
"Maafkan aku, apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Alfy yang menyadari tingkahnya sudah keterlaluan memeriksa tubuh istrinya tanpa persetujuan dan dengan paniknya.
Jee yang tertunduk kini menatap wajah suaminya dengan wajah tanpa ekspresi, sedangkan Alfy yang mulai bisa mengontrol kekhawatirannya perlahan duduk di sebelah istrinya.
"Dokter, apa yang terjadi?" tanya Alfy.
Dokter Adeline menjelaskan dengan tenang satu persatu hasil pemeriksaan yang baru saja mereka lakukan dan wajahnya tersenyum ketika mengatakan, "Penyakitnya saat ini sudah bisa di pastikan tidak ada lagi, Tuan." ucapnya.
Alfy yang mendengar begitu merasakan hal yang tercampur aduk di sisi lain ia tidak percaya dan di sisi lainnya ia merasakan begitu senang sekali. Wajahnya menatap tidak percaya dengan segera ia kembali memeluk tubuh Jee sambil beberapa kali mendaratkan ciumannya. Semua tampak bahagia dan ikut memeluk Jee yang masih duduk di atas kasur.
Dokter Adeline juga merasa legah dengan tugasnya kali ini yang berhasil menyembuhkan pasiennya. Tanpa bertanya lagi pada Dokter kini Alfy sudah menggendong istrinya keluar ruangan dan menuju mobilnya.
"Kita mau kemana?" tanya Jee yang bingung.
Alfy tidak menjawab sama sekali wajahnya terus tersenyum bahagia dan memasukkan tubuh istrinya ke dalam mobil lalu melajukan ke arah rumah utama. Orangtua mereka hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Alfy yang sama sekali tidak megnhiraukan keluarganya.
"Lihatlah putramu, Pah sepertinya dia ikut dengan sifatmu." ucap Nyonya Syein pada Tuan Reindra.
"Mamah, wajarlah kan Alfy sangat merindukan istrinya." sahut Tuan Reindra membela.
"RIndu bagaimana? selama ini kan mereka selalu bersama." bantah Nyonya Syein.
Tuan Reindra dan Tuan Indrawan hanya tertawa mereka tentu mengerti perasaan seorang laki-laki jika lama tidak menyentuh istrinya. Meskipun sebenarnya Alfy sudah melakukan hal itu namun keadaan Jee yang sudah pulih tentu akan jauh lebih memberinya semangat.
Kini keluarga yang berdiri di depan pintu rumah sakit pulang bersama Dokter Adeline ke rumah untuk berbicara lebih lanjut tentang Jee. Sedangkan Jee yang berada di dalam mobil terus berteriak melihat Alfy yang menyetir mobil sangat laju.
"Berhenti!" teriak Jee.
Alfy yang tidak ingin menjawab istrinya hanya terus fokus menyetir sambil sedikit tersenyum dengan tatapan yang tidak bisa diartikan lagi.
"Han, ku mohon pelanlah." ucap Jee dengan memohon.
Alfy yang menyadari istrinya ketakutan segera mengurangi kecepatan mobilnya dan meraih tubuh istrinya untuk bersandar padanya.
"Peluk aku." ucap Alfy tanpa menatap Jee.
Jee yang perlahan melingkarkan tangannya pada tubuh suaminya hanya terdiam tanpa kata. Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi pada suaminya. Tidak butuh waktu lama untuk Alfy sampai di rumah dan langsung kembali menggendong istrinya menuju kamar.
__ADS_1
Jee yang tidak mengerti hanya terus menatap Alfy dengan penuh tanya. Seketika tubuh wanita itu ambruk di atas kasur. Kini Alfy sudah mulai menguasai tubuh istrinya tanpa meminta persetujuan dari pemilik tubuh itu.
"Han, ada apa denganmu?" tanya Jee lirih.
"Aku sangat lama menahannya." jawab Alfy yang tidak ingin membuang-buang waktu dan segera menghabisi istrinya.
Jee yang merasa tidak bisa melawan hanya bisa pasrah dengan serangan suaminya yang terus semakin jadi tanpa memberi ruang untuk Jee bernafas.
Hari itu terlewatkan dengan cepat semua sudah istirahat dalam malam yang panjang menemani tidur lelap mereka. Begitu juga dengan Jee yang sudah kelelahan menghadapi serangan Alfy tanpa henti dan mereka tertidur dengan penuh kelelahan.
Sementara di tempat lain di antara kegelapan malam tampak salah seorang petugas kepolisian yang tengah bertemu dengan seorang pria.
"Bagus saya suka kerjamu." puji pria itu pada polisi.
"Terimakasih Tuan." jawab polisi itu.
Ia adalah Hengky yang memberi bayaran pada polisi yang sudah membantunya untuk melakukan aksinya lebih mulus sampai detik ini. Wajah Hengky tampak tersenyum penuh kemenangan melihat polisi itu yang masih berdiri di samping mobilnya. Sedangkan Hengky sudah menutup pintu mobilnya yang bergeser dan melaju.
