Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Mulai Perhatian


__ADS_3

Semua pun memutuskan pulang bersama Jac dan meninggalkan suster Syanin yang masih terdiam mencerna apa yang baru saja ia dengar dari mulut Tuan Alfy Syein. Rasa tidak percaya jika Jac hanya mencari perhatian darinya.


“Huh mengapa namaku yang jadi salah, harusnya kan nama Dokter itu.”umpat kesal suster Syanin yang terus memandangi kepergian keluarga besar itu.


“Dada sustel cantik, nanti jadi istli Zidan yah?” teriak bocah kecil itu yang mengejutkan suster Syanin dari lamunannya dan kembali tertawa sambil melambaikan tangannya.


Semua yang mendengar teriakan bocah itu kembali tertawa, sementara Zeyra yang menutup mulut putranya karena malu.


“Kau ini masih kecil sayang, jangan karena papahmu tidak jadi dengannya terus kau yang melanjutkannya yah.” Zeyra yang terdengar ketus membuat Delon tertegun.


Perjalanan pulang ke rumah terasa begitu cepatnya, Jee yang hanya terdiam tanpa mengatakan satu  kata pun tak membuat Alfy merasa bersalah. Pria itu kembali meraih tubuh istrinya dan memeluk sepanjang jalan sembari terus mengelus lembut kepalanya.


***


“Ada apa, lauknya tidak enak?” tanya Tuan Adelio yang melihat Wenda mengaduk-aduk makanan di piringnya sambil menekuk wajahnya.


“Tidak Tuan,” jawabnya dengan terkejut.


“Pelayan, ganti lauknya.” Pintah Tuan Adelio yang berteriak sambil melambaikan tangannya.


Wenda yang dengan sigap meraih piringnya mencegah pelayan untuk mengambil. “Maksud saya lauknya enak Tuan,” jelasnya.


“Makanlah.” Pintah Tuan Adelio yang kembali menyendok makanan ke mulutnya. Wenda yang tidak ingin terjadi hal-hal di luar dugaannya memilih makan meskipun dirinya sedang merasa tidak enak badan.


Setelah makan selesai kini mereka menikmati hidangan penutup. Tuan Adelio yang dari tadi menatap wajah Wenda beberapa kali mencuri-curi pandangan.


“Ada apa di matamu?” tanya Tuan Adelio pada Wenda.

__ADS_1


“Ada apa Tuan?” tanyanya dengan penasaran.


“Pejamkan sebentar.” pintahnya dengan tegas. Wenda yang menurut meskipun merasakan aneh akhirnya memejamkan mata. Tanpa ia ketahui pria di hadapannya telah mengambil fotonya diam-diam.


“Sudah Tuan?” tanya Wenda yang menunggu suaranya.


“Oh iya sudah.” jawabnya terdengar cepat sambil terus memandangi ponselnya tersenyum. Wenda yang melihatnya merasa aneh sambil menggelengkan kepala.


Belum lama wajah manis itu tersenyum tiba-tiba datang seorang pria yang mendekat pada Wenda. Terlihat tidak begitu rapi seperti pria yang tidak baik dari caranya berpenampilan memakai celana jeans yang beberapa bagiannya robek dan hem yang tidak terkancing.


“Hai, aku boleh meminta nomor ponselmu?” tanyanya dengan sedikit mendekat ke wajah Wenda. Ia merasa risih sampai memundurkan wajahnya menjauh dari pria itu.


“Ayolah, malam itu aku tidak sempat meminta nomor mu karena aku tertidur sangat nyenyak ulah permainanmu yang sangat pandai.” lanjutnya.


Tanpa keduanya sadari Tuan Adelio sudah melayangkan tangannya beberapa kali ke wajah pria itu.


“Tuan, sudah hentikan!” teriak Wenda yang terlihat panik. Namun sayangnya Tuan Adelio tidak mendengar teriakan gadis itu ia terus memukuli dengan penuh kemarahan. Pria yang kini sudah tidak bertenaga lagi terbaring di lantai. Wajahnya begitu babak belur, Wenda dengan cepat menarik tangan Tuan Adelio untuk pergi bersamanya ke mobil.


Tangan yang sudah bersih dari darah kini meraih kepala Wenda dan menyandarakan ke bahunya sambil mengusap pelan kepala Wenda. Seakan pria itu itu memberikan ketenangan untuk Wenda.


“Apa maksud dari ini semua yah?” tanya Wenda dalam hati.


