Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Panik


__ADS_3

Di sebuah kamar kini Alfy tengah terlihat panik seluruh tubunya bergemetar.


"Apa yang sakit?" tanya Alfy pada Jee.


"Tidak ada, memangnya kenapa?" tanya Jee balik.


"Astaga apa kau keguguran?" tanya Alfy yang membuat Jee tampak heran.


Dengan cepat Jee menoleh ke bawah mengikuti tatapan suaminya yang dari tadi terus bertanya pada Jee sambil memegang ponselnya.


Alfy seperti sedang berusaha menghubungi seseorang dari ponselnya. Jee yang melihat darah di bawah hanya merasa kesal dengan sikap Alfy yang terlalu berlebihan.


"Ini yang kau maksud keguguran yah?" tanya Jee.


"Iya, mengapa kau begitu santai? sudah diamlah jangan banyak bicara!" perintah Alfy tanpa mengijinkan Jee menjelaskan padanya.


"Kemana dia? astaga!" gerutu Alfy yang mulai kesal.


Kini Alfy berlari membuka pintu kamar untuk memanggil seorang pelayan tanpa keluar dari kamarnya karena khawatir jika Jee mengalami hal yang tidak ia inginkan.


"Pelayan!" teriak Alfy.


Tidak butuh waktu lama pelayan pun datang sambil berlari menuju sumber suara.


"Ada apa Tuan?" tanya pelayan itu.


"Cepat cari Dokter Adeline sekarang!" pintah Alfy tanpa basa basi.


Jee yang mendengarnya hanya bergeleng kepala saja lagi-lagi ia melihat sifat bodoh suaminya yang tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya.


Namun seketika ia terkejut menyadari Alfy menyebut nama Dokter Adeline, apa kali ini Jee tidak salah dengar dengan nama itu.


Baru saja kaki Jee ingin melangkah turun dari kasur, Alfy sudah lebih dulu melihatnya dan berteriak.


"Berhenti!" teriak Alfy.


Jee yang kaget dengan nada tinggi suara Alfy segera berhenti bergerak dan kembali duduk di kasur. Alfy menatap kesal pada Jee yang tidak mau mendengarkan perintahnya.


Kini langkah Alfy mendekat pada Jee dengan terus menatap penuh kekhawatiran tanpa sabar Alfy segera memeluk tubuh istrinya menangis.


"Bertahanlah untukku! katakan apa yang sakit? Dokter akan segera datang." ucap Alfy.


"Astaga apa yang kau lakukan?" tanya Jee.


"Ayo berbaringlah!" perintah Alfy dengan pelan pada Jee sambil sesekali ia menatap ke arah pintu menunggu kehadiran Dokter Adeline.


"Permisi Tuan." ucap Dokter Adeline dengan paniknya.


"Cepat tangani Jee, dia sepertinya keguguran seperti sebelumnya, Dok." ucap Alfy yang dengan pandainya menganalisa.


Dokter Adeline yang terkejut mendengar ucapan Alfy langsung melempar pandangan pada Jee dalam arti meminta penjelasan.

__ADS_1


Jee yang ingin menjawab belum sempat berbicara sudah di dahului dengan teriakan Alfy lagi.


"Lakukan sekarang, Dok! mengapa kau melamun?" teriak Alfy yang mengejutkan Jee dan Dokter Adeline bersamaan.


"Baik Tuan." jawab Dokter Adeline.


"Permisi Nyonya, saya akan memeriksanya." ucap Dokter Adeline.


"Dok, saya hanya halangan." bisik Jee pada Dokter Adeline.


"Apa?" Dokter Adeline yang terkejut tanpa bisa mengendalikan suaranya.


Alfy yang mendengarnya terkejut dan penasaran mengapa Dokter itu berani meninggikan suaranya pada Jee.


"Apa yang kau lakukan Dok?" tanya Alfy kesal.


"Ma-af Tuan, Nyonya bukan sakit atau keguguran, namun ini memang penyakit bulanan wanita." ucap Dokter Adeline memberi penjelasan pada Alfy.


"Apa? penyakit bulanan katamu?" tanya Alfy dengan wajah terkejutnya.


Ia tidak habis fikir jika istrinya memiliki penyakit bulanan yang selama ini di biarkan saja tanpa di beri pengobatan.


"Astaga mengapa bodoh sekali mulutku ini, mengapa aku bilang penyakit? tentu hal ini tidak akan berenti di sini saja." gumam Dokter Adeline yang menyadari tingkah Tuannya itu.


"Cepat obati jika tidak aku akan membawa Jee keluar dari pulau ini sekarang juga!" ucap Alfy dengan penuh emosinya.


