
“Ada apa sih?” tanya Wenda yang kesal dan bingung melihat tingkat atasannya.
“Apa yang kau lakukan memberikan nomormu pada sembarangan pria? Kau semurah itu yah menjajakan dirimu dasar tidak ada harga diri sama sekali. Bisa tidak kau sedikit lebih mahal pada pria lain?” tanya Tuan Adelio tanpa hentinya terus menghujani Wenda dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa memberinya waktu bicara.
Wenda yang mendengar seketika merasa sakit yang begitu dalam dadanya seakan terhenti berdegup ia tak menyangka atasannya bisa setega itu berbicara padanya. Tanpa bertanya lebih dulu padanya, Wenda memberinya nomor ponsel semua karena melihat tatapan tajam Tuan Adelio ia tentu berfikir jika atasannya memberi isyarat padanya agar melayani dengan baik.
Tanpa Wenda sangka ia akan mendapat makian sekasar ini dari mulut atasannya, air mata Wenda yang ingin keluar berusaha ia tahan sekuat tenaganya. “Iya Tuan, saya memang begitu murah menjajahkan tubuh saya. Lalu apa urusan anda bukankah yang terpenting adalah bisnis anda lancar bukan begitu Tuan Adelio Sailis?” tanya Wenda terdengar sedikit menekan nada bicaranya saat menyebut nama pria itu.
Setelah sekali berbicara kini Wenda berlari keluar ruangan dan sukses air mata yang sejak tadi ia tahan berjatuhan tanpa bisa ia tahan lagi, beberapa pasang mata tampak penasaran dengan yang terjadi di ruangan Tuan Adelio terlebih lagi mereka baru saja menyaksikan Wenda yang sedang menangis.
“Wenda, kau tidak boleh lemah. Kemana Wenda yang kuat?” gumam Wenda sembari beberapa kali ia menyeka dengan kasarnya air mata yang berjatuhan entah keberapa kalinya sudah.
Tak lama jam pulang kerja kini tiba, Wenda yang sudah merasa telah menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat bergegas dari meja kerja ingin pulang. Namun belum sempat ia meninggalkan ruangan, tangan Tuan Adelio sudah lebih cepat meraih pergelangan tangannya. Menarik kasar sampai mereka tiba di depan mobil dan mendorong Wenda masuk ke mobilnya.
“Tuan, saya ingin pulang lepaskan saya!” teriak Wenda yang beberapa kali berusaha melepaskan genggaman erat yang melingkar di tangannya.
Pria itu enggan bersuara ia hanya terus memegang tangan Wenda sambil menyuruh supir pribadinya melajukan mobil. Selama di perjalana Wenda enggan untuk berbicara lagi, “Ini ganti ponselmu yang yang tadi.” ucap Tuan Adelio sambil menyodorkan kotak yang berisi ponsel baru dengan harga yang fantastis.
Mata Wenda terkejut melihat benda mewah yang terbilang mahal itu, tak sebanding dengan ponsel yang ia rusak tadi tentunya. “Maaf, saya tidak perlu Tuan. Saya akan membelinya sendiri.” tolak Wenda dengan beraninya
“Kau menolakku yah?” tanya Tuan Adelio terdengar tajam.
“Memangnya apa lagi jika bukan menolak dasa bodoh pake bertanya lagi.” umpat kesal Wenda dalam hati dengan sorot mata yang tajam ke arah pria itu.
“Cepat ambil ini.” ucap Tuan Adelio dengan memaksa tangan Wenda mengambilnya.
__ADS_1
Wenda yang melihat arah jalan sepertinya mereka sedang menuju rumahnya, “Mengapa kita kesini?” tanyanya bingung.
“Memangnya kau mau kemana? Kerumahku?” tanya Tuan Adelio dengan datarnya.
“Ih siapa juga ingin kesana, aku kan bawa mobil dan sekarang mobilku tertinggal di kantor.” sahut Wenda yang tidak terima.
“Mobilmu nanti akan di antar ke rumah, kau tak perlu khawatir.” jawab Tuan Adelio santai.
Wenda merasa benar-benar bingung dengan perlakuan pria ini, entah apa maksudnya begitu mengekang Wenda ini dan itu. Apa sebenarnya Wenda di mata pria ini? Apa hanya sebatas mainan yang bisa ia marahi ketika ingin melampiaskan dan bisa ia atur semaunya meski pun di luar jam kerja tentunya. Wenda tidak tahu lagi, tetapi jika mengingat perlakun Tuan Adelio padanya ada rasa senang tersirat di hati Wenda seolah sedang mendapatkan perhatian dari kekasihnya.
