
Waktu sudah semakin cepat berputar kini Jee sudah waktunya melewati ujian semesternya tanpa sabaran Jee terus memperhatikan hari demi hari di kalender ponselnya.
Hari pertama sudah ia lalui dengan baik berangkat ke kampus dengan di antar oleh Alfy dan pulang juga di jemput oleh Alfy;
Fiky yang sudah pindah dari rumah Alfy pun sudah mulai aktif mengajar kuliah lagi namun tetap dengan bantuan seorang pengawal yang Alfy bayar untuk membantunya.
Meskipun Alfy belum bisa menyukai pria itu tapi tanggung jawab tetaplah Alfy sadari. Sampai akhirnya seminggu terlewati dengan baik hari terakhir ujian semester Jee sudah tiba.
Pagi itu di meja makan keluarga Syein tampak bekumpul ramai sambil menunggu kehadiran putra dan putrinya turun.
"Pagi semuanya." sapa Jee yang baru saja tiba dari atas tangga.
"Pagi sayang." balas sapaan semuanya bersamaan.
Sedangkan Alfy tetaplah pada sikap biasanya cuek bebeknya itu yang membuat tampannya terlihat semakin membuat penasaran wanita saja.
"Jee, hari ini hari terakhir kamu yah ujian?" tanya Nyonya Flora.
"Iya dong Mi." jawab Jee singkat.
"Kerjakan dengan baik, jangan memikirkan yang lain." Alfy mengoceh di samping Jee dengan wajah datarnya sambil terus memotong roti di piringnya.
Jee yang mendengarnya hanya bisa mendengus kasar wajahnya terlihat cemberut.
"Memangnya apa lagi yang ku fikirkan, Han?" tanya Jee tidak mengerti.
"Dosen di hadapanmu nanti." ucap Alfy yang membuat Jee marah.
"Apa sih kau selalu saja menuduh kami seperti itu." Jee yang berhenti makan dengan menatap suaminya.
Nyonya Flora yang melihat pertengkaran kecil mereka hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudah-sudah mengapa kalian jadi ribut pagi-pagi." tegur Nyonya Flora.
"Maaf Mi," ucap Alfy.
Sedangkan Jee sudah enggan mengatakan apa-apa lagi wajahnya terus cemberut bibirnya tampak manyun. Alfy yang melihat bibir istrinya tanpa sadar langsung mendaratkan bibirnya.
"Cup..." kecup Alfy.
Jee yang mendapat serangan dadakan itu matanya melotot tidak percaya dan segera memukul tubuh suaminya.
"Kau tidak melihat ada banyak orang di sini?" Jee yang begitu malu dengan sikap Alfy.
Alfy yang tersadar akan hal itu hanya tersenyum.
"Sejak kapan anak kita tidak sopan seperti ini Pah?" tanya Nyonya Syein.
"Sepertinya Alfy kita perlu pembinaan lagi yah Mah." sambung Tuan Reindra.
"Siapa suruh memanyunkan bibirmu kau sudah tahu kan aku paling tidak bisa melihatnya," bisik Alfy pada Jee yang ternyata terdengar oleh semuanya.
"Ihh... apaan sih." suara Jee menepis wajah suaminya yang dekat dengannya.
__ADS_1
Akhirnya drama pagi pun selesai mereka berangkat seperti biasanya di antar dengan keluarga sampai ke depan halaman lalu Jee pergi bersama Alfy.
Hari itu berlalu begitu saja kini sudah waktunya Jee pulang kuliah, saat di depan kampus Jee tampak berbicara sambil berjalan kaki dengan Sisil, Mira dan Dara.
"Akhirnya kita selesai juga yah dan tinggal skripsi aja lagi," ucap Dara.
"Enaknya yah kalian, coba aku juga sudah skripsi huu." desah Jee kesal karena tidak ada teman kuliah lagi.
Ketiga sahabatnya hanya melirik dan tersenyum.
"Kau lupa yah kami yang bertanggung jawab menemanimu tentu tidak akan sampai di sini saja." ucap Mira.
"Maksudnya?" Jee yang bingung.
"Kami tentu akan mengambil S2 di sini agar tetap bisa menjagamu." lajut Sisil.
Jee yang mendengar pun tersenyum gembira akhirnya ia tidak kesepian lagi dan tidak harus mencari teman baru.
Karena bagi Jee mendapatkan teman di luar sangatlah sulit mengingat dirinya yang memang jarang sekali bergaul dengan orang luar.
Jee yang tampak asyik berbicara tanpa sadar di hadapannya sudah berdiri sosok pria tampan pujaan hatinya itu .
"Ayo pulang." ajak Alfy.
"Aku pulang duluan yah." ucap Jee pada ketiga sahabatnya itu sambil melambaikan tangannya.
Sedangkan Sisil, Mira dan Dara mereka melihat Fiky yang di dorong oleh orang suruhan Alfy segera mereka hampiri.