Setelah cukup lama pria itu merasa sadar dengan perlakuannya, seketika tangannya melepas pelukan itu. Wenda yang terlihat gugup hanya menundukkan kepalanya menahan malu.


“Mulai besok kau harus pakai hijab.” pintah Tuan Adelio dengan santainya. Sedangkan Wenda yang tertegun mendengar ucapan atasannya hanya terdiam menatapnya dalam diam.


“Kau dengar tidak?” tanya Tuan Adelio yang tegas.

__ADS_1


“Ta-pi Tuan.” ucap Wenda yang terdegar ragu.


Tanpa berbicara apa pun kini tangan kekar pria itu meraih ponselnya dan menghubungi Pak Lorens  di perusahaannya. “Wajibkan semua pekerja wanita memakai hijab mulai besok.” ucapnya dan langsung mematikan telfon tanpa menunggu jawaban pria itu.


“Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba ada peraturan aneh sejak kapan perusahaan menjadi perusahaan syariah begini?” gumam Pak Lorens yang merasa bingung.


“Hemm sepertinya hal ini terjadi karena gadis itu lagi.” lanjutnya menduga-duga dengan melihat tingkah Pemilik perusahaan Sailis Group itu akhir-akhir ini begitu aneh.


Wenda yang mendengar pecakapan di sampingnya begitu bingung lagi-lagi karena dirinya semua orang harus menahan penderitaan. Sementara di kantornya begitu banyak pekerja wanita yang selalu memakai pakaian seksi darinya. Bagaimana bisa mereka akan mengenakan pakaian tertutup, dan jika mereka tahu penyebabnya adalah Wenda tentu semua akan marah pada Wenda.


***


“Syanin, bagaimana dengan pernikahanmu mengapa sampai saat ini belum ada pembicaraan lebih lanjut?” tanya Tuan Farhan yang sedang menikmati secangkir kopi buatan suster Syanin.


“Em...itu Ayah Farhan, pernikahannya ba-tal.” jawab suster Syanin yang terdengar ragu mengatakannya.


“Uhu...uhu...uhu.” Suara kesedakan Tuan Farhan yang saat itu tengah menyeduh kopi karena kaget. Dengan cepat ia meletakkan minuman di atas meja dan menatap putrinya tanpa kata. Suster Syanin yang takut kini memilih untuk menundukkan kepalanya tanpa berani menatap wajah Ayahnya.


“Batal?” tanya Tuan Farhan kembali untuk meyakinkan pendengarannya.


Suster Syanin yang tidak berani menjawab hanya mengangguk pelan, seketika kepala Tuan Farhan terasa pusing mendengar kabar buruk itu. Padahal ia sudah sangat menanti hari bahagia putrinya sayangnya kali ini harus tertunda.


“Ada apa sebenarnya? Kemarin kalian tiba-tiba mengatakan ingin menikah, dan sekarang tiba-tiba batal apa maksudnya, Syanin?” tanya Tuan Farhan dengan tegasnya.


Suster Syanin tidak bisa menjawab pertanyaan itu, ia sendiri juga bingung apa sebenarnya yang ada di dalam fikirannya saat ini. Matanya yang tertunduk sudah mulai mengeluarkan tampilan kristal bening yang siap jatuh kapan saja. Tuan Farhan yang melihat kesedihan putrinya kini mulai mendekat ke arah suster Syanin.


Tangannya merangkul pelan pundak putrinya, “Sudahlah jika kau tidak ingin bicara pada Ayah, tapi jangan bersedih seperti ini. Ayah tidak sanggup melihat wajah cantik putri ayah jelek.” ucap Tuan Farhan berusaha menenangkan suster Syanin.

__ADS_1


Tuan Farhan yang seketika melihat ponselnya berdering tersenyum akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi percakapannya dengan suster Syanin karena ingin mengangkat telfon sahabatnya. “Ayo istirahat kau pasti lelah bekerja seharian, kan?” tanyanya kembali membujuk suster Syanin agar tidak murung.


Suster Syanin yang tidak ingin bicara memilih pergi ke kamar untuk membersihkan dirinya. Sementara Tuan Farhan yang meraih ponselnya menggeser layar ponselnya, sahabatnya yang sejak lama ia rindukan kini menghubunginya kembali. Tuan Remon sahabat Tuan Farhan sejak ia masih SMP, namun keduanya berpisah karena pekerjaan Tuan Remon sukses di America dan akhirnya ia memutuskan meninggalkan Indonesia.


__ADS_2