
“Aku akan masuk bersamamu.” ucap Alfy dengan menggandeng tangan istrinya menuju lift.
“Kau mau masuk, Sayang?” tanya Jee yang tidak percaya dengan indera pendengarannya.
Sepertinya Jee lupa siapa pemilik kampus yang ia tempati untuk menempuh pendidikan itu mengapa harus meragukan kepemilikan suaminya.
“Yah, aku mendapat undangan untuk mengisi sambutan nanti.” ucap Alfy yang terus melangkah tanpa memandang wajah istrinya.
“Mampus lah aku, aduh bagaimana ini? hahh belum legah masalah yang satu sudah ada lagi masalah ini.” ucap Jee dalam hati.
Alfy merasa ada tingkah mencurigakan dari sang istri namun tetap berusaha terlihat tenang karena ia tidak ingin hari itu sifat bodohnya mengganggu konsentrasi Jee. Setibanya di ruang olimpiade yang sudah di persiapkan
kini Alfy yang sudah di sambut dengan hormat di persilahkan duduk ke arah sebelah kanan sementara Jee yang baru saja di persilahkan ke arah kiri seketika tangannya di tahan oleh tangan kekar Alfy.
“Dia ikut denganku.” ucap Alfy pada petugas acara yang menyambutnya.
“Baik, Tuan.” jawabnya dengan sekali menundukkan kepala homat.
Alfy yang menarik tangan Jee untuk ikut duduk bersamanya mendapat tatapan kagum dari beberapa tamu undangan. Sementar Alfy seperti biasanya bertahan dengan tatapan datarnya tanpa mau memandang siapa pun. Kamera terus menyorot ke arah Alfy yang tengah duduk dengan menggenggam erat tangan istrinya.
Sedangkan dari sisi lain tampak sepasang mata yang terlihat tertawa kecil menatap ke arah mereka. “Siapa sih pria itu, mengapa kamera terus menyorotinya?” gumam Ravindra yang tampak penasaran dengan kedudukan Alfy.
“Jika di lihat-lihat dari tempatnya duduk sepertinya dia berperan penting di kampus ini.” lanjut Ravindra lagi.
__ADS_1
Matanya terus memandang Alfy dan Jee yang tampak dekat sekali merasa takjub melihat pemandangan Kakak dan Adik sedekat itu. Ravindra yang sudah terlanjur tergila-gila dengan Jee merasa tertantang untuk
mendapatkan restu dari Alfy. Tampaknya kali ini ia harus berusaha lebih keras lagi di bandingkan dengan mendapatkan wanita-wanita sebelumnya.
Setelah para peserta hadir dan tamu undangan kini acara olimpiade di buka dengan beberapa kata-kata pembukaan dari mc. Setelah beberapa lama kini saatnya untuk Alfy maju ke podium memberikan sambutan untuk para peserta yang mengikuti olimpiade tersebut.
“What? Kakaknya gadis itu ternyata-“ (ucapan Ravindra menggantung tanpa ia lanjutkan lagi rasanya tidak percaya jika Alfy adalah pemilik kampus yang ia tempati menuntut ilmu kali ini).
Beberapa menit Alfy memberikan sambutan sampai akhirnya acara pun di mulai, Jee yang di persilahkan naik bersama teamnya dan juga beberapa peserta yang berasal dari kampus lainnya. Langkah wanita itu perlahan naik dengan terlihat sedikit ragu menatap ke arah Alfy. Alfy yang belum menyadari hanya terus memberikan senyuman semangat pada istrinya.
Dan tak lama kemudian sampailah Jee di atas podium kemudian di susul oleh seorang pria tampan yang melihatkan senyumannya ke arah seisi ruangan itu.
Mata yang tadinya begitu terpancar dengan aura ketenangan dengan cepatnya berubah menjadi tatapan yang begitu sangat tajamnya. Jee menyadari tatapan suaminya berubah padanya, perasaannya hari itu benar-benar tercampur.
Tanpa ia sadari mata Jee yang terarah ke Alfy terus semakin ketakutan ia benar merasa bersalah karena tidak jujur pada suaminya. Tepukan tangan yang baru saja terdengar meriah seketika terhenti ketika melihat Alfy ikut naik ke atas podium dengan membawa kursi untuk ia duduki.
“Geser.” pintah Alfy pada Ravindra.
