
Seminggu lamannya sudah kini mereka masih tetap setia mengunjungi Papah Reindra dan Mamah Syein di rumah sakit keadaan wanita itu sudah mulai membaik Dokter juga sudah memberikan resep obat untuk setiap harinya ia konsumsi mengingat tubuhnya yang masih lemah. Sementara Tuan Reindra masih belum sadarkan diri ia masih sama seperti hari sebelumnya keadaannya yang kritis membuat sahabat setianya setiap hari berada di sampingnya duduk dengan wajah menunduk meratapi kesedihannya. Sangat besar harapannya untuk sahabatnya pulih kembali untuk menanti kedatangan cucu mereka. Tidak ada satupun yang bisa membujuk Tuan Indrawan untuk pergi dari tempat itu mandi dan tidur pun ia di ruangan itu Jee dan Mami Flora semakin sedih melihat pria itu. Sementara Alfy yang sudah mengurungkan amarahnya beberapa hari kemarin telah kembali mengingat kejadian dengan tatapan penuh amarah ia melaju ke kantor polisis menemui Paman yang selama ini mereka anggap keluarga terdekatnya.
"Tuan silahkan duduk," Dengan menunduk salah satu anggota polisi itu mengarahkan Alfy untuk duduk di ruangan khusus itu.
"Panggil pria itu!" ucap Alfy dengan tatapan tajamnya menahan amarahnya giginya tampak berbunyi menggerutu badannya bergemetar sementara wajahnya memerah.
"Baik Tuan," jawab pria itu dengan tegas lalu bergegas menuju sel dan membawa pria yang masih terlihat segar itu.
Belum sempat ia duduk Alfy dengan segera melayangkan tangannya kini terlihat jelas cairan merah di pinggir bibir pria itu. Alfy beberapa kali melayangkan tangannya namun pria itu hanya tertawa dan tidak bicara apapun sekalipun hanya meminta maaf tidak ada terucap. Melihat itu Alfy sangat murka dengan segera polisi yang memilik jabatan tertinggi di tempat itu menghampiri Alfy dan membawa ke ruangan kerjanya untuk mengajaknya berbicara sementara Pamannya sudah di bawah kembali ke dalam sel.
"Maaf Tuan tampaknya pria itu memang sudah menyerahkan hidupnya di dalam sel ini," ucap Pria tegas itu.
"Baik jika itu benar aku akan pastikan ia mendekam di penjara seumur hidupnya," ucap Alfy yang masih bernafas dengan suara terburu-buru tubuhnya naik turun sesuai nafas yang begitu kasar menahan amarahnya.
"Iya tentu saja Tuan saya bisa pastikan hal itu," ucap Pria tegas itu.
Seketika suara ponsel Alfy bergetar.
"Tuan masalah Tuan Frans sudah selesai di persidangan," ucap Jac.
"Baik kau tahu yang harus kau lakukan?" tanya Alfy dengan percaya pada pria di seberang sana.
"Tentu Tuan," ucap Jacobie dengan suara sambungan yang sudah terputus dari Alfy.
Kini Frans sudah dalam perjalanan menuju lapas terketat di Kota itu dengan pengawalan yang sangat terpercaya. Wajahnya sangat terlihat murka seakan tidak terima dengan hal ini tentu saja bagaimana ia bisa menerima kehidupan yang di buat oleh Alfy sementara dalam bayangan Tuan Frans adalah hidup dengan bergelimang harta peninggalan Keponakannya Gabriel yang sudah tega ia lenyapkan, namun bagaimana bisa Alfy muncul di kehidupannya secara tiba-tiba mengejutkannya yang sementara menikmati kemenangannya.
"Awasi Ibu ini dengan anak kecil ini sampai di tujuannya!" Perintah Jacobie dengan beberapa pengawal yang ia tunjuk untuk mengantar Ibu yang sudah menjadi saksi atas kejahatan Tuan Frans di persidangan.
"Baik Tuan," dengan menunduk lalu bergegas menuju mobil mewah dengan beberapa pria lainnya berpakaian jas serba hitam.
