Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Shopping


__ADS_3

Setelah percakapan mereka yang begitu lama kini Jee tersadar arti ucapan Alfy yang tampak memperingati dirinya.


“Aku minta maaf.” Ucap Jee memeluk tubuh Alfy.


Melihat reaksi istrinya Alfy segera tersenyum dan membalas pelukan istirnya kemudian mengelus lembut kepala Jee.


“Memangnya kamu saja yah yang bisa mengerjaiku? Aku juga bisa sayang.” Gumam Alfy sembari tertawa dalam hati.


Mengingat kejadian di mall sampai kejadian di rumah sakit sebenanya Alfy tidak sebodoh itu bisa percaya dengan istrinya, hanya saja ia ingin mengikuti permainan Jee. Dan untuk Dokter Adeline tentu Alfy mengingat


kerja sama kedua wanita itu.


Jee sama sekali tidak menyadari dengan keanehan-keanehan hari itu, sangat tidak pernah Alfy bisa setenang itu saat di kerumuni dengan para wanita. Biasanya Alfy selalu melempar tatapan tajam pada mereka namun hari itu Alfy berusaha keras untuk terlihat senang saat di rebutin wanita.


“Jadi bagaimana rasanya cemburu?” tanya Alfy.


“Mengapa kau menanyakannya padaku?” Jee justru bertanya kembali pada Alfy.


“Tidak enak kan? Begitulah yang ku rasakan tiap kali para pria menatapmu dengan pakaianmu yang sangat terbuka itu.” Ucap Alfy.


Jee yang merasa bersalah kini terdiam dan berfikir untuk merubah penampilannya meskipun tidak bisa sepenuhnya yang penting ia tidak terlalu memakai pakaian sangat terbuka seperti biasanya.


“Baiklah, ayo kalau begitu temani aku belanja pakaian. Tapi aku tidak mau seperti yang kau pilihkan biarkan aku kali ini yang memilih.” Ucap Jee.


“Oke sayang.” Jawab Alfy bersemangat.


Alfy dan Jee menuruni anak tangga dan melihat keluarganya yang sedang berada di ruang tengah dan menunggu makan malam di hidangkan.


“Kalian mau kemana?” tanya Tuan Indrawan.


“Mau ke mall Pi, Jee ingin belanja.” Jelas Alfy.


“Bukannya kemarin sudah ke mall?” tanya Nyonya Flora lagi.


“Kemarin tidak jadi belanja, Mi.” Sahut Alfy.


Alfy dan Jee sekalian berpamitan untuk makan di luar saja karena takut kemalaman jika menunggu makan di rumah lagi. Lagi pula restoran dan mall itu berada di jalan yang searah, jangan berfikir jika Alfy akan membawa istrinya makan di tempat lain tentu hal yang mustahil.

__ADS_1


Malam itu Jee tampak semangat memilih baju, ini kali pertamanya ia pergi belanja bersama sang suami, biasanya selalu Nyonya Flora yang menemaninya berbelanja atau para sahabatnya. Kali ini Alfy sudah tidak seheboh hari itu lagi saat melihat baju-baju yang di pilih Jee.


Semua tampak biasa tidak ada model pakaian yang seperti kekurangan bahan di pilihnya. Jee memilih baju yang tidak terbuka meski pun masih terbilang membentuk bodynya setidaknya bisa ada ruang yang longgar sedikit.


“Yang ini, yang ini dan yang ini.” Ucap Jee menunjuk beberapa baju dan meminta pelayan mengemasinya.


“Hanya itu, sayang?” tanya Alfy yang ingin mengeluarkan kartu kreditnya.


“Memangnya kurang yah?” tanya Jee lagi.


“Iya, ayo cari lagi yang banyak.” Jawab Alfy sambil tersenyum.


Jee memang tidak pernah menolak jika itu mengenai belanja hal sangat ia sukai. Seketika pelayan di toko itu takjub melihat betapa royalnya pria di depannya ini pada pasangannya. Tak heran jika mereka memandang Alfy penuh rasa keinginan.


“Oke ayo kita ke tempat lainnya.” Ajak Jee dengan menarik tangan Alfy.


Kali ini hanya satu orang yang ikut bersama Alfy dan Jee, ia adalah orang yang di percaya Jacobie untuk membantu Tuannya. Tangannya sudah tampak penuh dengan beberapa tas belanjaan, semua barang tampak bermerek dan tentu harganya terbilang fantastis. Jee memiliki selera belanja yang sangat tinggi.


Tetapi Alfy tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena sifat istrinya tidak pernah mau meminta pada Alfy jika tidak di berikan lebih dulu.


