
"Ada apa ini, Wenda?" tanya Pak Lorens yang tekejut melihat berkas pengunduran diri yang ia letakkan di atas mejanya.
Wenda seketika tertunduk menahan air matanya, dari dalam hati yang paling dalam ia sangat berat mengundurkan diri. Jika di bilang ini adalah tempat pertama dan pengalaman pertama juga untuknya bekerja. Tapi bagaimana pun ia harus sadar jika atasannya saat ini sudah tidak menginginkan kehadirannya lagi.
"Maaf Pak Lorens, saya tidak bisa bekerja di sini lagi. Ayah saya meminta untuk membantunya bekerja di perusahaannya." jelas Wenda yang berbohong dan awalnya ia bingung harus mengatakan apa tapi setelah mengingat Ayahnya ide briliant segera muncul di benaknya.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Adelio, apakah kau sudah mengatakan padanya?" tanya Pak Lorens yang khawatir jika atasannya akan marah. Wenda yang mendengar nama pria itu di sebut menghela nafas kasarnya.
"Tuan Adelio tidak tahu tentang ini, Pak. Tapi ia tidak akan marah karena hal ini ia sudah paham kok." jelas Wenda dengan tersenyum tenang. Meskipun hatinya bagitu tersayat saat menyebut nama pria itu.
Entah perasaan apa sebenarnya ini mengapa begitu membuatnya semakin tak bisa berfikir tenang, tidak mungkin jika Wenda menyukai pria dingin itu apalagi Tuan Adelio terang-terangan mengatakannya Wenda hanya sebagai karyawan dan tidak cantik pada Neneknya.
"Ah sudahlah mengapa aku harus memikirkan pria itu tidak ada gunanya sama sekali, yang ada hanya membuatku semakin sesak nafas saja." ucapnya dalam hati.
Setelah mendapat persetujuan dari Pak Lorens akhirnya Wenda bergegas kembali ke ruang kerjanya untuk membereskan beberapa barang miliknya di meja kerja. Waktu berkemas pun usai, kini Wenda beranjak membawa keranjang barang kecil itu dan saat ia ingin melangkah, kepalanya terarah untuk menoleh ke ruang atasannya.
Ada rasa ragu yang membuat langkah gadis itu terasa berat, Wenda tidak tahu apakah keputusannya kali ini sudah tepat untuk keluar dari kantor itu atau tidak.
Pak Lorens yang melihat kepergian Wenda segera mengirimkan pesan singkat pada Tuan Adelio, ia merasa tidak yakin jika keluanya Wenda dari perusahaan Sailis Group tidak mengundang kemarahan Tuannya.
***
Adelio yang tengah berada di hotel ternama yaitu Marina Bay Sands tampak menikmati pemandangan dari atas kolam renang yang menunjukkan pesoan Singapura. Dari ketinggian yang begitu lumayan sangat terlihat jelas keindahan yang memanjakan mata siapa pun yang berkunjung di Hotel itu.
Pria bertubuh atletis menyandarkan tubuhnya di pinggiran kolam sambil meneguk segelas wine, hatinya benar-benar teduh melihat pemandangan itu. Seketika ponselnya berdering menandakan pesan masuk.
Keningnya seketika mengernyit tak menyangka membaca pesan dari Pak Lorens jika Wenda telah mengundurkan diri. Sebenarnya Adelio belum begitu yakin dengan prasangka buruknya pada Wenda, namun untuk mendapatkan jawaban rasanya ia tidak sanggup harus mendengar lebih jelas dari Wenda.
"Aku memilih untuk beristirahat dari kantor agar tenang dan bisa mendengarkan penjelasannya, tapi justru dia yang mengundurkan diri lebih dulu." ucapnya dalam hati.
***
Jee yang baru saja terbangun dari tidurnya tampak mengusap-usap matanya pelan dan berusaha membuka perlahan. Seluruh tubuh bisa ia rasakan sangat sakit terutaman di bagian selangk*ngannya, tangannya yang memegang area kewanitaannya merasa sakit luar biasa.
Ingatannya kembali memutar saat suaminya berusaha beberapa kali terus menjamahnya dengan kasar, merasa kaget dengan kejadian itu Jee segera menatap terkejut ke arah Alfy. Dadanya terlihat bernafas legah saat memastikan Alfy tengah terlelap di sampingnya.