Keesokan hari pun tiba pagi itu tampak di sebuah rumah wanita yang terlihat semakin lemas tak berdaya duduk di kursi roda dengan wajah pucatnya. Wenda yang kini sudah bersiap ke luar negeri untuk menjalani masa pengobatannya bersama Ayahnya dan Ibu tirinya.
"Iya Ayah." jawab Wenda sambil tersenyum berusaha terlihat kuat.
Mereka bergegas naik ke mobil dengan supir Tuan Rusli yang membantu Wenda dan kini mereka melaju meuju bandara. Selang beberapa menit mereka sudah tiba di bandara dan segera masuk untuk menuju pesawat. Wenda yang duduk di tengah antara kedua orang itu hanya terus terdiam tanpa kata. Pesawat sudah lepas landas mengantarkan kepergian Wenda bersama keluarganya.
Sedangkan di kediaman Syein Biglous Alfy yang membangunkan istrinya dengan beberapa kali melakukan morning kiss.
"Ah....hentikan...hentikan." teriak Jee yang tertawa sambil matanya masih terpejam karena mengantuk.
Alfy yang terus melakukannya berulang kali tidak menuruti permintaan Jee untuk menghentikan perbuatannya.
"Ayo kau masih tidak mau bangun yah?" tanya Alfy sambil menggelitik pinggan Jee.
Baru saja Alfy ingin mencium lagi leher Jee, tangan wanita itu sudah lebih cepat menutup bibir Alfy sambil berusaha keras menahannya. Alfy yang merasakan tangan mungil istrinya menelpel di bibirnya dengan segera mengecupnya berkali-kali.
"Emmuaacchhh...emuaacchhh...emmuaachh." Tanpa henti Alfy terus melakukannya sampai Jee merasa geli di telapak tangannya dan tertawa keras seperti orang yang sedang di gelitiki.
Merasa tidak tahan akhinya Jee berloncat turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok giginya. Alfy yang menyusul Jee juga ikut membersihkan wajah dan mulutnya kemudian ia merain baju olahraganya dan milik Jee.
__ADS_1
"Pakai ini." pintah Alfy.
"Ahhh... aku masih ingin tidur tubuhku lelah sekali." keluh Jee yang kembali duduk di pinggir kasur.
"Kau mau olahraga denganku di luar atau mau olahraga di sini saja?" tanya Alfy menggoda Jee.
"Memangnya bisa olahraga di sini kan sempit?" Jee yang tidak mengerti kembali bertanya.
"Tentu saja bisa dan lebih nikmat." ucap Alfy yang menatap Jee dengan tatapan yang kembali ingin menerkam istrinya.
Jee yang mulai paham dengan ucapan suaminya segera mengambil baju yang ada di tangan Alfy dan masuk ke ruang ganti. Alfy tertawa melihat wajah panik istrinya yang takut jika mendapat serangan tiba-tiba lagi, semalam saja lelahnya masih sangat terasa bagaiman jika Alfy kembali melakukannya pagi itu.
"Dasar dia fikir tenagaku sama sepertinya yang kuat itu." gerutu Jee sambil sibuk memakai baju.
Setelah selesai kini Alfy bukannya mengajak Jee olahraga di halaman rumah tapi membawa istirnya untuk berolahraga di ruang fitnesnya.
"Mengapa di sini?" tanya Jee yang tercengang.
"Kau harus bisa kuat, jadi aku membawamu kesini." jelas Alfy yang mengarahkan Jee ke tempat fitnes untuk memulai berlari kecil di atas Treadmill.
"Kuat apa maksudmu?" tanya Jee yang menebak hal tidak-tidak.
Alfy yang tersenyum penuh arti menatap wajah istrinya dengan nakalnya lalu mengedipkan matanya, Jee yang melihat segera membulat matanya terkejut.
"Tidak, tidak mungkin maksudnya kuat dalam hal itukan?" gumam Jee yang khawatir dan malu.
"Ada apa?" tanya Alfy yang berpura-pura tidak tahu isi fikiran istrinya.
"Tidak...tidak, aku ingin berolahraga di halaman saja." bantah Jee yang ingin bergegas meninggalkan Alfy.
Namun belum sempat ia melangkah tangan kekar Alfy sudah lebih dulu melingkar di pinggan langsing milik Jee dan berbisik. "Jika kau memaksa, aku juga bisa memaksamu melakukan seperti semalam lagi di sini." ancamnya.
Jee yang begitu takut mendengarnya membatalkan langkahnya dan kembali memulai pemanasan, matanya terus sesekali menatap suaminya yang tidak berhenti memandangnya.
"Kau harus kuat fisikmu agar tidak mudah terkena penyakit dan istri seorang pengacara tidak boleh lemah." ucap Alfy yang membuat Jee menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Jadi kuat maksudnya itu, astaga ku fikir apa. Ah bodoh sekali kau Jee mengapa fikiranku sudah ke sana saja sih bikin malu." gumam Jee yang tidak menatap Alfy.
__ADS_1