
Waktu menunjukkan telah selesainya jam perkuliahan Jee kini Delon dan satu orang pengawal sudah tampak menyambut Jee yang masih mau melangkah dari dalam kelasnya menuju pintu.
"Jee, kau sudah sehat?" tanya Fiky yang berusaha mengejar wanita itu.
"Kak Fiky, iya aku sudah sehat hanya saja belum bisa sembuh total." jawab Jee dengan ramahnya.
"Oh syukurlah kalau begitu." jawab Fiky yang menyudahi percakapan ketika melihat dua orang pria tampak menatapnya dengan tajam.
Saat melangkah ke luar wanita itu merasa tidak enak hati sedih rasanya harus menjaga jarak dengan pria yang dulunya sangat dekat dengannya namun mau bagaimana lagi kehidupannya saat ini sudah berubah. Jee bukanlah wanita yang sangat manja lagi pada siapa pun yang ada di dekatnya hanya Alfy seorang lah yang boleh mendapat perilaku manjanya itu.
Pernikahan memaksa wanita itu untuk menjadi dewasa jauh dari waktu mempersiapkannya membuat Jee merasa begitu berat memang. Sangat besar keinginannya untuk bisa menikmati masa mudanya dulu. Namun saat ini fikiran untuk menikmati itu sudah sirna di dalam fikiran Jee yang ada hanya menjadi seorang istrinya dewasa untuk suami dan anaknya kelak.
"Aku merindukanmu Jee," gumam Fiky yang masih menatap sedih kepergian Jee dari hadapannya.
Mata Fiky berkaca-kaca ketika semua memori mereka dulu terputar di kepalanya lagi tidak menyangkan waktu begitu cepat merubah semuanya. Mau bagaimana pun Fiky berusaha tidak mungkin ia bisa mendapatkan Jee lagi terlebih hati Jee saat ini sudah ada nama Alfy yang tertancap di sana.
Sambil melangkah pelan Fiky meninggalkan ruangan itu pandangannya menunduk lemas sia-sia usahanya kali ini menjadi dosen di kampus itu.
"Bruuuk," suara tabrakan dengan seorang wanita.
"Aw," jerit wanita itu.
"Maaf...maafkan aku." Dengan panik Fiky mengambil beberapa buku yang terjatuh dari tangan wanita itu.
"Eh Kak Fiky yah?" tanya salah seorang wanita yang tidaj sengaja tertabrak oleh Fiky.
Mendengar itu Fiky terkejut ia tentu masih ingat dengan wanita itu kini Alfy tersenyum membalas pertanyaan wanita itu.
"Kau temannya Jee kan?" tanya Fiky.
"Iya Kak, namaku Sisil." Menyodorkan tangannya pada Fiky.
__ADS_1
Dengan cepat Fiky membalas uluran tangan wanita di hadapannya itu dengan ramah mendapat perkenalan itu tanpa canggung Sisil pun mengajak Fiky untuk pergi ke kantin bersamanya. Karena kebetulan hari itu Mira, dan Dara lagi tidak ke kampus dan Sisil merasa tidak enak makan di kantin sendirian.
Akhirnya setelah melihat jam di tangannya Fiky berfikir akan ada waktu dua jam lagi untuknya mengajar di kelas lainya. Mereka melangkah menuju kantin mewah kampus itu di sana hanya ada anak-anak dari kalangan atas yang mampu berkuliah di tempat itu karena memang selain pendidikan yang di berikan begitu bagus semua dosen mereka lulusan dari luar negeri begitu juga dengan segala fasilitas tidak ada yang meragukan terbilang sangat mewah.
Di kantin mereka segera memesan makanan wajah Sisil tampak begitu berbinar menatap pria di hadapannya sungguh pertemuan yang tidak terduga dan membawa hal yang membahagiakan untuk Sisil.
"Ada apa Sil?" tanya Fiky bingung.
"Ah tidak ada apa-apa Kak." jawab Sisil gugup dan memalingkan pandangannya.
Lama mereka bercerita-cerita sampai akhirnya sisil meminta nomor ponsel Fiky dengan tanpa ragunya sedangkan Fiky yang merasa biasa-biasa saja memberikannya dengan mudah.
"Oh iya Kak, Kak Fiky belum punya pacar kan?" tanya Sisil sambil tertawa.
"Eheemm," tenggorokan Fiky seketika tersangkut saat sedang ingin menelan makanan.
"Minum dulu Kak." Sisil dengan cepat menyodorkan minuman pada Fiky tanpa melepas pegangan tangannya di gelas itu.