Kini saatnya Jee untuk bangun dan membersihkan tubuh. "Awwww." rintihnya yang membuat Alfy seketika terbangun.
__ADS_1
"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Alfy cemas.
"Uhhh...tubuhku sakit sekali." jawab Jee yang memegang daerah bawah pusatnya.
Alfy yang melihat keluhan sang istri benar-benar merasa bersalah, perlahan ia memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Maafkan aku, Sayang. Ini semua salahku jangan marah padaku yah." bujuknya sembari menampakkan wajah sedihnya.
Jee yang tidak tega melihat suaminya seperti itu tersenyum perlahan membalas pelukan Alfy. "Mandiin." pintah Jee dengan manjanya.
Alfy yang mendengar permintaan istirnya tanpa berfikir lama segera menggendong tubuh Jee ke dalam kamar mandi. "Eitss... tunggu dulu. Tapi tidak ada hal seperti itu lagi yah." ancam Jee yang menghentikan langkah suaminya.
Alfy hanya tersenyum lalu kembali meneruskan langkahnya ke kamar mandi, seluruh pakaian Jee ia lepas satu persatu dengan sangat hati-hati. Kemudian dengan penuh kelembutan ia membersihkan setiap sudut tubuh istrinya dengan spons. Jee yang baru saja ingin mengambil sabung lagi tangannya segera di tepis oleh Alfy.
"Sudah diam saja, bia aku yang melakukannya semua." ucapnya sambil menatap instens area tubuh istirnya.
"Jangan sayang, yang ini biar aku saja." bantah Jee yang menutupi kepemilikannya.
"Ada apa? kau malu dengan suamimu ini?" tanya Alfy menatap tajam pada Jee.
"Em...tidak tapi-" (ucapan Jee terpotong karena Alfy sudah lebih dulu menelusuri area itu dengan tangannya). Jee yang seketika menjepit tangan kekar Alfy dengan kedua pahanya tersenyum malu lalu menggelengkan kepalanya. Seolah memberi penjelasan jika ia menolak untuk di sentuh bukan karena sakit yang jelasnya tapi karena malu.
"Hah ke Dokter? tidak aku tidak mau Sayang. Apa kata Dokter jika tahu hal ini karena ulahmu?" bantah Jee yang menolak untuk pergi ke Dokter.
Alfy seketika mempertimbangkan ucapan istrinya, yah benar saja jika mereka ke Dokter sama saja Alfy membuka aibnya sendiri pada orang lain tentang gaya berhubungannya saat ini. Akhirnya keduanya pun sepakat untuk tidak pergi ke Dokter.
Setelah aktifitas mereka selesai di kamar mandi kini Alfy kembali merawa sang istri dengan penuh perhatian, beruntung di kantor tidak ada kasus yang sulit di tangani para pengacara bersama Jac dan Delon. Setidaknya mempermudah Alfy untuk lebih fokus menjalankan misi program anaknya.
"Sayang, apa yang harus kita lakukan agar hukuman ini cepat berakhir?" tanya Jee yang merasa bosan jika harus berada di kamar terus menerus.
Alfy mendengar keluhan sang istri bukannya memberi solusi justru saat ini wajahnya menekuk kecewa, "Jadi kau tidak senang yah menghabiskan waktu denganku?" tanyanya.
Jee mendengus kesal lagi-lagi suaminya berfikiran yang berlebihan padanya. "Sayang, siapa yang tidak bosan jika harus menghabiskan waktunya sebulan di kamar saja?"
"Tapi aku tidak bosan, bahkan jika semua akan baik-baik saja aku memintanya lebih dari sebulan, setahun jika bisa." sahut Alfy dengan mudahnya lalu tersenyum kecil.
Seketika ucapannya membuat sang istri melongo tak percaya, suaminya ini manusia atau pajangan kamar sampai sebetah itu berada di dalam kamar tanpa melihat pemandangan di luar sana. "Ahhh tidak, tidak aku tidak bisa sepertimu." sahut Jee kesal.
__ADS_1
"Tapi aku suamimu, seorang istri hanya bisa menurut perkataan suami. Ingat itu!" tawa kecil kembali menghias di wajah tampan Alfy.
