan bokongnya di sofa ruang tengah itu.
Melihat tingkah suaminya yang aneh dengan cepat Jee menyusul duduk di sampingnya perlahan ia menatap suaminya terlihat tidak sakit sama sekali.
"Suamiku kau sakit apa?" tanya Jee pelan.
"Kepalaku rasanya pusing," ucap Alfy mengurut keningnya yang tidak sakit.
Sedangkan Jac yang melihat hanya menggelengkan kepala mengerti jika hal itu ia lakukan untuk mengawasi istrinya karena keberadaan Fiky di rumah itu. Dengan segera Jac mengusulkan tingkah konyolnya pada Dokter Adeline untuk memeriksa keadaan Alfy.
"Adeline, apa kau bisa memeriksa Tuan Alfy?" tanya Jac santai.
"Oh tentu saja Jac." jawab Dokter Adeline dengan serius.
Dengan segera wanita itu mengambil peralatan medisnya untuk memeriksa keadaan Tuan Alfy, melihat itu Jac tampak tertawa kecil.
"Permisi Tuan." ucap Dokter Adeline yang mendekat ke arah Jee dan Alfy.
"Ada Apa Dok?" tanya Alfy terkejut melihat tas yang di bawa Dokter Adeline.
"Tuan Jac meminta saya memeriksa keadaan anda Tuan." jelas Dokter Adeline ramah.
"Silahkan Dokter," ucap Jee mempersilahkan.
Melihat reaksi wanita itu Jac tertawa lalu mengajak Delon untuk berangkat ke kantor sambil mengatakan,
"Dok, beri Tuan Alfy obat penenang hati." ucap Jac dengan lancangnya.
Mendengar itu Dokter Adelin merasa bingung memangnya ada obat penenang hati adanya hanya obat penenang saja tapi untuk apa ia berikan pada orang yang sehat-sehat saja.
Alfy yang mendengar tampak kesal karena triknya terbaca oleh Jacobie membuatnya merasa malu untung saja seisi rumah itu tidak ada yang paham selain Fiky yang masih tetap terdiam menatap Alfy kesal.
"Jee kau jaga diri baik-baik yah kau ke kampus dulu." ucap Fiky sambil berpamitan dengan seisi rumah itu.
"Iya Kak hati-hati yah." Dengan melambaikan tangannya tersenyum pada Fiky yang melangkah ke luar rumah itu.
Kini perasaan Alfy sudah sedikit tenang mendengar pria itu sudah pergi artinya kini ia tidak perlu lagi untuk berpura-pura sakit. Setelah memastikan Fiky benar-benar pergi dari rumah itu kini Alfy berdiri terlihat segar dan langsung mengecup kening istrinya tersenyum.
"Istriku aku kerja dulu yah." ucap Alfy sambil mengambil tas kerjanya.
"Kau sudah tidak apa-apa?" tanya Jee yang tampak bingung.
"Iya kepalaku sudah tidak pusing kok." jawab Alfy yang sukses membuat semua bingung dengan perilakunya.
Sedangkan Dokter Adeline yang tampaknya mulai paham dengan yang terjadi hanya senyum menggelengkan kepalanya.
"Ada apa Dokter?" tanya Jee penasaran.
__ADS_1
"Nona, sepertinya Tuan Alfy cemburu bukan sakit." jelas Dokter Adeline tertawa.
"Apa Dokter cemburu?" tanya Jee kaget.
"Tentu Nona." jawab Dokter Adeline lagi
Mendengar penjelasan Dokter Adeline yang ketika memeriksa Alfy tidak ada keluhan apapun sampai akhirnya keadaannya sehat ketika memastikan Fiky telah pergi bisa meyakinkan tebakan Dokter Adeline jika Tuan Alfy tidak ingin memberi waktu Jee dan Fiky untuk berduaan. Nyonya dan Tuan Syein tertawa menggelengkan kepalanya melihat sikap anak prianya yang begitu posesif pada istrinya sekarang.
Mengingat Dokter Adeline belum sempat menyapa Jac tadi dengan segera ia meraih ponselnya yang berada di saku celana miliknya.
"Semangat yah bekerja." Isi pesan singkat yang Dokter Adeline kirim pada Jac.
Mendengar dering ponsel milikinya pria itu segera mengambil karena takut jika Tuan mudanya yang memberinya kabar, ternyata dugaannya salah itu berasal dari Dokter Adeline.
"Ada apa Jac?" tanya Delon penasaran.
"Ini Dokter Adeline." jawab Jac dengan nada santai.
"Sepertinya dia menyukaimu," Sambil tersenyum menatap ke arah Jac.
"Jangan asal kamu." ucap Jac tanpa memikirkan ucapannya.
"Jadi kau benar tidak paham Jac?" tanya Delon terkejut.
"Paham apa?" tanya Jac lagi dengan tanpa dosanya.
Mendengar ucapan Jac Delon mengaruk kasar kepalanya yang tidak gatal benarkah pria yang bersamanya sama sekali tidak memahami reaksi wanita di sekitarnya itu sampai sepolos ini kah Jac yang ia tahu. Merasa gregetan dengan respon Jac yang begitu lelet Delon memegang bahu Jac menatap serius.
"Jac, Dokter Adeline menyukaimu." ucap Delon serius menatap Jac yang masih fokus menyetir mobil.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Jac penasaran.
"Dia mengirim pesan semangat padamu tandanya ia perhatian." jelas Delon dengan perlahan.
"Yah itu wajar saja sebagai sesam pekerja bagiku," balas Jac yang tampak tidak percaya.
Merasa capek berdebat dengan Jac kini akhirnya Delon diam dan kembali fokus pada pandangannya ke jalanan mungkin ia harus membiarkan dulu perkembangan peremajaan fikiran Jac kali ini.
Dokter Adeline yang dari tadi memandangi layar ponselnya menunggu pesannya di balas tidak ada mendapat balasan akhirnya ia menyerah dan menaruh kembali ponselnya ke dalam sakunya.
"Ada apa Dokter?" tanya Jee melihat raut wajah wanita itu tampak menekuk kesal.
"Ah tidak ada apa-apa Nona." jawab Dokter Adeline segera tersenyum lagi.
Suster Syanin yang mendekat ke arah Jee mengarahkan nampan yang berisi air dan beberapa obat untuk ia minum pagi ini.
"Terimakasih sus." ucap Jee tersenyum.
"Sama-sama Nona Jee." jawab suster Syanin.
Melihat suster Syanin mata Dokter Adeline tampak tidak suka entah apa yang ada di dalam fikiran Dokter cantik itu seperti ada yang membuatnya selalu tampak sesak dadanya.
__ADS_1
Setelah membaca episode ini kira-kira siapa yang berjodoh dengan Jac nanti kalian pasti penasaran dong semoga masih semangat baca kelanjutan ceritanya yah. Terimakasih untuk para readers yang sudah memberikan like, komen, vote, dan rate bintang limanya. Semoga kalian di berikan kesehatan selalu untuk bisa mengikuti cerita ini sampai selesai yah. Jangan bosan untuk terus dukung author berkarya yah karena dukungan kalian sangat berarti buat author. Assalamualaikum Wr. Wb.