
Rusli yang tidak ingin mendengar ucapan Andini terus memukuli dengan keras sampai Pramono tidak berdaya wajahnya di beberapa bagian sudah berdarah dan bibir bawahnya terlihat pecah karena pukulan Rusli.
“Beraninya kau menyentuh anakku.” Teriak Rusli.
Pramono yang tidak menjawab hanya tertawa licik saja, ia sadar jika Rusli sangat marah namun mau bagaimana lagi Wenda dengan suka rela memberikan tubuhnya. Tentu Pramono yang mendapatkan respon dari Wenda dengan senang hati melanjutkannya.
Sedangkan di kamar Wenda yang bersama dengan Ibu tirinya hanya terdiam dengan menatap tajam Dayah.
“Wenda, Ibu mau bicara.” ucap Dayah lembut.
“Kau bukan Ibuku.” bantah Wenda.
“Baiklah, Aku hanya ingin bercerita sedikit saja.” ucap Dayah memohon.
Wenda yang tidak ingin menjawab hanya terdiam, dan Dayah yang melihat Wenda seperti mendapat kesempatan untuk bercerita. Tanpa menunggu lama ia bercerita tentang suaminya yang selama ini hidup dengan kesulitan bersamanya. Dan Rusli selalu tidak henti-hentinya memikirkan keadaan Wenda.
Namun setiap mengingat kejadian ia meninggalkan Wenda rasanya tidak akan sanggup menampakkan wajahnya karena malu dan rasa bersalah. Sebagai seorang ayah tentu ia sadar akan tanggung jawabnya membesarkan putrinya.
Selama ini Rusli hidup dengan penuh beban di kepalanya selalu memikirkan bagaiaman keadaan putrinya. Sampai akhirnya tiba Andini menghubunginya untuk mengambil Wenda, meskipun terdengar menyakitkan cerita dari Andini, Rusli juga merasa sedikit senang akhirnya harapannya untuk bertemu putrinya selama ini datang juga.
Wenda yang mendengar cerita itu merasa tidak percaya kepalanya menggeleng namun Dayah terus meyakinkan Wenda. Setelah cukup lama kini Wenda kembali menangis dalam pelukan Ibu tirinya ia menyesal telah acuh pada Ayahnya.
Selama ini fikiran buruk tentang kedua orangtuanya sudah membuat Wenda menjadi wanita yang liar. Andai saja semua ia tahu sejak dulu mungkin tidak akan sekali pun dalam fikirannya untuk merusak dirinya.
Wenda yang sudah mulai luluh dengan Ibu tirinya kini mulai menuruti ajakan untuk pulang bersama mereka. Sementara di luar Andini yang sudah menangis melihat suaminya yang tidak berdaya akibat serangan dari mantan suaminya.
“Asal kalian tahu Wenda saat ini menderita HIV dan bagaimana kalian bisa tidak tahu.” ucap Rusli dengan nafas yang terdengar memburu.
“HIV katamu?” tanya Andini yang terkejut.
Begitu juga dengan Pramono, matanya terbelalak tidak percaya bagaimana bisa ia begitu menikmati hubungan itu sampai dengan suka relanya menerima penyakit menular itu.
“Astaga.” Andini yang terkejut merasa jijik pada suaminya.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa merawat putrimu, nikmatilah untuk merawat suami tidak tau malu ini." umpat Rusli dengan kesal.
“Ayo kita pulang.” ajak Dayah pada Rusli.
Sedangkan Wenda yang menatap ke arah Andini dan Pramono merasa kesal dan penuh kemarahan pada Andini sedangkan tatapannya yang berpindah ke Pramono seperti tatapan mengejek karena telah terjerumus ke dalam permainannya.
"Kau wanita bed*bah...sial*lan." maki Pramono pada Wenda.
Kini Wenda sudah di bawa pulang oleh Ayahnya dan Ibu tirinya ke rumah mereka, untuk merawat Wenda mereka masih belum memikirkan sejauh itu.
Sedangkan di gedung Syein Biglous tampak dua pria tampan dengan wajah yang sangat serius sedang menggunakan alat detektif mereka untuk mencari sesuatu dengan alat yang ada di tangan Alfy. Hari sudah semakin larut namun masih belum ada tanda-tanda mereka akan pulang, sampai akhirnya Jee yang gelisah berusaha menghubungi suami kesayangannya.
“Halo.” Suara wanita yang terdengar lembut dari seberang sana.
“Ada apa?” tanya Alfy dengan acuh.
Jee yang merasa suaminya sedang tidak mengiraukannya segera mematikan ponsel dan tanpa sadar ada air mata yang menetes di pipinya. Alfy yang terkejut dengan sambungan telfon terputus merasa ada yang aneh.
