
Tidak lama kemudian kini terlihat sosok Tuan Reindra yang keluar dari kamarnya di ikuti dengan Nyonya Syein di belakang. Kini mereka duduk bertiga di ruang tengah dengan wajah yang masing-masing memiliki ekspresi.
“Delon, kami ingin kau tinggal di rumah ini bersama istrimu.” ucap Tuan Reindra memecahkan keheningan.
“Iya kasihan Zeyra jika tinggal di sana sepi.” tambah Nyonya Syein.
“Maaf Tuan dan Nyonya kami hanya tidak ingin merepotkan kalian lagi, dan di sana juga ada pelayan dan suster Syanin yang menjaga Zeyra.”ucap Delon dengan sopan.
“Baiklah jika memang itu keputusan kalian, tapi jika kalian ingin di sini datanglah kami sangat senang jika rumah ini ramai.” ucap Tuan Reindra.
***
“Tolong...tolooong...tolong.” Suara teriakan di depan rumah Zeyra.
Dengan cepat pelayan di rumah Zeyra berlari. “Suster...suster...suster Syanin.” panggil pelayan itu sambil berusaha mengejar mobil yang membawa suster Syanin.
Merasa tidak mampu mengejar kini pelayan itu kembali berlari masuk ke dalam rumah menghampiri Zeyra yang berada di kamar.
“Nyonya Zeyra...Nnyonya.” panggil pelayan dan sesekali mengetuk pintu kamar.
“Ada apa, Bi?” tanya Zeyra yang baru saja membuka pintu.
“Aduh...heh...heh...heh itu Nyonya, suster Syanin di culik.” ucap pelayan dengan susahnya berbicara nafasnya yang sudah terengah-engah sambil sesekali ia memegang dadanya yang sesak nafas karena berlari.
“Apa Syanin di culik? Sama siapa Bi?” tanya Zeyra lagi yang begitu kaget dan matanya membulat dengan sempurna.
“Bibi tidak tahu, yang jelas penculiknya memakai mobil.” jelas pelayan itu.
Kini Zeyra setelah berfikir-fikir tampak terlihat tenang sepertinya ia tahu siapa dalang di balik ini semua.
“Nyonya tidak panik?” tanya pelayan itu melihat Zeyra tersenyum.
“Sudah Bi, itu tidak apa-apa pasti suami saya yang membuat ini.” Jawab Zeyra yang kembali masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
“Hah suaminya, memangnya mereka ingin melakukan apa? Apa mereka ternyata adalah orang yang jahat?” gumam pelayan itu yang merasa bulu kuduknya berdiri serentak dan membuatnya semakin takut.
Dengan cepat pelayan itu berlari ke dapur sambil terus berfikir sejahat itu kah majikannya sampai menculik seseorang yang sebaik suster Syanin.
“Apa aku harus lari dari rumah ini yah sebelum aku di culik juga?” gumam pelayan itu dengan penuh kebimbangan.
***
Delon yang kini sudah menuju perjalanan pulang ke rumah tampak memikirkan ucapan Tuan Reindra yang memintanya tinggal di rumah utama bersama Zeyra. Sebenarnya ia juga ingin Zeyra di kelilingi orang banyak ketika masa hamil besarnya karena khawatir jika terjadi apa-apa. Namun rasa tidak enak di hati Delon sangat besar, begitu banyak kebaikan keluarga Syein padanya sampai ia tidak tahu membalasnya dengan cara apa.
Sepersekian menit ia melajukan mobilnya kini sudah tiba di halaman rumahnya, dengan cepanya kaki jenjangnya melangkah turun dan di sambut oleh Zeyra yang sudah berlari kecil mendekat padanya lalu memeluk tubuh suaminya.
“Sudah ku katakan jangan berlari seperti itu.” Suara Delon terdengar dingin.
“Uuhhh aku hanya berjalan kecil saja.” Bantah Zeyra sambil menekuk wajahnya yang tadinya sudah tersenyum lebar.
“Aku tidak ingin ada apa-apa denganmu Zey mengertilah.” Ucap kesal Delon.
Kini mereka melangkah masuk ke rumah, Zeyra yang di rangkul oleh Delon tampak penasaran dengan rencana suaminya.