"Baik Tuan." jawab Dokter Adeline.


Baru saja Dokter Adeline ingin membawa Jee ke kamar mandi lagi-lagi Alfy berteriak.


"Maaf Tuan, saya akan membantu Nyonya membersihkan darahnya." jelas Dokter Adeline.


"Lakukan di situ saja." pintah Alfy dengan wajah dinginnya.


Dokter Adeline yang merasa kali ini harus ekstra lebih sabar untuk menghadapi sikap pria di hadapannya itu.


"Bagaimana aku akan di bersihkan jika ada kau di sini?" ucap Jee yang merasa kesal dengan perdebatan Dokter Adeline dengan Alfy sejak tadi yang tidak kunjung usai.


Mendengar ucapan Jee akhirnya Alfy keluar dari ruangan dengan wajah kesalnya menatap Dokter Adeline dengan tajamnya.


Setelah memastikan Alfy keluar dari kamar, kini Jee dengan cepat bergegas ke kamar mandi tanpa di temani oleh Dokter Adeline.


Cukup lama Jee membersihkan tubuhnya dari darah, kini ia keluar dengan wajah malu pada Dokter Adeline.


"Maafkan suamiku, Dok." ucap Jee tersenyum kecil.


Tidak apa-apa Nyonya, hal yang wajar jika pria tidak memahami tentang pertumbuhan wanita." ucap Dokter Adelie tersenyum menahan tawa.


"Oia bagaimana bisa Dokter ada di sini? bukankah waktu Mami dan Papi kembali ke Kota anda juga ikut?" tanya Jee yang penasaran.


Namun Dokter Adeline masih enggan menjawabnya dan memilih tersenyum lalu pergi meninggalkan Jee sendirian di kamar.

__ADS_1


"Tuan sudah selesai." ucap Dokter Adeline.


Alfy yang dengan cepatnya langsung masuk ke kamar, wajahnya tampak khawatir terlebih lagi melihat Jee yang berdiri tegak di sebelah kasur dengan tatapan datarnya.


Karena Jee masih menunggu jawaban dari Dokter Adeline yang kini telah meninggalkannya di dalam kamar dengan pertanyaan di fikirannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Alfy yang panik lalu menggendong tubuh istrinya ke kasur.


"Ada apa?" tanya Jee.


"Jangan turun dari kasur, aku akan menggendongmu jika kau ingin keluar." ucap Alfy.


"Untuk apa?" tanya Jee lagi.


"Sudahlah menurut saja padaku, nanti kau berdarah lagi." ucap Alfy.


"Astaga ini hanya tamu bulanan, dan yang kau fikirkan tadi tentang aku keguguran itu salah." jelas Jee.


"Apa maksudmu tamu bulanan?" tanya Alfy.


Wajah Alfy tampak kesal membayangkan jika istrinya memiliki tamu setiap bulan yang selalu membuatnya terluka hingga berdarah seperti itu.


Dengan cepat Alfy meraih ponselnya dan menghubungi keamanan di resort mereka.


"Perketat keamanan di sekeliling ini!" perintah Alfy melalui ponselnya.


"Baik Tuan." jawab pria di seberang sana.


Jee yang mendengarnya merasa bingung mengapa suaminya memerintah para keamanan untuk memperketat penjangaan, apa ada yang terjadi lagi pada mereka sehingga Alfy begitu khawatir.


"Apa yang kau lihat?" tanya Alfy yang melihat tatapan Jee bertanya-tanya padanya.


"Em tidak, aku hanya penasaran apakah terjadi sesuatu di luar sana sampai kau ingin mereka perketat penjagaan?" tanya Jee.


"Tentu semua yang berkaitan denganmu akan menjadi sesuatu yang sangat penting bagiku, apalagi sampai kau berdarah seperti tadi." ucap Alfy dengan wajah khawatirnya.


Kini Alfy memeluk erat tubuh Jee sambil mengecup kepala Jee dengan lembutnya, ia merasa sangat khawatir kali ini jika terjadi sesuatu pada Jee lagi.


"Aku tidak akan membiarkan setetes darah keluar lagi dari tubuhmu." bisik Alfy yang membuat Jee mulai tersadar dengan kesalahpahaman ini.


"Astaga, sepertinya kau salah paham." ucap Jee dengan suara terkejutnya.


"Salah paham apa?" tanya Alfy dengan ekspresi datarnya.


"Aku berdarah itu merupakan proses bagi setiap wanita." jelas Jee.


Hai semuanya cerita tentang Tuan Alfy yang polosnya sampai di sini duluyah, selamat membaca.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2