Hal itu yang membuat Delon dan Jacobie sangat betah mengabdikan diri padanya meskipun seringkali Tuan mudanya menjadi sosok yang sangat menyebalkan. Dengan cepat Alfy melajukan mobilnya sedangkan Delon masih berlanjut untuk menyelesaikan pekerjaannya. Biar bagaimana pun ini juga tanggung jawabnya untuk membantu Alfy. Sementara tangan satuya meraih ponsel dan mengirimkan pesan singkat pada Jacobie.
“Tuan menyuruhmu untuk pulang beristiraha.” Isi pesan singkatnya yang tidak di hiraukan oleh Jacobie.
Tanpa Delon sadari ada seseorang yang sudah menunggu kedatangannya sejak pulang dari rumah sakit. Zeyra yang tampak kesal melihat pintu rumahnya yang terbuka namun masih belum ada kehadiran sosok pria yang ia nantikan.
“Zey, makanlah kau dari tadi belum makan.” ucap suster Syanin yang tampak khawatir.
“Aku belum lapar.” Jawab Zeyra dengan wajah cemberutnya.
Entah kenapa sejak di tinggal Delon tiba-tiba tadi ia merasa ada yang hilang dari dirinya dan membuatnya tidak napsu untuk makan apa pun. Suster Syanin yang merasa khawatir dengan kandungan Zeyra seperti mengerti ketika melihat wanita itu terus memandang ke arah pintu rumah yang masih terbuka.
“Delon, apakah anda tidak bisa ke rumah sebentar? Zeyra sepertinya sedang menginginkan kehadiranmu saat ini. Karena sejak tadi siang ia belum ada makan sama sekali.” Isi pesan suster Syanin yang di kirimkan pada Delon tanpa sepengetahuan Zeyra.
Zeyra yang tidak tahu sejak kapan sudah terlelap di sofa sambil terduduk membuat suster Syanin menggelengkan kepalanya. Sangat lucu di lihat menunggu pria yang sama sekali tidak ia cintai atau dirinya yang tidak sadar jika hatinya sudah memilih pria itu.
__ADS_1
Hanya perasaan Zeyra lah yang bisa bereaksi untuk saat ini. Belum lama kini terlihat sorotan lampu mobil Delon yang sudah tiba di halaman rumah Zeyra. Suster Syanin dengan cepat menyambut Delon dan menujuk ke arah Zeyra yang sudah tertidur di sofa. Delon hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala bagaimana bisa kehadirannya saat ini begitu penting untuk Zeyra.
“Bawakan makannya padaku.” ucap Delon pada suster Syanin.
Suster Syanin yang dengan cepat mengambilkan makanan untuk Zeyra, sementara Delon yang sudah duduk di sebelah Zeyra perlahan membangunkannya.
“Manis sekali.” gumam Delon yang sebenarnya enggan membangunkan Zeyra tapi ia khawatir dengan bayi yang di kandungnya.
“Zey...bangunlah.” ucap Delon sambil menepuk-nepuk wajah Zeyra pelan.
“Emmm....” gerutu Zeyra sambil menguap lebar.
Tiba-tiba matanya terkejut membulat dengan sempurna menatap pria di hadapannya. Rasanya seperti mimpi ia melihat kehadiran Delon. Delon yang tersenyum melihat ekspresi Zeyra hanya meggerakkan tangannya di tatapan Zeyra.
“Tutup mulutmu bau.” ucap Delon yang membuat Zeyra tersadar dari lamunannya.
Dengan cepat mulutnya ia bungkam merasa takut jika benar yang di katakan Delon mulutnya bau, Zeyra terus membungkam mulutnya tanpa berbicara apa pun.
“Aku hanya bercanda, buka mulutmu.” pintah Delon.
Zeyra yang merasa di kerjai tampak cemberut ia menyadari jam yang sudah sangat larut dan Delon sepertinya baru saja datang menjenguknya. Suster Syanin yang sudah datang dengan makanan di tangannya segera menyodorkan pada tangan Delon.
“Ayo kali ini baru kau buka mulutmu.” ucap Delon sambil menyuapi Zeyra.
Zeyra yang makan hanya terus mengunyah tanpa bersuara apa pun, rasanya seperti mimpi bangun melihat pria yang ia rindukan dan mendapatkan perhatian. Matanya terus menatap ke arah Delon yang sibuk mengambil makanan ke sendok.
“Kau merindukanku yah?” tanya Delon tanpa menatap ke arah Zeyra.
“Ti-dak.” jawab Zeyra gugup.
Tanpa persiapan Zeyra yang merasa malu dan tertunduk tiba-tiba mendapat kecupan dari Delon di keningnya.
Bersambung...
__ADS_1