Saat ini kehidupan dua orang itu sudah menjadi tanggungan Alfy untuk biaya hidup dan tempat tinggal Alfy menanggungnya karena itu yang di dapatkan dari kesaksian Tuan Frans kini kekayaan Gabriel yang sudah tidak ada pemimpin di serahkan Alfy pada Kota untuk di kelola dengan baik dan ia hanya mengawasi dari kejauhan tentang perkembangan perusahaan itu. Yah sekalipun harta melimpah tidak ada yang memiliki Alfy sama sekali tidak tertarik untuk mengambil alih menurutnya itu bukanlah haknya. Dan dari hasil perusahaan itulah Ibu dan anak kecil itu mendapat biaya hidup karena telah membantu mengusut kejahatan yang menimpa Gabriel pemilik tunggal perusahaan Waise Group.
Sementara Jee yang sudah kembali aktif kuliah di kawal dengan Delon secara langsung kini Alfy hanya berada dengan Jac tanpa Delon karena ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan wanita kesayangannya itu. Di kampus Delon mendapat lirikan dari beberapa wanita karena memang wajahnya sangatlah manis memiliki mata bulan hidung mancung dengan tubuh tak kalah atletis dengan Alfy hanya saja kulit Delon sedikit lebih gelap dari pada Alfy. Mungkin karena ia bekerja di lapangan sementara Alfy selalu dalam ruangan dan itu tentu bisa berpengaruh pada kulit.
"Waktu itu di jemput pria lain dan sekarang pria lain lagi," ucap salah seorang wanita yang menatap sinis ke arah Jee di kampus itu mereka memang tidak tahu jika Jee sudah menikah dan hanya beranggapan jika Jee wanita hiburan Alfy saja.
"Iya yah apa wanita ini kerjanya dengan para pria setiap hari?" sambil tertawa membicarakan Jee.
__ADS_1
"Maaf Nona jika tidak ingin mati jaga bicara anda," ucap Delon dengan menghampiri kedua wanita itu.
"Memangnya kau siapa berani bicara seperti itu padaku?" tanya wanita itu dengan sombongnya.
"Itu tidak penting yang terpenting sayangi nyawa anda," ucap Delon dengan menatap tajam wanita itu.
Sementara Jee yang melihat hanya menatap kesal lagi-lagi Delon ikut campur di kehidupannya.
"Delon ayo," ajak Jee sambil melangkah cepat pergi dari situ.
Dengan cepat pria itu menunduk dan mengikuti langkah Nona mudanya sedikit berlari kecil karena tertinggal oleh Jee.
"Sepertinya besok akan ada pria tampan beda lagi yang ia bawa ke kampus ini," ucap wanita itu melanjutkan gosipnya.
Jee yang sudah melangkah cepat menuju kantin setelah perkuliahan selesai merasa risih karena Delon selalu berada di belakangnya.
"Bukankah sudah aku peringatkan untuk tidak membuka mulutmu Delon?" tanya Jee menatapnya tajam.
"Maaf Nona jika Tuan mendengar hal itu mungkin bukan mereka saja yang akan musnah tapi saya juga," jelas Delon sambil menunduk.
Mendengar itu Jee hanya bisa mendengus kasar lagi-lagi ancaman suaminya membuat semua seisi bumi berjalan sesuai keinginannya tanpa ada pendapat orang lain.
"Apa ? maaf Nona itu tidak mungkin," Dengan wajah kagetnya ia mendengar bagaimana bisa ia berlaku setidak sopan itu pada majikannya. Dan jika Alfy mengetahui mungkin bisa saja ia akan di patah-patahkan tangannya karena berani memberi jarak lebih dekat pada istrinya kesayangannya itu.
"Maaf Nona tidak bisa seperti itu pada saya jika Tuan tahu-" (Ucapan pria itu terpotong oleh Jee).
"Yasudahlah aku mengerti yang kau katakan," jawab Jee yang sudah bisa menebak ucapan Delon dan itu pasti ucapan dari Alfy yang lagi-lagi mengancamnya.
"Sepertinya hidupku sudah tidak seindah dulu lagi," ucap Jee yang tampak sedih.
"Maaf Nona apa maksud Nona," ucap Delon bingung.
"Yah dulu aku meskipun ada pengawal mereka tetap seperti temanku jadi aku merasa hidupku sama saja seperti yang lainnya," ucap Jee dengan wajah berakting sedih demi mendapatkan hati Delon.