Sesampainya di rumah Wenda segera turun dari mobil, Tuan Rusli melihat kedatangan putrinya yang di antar dengan pria yang tentu ia kenal. Tuan Adelio pernah bertemu dengannya saat acara ulangtahun salah satu perusahaan di Kota itu. Tuan Adelio yang tampak tak mengenal Tuan Rusli hanya menatap sekilas dan bergegas pergi tanpa ada menyapa sekali pun hanya senyum.
“Dasar pria gila.” ucap Wenda yang menatap tajam kepergian atasannya.
“Wenda, mobilnya kenapa?” tanya Tuan Rusli bingung.
Tuan Rusli hanya bisa menyaksikan kejadian aneh di hadapannya tanpa mendapat penjelasan dari Wenda yang kini sudah melangkah masuk ke kamar dengan wajah kesalnya. Ibunya yang melihat merasa penasaran, “Ada apa, Yah dengan Wenda?” tanyanya pada Tuan Rusli.
“Hemmm Ayah juga tidak tahu, Wenda pulang di antar pria dengan wajah tajam seperti itu kemudian mobil Wenda tiba-tiba di antar oleh pria yang Ayah tidak kenal.” jelas Tuan Rusli yang bingung mencerna apa yang ia lihat.
Akhirnya istrinya memilih untuk menghampiri Wenda di kamar. Perlahan ia bertanya apa yang terjadi, Wenda dengan wajah kesalnya menceritakan semua yang terjadi hari itu.
“Kenapa Ibu tertawa?” tanya Wenda yang bingung.
“Lucu sayang, kau itu tidak mengerti yah jika pria itu memperhatikanmu?” ucap Ibu Dayah.
__ADS_1
“Memperhatikanku?” tanya Wenda tampak berfikir keras mengingat perlakuan Tuan Adelio baginya tidak ada masuk kategori memperhatikan. Semuanya terlihat sangat aneh dan memuakkan bagi Wenda. Terlebih lagi mengingat apa itu harus menunggu jemputan darinya berangkat dan pulang kerja.
Memangnya Wenda saat ini bekerja atau sekolah TK yang harus bertingkah layaknya bocah menunggu Ibunya menjemput.
***
“Ayo cepatlah kita akan kemalaman nanti tiba di mall.” ajak Tuan Reindra yang menarik tangan Tuan Indrawan dengan tidak sabarannya.
Kini kedua pria itu berjalan cepat memasuki mobil yang sudah siap mengantar mereka, “Pak ayo jalan cepat!" uca” Tuan Reindra tanpa sabarnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju mall ternama, kedua pria itu tengah berbicara tentang rencana apa saja yang akan mereka belikan untuk calon cucunya.
“Aku sepertinya perlu membelikan tempat tidur yang baru karena yang kemarin kita beli sudah lama sekali pasti bahannya tidak layak untuk di pakai lagi.” ucap Tuan Reindra yang terus berfikir.
“Iya kau benar, lagi pula sepertinya kita perlu memesan yang lebih besar lagi karena kita berdua akan sama-sama menjaganya kan bukan bergantian.” sahut Tuan Indrawan yang tak mau kalah.
Supir di depan hanya tersenyum sesekali menggelengkan kepala, ia heran melihat tingkah majikannya yang terlihat seperti kedua ibu-ibu yang membahas belajaan wanita. Tak membutuhkan waktu lama kini keduanya tiba di mall dengn tergesah-gesah mereka langsung menuju perlengkapan bayi.
“Yah itukan kedua pria yang cerewet dulu yah?” tanya salah satu pelayan di perlengkapan bayi.
“Astaga iya, kau saja yah yang melayaninya aku pusing.” sahut pelayan yang satunya.
“Ah tidak-tidak, kau saja kepalaku ingin pecah rasanya menghadapi permintaan anehnya itu.” jawab pelayan yang tak mau kalah.
Keduanya berdebat cukup lama sampai berdorong-dorongan di depan pintu masuk toko itu. Tanpa mereka sadari Tuan Reindra dan Tuan Indarawan sudah tiba tepat di hadapan mereka.
__ADS_1
“Halo mba-mba manis.” ucap Tuan Reindra dengan genitnya.
“Eh, iya Tu-an selamat datang. Silahkan, ada yang bisa kami bantu?” tanya salah satu dari pelayan itu dengan wajah terpaksa tersenyum.