Beberapa lama kemudian Fiky pamit untuk pergi menuju kelas selanjutnya karena ada jadwalnya mengajar sebentar lagi. Sisil pun menyetujui dengan senyumannya ia melepas kepergian pria itu, mendapat perlakuan seperti itu Fiky hanya bersikap biasa saja tidak mengerti apa yang ada di dalam fikiran Sisil saat ini.
Jee yang sudah pulang sejak tadi meminta Delon untuk mengantarnya ke kantor Alfy ia ingin mengunjungi suaminya dan makan siang bersama. Sebelum ke kantor ia pulang ke rumah terlebih dulu karena Nyonya Syein tentu sudah menyiapkan makanan untuk Alfy.
Tadi pagi sebelum Alfy ke kantor ia sudah berpesan pada Nyonya Syein jika ia tidak bisa pulang ke rumah untuk makan siang karena banyak yang harus ia kerjakan di kantor. Nyonya Syein yang mengerti akhirnya berinisiatif untuk menyuruh pelayan rumah mengantarnya.
Jee yang mengingat akan hal itu dengan segera menelfon Nyonya Syein saat di perjalanan menuju ke rumah.
"Mah, makanan Alfy biar Jee saja yang antar yah?" ucap Jee di seberang telefon sana.
"Sayang, kau kan sedang kuliah." jawab Nyonya Syein.
"Jee sudah pulang kok Mah." Berusaha mendapatkan ijin dari mertuanya Jee bersih keras memaksa meski Nyonya Syein sebenarnya tidak ingin menantunya kelelahan.
__ADS_1
Mendengar rengekan demi rengekan Jee akhirnya Nyonya Syein lagi-lagi kalah dengan menantunya itu akhirnya ia menyetujui dan membatalkan pelayan rumah untuk mengantarkan makanan itu. Sambungan telefon pun terputus tidak lama kemudian Jee telah sampai di depan rumah tanpa beristirahat ia langsung bergegas mengambil rantangan itu.
"Nona Jee." panggil Dokter Adeline sambil berlari mengejar wanita itu.
"Ada apa Dokter?" tanya Jee dengan polosnya.
Dokter Adeline menggelengkan kepalanya tersenyum benar saja jika tidak ada dia atau pun suster Syanin tentu wanita ini akan mati lebih cepat.
"Nona ini waktunya anda meminum obat." Dokter Adeline membawakan obatnya dengan segelas air.
Melihat makanan yang di bawa Jee tampaknya Dokter Adeline tahu jika wanita itu belum makan sama sekali. Jee yang memegang obat itu segera di cegah oleh Dokter Adeline dengan menahan tangannya.
"Ada apa lagi Dok?" tanya Jee yang tidak sabaran.
"Anda harus makan nasi dulu Nona." ucap Dokter Adeline dengan sabar.
"Baiklah." jawab Jee sambil mengambil nasi satu sendok dan segera meminum obatnya.
Melihat itu lagi-lagi Dokter Adeline menatap heran pada wanita itu matanya tidak berkedip dan mulutnya terbuka seakan terkejut dengan tingkah Jee yang begitu terlalu memudahkan sesuatu.
"Nona anda makan lagi yah." teriak Dokter Adeline sambil mengejar Jee.
"Iya Dokter, nanti saya makan di kantor." jawab Jee sambil bergegas cepat menuju mobil.
Akhirnya setelah beberapa lama melewati macetnya jalanan Jee sampai juga di kantor Alfy ia menatap kagum melihat bangunan gedung itu yang terlihat sangat megah. Ia melangkah perlahan memasuki kantor itu semua karyawan menatapnya dengan tatapan penuh pujian.
Tentu mereka semua tahu siapa wanita cantik dan seksi itu ia adalah istri dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja yang mana telah memberikan kehidupan sangat berkecukupan untuk mereka.
Semua yang bekerja di kantor Alfy adalah orang-orang pilihan yang memiliki kemampuan untuk berfikir lebih cepat dan tentu hal itu sudah tidak di ragukan lagi dengan gajinya. Gaji mereka semua tiga kali lipat dari gaji para pekerja di kantor lainnya itu yang membuat mereka rela bekerja keras dan selain mendapatkan gaji tujuan kerja mereka sangat membantu para orang di luar sana yang kesulitan.
Halo lovers ceritanya di episode ini sampai sini duluyah nantikan terus updatenya author berharap kalian senang dengan cerita ini. Jangan lupa untuk like, koment, dan votenya yah semoga kalian di berikan kelancaran dalam setiap urusannya. Author juga mengucapkan terimakasih karena kalian sudah mendukung karya ini, Assalamualaikum Wr. Wb
__ADS_1