Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Keajaiban


__ADS_3

Masih di ruangan Jee, Alfy berharap segera bangun dari mimpi buruknya beberapa kali ia menampar wajahnya untuk memastikan itu adalah mimpi.


“Fy, kali ini kau tidak mimpi Nak.” Tuan Reindra berusaha menguatkan putranya.


Tubuh Alfy sudah penuh dengan darah yang tembus dari kain ia terus memeluk bungkusan itu dan sesekali mengarahkan pada istrinya.


“Han, kau tidak lihat ini? dia pergi bagaimana bisa kau juga pergi dariku? Siapa yang akan menemaniku lagi?”  Dengan mengarahkan bungkusan janin itu di hadapan Jee.


Wanita itu masih sangat terihat cantik dengan pucat di bibirnya menandakan memang nyawanya sudah benar-benar tiada.


Di ruangan sebelah Delon yang melihat Fiky mulai bergerak tangannya akhirnya tersenyum saat kedua mata Fiky terbuka.


Fiky menatap ke segala arah ia melihat tidak ada sosok yang ia cari.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Fiky terdengar pelan dan tidak begitu jelas.


Delon yang tidak kuasa menceritakan keadaan Jee saat ini sangat lemah air matanya tiba-tiba menetes. Fiky yang melihat Delon berusaha menahan tangis seketika terbangun dengan kuatnya tanpa perduli rasa sakit.


“Di mana Jee?” teriak Fiky.


“Di ruang sebelah Tuan.” Jawab Delon yang berusaha menutupi kebenaran.


Fiky yang menghempaskan selimutnya membuat Delon panik.


“Tuan, apa yang akan anda lakukan?” tanya Delon terkejut ia berusaha menahan pria itu.


“Lepaskan aku!” perintah Fiky.


“Tuan, ku mohon tetaplah di sini.” Delon terus menahan Fiky.


Setelah berusaha keras Fiky memberontak akhirnya Delon menyerah dan membantunya untuk ke kursi roda.


Padahal kedua kakinya baru saja operasi namun sama sekali tidak ia perdulikan, rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakitnya jika melihat Jee terluka.


Dengan cepat Fiky memutar roda kursi itu ia memasuki tanpa sabaran ruangan di sebelahnya.


“Apa yang terjadi?” tanya Fiky pada Delon ketika melihat semua orang yang di ruangan menangisi Jee.


“Nyonya sudah tidak ada Tuan.” Jelas Delon dengan ragu.


Mendengar itu rasanya Fiky tidak percaya ia menggelengkan kepalanya merasa itu semua salah dari pendengarannya.


“Tidak, kau bohongyah?” Fiky marah pada Delon.


Dengan cepat ia menghampiri kasur wanita itu menarik-narik kaki Jee sambil berteriak tanpa terasa air matanya menetes.


“Jee, bangunlah kau tidak mungkin pergi kan?” Fiky menggenggam ujung kaki Jee yang tampak dingin.

__ADS_1


Sedangkan Alfy sudah tidak bersuara lagi ia terus menangis di samping kepala istrinya membenamkan wajahnya di bantal Jee.


Setelah cukup lama mereka menangis di ruangan itu kini tampak Dokter memasuki ruangan itu bersama suster.


Berat hati ia ingin melepas alat bantu yang menempel di tubuh Jee namun hal itu tentu harus Dokter lakukan.


“Permisi semuanya, saya mohon maaf sudah waktunya kami melepas alat bantu ini.” Suara Dokter membuyarkan tatapan Alfy yang tertutup di samping telinga Jee.


“Tidak Dok, jangan di lepas istri saya masih hidup.” Alfy berusaha menahan tangan Dokter yang hendak meraih beberapa benda yang menempel pada istrinya.


“Maaf Tuan, kami tidak boleh melakukan ini terlalu lama.” Dokter berusaha memberi pengertian pada Alfy.


 


Baru saja tangan Tuan Reindra ingin menarik tubuh putranya tiba-tiba suara peralatan monitoring berbunyi yang menandakan jantung Jee kembali berdetak. Semua mata tertuju pada alat tersebut begitu juga dengan Dokter matanya tidak percaya melihat keajaiban ini.


“Dok, istri saya masih hidup.” Alfy yang dengan kasarnya menghapus air mata lalu memeluk Jee.


Dengan cepat Dokter berlari memeriksa keadaan Jee wajahnya tampak tidak percaya ada perasaan legah di hatinya.


Semua yang ada di ruangan itu tersenyum mengucap syukur sedangkan Alfy beberapa kali terus mengecup kening istrinya.


“Terimakasih Han, terimakasih kau kembali untukku.” Wajah Alfy yang sudah tampak tersenyum.


