
Setelah perjalanan beberapa menit akhirnya Alfy kini tiba di sebuah kafe yang terlihat masih tidak begitu ramai. Matanya sudah terkejut ketika melihat Jee yang berjoget joget mendatangi satu persatu pengunjung kafe itu sambil mengomel tak karuan.
“Kau ingin memarahiku? Marahi saja cepat. Aku lebih suka kau marah hehehee.” ucap Jee di meja pengunjung pertama.
Kemudian mulai melangkah lagi ke meja yang satu. “Brakkk.” Suara pukulan meja tangan Jee. “Ayo pukul aku, itu kan yang kau suka membuatku menangis kan?” tanya Jee dengan berteriak.
Pengunjung yang di datangi Jee merasa takut sampai mereka keluar satu persatu dari kafe itu. Sampai akhirnya Jee menuju meja yang terdapat dua orang wartawan yang sejak tadi sudah merekam aksinya.
“Kalian ingin memfotoku? Ayo lakukan!” Jee yang sudah berpose layaknya model memengang kursi dan tangan satunya berada tepat di pinggang rampingnya. Tidak sedikit yang tertawa melihat tingkah Jee di kafe itu. Mereka mendapat tontonan gratis terlebih lagi semua tentu tahu siapa pemilik wanita itu.
Wajahnya sudah berantakan sekali seperti orang tidak waras. Sejak marah-marah tadi Jee selalu menggaruk kasar rambutnya. “Ayo lagi foto.” ucap Jee yang mulai duduk di kursi membuka kedua kakinya seperti model-model yang hot.
“Cukup!” teriak Alfy yang baru saja melangkah masuk ke kafe. Matanya sudah tidak tahan melihat tingkah istrinya sejak di luar tadi. Alfy yang mendekat ke arah meja kedua pria itu tanpa berfikir tangannya segera melempar kamera yang di pegang salah satu dari mereka.
“Tuan, maafkan kami Tuan.” ucap mereka yang sudah ketakutan melihat kemarahan Alfy.
Alfy yang enggan menjawab mereka kini menyeret Jee pulang kerumah. “Lepaskan! Lepaskan aku.” ucap wanita itu yang terus menahan langkahnya.
Namun Alfy sudah lebih kuat menyeret Jee pulang. Sesampai di rumah keluarga merasa bingung melihat Jee yang acak-acakan dan di seret oleh suaminya.
“Ada apa yah mereka?” tanya Nyonya Flora yang khawatir dengan putrinya.
“Mereka baik-baik saja, Mi.” jawab Tuan Indrawan.
Di kamar Alfy yang membawa Jee dan mendorongnya ke kasur terlihat sangat marah, sedangkan Jee hanya tertawa memandangi wajah suaminya.
“Emmmmuuah.” kecup Jee pada pipi Alfy saat berdiri meraih tubuh Alfy.
__ADS_1
“Kau tahu tidak? Aku seperti ini karenamu. Semua yang aku lakukan untukmu tapi kau malah marah padaku hiks...hiks.” suara Jee yang terdengar lemas sambil mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
“Jee, lepaskan!” bentak Alfy.
“Tidak, aku tidak ingin kau seperti ini padaku. Aku mencintaimu aku hanya tidak ingin kau ribut dengan pria itu karena itulah aku tidak memberitahumu tentang keberadaannya di kampus.” jelas Jee dengan terus menangis lemas.
Alfy yang mendengar ucapan istrinya sambil menangis merasa tidak tega, “Baiklah, ayo sekarang kau bersihkan tubuhmu dulu.” ajak Alfy yang sudah luluh.
Jee yang terus menolak dan memilih untuk memeluk tubuh suaminya terus menangis. “Aku tidak mau lepaskan pelukanku lagi, kau pasti akan marah padaku kan? Aku tidak sanggup kau begini denganku.” Ucapan demi ucapan terus ia lontarkan sambil menangis tanpa henti.
Seakan mabuknya saat itu mewakili perasaannya selama ini yang sudah tidak bisa berbicara pada suaminya dan hanya memendamnya sendiri. Alfy yang tidak tahan mencium bau alkohol dari mulut Jee akhirnya menggendong istrinya untuk ke kamar mandi.
Berniat untuk memandikan Jee, namu sesampainya di kamar mandi Jee bukannya mau melepaskan pelukan Alfy justru memeluknya semakin erat. “Kau tidak mau mandi yah?” tanya Alfy.
