Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kekecewaan Yang Tidak Berujung


__ADS_3

Setelah beberapa lama perjalanan kini Zeyra dan Delon tiba tepat di depan gedung Syein Biglous yang terlihat dari luar begitu mewah.


Dan terlihat semua para pekerja yang berpakaian dengan khas berwarna gelap membuat penampilan mereka terlihat penuh dengan kemisteriusan.


Entah bagaimana bisa kantor itu memiliki pekerja yang rata-rata berparas cantik dan tampan dengan tubuh yang sudah terlihat seperti orang-orang memiliki kategori tertentu.


"Ayo masuk." ajak Delon yang menggandeng tangan Zeyra.


Ia bisa melihat wajah Zeyra yang saat ini begitu ragu untuk meneruskan tujuannya bertemu dengan Jacobie namun Delon tetap bersih keras ingin menyatukan mereka kembali.


"Selamat pagi Tuan." ucap Security di depan gedung itu.


Delon yang hanya tetap dengan pandangannya ke depan enggan menjawab dan terus melangkah sambil menggandeng tangan Zeyra.


Jantung yang kini berada di tubuh Zeyra berdetak sangat kencang tanpa ada ritme yang beraturan, sekujur tubuhnya tampak mulai ia rasakan satu persatu keringat yang menetes bersusulan membasahi baju dalamnya.


Bagaimana bisa Zeyra berani untuk menghadap pada Jacobie ketika di ingat rasa percaya dirinya yang kedua kalinya memilih Nakula dari pada Jacobie.


Namun rasa sayangnya pada Kakak angkatnya membuat semua rasa malunya seakan terbuang jauh tanpa bisa ia pungut kembali.


"Tok...tok...tok." suara ketukan pintu ruangan terdengar dari luar yang membuat bola mata Jacobie membulat dengan sempurna.


Matanya begitu tajam ketika menangkap sosok wanita yang ia lihat di depan pintu bersama Delon berdiri dengan wajah tegangnya.


"Kalian berdua harus bicara." ucap Delon memecah keheningan di ruangan itu lalu beranjak keluar meninggalkan Jacobie dan Zeyra.


Namun belum sempat Delon keluar dari pintu Jacobie sudah lebih dulu melangkah cepat meninggalkan mereka dan menerobos tubuh Delon yang sudah mendekati pintu.


Tanpa bisa Delon menahannya kini Jacobie sudah pergi keluar ruangan dengan langkah cepat dan terlihat penuh kemarahan.


Sebenarnya Jacobie tidak sebenci itu pada Zeyra namun rasa bersalahnya karena ialah Zeyra menjadi korban dan setiap kali Jacobie melihat perut Zeyra yang semakin besar hatinya begitu tersakiti.


"Abang!" teriak Zeyra yang tidak di tanggapi oleh Jacobie.


"Hiks...hiks...hiks." Suara tangis Zeyra pecah memenuhi ruangan kerja itu


Tubuhnya lagi-lagi melemas dan tersungkur ke dasar lantai karena tidak kuat menahan kesedihannya, belum sempat Zeyra menyentuhkan tubuhnya ke lantai Delon sudah dengan sigapnya menangkap tubuh wanita itu.


"Zey, bertahanlah kita akan pergi dari sini." ucap Delon yang menggendong tubuh Zeyra.


Zeyra yang berada di dalam gendongan Delon hanya bisa menatap wajah pria tampan itu tanpa suara dan kedua tangannya sudah melingkar sempurna di leher Delon.

__ADS_1


Semua karyawan yang berada di dalam kantor itu menatap ke arah Delon dan Zeyra, ada yang menatap dengan tanya dan ada juga yang menatap tajam.


Banyak wanita yang menggemari para pekerja Afly namun para karyawan tidak pernah mendapat kesempatan untuk dekat sedikit pun pada mereka.


Tentu saja sangat sulit karena di kantor itu Alfy sudah memberi ketetapan untuk para pekerja wanita tentu akan di beri ruangan paling dasar dan mereka tidak boleh berada di lantai atas.


Lantai atas adalah tempat seluruh pengacara dan para kepercayaan Alfy bekerja dan tentu ruang kerja Alfy juga di sana.


Dengan cepat Delon melangkah menggendong tubuh Zeyra menuju mobilnya dan melajukan kendaraan itu ke arah rumah mereka.


Sepanjang jalan Zeyra terus menangis begitu terlihat sakit saat mengetahui Jacobie yang tidak ingin berbicara padanya lagi. Ia terus memutar ulang ingatannya saat di ruang kerja tadi baru kali ini Zeyra di perlakukan seperti itu oleh Jacobie.


Begitu juga dengan Jacobie yang sedang duduk di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan, beberapa kali ia memukul setir mobil untuk melampiaskan emosinya.