Malam itu berakhir dengan cepat setelah mereka selesai pergi berbelanjan Alfy yang ingin mampir di restoran mendadak di tolak oleh Jee.


“Ada apa sayang?” tanya Alfy yang heran.


“Tidak, pokonya kita makan di rumah saja.” Bantah Jee.


Alfy yang baru tersadar dengan kejadian di restoran itu kini melajukan mobil menuju rumah utama, tidak butuh waktu lama mereka pun sampai dan segera meminta Bi Ria menyiapkan makanan.


“Loh kalian makan di rumah?” tanya Nyonya Syein.


“Iya Mah, Jee ingin makan di rumah saja katanya.” Jawab Alfy sambil menelan makanan di tenggorokannya.


Jee hanya terdiam sambil terus makan tanpa mau menjelaskan apa alasannya, ia tidak ingin makan di restoran itu tentu rasanya sangat takut jika suaminya menjadi bahan incaran para wanita.


***


Di sebuah kantor yang terlihat sudah padam lampunya dan hanya satu ruangan yang masih terlihat menyala. Tampak seorang pria yang sedang menikmati isapan rokok di mulutnya sembari menatap ke arah langit ruangan itu.

__ADS_1


Tatapan matanya begitu kosong, tiba-tiba datang seorang pria yang nampaknya memang sedang di tunggu kedatangannya.


“Permisi Tuan.” Ucap pria itu.


“Bagaimana?” tanya seorang pria itu yang tampak menunggu kabar darinya.


Dengan cepat pria itu menyodorkan map yang berisi tentang data seorang wanita yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, dan ada juga lampiran foto seorang gadis yang tidak lain adalah anaknya.


Dia adalah Tuan Farhan, paman dari Wenda yang tengah mencari tahu keberadaan mantan kekasihnya sebelum ia menikah dengan Nyonya Melly. Matanya menatap tidak percaya melihat data diri anak gadis yang merupakan anak dari wanita itu.


Namanya adalah Syafirah, ia berpacaran dengan Tuan Farhan cukup lama sampai mereka hidup layaknya pasangan suami istri. Namun karena perjodohan Tuan Farhan dengan Nyonya Melly membuat Syafirah terpaksa meuruti permintaan Nyonya Melly untuk meninggalkan pria itu.


Tanpa mereka ketahui saat kepergian Syafirah, ia tengah mengandung anak dari Tuan Farhan, dan saat ini semua masih belum jelas.


“Anak ini...” ucapan Tuan Farhan tergantung saat melihat data tahun kelahiran putri dari Syafirah.


“Wanita ini tidak pernah berhubungan dengan pria mana pun selain anda Tuan.” Jelas orang itu.


Tuan Farhan yang mendengarnya semakin yakin jika gadis yang ada di foto itu adalah putrinya, tentu Tuan Farhan sangat mengenal Syafirah tidak semudah itu ia bisa melupakan dirinya.


“Baiklah, kalau begitu cari tahu semua tentang gadis ini.” Pintah Tuan Farhan.


Dengan segera pria itu meninggalkan ruangan dan menyisahkan sebuah dokumen yang masih di pegang erat dengan Tuan Farhan. Matanya terus memperhatikan foto anak gadis dan menempelkannya bersampingan dengan sang Ibu. Wajah keduanya sangat mirip dan terlihat cantik.


“Sya, apa benar dia anak kita?” gumam Tuan Farhan.


***


Keesokan harinya Jee yang masih belum bangun karena sedang kosong jadwal kuliah mendapat kunjungan dari sahabatnya Sisil.


“Tan, apa Jee di rumah?” tanya Sisil yang mengejutkan Nyonya Flora dan Nyonya Syein yang tengah sibuk di dapur dengan para pelayan.


“Eh Sisil, Jee ada sebentar yah Tante panggilin.” Jawab Nyonya Syein.


Sembari menunggu Jee, kini Sisil ikut ramai di dapur menonton segala keriwuhan para wanita menyiapkan sarapannya.


Di kamar atas terdengar suara ketukan pintu yang membangunkan tidur kedua pasangan itu. Jee perlahan beranjak turun dari kasur dan membuka pintu dengan lebarnya. Ia tidak sadarr dengan suaminya yang saat

__ADS_1


itu tengah bug*l tanpa di lindungi sehelai kain pun.


“Astaga Jee.” Teriak Nyonya Syein yang menutup matanya saat melihat putranya tertidur layaknya bayi yang tidak mengenakan pakaian.


__ADS_2