“Tidak, aku ingin tidur saja, tapi kau jangan marah padaku lagi. Kalau kau marah uwweeekkk.” suara Jee yang terhenti seketika saat bicara karena tiba-tiba perutnya mual.
“Yasudah ayo tidur.” Ajak Alfy yang baru mau melangkah merangkul Jee ke kamar.
“Ayo.” jawab Jee.
Belum sempat Alfy melangkah ke luar kamar mandi bersama Jee, kini wanita itu sudah mendorong tubuh suaminya ke dalam bethup, wajahnya tersenyum dan ikut masuk ke dalam bethup yang tidak ada air. Sepertinya halusinasi jee melihat bethup tampak menyerupai kasur yang empuk sampai ia bisa seenaknya mendorong tubuh suaminya.
“Kita tidur yah.” Ajak Jee yang sudah memeluk Alfy sambil menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
Alfy yang sudah tidak bisa bergerak hanya mendengus kesal, sepertinya malam itu mereka berdua akan tidur di tempat mandi. Cukup lama Jee tertidur, Alfy yang merasa tidak tahan dengan tempat tidur mereka akhirnya memilih untuk menggendong Jee ke tempat tidur dan menggantikan pakaian istrinya. Setelah selesai menggantikan pakaian Jee kini saatnya Alfy untuk ikut tidur mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan juga fikirannya.
***
__ADS_1
Di kantor Sailis Group terlihat Wenda yang baru saja keluar dari kantor bersama Tuan Adelio. Mereka melangkah menuju mobil yang mewah yang sudah terparkir sempurna di depan kantornya.
Keduanya masuk ke mobil tanpa mengatakan apa-apa, Tuan Adelio yang melihat blouse Wenda begitu pas dengan badannya dan lagi bagian dada yang sedikit terbuka memperlihatkan gundukan yang terpampang secara tidak langsung membuatnya merasa risih karena sukses membangunkan Adelio junior.
“Aduh mengapa dia melihatiku seperti ituyah?” tanya Wenda dalam hati merasa gugup mengetahui Adelio terus menatapnya dengan tajam.
“Astaga apa yang ku fikirkan ini?” tanya Tuan Adelio yang tersadar dari tatapan matanya.
Mereka sudah sangat sering keluar meeting selalu bersama, namun rasa canggun Wenda selalu ada tiap kali mendapat tatapan dari pria di sampingnya itu. Tidak lama perjalanan ke sebuh restoran kini keduanya tiba dengan wajah saling mengalihkan pandangan.
“Halo selamat datang, Tuan.” ucap klien Tuan Adelio yang menyapa dengan ramah. Seketika senyumannya terhenti saat melihat Wenda berada di samping Tuan Adelio.
Matanya tertuju pada tubuh Wenda yang memperlihatkan jelas bentuk tubuhnya. Ia meneguk sesuatu di tenggorokannya seolah merasa begitu sangat haus. Tuan Adelio yang menyadari tatapan kliennya segera berdehem untuk membuyarkan tatapan pria itu.
“Eh maaf, Tuan. Ini sekertaris anda?” tanyanya dengan berani.
“Iya.” jawab Tuan Adelio singkat.
Pria itu tersenyum penuh makna ketika mendengar jawaban Tuan Adelio. Pertanda jika ia bisa mendapat kesempatan untuk bersama wanita cantik itu. Wenda yang tidak berani menatapnya hanya menundukkan kepala sambil fokus menata berkas yang akan mereka bahas.
Sementara Tuan Adelio merasa kesal melihat tingkah pria itu yang terus menatap ke arah Wenda dengan penuh napsunya. Entah apa yang membuatnya semarah itu ketika pria di hadapannya terus memperhatikan wanita yang bersamanya.
“Tuan, sepertinya kita bisa membahasnya sekarang.” ucap Tuan Adelio yang mulai kesal.
“Oh iya tentu saja Tuan Adelio, tapi jika anda merasa ingin mengulur waktu juga saya bersedia hehe.” Jawab pria itu dengan terus memandang wajah Wenda.
“Cih senang sekali sepertinya dia mendapat pandangan dari pria itu.” umpat kesal Tuan Adelio.
__ADS_1
“Meeting hari ini kita batalkan!” sahut Tuan Adelio lagi yang segera berdiri dari kursi dan menarik tangan Wenda untuk keluar dari restoran itu