Fiky yang mendengarnya mendadak menoleh dan menyuruh orang yang bersamanya untuk menghentikan dorongan kursinya.
Ketiga wanita itu kini berdiri di hadapan Fiky sambil tersenyum.
"Bagaimana kabar Kakak?" tanya Sisil yang terlihat sangat akrab.
Sedangkan kedua sahabatnya hanya tersenyum saja mengikuti langkah Sisil.
"Baik, Sil." jawab Fiky dengan tersenyum.
Sisil yang melihat keadaan mereka berbicara tidak enak di depan jalan akhirnya memikirkan sesuatu.
"Bagaimana kalau kita ke kantin dulu yuk." ajak Sisil.
Dan yang lainnya hanya menyetujui saja begitu juga dengan Fiky mereka kini menuju kantin bersama untuk mengobrol sambil makan.
Sedangkan Jee sudah bersama Alfy di dalam mobil wajahnya tampak lelah Alfy bisa melihatnya.
"Putar mobil." perintah Alfy cepat.
Jee yang melihat arah mobil barusan baru sadar jika itu bukan ke rumah utama, dahinya mengerut seketika menatap suaminya.
"Han, bukankah tadi jalur ke kantor yah?" tanya Jee.
__ADS_1
"Hem." jawab Alfy singkat.
"Lalu untuk apa kita ke kantor dan apa ini putar balik lagi?" tanya Jee yang penasaran.
Alfy hanya diam yah memang tadinya ia ingin membawa istrinya untuk menemani di kantor namun setelah melihat wajah Jee yang memucat akhirnya Alfy memutuskan untuk pulang saja.
Wajah Jee terlihat begitu tidak sehat Alfy bisa memastikan hal itu mungkin karena beberapa hari terakhir Jee terlalu berfikir keras saat ujian.
Di kantin Fiky tampak bingung memilih menu makan, Sisil yang melihatnya dengan sigap membantu memilihkan untuknya.
Namun Fiky merasa kurang pas dengan pilihan Sisil yang berbau kuah-kuah itu rasa napsu makannya memanglah belum terlalu baik.
"Kak Fiky coba menu steak terbaru aja Kak, ada yang enak loh." Darah memecahkan suasana.
Fiky yang mendengarnya tampak penasaran dengan cepat ia menerima daftar menu steak dari tangan Dara.
"Wah iya kamu bener Dara, ini terlihat sangat menarik sepertinya lidahku akan lebih enak sekarang." ucap Fiky sambil menatap daftar itu.
Sisil yang merasa sarannya tidak di terima oleh Fiky mendadak terdiam ia merasa sakit di dadanya karena seperti menerima penolakan dari Fiky.
Kedua sahabat Sisil tidak mengetahui tentang hal itu begitu juga dengan Fiky yang merasa itu hanya soal biasa bukanlah perasaan.
Fiky yang mulai satu selera dengan Dara akhirnya lebih sering berbicara padanya tanpa menghiraukan Sisil entah ada rasa kecocokan apa Fiky pada Dara.
Begitu juga sebaliknya Dara merasa nyambung saat membahas semua pembicaraan pada Fiky yang selama ini ia rasa sangat sulit menemukan teman bicara yang searah.
Tidak beberapa lama makanan pun tiba di meja mereka dengan menu yang berbeda-beda dengan sangat antusias Fiky menunggu makanan yang ia pesan.
Fiky yang mulai memakannya begitu tampak mengangguk takjub dengan rasanya.
"Gimana Kak?" tanya Dara penasaran.
"Gila, inimah lebih dari enak Dar." puji Fiky.
Sedangkan Sisil hanya makan tanpa suara ia enggan berbicara apa pun setelah cukup lama di cuekin.
"Sil, kamu kenapa?" tanya Mira.
Sejak tadi Mira memperhatikan wajah Sisil yang tampak bete berbeda dari awalnya mereka sejak baru tiba di kantin.
"Ah aku nggak apa-apa." jawab Sisil singkat sambil terus makan.
Sedangkan Fiky sibuk berbicara dengan Dara sambil tertawa lucu ada saja yang membuat mereka tertawa.
Sangat terlihat jelas pembahasan mereka bgitu asyik sampai tidak menyadari perubahan sikap Sisil dari tadi yang tidak bersuara.
"Apaan sih Dara kok malah dia yang akrab sama Kak Fiky." gumam Sisil dengan wajah cemberutnya.
Mira yang tidak mengerti hanya memperhatikan gerakan wajah Sisil yang sesekali memandang tajam ke arah Dara dan Fiky.
Halo semuanya apakah kalian masih setia menunggu kelajutan cerita ini? author harap begitu yah. Mohon maaf jika karya ini masih sangat banyak kurangnya apalah daya author yang hanya pemula. Semoga kalian suka yah dan jika ada masukannya dengan senang hati author terima kok.
Selamat membaca readersku sayang dukung terus author yah jangan lupa untuk like dan komennya. Terimakasih
__ADS_1