"Baiklah Nona bisa berteman denganku," Mengucapkan dengan penuh keraguan bagaimana jika hal ini sampai pada telinga Alfy bisa habis ia sebelum sempat menikah pastinya.
"Benarkah ucap Jee dengan menaikkan jari kelingkingnya," Wajahnya kini tersenyum berharap Delon akan berjanji.
__ADS_1
"Tentu saja Nona," ucap Delon tersenyum menahan rasa takutnya.
Setelah selesai kelas terakhir Jee ia beranjak keluar menuju pintu di depan sana sudah tampak pria berdiri tegak menunggu kepulangan Nona mudanya Fiky yang melihatnya hanya bergeleng kepala.
"Jee..." Panggil Fiki pada wanita itu belum sempat ia berbicara Delon sudah mendekat.
"Nona mari kita pulang," ucap Delon dengan sopan sambil melirik Fiky yang terlihat menatapnya tajam.
"Kak Fiky aku pulang dulu yah," ucap Jee tersenyum dan melangkah menuju arah keluar kampus.
"Astaga bicara sebentar saja aku tidak bisa padanya," gumam Fiky dengan kesalnya.
Sementara kini Delon dan Jee yang bersama dengan Pak Deni sebagai supirnya hanya keheningan yang terdengar di dalam mobil itu sampai mereka tiba di kediaman Syein yang hanya ada beberapa pelayan dan Bi Ria yang menaymbut kedatangan mereka. Alfy dan Jac yang tengah sibuk di kantor dan Nyonya Syein yang masih berada di rumah sakit bersama orangtua Jee masih menunggu kesadaran Tuan Reindra. Setelah membersihkan diri dengan cepat Jee makan lalu beranjak keluar rumah bersama Delon dan Pak Deni kini mereka menuju rumah sakit sesuai janjinya dengan Alfy siang mereka bertemu di rumah sakit.
Setelah mereka sampai di rumah sakit langkah Jee terhenti melihat seorang pria berada di depan ruangan itu dengan Mami Flora.
"Kak Fiky," ucap Jee kaget.
"Eh Jee kau kesini juga?" tanya Fiky dengan pura-pura tidak tahu.
"Tentu saja. Kakak ngapain di sini?" tanya bali Jee.
"Tadi mau kerumah Mami tapi pas nelfon kata Mami lagi di rumah sakit jadi langsung ke sini deh," jawab Fiky tersenyum.
"Kakak mau masuk ayo bareng Jee," ucap Jee dengan lembutnya.
"Baiklah," jawab Fiky sambil mengikuti langkah wanita itu ke dalam ruangan.
Sementara Delon yang melihat kehadiran pria itu dengan segera mengirim pesan pada Jacobie.
"Ada apa Jac?" tanya Alfy yang paham terjadi sesuatu di wajah pria kekar itu.
"Ada Fiky di rumah sakit Tuan dan Nona Jee sudah bersamanya di sana," jawab Jac yang gugup karena saat ini mereka sedang meeting tidak sepantasnya membahas hal itu dan pasti akan ada hal buruk yang terjadi. Dan benarlah praduga Jacobie dengan cepat Alfy bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Meeting hari ini sampai di sini dulu," ucap Jac dengan terburu-buru menyusul Alfy.
Semua yang ada di dalam ruangan itu sudah tidak heran karena memang Alfy di balik sifat baiknya yang penuh keadilan tersembunyi sikap seenaknya sendiri. Namun hal itu tidak membuat orang membencinya karena memang ia selalu berada di pihak kebenaran tidak perduli apapun keadaanya pasti ia mencari kebenaran.
__ADS_1
Untuk episode kali ini sampai di sini yah semoga kalian suka dengan alur yang author buat dan semoga kalian terhibur jangan lupa untuk like dan koment setiap episode yang sudah kalian bacayah. Jika tertarik dengan novel ini kalian bisa tekan tombol love untuk mendapat notifikasi ketika episode selanjutnya sudah update. Terimakasih atas dukungan kalian semoga selalu dalam kesehatan sampai bisa mengikuti akhir cerita ini yah. Assalamualaikum Wr. Wb.