Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Honey Moon kedua


__ADS_3

Di ruang persidangan hawa sudah semakin panas sama sekali tidak ada kebenaran yang membela Nona Friska dengan berat hati hakim ketua mutuskan hukuman Nona Friska ia mendapat hukuman sepuluh tahun penjara dengan denda dua koma lima triliun.


Ketukan palu terdengar menutup persidangan itu Alfy tampak legah kini pemberitaan tentang dirinya sudah kembali menghapus rumor buruk tentangnya sebulan lalu.


Di luar Jee sudah menunggu suaminya dengan tersenyum bangga pada Alfy yang baru saja keluar dari ruangan itu sedangkan Nona Friksa sudah di tuntun oleh beberapa petugas polisi dengan kondisi tangan yang sudah terborgol.


Matanya sembab karena menangis tiada hentinya kini ia benar-benar terjatuh ke dasar jurang yang amat dalam tidak ada satu pun yang ada di pihaknya.


"Dasar tidak tahu terimakasih," gumam Nona Friska mengingat Bram dan Nakula yang sudah di pekerjakan dan mendapat fasilitas darinya.


Entah kemana perginya kedua pria pengkhianat itu yang jelas mereka pergi bukan tanpa alasan karena mereka sudah jelas tidak akan mendapatkan biaya dari Nona Belanda itu.


Selamat mendekam di penjara Nona Friska yang terhormat anda memanglah wanita yang cukup terhormat karena tidak suka menjadi pelakor.


Namun kelicikan anda membuat semuanya kacau kekayaan yang anda miliki sekejap hilang karena niat anda ingin menjatuhkan seorang pengacara yang sama sekali bukanlah tandingan anda tentunya.


Semua kini sudah kembali ke rumah masing-masing begitu juga dengan Delon dan Jacobie mereka kembali ke kantor.


Namun Delon yang hendak melangkah menuju mobilnya di panggil oleh Alfy karena ada yang harus ia ambil di rumah dokumen penting.


Akhirnya Jee pulang bersama Delon, Pak Deni, dan Alfy mereka satu mobil menuju kediaman Syein Biglous sedangkan Jacobie melajukan mobilnya ke kantor.


Sesampainya di rumah Delon mengambil dokumen yang di suruh Alfy setelah itu ia pergi ke kamar rumah belakang untuk berganti baju karena rasanya hari itu sangatlah gerah.


"Uweeeekkk....uweeekkk." Delon terkejut sedang mendengar suara wanita muntah-munta.


Perlahan ia mendekat ke depan kamar itu terus berulang suara muntahan itu akhirnya dengan cepat ia membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci.


"Nona, anda tidap papa?" tanya Delon panik.


"Eh, iya aku tidak papa." jawab Zeyra yang kaget melihat kehadirannya.


Melihat wajah wanita itu sangat pucat Delon tampak khawatir namun Zeyra meyakinkan dirinya bahwa hanya masuk angin saja.


Setelah yakin akhirnya Delon bergegas keluar dari kamar itu namun belum sempat ia melangkah lebih jauh tiba-tiba.


"Brukkk." Tubuh Zeyra ambruk seketika di depan kamarnya.


Delon yang mendengar sontak terkejut menatap ke arah Zeyra ia berlari dengan cepatnya menghampiri wanita itu lalu menggendongnya.


Wajah Delon begitu panik akhirnya ia menggendong Zeyra ke dalam mobil lalu berlari ke rumah utama.


Di rumah utama tampak berkumpul keluarga besar itu dengan tawa dan obrolan yang begitu hangat Alfy yang tampak duduk merangkul istrinya juga ikut tersenyum sudah lama ia tidak merasakan dirinya dengan santai seperti itu.


Biasanya Alfy selalu berada di ruang kerja atau di kamar untuk mengerjakan kasus-kasusnya tanpa perduli meluangkan waktu pada kedua orangtuanya.


"Maaf Tuan, Nyonya." Suara Delon yang tampak ngos-ngosan berlari.


Melihat ekspresi Delon semua menatapnya bingung menunggu penjelasan darinya Alfy yang tidak bisa sabaran menatapnya tajam menunggu jawaban.


"Nona Zeyra pingsan barusan dan saya sudah membawanya ke dalam mobil." jelas Delon terengah-engah.