"Kemana jiwa pahlawan yang selalu kau andalkan dulu? katanya ingin membantu orang di sekitar yang kesusahan. Lalu apa ini namanya membantu orang yang kesusahan tetapi menyengsarakan istri sendiri begitu?"
Mendengar ocehan Jee yang panjang Alfy hanya tertegun merasa kalah dengan adu mulut istrinya kali ini, ia pun menyadari keegoisannya kali ini. "Hehe maafkan aku, Sayang. Habis kau terlalu membuatku selalu rindu." ucapnya kembali memeluk tubuh Jee di atas kasur sambil mengec*p beberapa kali bibir istrinya.
"Sayang, kau cepatlah hadir di dalam sini, agar kesayangan Daddy ini tidak di ganggu mata-mata gatal di luar sana." ucap Alfy sambil mengelus-elus perut rata Jee.
"Sebenarnya kau ingin di panggil apa nanti, Sayang? mengapa tiap kali berkata panggilannya sepertinya selalu berbeda?" tanya Jee yang bingung.
Alfy beberapa saat terlihat berfikir mempertimbangkan pertanyaan istrinya ada panggilan Ayah, Papi, Papah, dan Daddy di dalam fikiran Alfy saat ini. Tapi tentu saja ia tidak ingin memiliki panggilan yang sama dengan Tuan Reindra dan Tuan Indrawan, terlebih lagi dengan Delon tentu Alfy sangat gengsi jika menyangkut tentang keluarga kecilnya.
"Daddy, yah aku ingin anak kita memanggilku Daddy." jawab Alfy begitu yakin.
"Tidak. aku ingin mereka memanggilmu Tuan pengacara lebay." Jee mengejek suaminya dengan sebutan yang sangat pantas.
"Pengacara lebay bagaimana maksudmu? aku ini pengacara kebanggan seluruh penghuni bumi ini, Sayang?" percaya diri Alfy kembali ia munculkan di hadapan sang istri sampai membuat Jee merasa ingin mengeluarkan semua isi perutnya.
"Iya kau lebay sekali selalu membuat hal yang di luar dugaan manusia normal." ucapnya dalam hati sambil menatap Alfy dengan tawa kecil di wajahnya.
"Ayo katakan aku lebay di mananya?" tanya Alfy yang menggelitik pinggang Jee.
Jee masih berusaha mempertahankan ucapannya sambil terus menggeliat di atas ranjang merasa geli yang luar biasa. "Ampun...iya sudah ampun Sayang."
"Katakan!" suara Alfy terdengar menghentikan tawa Jee.
"Em, kau...lebay saja kalau tidak percaya coba tanya Jac atau Delon pasti mereka akan menjawab hal yang sama denganku."
"Coba saja jika mereka berani mengatakan hal itu padaku, akan ku patah-patahkan tulang punggungnya." umpat kesal Alfy.
"Aku tidak lebay, apa pun yang aku lakukan itu semua karena aku menyayangimu." bantah Alfy.
Jee yang mendengar nada bicara suaminya mulai naik memilih untuk mengalah dan membalas pelukan Alfy lalu mendaratkan satu kec*pan di pipi pria tampan itu. "Yasudah ayo istirahat." ajak Jee dengan mengeratkan pelukannya pada Alfy.
Belum sempat Jee terlelap suara bisikan terdengar di telinganya. "Istirahat dan cepat pulih sayang, biar kita cepat kerja keras lagi buat dedeknya." Suara lirih Alfy terdengar menggelikkan.
Mata Jee yang tadinya terasa berat ingin terpejam kembali terbuka lebar, bulu kuduknya berdiri seketika. "Kau ini." sahutnya menepuk dada bidang suaminya.
__ADS_1
Alfy enggan menjawab dan memilih tersenyum kemudian menutup kedua matanya di iringi senyuman manis yang menyempurnakan wajah tampannya. "Kau tampan sekali, Sayang. meskipun sikapmu terkadang ingin membuatku mengeluarkan semua isi kepalaku karena kesal tapi aku begitu sayang padamu." ucap Jee dalam hati saat menatap dalam wajah tenang di hadapannya.
Bayangan Jee terlintas wajah bayi cantik dan tampan, ia sangat bisa menebak wajah bayi mereka nanti tentu tidak akan jauh dari wajahnya atau pun wajah Alfy. Senyuman wanita cantik itu mengantarnya dalam tidur panjangnya.