“Kau tidak salah menyuruhku bergeser?” tanya Ravindra yang tampak bingung.
Bukannya menjawab justru Alfy melemparkan pandangan kemarahan ke arah Ravindra, seketika pria itu menggeser kursinya memberikan celah untuk Alfy masuk di tengah-tengah mereka. Panitia yang merasa bingung dengan sikap Alfy dengan ragu mendekat.
“Maaf, Tuan Alfy apakah anda tidak salah duduk disini?” tanyanya dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
“Jika tidak boleh, batalkan saja olimpiade ini.” ucap Alfy dengan kasarnya.
Jee, Ravindra dan panitia itu mendengar ucapan Alfy seketika terkejut tidak percaya bagaimana bisa ia berkata dengan mudahnya tanpa mempertimbangkan semuanya terlebih dulu. Melihat kemarahan Alfy, Jee sama sekali tidak berani untuk melontarkan satu kata pun padanya.
“Aku akan mengawasi mereka berdua demi kelancaran olimpiade ini.” lanjut Alfy yang tetap bersih keras untuk duduk di tengah-tengah Jee dan Ravindra.
Panitia yang merasa ragu akhirnya turun dari podium dan meminta ijin pada ketua pelaksana acara tersebut. Mau tidak mau mereka tentu harus mengijinkan Alfy tetap berada di atas dari pada semua acara yang sudah mereka susun dengan baik beberapa bulan lamanya gagal begitu saja.
Akhirnya kompitisi hari itu di mulai, beberapa jam berlangsung dengan baik Jee dan Ravindra bekerja sama dalam mengerjakan soal dengan percakapan yang tidak berdekatan. Sedikit sulit untuk mereka berdiskusi namun ketakutannya Jee pada Alfy membuatnya terpaksa harus bisa melewati kesulitan itu.
Kompetisi hari itu akhirnya selesai dengan baik, kini tiba waktunya untuk menunggu hasil dari penilaian para juri. Alfy yang tidak lagi fokus dengan acara itu terlihat tampak gelisah ingin membawa istrinya segera pulang.
“Lakukan penjurian dengan cepat, saya ingin acara ini cepat berakhir.” pintah Alfy pada panitia.
Mereka yang mendengar perintah Alfy tampak sibuk, bagaimana mungkin acara seperti itu semaunya saja ia menyelesaikan. Baiklah kali ini kekuasaan lagi-lagi mengalahkan semuanya demi berlangsungnya kerjaan mereka akhirnya mau tidak mau harus bisa memenuhi permintaan Alfy. Selang berapa menit kemudian pemenang lomba pun sudah di umumkan. Juara ketiga di raih oleh kampus x dan juara kedua di raih oleh kampus c, kemudian juara pertama yang terakhir kali di sebut di raih oleh kampus d yaitu kampus yang di miliki Alfy.
Jee yang begitu senang mendengarnya tanpa sengaja kembali melempar senyuman pada Ravindra, berkat kerja sama merekalah hari ini Jee bisa mendapat kesempatan untuk menang dan membuat suaminya bangga padanya. Namun sebaliknya, ekspresi Alfy yang begitu jauh berbeda dari Jee membuat perasaan wanita itu sedikit kecewa. Kembali lagi ia mengingat masalahnya hari ini tentu tidak akan berakhir begitu saja.
Jee akan mengahadapi kemarahan Alfy setelah acara ini selesai tentunya. Setelah pengumuman pemenang di umumkan dan penerimaan penghargaan kini semua peserta sudah di perbolehkan untuk meninggalkan ruangan begitu juga dengan Jee yang sudah di tarik pulang oleh Alfy.
“Masih ada ternyata Kakak segalak itu, bisa-bisa adik lu perawan tua bro.” ejek Ravindra yang menatap punggung keduanya dari kejauhan.
Kini di perjalanan pulang Jee dan Alfy hanya berdiam dengan di temani suara mobil yang melaju menuju rumah utama. Alfy kali ini tidak mengatakan apa pun yang ada di hatinya, perasaan pria itu benar-benar kecewa dengan
__ADS_1
istrinya. Biasanya tiap kali Alfy marah ucapannya selalu terdengar di telinga Jee. Hal itu membuat Jee semakin takut karena kemarahan suaminya kali ini memang terlihat tidak seperti biasanya.