
Wenda yang masih berbaring di rumah sakit kini berusaha bangun dari tempat tidurnya, ia sangat gelisah memikirkan nasib malangnya saat ini. Tentu saja ia tidak akan berani untuk pulang ke rumah Pamannya. Lalu akan
kemanakah perginya wanita malang itu dengan keadaannya yang sudah semakin buruk.
Perlahan kaki jenjangnya melangkah menuju pintu ruang rawatnya tangannya meraih gagang pintu lalu membuka. Matanya terkejut melihat dua orang pria yang berdiri tegak di hadapannya tanpa menatap wajahnya.
“Siapa kalian?” tanya Wenda yang merasa bingung.
“Nona Wenda jika sudah selesai kami bisa mengantar anda pulang.” Jawab salah satu penjaga itu.
Wenda yang mendengar kata pulang merasa tidak menyangka jika Pamannya masih menginginkan ia kembali ke rumah. Wajahnya tersenyum dengan penuh semangat Wenda kembali ke dalam mengganti pakaian lalu keluar menemui dua pria di depan pintu.
“Ayo.” Ajak Wenda yang sudah lebih dulu melangkah keluar rumah sakit.
Tidak jauh dari depan rumah sakit sudah tampak mobil mewah yang tentu wenda kenali itu adalah mobil para pesuruh Tuan Farhan. Dengan cepat langkahnya menuju mobil lalu masuk dengan arahan supir.
Kedua pengawal tadi juga ikut masuk ke dalam mobil mereka tampak begitu datar. Wenda yang merasa tidak nyaman dengan keheningan di dalam mobil kini berusaha mendengarkan musik di ponselnya sampai akhirnya ia pun tertidur lelap.
Perjalanan yang cukup panjang membuat Wenda begitu menikmati tidurnya meskipun sakit di tubuhnya semakin terasa. Namun ia enggan untuk memikirkannya dulu sementara ini, yang terpenting Wenda kembali ke rumah demi
mendapatkan simpatik dari Pamannya.
Perjalanan sudah menempuh beberapa jam, kini Wenda yang mulai tersadar dari tidurnya mulai membuka mata. Betapa terkejutnya ketika matanya menatap ke kiri dan ke kanan jendela mobil itu yang hanya menampakkan
perjalanan yang sunyi. Tentu ia hapa jika perjalanan ke rumah Pamannya tidak seburuk itu.
“Kalian membawaku kemana?” tanya Wenda yang sudah mulai panik.
Namun kedua pengawal itu enggan menjelaskan sesuai dengan arahan yang di berikan oleh Tuan Farhan.
“Biarkan dia tahu saat sudah sampai, dan jangan bicara apa pun padanya.” Pintah Tuan Farhan.
Wenda terus berteriak-teriak di dalam mobil namun tidak ada yang menghiraukan teriakannya sampai akhirnya Wenda terdiam lemas dan hanya menangis. Tenaganya sudah cukup terkuras hanya untuk berteriak saja. Keadaannya saat ini memang masih sangat lemah akhirnya Wenda memilih untuk pasrah.
Karena ia tahu tidak akan mungkin terjadi hal buruk padanya, orang yang bersama Wenda saat ini adalah orang kepercayaan Pamannya. Beberapa lama mereka melewati perjalanan sunyi itu kini sudah bisa Wenda tebak jika saat ini ia di antar menuju rumah rumah Ibunya.
__ADS_1
“Berhenti! Aku ingin kembali tolong.” Teriak Wenda lagi-lagi berusaha memberontak namun apalah daya dua lawan satu.
Tentu ia tidak akan sanggup, dan belum lama keributan terjadi akhirnya mereka sampai di rumah Ibu Wenda. Setelah sampai di rumah, Wenda di sambut denga tatapan tidak suka oleh Ibunya namun berbeda dengan Ayah tirinya.
Melihat wajah Wenda yang masih terlihat cantik, Ayah tirinya seperti memiliki tatapan penuh arti padanya.
“Apaan sih Mas? Kok liatin Wenda seperti itu?” tanya Ibu Wenda dengan nada kesal.
“Tidak apa-apa, biarkan saja anakmu tinggal bersama kita.” ucap pria itu.
Ibu Wenda bernama Andini, ia bercerai dengan Ayah Wenda karena mereka sudah merasa tidak ada kecocokan. Setiap kali Ayah Wenda pulang bekerja mereka selalu berkelahi sampai akhirnya Ayah Wenda yang bernama Rusli
mengajukan perceraian.
Dan Ibu Wenda menyetujui hal itu, dan sekarang mereka sudah memiliki keluarga masing-masing tanpa ada yang mau merawat Wenda. Saat Wenda sudah hidup bersama Tuan Farhan, Rusli sempat memiliki keinginan untuk kembali merawat putrinya.