“Apa rencana mu pada Syanin?” tanya Zeyra.
“Em...aku juga masih memikirkannya sampai sekarang masih belum menemukan cara.” Jelas Delon yang membuat Zeyra seketika terkejut.
“Kau belum merencanakan sesuatu?” tanya Zeyra.
“Iya, memangnya ada apa ? mengapa wajahmu seperti terjadi sesuatu.” Tanya Delon yang bingung.
Akhirnya Zeyra yang kini baru merasa panik segera menceritakan semuanya pada Delon jika Syanin baru saja di bawa paksa oleh orang dengan mobil. Delon yang mendengar kini terkejut bukan main wajah panik terlihat di wajah mereka.
Beberapa kali Zeyra berusaha menghubungi ponsel suster Syanin tidak juga bisa terhubung.Sementara Delon yang merasa tidak aman jika meninggalkan istrinya di rumah setelah mendengar kejadian penculikan itu kini menghubungi Jac.
“Halo.” Ucap Jac.
__ADS_1
“Sekarang juga cari Syanin.” Pintah Delon.
“Cih memangnya apa perluku mencarinya?” tanya Jac yang terdengar masih kesal.
“Syanin di culik, dan mereka menculiknya di rumah ini.” Jelas Delon yang enggan untuk basa basi lagi.
“Apa, di culik?” teriak Jac yang begitu terkejut tidak percaya.
Dengan segera pria itu bergegas keluar dari kantor dan menyuruh seluruh pasukannya untuk berpencar melacak keberadaan wanita itu. Perasaan Jac kini benar-benar tidak tenang memikirkan suster Syanin yang sedang dalam bahaya.
“Siapa yang melakukan ini padanya?” tanya Jac dalam hati.
Kini Jac terus melajukan mobilnya menggunakan alat deteksi yang ia miliki untuk melacak apa pun yang ingin ia cari.
Sementara Delon yang juga merasa khawatir kini mulai terfikirkan dengan tawaran Tuan Reindra untuk membawa Zeyra ke rumah utama. Tentu di sana akan jauh lebih aman karena banyak penjaga sementara di rumah mereka begitu sepi. Belum lagi ketika Delon yang pergi kerja tentu Zeyra akan kesepian di rumah.
“Yah benar ini arahnya.” Ucap Jac yang dengan cepat memutar arah mobilnya dan setelah beberapa menit ia berjalan dengan cukup laju.
Kini saatnya tiba tepat di titik alat deteksinya, di lihat dari mobil tampak sebuah rumah mewah yang terpampang nyata di depannya. Rasanya mustahil jika ini tempat penculikan yang di lakukan pada Syanin. Sekali lagi Jac menggunakan alatnya untuk memastikan dan hasilnya masih tetap sama benar di rumah itulah titiknya.
Setelah Jac turun dari mobil matanya tampak menatap instens ke segala sudut halaman rumah mewah itu dan seketika matanya menangkap beberapa pria yang berdiri tampak menjaga-jaga. Jac yang kini mulai yakin jika ia datang di tempat yang tepat ketika melihat wajah-wajah pria sangar itu.
“Hey siapa kau?” teriak penjaga yang melihat Jac melangkah menuju mereka.
Dengan cepat mereka menghadang Jac untuk masuk ke dalam rumah dan terjadilah perkelahian lima lawan satu. Dan beberapa kali Jac memukul mereka dengan sangat brutalnya tanpa memberikan ampun. Kini di antara mereka berlima tidak ada satu pun yang sanggup untuk bangun setelah memastikan dengan baik Jac segera berlari masuk ke dalam rumah.
Seketika beberapa penjaga mulai menghajar Jac dari sudut yang tidak terlihat, dan kini mereka melakukan perkelaian tanpa ada satu yang terkalahkan sampai akhinrya Jac mengeluarkan pistolnya. Semua yang melihat tampak berdiri mengangkat kedua tangannya karena mereka tidak ingin ada yang lenyap saat itu.
“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya seorang pria yang kini menuruni anak tangga menggandeng tangan wanita mungil.
“Jac.” Ucap suster Syanin yang terkejut melihat kehadiran Jacobie di bawah dengan mengarahkan pistol yang ada di tangannya ke arah Tuan Farhan.
__ADS_1