 


Mereka yang berdiri di luar saling berpelukan terus menangis begitu juga dengan suster Syanin dan Jacobie yang tidak tahu kapan hadirnya.


Setelah Delon keluar dari ruangan wajahnya terlihat jauh lebih baik sedangkan yang lain menatapnya bingung.


“Nyonya muda sudah kembali berdetak jantungnya.” ucap Delon tersenyum.


“Benarkah?” tanya Sisil.


“Iya.” Delon menjawabnya dengan singkat.


Kini mereka tampak legah setelah mendengarkan Delon, semua bersyukur dan sekarang hanya doa yang harus mereka lakukan agar Jee bisa melewati masa kritisnya.


Sisil yang melihat Fiky baru keluar dari ruangan dengan kursi roda di antar dengan Dokter Adeline tampak cemberut.


Matanya menatap tajam pada Dokter Adeline membuat yang lain terlihat bingung pada tatapan Sisil.


“Kau kenapa?” tanya Refan.


“Ah tidak apa-apa.” Sisil yang tersadarkan dari lamunannya.


Akhirnya Delon kembali ke kamar rawatnya bersama Dokter Adeline setelah memastikan Fiky istirahat dengan lelap Dokter Adeline kembali ke ruangan Jee.

__ADS_1


“Semuanya boleh keluar, biarkan pasien untuk istirahat dulu.” Perintah Dokter.


Mereka yang mendengarnya dengan segera keluar begitu juga dengan Tuan Reindra yang membawa Alfy keluar dari ruangan.


Sebelum itu ia menyuruh Alfy untuk meletakkan janin yang terbungkus ke atas meja operasi.


Alfy sudah tampak tidak setegang tadi kini perasaannya sudah jauh lebih tenang ketika melihat istrinya kembali bernyawa.


Meskipun hatinya masih hancur mengetahui calon buah hatinya tidak bisa di selamatkan. Mungkin saat ini ia harus bisa menerima kenyataan pahit itu berkat keluarga yang berada di sampingnya mampu membuatnya kuat.


Semua kini berkumpul di depan ruangan itu tidak ada yang berani bersuara. Sisil, Mira, dan Dara yang perlahan mendekat ke arah Nyonya Flora kini mulai berpelukan saling memberikan dukungan.


Begitu juga dengan Andra, Fery, Lusi, dan Lukman mereka semua memeluk tubuh rapuh Alfy


memberi kekuatan pada sahabatnya itu.


“Jee tidak akan mungkin meninggalkanmu bro.” Suara Andra sambil menepuk pundak Alfy.


“Aku tahu itu.” jawab Alfy dengan tegarnya.


Hanya Diandra yang tidak hadir saat itu karena ia sudah jauh lebih dulu meninggal. Alfy bersyukur mendapatkan sahabat yang begitu sayang padanya.


Di saat keadaannya terpuruk mereka semua datang memberikan dukungan. Setelah semua keadaan kembali baik akhirnya para sahabat Jee dan Alfy berpamitan untuk pulang.


Tetapi tidak dengan Sisil, ia memilih untuk tetap tinggal di rumah sakit. Alasannya adalah ingin menunggu Jee sadar, Dara dan Mira yang mendengar juga ingin menemani Sisil namun di tolak.


Alasannya nanti mereka bisa bergantian mendatangi Jee, padahal Sisil ingin bertemu dengan Fiky tanpa ada yang tahu.


Setelah memastikan semuanya sudah pergi kini Sisil masuk ke ruangan Fiky perlahan langkahnya mendekat ke kasur rawat pria itu. Ia duduk di kursi lalu menatap wajah Fiky dengan haru tanganya mulai bergerak mendekat ke


tangan Fiky.


Kini tangan pria itu sudah berada dalam genggaman Sisil ia menangis melihat keadaannya.


“Kak, mengapa harus terjadi padamu sih?” tanya Sisil sambil menggenggam terus tangan Fiky.


Sepertinya Sisil sudah semakin jatuh dalam perasaan yang begitu dalam pada Fiky tetapi tidak tahu dengan Fiky apakah dia juga memiliki perasaan yang sama.


Fiky yang merasa ada yang menyentuh tangannya perlahan ia bangun matanya mulai terbuka menatap wajah wanita di sampingnya.


“Sisil.” ucap Fiky lirih.


“Kak Fiky, maafkan aku mengganggumu.” Sisil yang tampak gugup dengan segera melepas genggaman tangannya.


“Kau dari tadi?” tanya Fiky.


“Em...baru saja Kak.” Jawab Sisil lagi.

__ADS_1


Hai readersku sayang selamat membaca yah semoga kalian suka dan jangan pernah bosan menunggu episode selanjutnya yah. Author mengucapkan terimakasih pada kalian semua yang memberikan dukungan pada author dan menjadi readers setia.


__ADS_2