Namun kesadarannya saat meninggalkan Wenda merasa kepercayaan dirinya hilang dan kini perlahan melupakannya.
Berbeda dengan Ibu Wenda, Andini tidak pernah sekali pun mengingat putrinya. Sampai akhinya saat ini ia harus kembali bertemu dengan Wenda dan harus merawatnya.
“Masuklah.” Ucap Andini dengan ketusnya.
sukanya.
“Kau sakit apa?” tanya Andini.
“Apa Paman tidak cerita tentangku?” jawab Wenda dengan kembali bertanya.
“Tidak.” Jawab Andini tanpa menatap ke arah Wenda.
Belum sempat Wenda menjawab, Pramono ayah tiri Wenda sudah lebih dulu memotong pembicaraan mereka dengan menyuruh Wenda ke kamar untuk berisitirahat. Andini yang melihat perhatian suaminya merasa ada yang aneh.
Belum sempat Wenda masuk ke kamar Andini mengatakan untuk keluar sebentar bertemu dengan teman-teman arisannya.
Wenda yang terus melangkah pelan ke dalam kamar mengacuhkan ucapan Andini yang kini sudah beranjak pergi.
Kini Wenda merebahkan tubuhnya di kasur dengan pelan, ia merasa tubuhnya sudah semakin lemas wajahnya tampak memucat.
__ADS_1
Obat yang ia bawa dari rumah sakit belum sama sekali di minum.
“Tok...tok...tok.” suara ketukan pintu dari luar yang tidak tertutup rapat.
Ternyata Pramono yang mengetuk kamar Wenda kemudian ia masuk membawa segelas air untuk membantu Wenda meminum obatnya.
“Ayo minum obatmu, kau pasti lelah kan?” tanya Pramono dengan tersenyum tajam.
“Terimakasih.” Jawab Wenda yang mengambil gelas dari tangan Pramono.
Namun belum sempat ia mengambil gelas, tangannya sudah lebih dulu di raba oleh Pramono dan kini tangan mereka saling menggenggam erat gelas itu.
Wenda yang mendapat sentuhan oleh Pramono dengan lembut merasa darah di sekujur tubuhnya mulai mengalir deras. Hasratnya dengan cepat terbangun meskipun tubuhnya sangat lemas tetapi sentuhan demi sentuhan yang di
berikan oleh Pramono sudah membuat Wenda kembali bangkit dan melupakan penyakitnya.
Perlahan tangan pria itu mengelus lengan Wenda sampai ke masuk ke dalam baju wanita itu melalu kera bagian depan. Ia masih belum melihat kulit Wenda yang memiliki bintik-bintik itu karena Wenda memakai sweater yang panjang dan tertutup.
Namun pakaian itu tidak menyulitkan pergerakan Pramono untuk menyentuh tubuh Wenda semakin dalam. Wajah mereka sudah semakin berdekatan dan saling mengecup satu sama lain, kehausan Pramono pada wajah dan bibir Wenda semakin tidak bisa terkendali.
Mulut yang tertutupi dengan kumis tebal itu sudah melahap habis bibir Wenda dengan rakusnya, sementara Wenda sudah mulai mengeluarkan desahan-desahan yang membuat ruangan itu semakin panas.
Perlahan Pramono sudah merebahkan tubuh Wenda ke atas kasur dan mulai memainkan seluruh sudut area Wenda tanpa terlewatkan satupun dari sentuhan tangannya.
Belum sempat tangannya membuka baju Wenda, dengan cepat wanita itu menahan dan meminta untuk melanjutkan permainannya saja tanpa membuka sehelai kain pun.
Pramono merasa bingung, namun ia tidak perduli karena takut jika akan gagal akhirnya Pramono setuju dengan permintaan Wenda.
Kini tubuh gemuk pria itu sudah berada tepat di atas tubuh Wenda dan mulai mengarahkan kepemilikannya. Dengan sekali hentakan semua terbenam dan membuat keduanya mendesah keras penuh kepuasan. Wenda yang tidak memiliki tenaga cukup kuat kini hanya bisa mengimbangi permainan Pramono saja.
Ruangan kamar Wenda terpenuhi dengan suara mereka berdua yang saling beradu dengan keringat yang sudah mengalir deras bergantian.
“Apa yang kalian lakukan?” teriak Andini yang terkejut melihat penampilan kedua orang di dalam kamar itu.
__ADS_1
Bersambung...
Untuk readers yang sudah berbaik hati memberikan author tips terimakasih banyak yah semoga author bisa lebih memberikan karya terbaik untuk menghibur kalian.