Alfy yang mendengar dengan cepat berkata, "Lalu kau menunggu apa lagi? cepat bawa ke rumah sakit." perintah Alfy yang begitu cepatnya.


Semua tampak terkejut akhirnya Alfy meraih ponsel di saku celananya kali ini ia tidak memakai jas maka dari itu menaruh ponselnya di saku celana.


"Adikmu pingsan Delon membawanya ke rumah sakit." ucap Alfy yang langsung mematikan sambungan itu.


Jacobie yang belum sempat menanyakan pada Alfy segera bergegas menyusul Delon, tentu ia sudah sangat paham ke mana Delon akan membawa adiknya itu.


Di perjalanan Delon begitu panik wajahnya basah karena keringat yang keluar karena panik sambil sesekali ia menatap ke arah wanita di belakang itu melalui spion depan.

__ADS_1


Setelah beberapa lama sampailah mereka di rumah sakit Delon segera menggendong tubuh Zeyra ke ruang periksa.


Dengan cepat Dokter memeriksanya wajahnya tampak tersenyum menatap wajah Delon memastikan mereka adalah pasangan sepertinya sangatlah cocok.


Itu yang ada di dalam fikiran Dokter akhirnya ia mengajak Delon duduk di kursi untuk membicarakan keadaan wanita itu.


"Anda tidak perlu khawatir Tuan," ucap Dokter pada Delon.


Belum sempat Dokter menjelaskan tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan mengejutkan mereka tentu itu kehadiran Jacobie yang sudah berhasil menjadi pembalap handal seketika.


"Brakkkkkk...." Suara pintu terbuka.


Sampai di ruangan itu wajahnya begitu tampak datar seketika seperti tidak ada rasa bersalahnya membuat kedua orang itu hampir terkena serangan jantung.


Dokter yang melihat kehadiran dua orang pria yang sama-sama memiliki ketampanan di wajahnya membuatnya tampak bingung.


"Tuan, siapa yang suami dari Nona Zey?" tanya Dokter itu.


"Suami Dok?" tanya Delon bingung.


Jacobie yang mendengarnya dengan cepat menjawab bahwa dirinya hanya Kakak dan pria yang satu adalah rekan kerjanya.


Akhirnya Dokter itu mengangguk dan dengan tersenyum kembali memberi selamat pada Jacobie.


"Selamat Tuan, anda telah menjadi seorang Paman," ucap Dokter tersenyum


"Deg...." Jantung Jacobie seketika berhenti mencerna ucapan Dokter itu.


"Maksud anda Adik saya hamil Dok?" tanya Jacobie panik.


"Iya Tuan, Nona Zeyra hamil usia kandungannya kini sudah tiga minggu." jelas Dokter lagi.


Jacobie dan Delon melangkah ke ruang rawat Zeyra untuk melihat keadaan wanita itu yang sampai saat ini belum juga sadarkan diri.


Wajahnya Zeyra begitu manis bibirnya yang sangat kecil begitu terlihat menggemaskan namun sayang perjuangan ketulusannya di sia-siakan oleh Nakula.


Jacobie yang sejak tadi hanya diam tanpa kata menatap dalam ke arah wanita yang kini berbaring tak berdaya itu Delon hanya bisa melirik saja ia tahu kondidi emosi pria di sampingnya sedang tidak baik.


"Bisakah kau menjaga Zey sebentar?" tanya Jacobie pada Delon.


"Iya." jawab Delon singkat.


Belum sempat Delon bertanya pria itu sudah menghilang dengan cepatnya dari hadapannya ia duduk di kursi samping kasur Zeyra.


Tangannya tengah asyik berkutik pada ponsel miliknya dengan wajahnya yang terus senyum-senyum membuat wajah tampannya terlihat begitu manis.


"Kau sedang apa?" Isi pesan singkat itu.


"Aku bekerja, jangan menggangguku!" balas suster Syanin jutek.


"Baiklah kalau pesanku mengganggumu, aku akan mendatangimu." ucap Delon tersenyum.


"Jangan bermain-main denganku Delon." Ucapan suster Syanin begitu terdengar ketus pada pria itu.


Delon yang melihat Zeyra belum juga sadar akhirnya memikirkan sesuatu ia meraih telefon di ruangan itu memang setiap anggota Syein Biglous akan mendapat pelayanan VIP di rumah sakit itu bak hotel tentunya.