Kali ini Jacobie benar-benar tidak berdaya karena apa pun yang ia lakukan tidak akan merubah segalanya, Zeyra tetaplah menjadi wanita yang mengandung tanpa seorang suami.


"Mengapa ini semua terjadi padanya?" gumam Jacobie yang sangat marah dan meremas kepalanya dengan begitu keras.


Sedangkan Zeyra yang terus menangis kini menyandarkan kepalanya di bahu Delon yang sambil tetap fokus menyetir mobilnya.


Perlahan Delon mengelus kepala Zeyra dengan lembutnya dan perlakuannya itu tanpa sadar membuat Zeyra merasakan ketenangan.


Di rumah sakit kini Dokter spesialis kulit memeriksa keadaan seorang wanita yang sejak datang sudah terus berkata-kata tanpa sabar.


"Dokter cepat dong periksa kulit gue!" ucap Wenda yang terdengar sangat tidak sopan.


Dokter dengan sigap langsung memperhatikan keadaan kulit Zeyra yang tampak jauh dari kata alergi seperti yang di duga oleh Nakula.


"Gimana Dok?" tanya Wenda tanpa sabar.


"Nona Wenda sepertinya kita harus memeriksa lebih dalam lagi bukan hanya memeriksa kulit anda." jelas Dokter.


Kini Nakula di panggil oleh Dokter ke ruangannya sementara Wenda yang masih terbaring di ruang periksa tampak kesal karena proses pemeriksaan yang lambat menurutnya.


"Ada apa Dok?" tanya Nakula.


"Anda suaminya?" tanya Dokter balik tanpa menjawab pertanyaan Nakula.


"Iya Dok." ucap Nakula yang merasakan jawaban itu adalah yang paling aman saat ini.


Akhirnya Dokter menjelaskan bahwa ada kemungkinan dari keluhan diare Nyonya Wenda dan melihat gejala bintik ungu di kulitnya seperti gejala yang di akibatkan oleh penderita HIV.

__ADS_1


"HIV, Dok?" suara Nakula yang terkejut tidak percaya.


"Tunggu Tuan, ini masih kemungkinan." ucap Dokter yang berusaha menenangkannya.


Nakula yang syok hanya diam sambil menggelengkan kepalanya karena hal itu benar-benar di luar dugaannya dan tentu ada kecemasan tersendiri baginya.


Entah jika memang Wenda menderita HIV apakah dia juga terkena karena Wenda selalu melakukan hubungan dengannya.


"Kami membutuhkan waktu untuk bisa mendeteksi penyakit ini, Tuan." ucap Dokter.


"Lakukan saja Dok." pintah Nakula dengan tatapan kosong.


Dokter dengan tegas menjelaskan pemeriksaan yang akan di lakukan yang pertama adalah tes antibodi dengan mengambil sampel darah dari pasien.


Kemudian ia akan melakukan tes kombinasi yang di perkirakan tidak secepat ter antibodi dan setelah itu pihak rumah sakit akan melakukan tes NAT.


Nakula yang mendengar semua penjelasan Dokter dengan cepat menyuruh Dokter untuk segera melakukannya dan ia merasa ingin menjauh untuk sementara dari Wenda.


"Dok, saya ingin periksa dengan benar." ucap Nakula.


"Tentu Tuan." jawab Dokter.


Setelah dari ruangan Dokter kini Nakula berjalan dengan langkah yang tidak bersemangat wajahnya tampak lemas dan khawatir.


Tentu Nakula bukan mengkhawatirkan Wenda namun ia mengkhawatirkan dirinya sendiri bagaimana jika memang Wenda menderita HIV, tentu ada kemungkinan besar ia juga menderita penyakit itu.


"Ada apa?" tanya Wenda yang tampak penasaran.


Nakula yang hanya terdiam enggan menjawab dan memilih untuk mengacuhkan Wenda, beberaoa menit kemudia Dokter pun tiba dan membawa beberapa alat untuk mengambil sampel darahnya.


Setelah mengambil sampel darah kemudian Wenda mendapat perawatan khusus di ruangan itu dan kini tangan Wenda sudah menempel jarum infus.


"Nyonya, untuk saat ini kami belum bisa menjelaskan tentang penyakit dan kami akan menjelaskan saat hasil pemeriksaan sudah keluar." ucap Dokter dengan ramahnya.


Wenda yang mendengarnya hanya terdiam lemas tanpa merespon pada Dokter, kini ia terlihat tidak begitu khawatir karena bayangannya hanya penyakit biasa saja.


Hai readersku semua apakah kalian masih di sini setia menunggu kelanjutan episodenya? author berharap begitu yah karena kalian adalah penyemangat author untuk terus belajar berkarya dengan baik meskipun saat ini jauh dari kata baik hehe. Selamat membaca yah.


 


 

__ADS_1


__ADS_2