"Tolong suruh suster Syanin antarkan segelas air ke ruangan Syein Biglous kelas dua." perintah Delon dengan tersenyum menyeringai.


Ruangan khusus keluarga besar Syein Biglous akan memakai kelas satu sementara ruangan khusus anggota kerja mendapat kelas dua. Sebenarnya tidak begitu jauh berbeda namun memang di khususkan oleh rumah sakit itu.


"Tok...tok...tok..." Suara pintu terdengar.

__ADS_1


Perlahan muncullah seorang wanita membuka pintu dengan memegang nampan berisi segelas air.


Saat membuka pintu mata suster Syanin tampak membulat dengan sempurna melihat kahadiran Delon di ruangan itu.


"Delon." ucap suster Syanin yang masih tidak percaya.


"Kau fikir aku bercanda yah?" tanya Delon tertawa.


Kini di ruangan itu mereka berdua tampak bercerita tentang kehamilan karena Delon juga penasaran.


Semenatar di kediaman Syein Biglous Jee tampak terus di tempel oleh Alfy tanpa boleh beranjak sedikit pun darinya.


"Aku ke dapur sebentar," ucap Jee yang akan berdiri.


Belum sempat berdiri Alfy sudah memegang tangan wanitanya dan memeluk Jee di sofa kamarnya lalu menci*m pipi istrinya.


"Ada apa sih?" tanya Jee yang merasa suaminya mulai aneh lagi.


"Aku sangat merindukanmu." jawab Alfy dengan manjanya.


"Iya, aku ingin ke dapur sebentar saja." ucap Jee.


"Aku tidak mengijinkannya." Dengan seenak jidatnya Alfy menegaskan istrinya.


Jika sudah mendapatkan jawaban itu tentu Jee harus mengalah lagi pada suaminya.


"Bagaimana rencana bula madu kita?" tanya Alfy tersenyum sembari mengecup bibr istrinya.


"Hah? bulan madu?" tanya Jee yang terdengar kaget.


"Iya bulan madu Han." ulang Alfy meyakinkan pendengaran istrinya.


Jee tampak bingung menatap wajah Alfy memangnya kapan mereka merencakannya perasaan tidak ada.


"Kan kita sudah bulan madu waktu itu." Jee mengingatkan Alfy.


"Memangnya tidak boleh yah?" tanya Alfy konyol.


Jee yang merasa kebodohan Alfy timbul dengan keras ia menjewer telinga suaminya.


"Di mana-mana bulan madu hanya sekali, Han." ucap Jee gemas.


"Aw...aw... sakit honey." Alfy sambil mengusap-usap telinganya.


"Habis kau menyebalkan." Jee memanyunkan bibirnya.


Alfy yang melihat bibir merah itu dengan segera mel*mat habis tanpa sisa sementara Jee yang merasa tidak ada persiapan memukul-mukul dada bidang suaminya.


"Em...emmmepaskan." teriak Jee dengan bibir yang masih terbungkam oleh Alfy.


Pria itu melepaskan lum*tannya sambil tersenyum puas menatap wajah kesal Jee.


"Siapa suruh menggemaskan begitu." ucap Alfy tanpa dosanya.


Jee yang kesal kini menatap tajam suaminya lalu melemparkan tatapannya ke arah lain dengan kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri.


Perlahan Alfy mulai memeluk tubuh istrinya dari belakang kini Jee sudah berada di atas pangkuan suaminya ia mulai mengecup mesra leher mulus istrinya. Jee yang masih diam saja tidak memperlihatkan respon apapun namun tubuhnya sudah memberi isyarat pada Alfy jika ia menerima perlakuan itu.


Halo semuanya cerita mesranya babang Alfy dan Jee seksinya sampai di sini dulu yah nantikan ceritanya di episode selanjutnya. Oia author butuh saran dari kalian nih sebenarnya dalam cerita kalian lebih suka membaca tentang pemeran utamanya lebih banyak atau sama banyaknya dengan pemeran pembantunya?


Di tunggu sarannya yah terimakasih juga buat para readers yang selalu beri masukan ke author nantikan cerita selanjutnya yang sudah author terima masukan kalian yah. Selamat membaca sayang salam hangat dari Marina Monalisa

__ADS_1


__ADS_2